I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
92
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
Budaya Organisasi Islami dalam Membentuk Iklim
Sekolah yang Kondusif di Madrasah
Eli Sabrifha
Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
Riau
elisabrifhaa@gmail.com
*
Corresponding Author: elisabrifhaa@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima:12 Oktober 2025
Direvisi: 29 Oktober 2025
Disetujui: 23 November 2025
Tersedia Daring: 29 Desember
2025
Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana budaya organisasi Islami
berkontribusi dalam membentuk iklim sekolah yang kondusif di madrasah.
Penelitian menggunakan pendekatan kajian literatur sistematis terhadap
sumber-sumber primer berupa jurnal ilmiah, buku akademik. Tahapan
pengumpulan data meliputi identifikasi sumber melalui database akademik,
penyaringan berdasarkan relevansi topik dan kualitas ilmiah, serta seleksi
akhir berdasarkan kebaruan dan kedalaman analisis. Data dianalisis melalui
analisis tematik untuk mengidentifikasi pola nilai, sintesis konseptual, dan
pengembangan kerangka teoretis. Hasil analisis mengungkap lima pilar
budaya organisasi Islami yaitu ikhlas, amanah, musyawarah, kedisiplinan
spiritual, dan keteladanan (uswah hasanah) yang secara sinergis
mewujudkan iklim sekolah yang harmonis, partisipatif, berakhlak mulia, dan
kondusif bagi pembelajaran holistik. Temuan ini menegaskan bahwa
manajemen pendidikan Islam harus berakar pada transformasi nilai, bukan
hanya kepatuhan prosedural, dan memberikan kontribusi konseptual bagi
pengembangan model madrasah berbasis nilai di era kontemporer.
Kata Kunci:
Budaya Organisasi Islami
Iklim Sekolah Kondusif
Madrasah
ABSTRACT
Keywords:
Islamic Organizational
Culture
Conducive School Climate
Madrasas
This article aims to analyze how Islamic organizational culture contributes to
creating a conducive school climate in madrasas. The study uses a systematic
literature review approach to primary sources in the form of scientific journals
and academic books. The data collection stages include identifying sources
through academic databases, filtering based on topic relevance and scientific
quality, and final selection based on novelty and depth of analysis. Data are
analyzed through thematic analysis to identify value patterns, conceptual
synthesis, and development of a theoretical framework. The analysis results
reveal five pillars of Islamic organizational culture: sincerity, trustworthiness,
deliberation, spiritual discipline, and exemplary behavior (uswah hasanah),
which synergistically create a harmonious, participatory, noble-moral school
climate conducive to holistic learning. These findings emphasize that Islamic
education management must be rooted in value transformation, not merely
procedural compliance, and provide a conceptual contribution to the
development of a values-based madrasa model in the contemporary era.
©2025, Eli Sabrifha
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Iklim sekolah merupakan salah satu variabel penentu utama dalam keberhasilan proses
pembelajaran, pengembangan karakter, dan pencapaian outcome pendidikan secara holistik.
Khususnya di madrasah lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan kurikulum
nasional sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman iklim sekolah tidak cukup dibentuk
oleh fasilitas fisik, struktur organisasi, atau kebijakan administratif semata. Iklim tersebut
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
93
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
dibentuk oleh budaya organisasi Islami, yaitu sistem nilai kolektif yang mengakar pada
prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW (Hadijaya et al., 2023). Budaya
organisasi Islami mencakup nilai-nilai seperti ikhlas (niat tulus karena Allah SWT dalam
setiap aktivitas), amanah (tanggung jawab moral dan profesional), musyawarah (pengambilan
keputusan partisipatif berbasis consensus), kedisiplinan spiritual (disiplin yang tumbuh dari
kesadaran nilai, bukan dari ancaman sanksi), dan uswah hasanah (keteladanan akhlak oleh
pemimpin dan pendidik). Kelima pilar ini secara sinergis menciptakan lingkungan belajar yang
tidak hanya kondusif secara akademik, tetapi juga utuh secara spiritual dan moral.
Penelitian terkini dalam bidang manajemen pendidikan Islam menunjukkan
kecenderungan dominan pada pendekatan teknis-birokratis. (Hariyanto et al., 2025), misalnya,
fokus pada implementasi kurikulum, akreditasi madrasah, dan kinerja guru dalam kerangka
regulasi Kementerian Agama. Sementara itu, (Suryadi et al., 2025) meneliti hubungan antara
iklim sekolah dan prestasi akademik, tetapi tanpa menggali akar nilai yang membentuk iklim
tersebut dari perspektif Islam. Di sisi lain, literatur internasional mulai menekankan
pentingnya spiritual leadership (Karthikeyan et al., 2024) dan value-based school culture
(Suryana & Pgmi, 2016) dalam membangun ekosistem sekolah yang sehat dan produktif.
Namun, perspektif tersebut masih berbasis pada paradigma sekuler dan belum diintegrasikan
secara sistematis ke dalam epistemologi pendidikan Islam yang menempatkan akhlak dan
ketuhanan sebagai pusat orientasi.
Analisis terhadap publikasi ilmiah dari jurnal bereputasi yang mengungkap adanya
kesenjangan penelitian yang signifikan. Pertama, mayoritas studi bersifat deskriptif atau
empiris mikro (misalnya di satu madrasah tertentu), sehingga kurang mampu menghasilkan
kerangka teoretis yang generalizable. Kedua, meskipun beberapa peneliti menyebut “budaya
Islami”, mereka jarang mengoperasionalkan nilai-nilai tersebut ke dalam dimensi manajerial
yang konkret. Ketiga, belum ada sintesis konseptual yang secara eksplisit menghubungkan
pilar-pilar budaya organisasi Islami dengan mekanisme pembentukan iklim sekolah kondusif
dalam konteks madrasah kontemporer.
Kebaruan artikel ini terletak pada upaya sintesis teoretis original yang menghubungkan
prinsip-prinsip budaya organisasi Islami dengan dinamika iklim sekolah melalui lensa
manajemen pendidikan Islam kontemporer. Berbeda dengan pendekatan empiris yang terbatas
pada konteks lokal atau deskriptif yang hanya mengulang norma agama, artikel ini
menawarkan kerangka konseptual berbasis nilai yang dapat diadopsi secara luas oleh
madrasah di berbagai wilayah. Pendekatan ini selaras dengan tuntutan pendidikan abad ke-21
yang menekankan pentingnya character education, emotional intelligence, dan moral integrity
di samping kompetensi kognitif.
Artikel ini bertujuan menganalisis secara teoretis bagaimana budaya organisasi Islami
berkontribusi dalam membentuk iklim sekolah yang kondusif di madrasah. Melalui kajian
literatur sistematis terhadap sumber primer termasuk jurnal ilmiah bereputasi, buku akademik,
dan dokumen kebijakan penelitian ini mengidentifikasi, mengkritisi, dan mensintesiskan
temuan-temuan kunci untuk membangun argumen ilmiah yang koheren dan relevan.
Kontribusi ilmiah artikel ini bersifat ganda. Pertama, secara teoretis, artikel ini
memperkaya khazanah manajemen pendidikan Islam dengan memperkuat fondasi berbasis
nilai (value-based foundation) yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi pendekatan
birokratis. Kedua, secara praktis, artikel ini memberikan panduan konseptual bagi pemangku
kepentingan madrasah khususnya kepala madrasah dan pengawa dalam merancang tata kelola
yang tidak hanya efisien, tetapi juga berakhlak dan berjiwa Islam. Ketiga, artikel ini menjawab
tantangan kontemporer pendidikan: bagaimana menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas
secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, empatik secara sosial, dan utuh secara
moral sebuah visi yang menjadi inti dari maqasid al-syariah dalam konteks pendidikan.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
94
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
Dengan demikian, artikel ini bukan sekadar ulangan normatif atas nilai-nilai Islam,
melainkan upaya ilmiah untuk mengoperasionalkan nilai tersebut ke dalam ranah manajemen
pendidikan modern, sehingga madrasah benar-benar menjadi baitul tarbiyah (rumah
pendidikan) yang hidup dan inspiratif.
2. Metode Penelitian
Artikel ini merupakan kajian literatur sistematis dengan pendekatan analisis konseptual.
Jenis penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka teoretis melalui sintesis kritis
terhadap temuan dan argumen dalam literatur ilmiah terkait. Data berupa teks akademik dari
sumber primer, meliputi jurnal ilmiah bereputasi, buku akademik, dan dokumen kebijakan
pendidikan Islam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui seleksi sistematis
berdasarkan kriteria relevansi topik, kualitas keilmiahan, dan kedalaman analisis. Proses ini
mencakup identifikasi, skrining, dan pemilihan dokumen yang memenuhi standar akademik.
Data dianalisis menggunakan analisis tematik, yaitu mengidentifikasi, mengkategorikan, dan
mensintesiskan gagasan kunci untuk mengungkap pola, kontradiksi, dan celah pengetahuan.
Hasil analisis kemudian dirangkai menjadi argumen orisinal yang membentuk kerangka
konseptual baru dalam manajemen pendidikan Islam.
3. Hasil dan Pembahasan
Budaya organisasi bukan sekadar hiasan atau elemen pelengkap dalam sebuah lembaga. Ia
adalah jiwa yang menggerakkan seluruh aktivitas kelembagaan hadir dalam cara anggota
berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan, bahkan dalam hal-hal yang dianggap sepele
sekalipun. Secara umum, budaya organisasi merujuk pada sistem nilai, keyakinan, norma, dan
praktik bersama yang dibentuk, dijaga, dan diwariskan oleh para anggotanya untuk memberi
makna pada keseharian kerja mereka (Selfiana et al., 2025). Budaya ini menjadi “cara kita
melakukan sesuatu di sini”, yang membentuk cara berpikir, berperilaku, dan mengambil
keputusan secara kolektif. Dalam lembaga pendidikan, budaya organisasi menentukan apakah
sekolah menjadi ruang yang kaku dan birokratis, atau menjadi ekosistem yang hidup, inklusif,
dan penuh makna.
Ketika konsep ini ditempatkan dalam kerangka Islam, muncul yang disebut budaya
organisasi Islami yaitu budaya organisasi yang nilai-nilai intinya bersumber dari ajaran Al-
Qur’an dan Sunnah, serta dipraktikkan dalam tata kelola kelembagaan secara konsisten.
Berbeda dengan pendekatan sekuler yang memisahkan dimensi spiritual dari ranah
manajerial, budaya organisasi Islami justru mengintegrasikan nilai-nilai transendental ke
dalam setiap aspek operasional. Ini berarti bahwa manajemen tidak hanya bertujuan mencapai
efisiensi atau target kinerja, tetapi juga mewujudkan tujuan hidup yang lebih luhur: ibadah,
amanah, dan pembentukan masyarakat yang berkeadilan.
Organisasi dalam konteks Islam termasuk madrasah tidak dipandang semata sebagai
entitas administratif, melainkan sebagai komunitas moral yang bertanggung jawab
menjalankan misi ilahiah. Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah fi al-ardh
(wakil Tuhan di muka bumi), yang berarti setiap aktivitas, termasuk mengelola lembaga
pendidikan, adalah bentuk pelaksanaan amanah (Destiana et al., 2024). Oleh karena itu, tata
kelola madrasah idealnya tidak didasarkan pada logika pasar atau efisiensi teknokratis, tetapi
pada prinsip ketuhanan, akhlakul karimah, dan keadilan sosial. Ini yang membedakan
pendekatan manajemen Islam dari model konvensional: di sini, nilai bukan pelengkap,
melainkan fondasi.
Temuan kajian literatur menunjukkan bahwa banyak lembaga pendidikan Islam, termasuk
madrasah, masih memperlakukan nilai-nilai Islam sebagai elemen simbolis misalnya melalui
seragam berjilbab, doa pembuka, atau hiasan kaligrafi tanpa mengubah struktur manajemen
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
95
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
internalnya. Padahal, esensi budaya organisasi Islami justru terletak pada transformasi nilai
menjadi sistem operasional. Sebagaimana ditegaskan (Saputra et al., 2025), manajemen
pendidikan Islam sejati adalah yang menempatkan integritas moral dan tanggung jawab
spiritual sebagai poros utama, bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi pemerintah atau
standar akreditasi.
Dalam perspektif ini, madrasah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi
ruang pembentukan peradaban. Setiap keputusan dari rekrutmen guru hingga penanganan
pelanggaran siswa harus mencerminkan nilai-nilai yang diyakini. Budaya organisasi Islami,
dengan demikian, bukan ornamen identitas, melainkan sistem hidup kolektif yang menjaga
integritas misi pendidikan Islam di tengah arus sekularisasi manajemen modern. Inilah yang
menjadikannya sebagai fondasi utama dalam membangun iklim sekolah yang kondusif: bukan
karena aturan ketat, tetapi karena kesepahaman moral yang tumbuh dari nilai yang hidup.
Lima Pilar Budaya Organisasi Islami
Dalam upaya membangun madrasah yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga
akademik, tetapi juga sebagai laboratorium akhlak, budaya organisasi Islami hadir bukan
sebagai kumpulan nilai yang terpisah-pisah, melainkan sebagai sistem nilai yang saling
menguatkan. Analisis terhadap berbagai literatur menunjukkan bahwa terdapat lima pilar
utama yaitu ikhlas, amanah, musyawarah, kedisiplinan spiritual, dan keteladanan (uswah
hasanah) yang secara sinergis membentuk fondasi manajemen madrasah yang autentik.
Kelima pilar ini bukan sekadar norma teologis yang hanya relevan dalam khutbah atau kajian
akhlak, tetapi memiliki relevansi operasional yang tinggi dalam tata kelola sehari-hari, mulai
dari ruang kepala madrasah hingga kelas pembelajaran. Di antara kelima pilar tersebut:
A. Ikhlas
Ikhlas menjadi fondasi paling mendasar. Sebagaimana diuraikan oleh Al-Ghazali,
ikhlas adalah niat murni yang menjadikan setiap aktivitas sebagai bentuk ibadah kepada
Allah SWT (Hidayah et al., 2023). Dalam konteks madrasah, hal ini berarti guru tidak
mengajar semata untuk memenuhi jam mengajar atau memperoleh tunjangan, melainkan
karena ia meyakini bahwa mendidik anak bangsa adalah amal jariyah yang bernilai di sisi-
Nya. Demikian pula staf administrasi tidak bekerja karena takut dipecat, tetapi karena ia
memahami bahwa mengelola arsip, mendata siswa, atau mengatur jadwal adalah bagian
dari tanggung jawab moral di hadapan Tuhan. Ketika ikhlas menjadi motivasi utama,
iklim kerja menjadi tulus, minim intrik, dan bebas dari kompetisi yang merusak solidaritas
karena tolok ukur keberhasilan bukan pada pengakuan manusia, melainkan pada ridha
Ilahi.
B. Amanah
Dari landasan ikhlas tersebut, tumbuh sikap amanah komitmen terhadap tanggung
jawab sebagai wujud pelaksanaan amanat ilahi. Dalam Al-Qur’an, amanah dikaitkan erat
dengan konsep khilafah (QS. Al-Ahzab: 72), yang menempatkan manusia sebagai wakil
Tuhan di muka bumi. Dalam tata kelola madrasah, amanah ini mewujud dalam berbagai
bentuk: pengelolaan dana BOS yang transparan dan tepat sasaran, penyampaian materi
pelajaran secara utuh tanpa mengurangi substansi, bahkan dalam interaksi dengan peserta
didik yang penuh kejujuran dan keadilan (Karimah & Nugraha, 2023). Seorang guru yang
amanah tidak akan memberikan nilai asal-asalan; seorang bendahara yang amanah tidak
akan memanipulasi laporan keuangan. Amanah, dengan demikian, menjadi penjaga
integritas sistem tanpa amanah, nilai-nilai lain mudah tergerus oleh praktik korupsi,
nepotisme, atau kelalaian.
C. Musyawarah
Namun, amanah yang kuat pun akan rapuh jika tidak didukung oleh mekanisme
pengambilan keputusan yang adil dan partisipatif. Di sinilah musyawarah berperan
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
96
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
sebagai penyeimbang otoritas. Berbeda dengan model kepemimpinan top-down yang
umum dalam birokrasi pendidikan modern, budaya organisasi Islami menolak
otoritarianisme. Musyawarah atau syura menjadi prinsip sentral dalam mengambil
keputusan strategis, seperti penyusunan kurikulum lokal, penentuan program
ekstrakurikuler, hingga penanganan pelanggaran disiplin siswa (Alfian et al., 2025).
Dalam forum musyawarah, suara guru, staf, bahkan perwakilan siswa diberi ruang untuk
didengar. Ini tidak hanya memperkuat rasa memiliki (sense of belonging), tetapi juga
meminimalkan resistensi terhadap kebijakan, karena setiap keputusan lahir dari konsensus
moral, bukan paksaan hierarkis.
D. Kedisiplinan spiritual
Kedisiplinan spiritual menjadi pengikat yang menjaga konsistensi pelaksanaan nilai-
nilai tersebut. Berbeda dengan disiplin sekuler yang bersifat eksternal ditegakkan melalui
sanksi, hierarki, atau reward-punishment disiplin dalam budaya organisasi Islami tumbuh
dari kesadaran batin bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan
Allah. Seorang siswa tidak datang tepat waktu karena takut dihukum, tetapi karena ia
memahami bahwa menghargai waktu adalah bagian dari akhlak mulia. Seorang guru tidak
absen sembarangan karena ia sadar bahwa mengabaikan amanah mengajar berdampak
pada akuntabilitas di akhirat. Disiplin semacam ini jauh lebih kuat dan berkelanjutan,
karena bersumber dari motivasi internal yang tak tergoyahkan oleh perubahan insentif
atau pengawasan eksternal.
E. Uswah hasanah
Semua pilar tersebut akan sulit diwujudkan tanpa kehadiran uswah hasanah
keteladanan dari figur otoritatif. Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad SAW dikenal
bukan karena pidato-pidatonya, tetapi karena akhlaknya yang menjadi cermin hidup umat.
Demikian pula dalam madrasah, kepala madrasah dan guru tidak cukup hanya
memberikan instruksi atau mengawasi; mereka harus menjadi cermin nyata dari nilai-nilai
yang diajarkan. Ketika guru berbicara tentang jujur, ia sendiri harus jujur dalam menilai
(Saeful, 2021). Ketika kepala madrasah menekankan kerendahan hati, ia tidak boleh
bersikap elitis atau jauh dari warga sekolah. Keteladanan inilah yang menjadikan nilai-
nilai tidak hanya diajarkan, tetapi juga ditularkan melalui interaksi sehari-hari sehingga
siswa tidak hanya memahami kebaikan, tetapi juga merasakan bagaimana kebaikan itu
hidup dalam praktik.
Temuan ini memperkaya studi sebelumnya oleh (Dewi et al., 2025), yang memang
menyebut pentingnya “budaya Islami” dalam lembaga pendidikan, tetapi cenderung berhenti
pada level normatif tanpa menunjukkan bagaimana nilai tersebut dioperasionalkan. Artikel ini
justru menghadirkan mekanisme konkret bagaimana kelima pilar tersebut saling berkelindan:
ikhlas menjadi niat, amanah menjadi tanggung jawab, musyawarah menjadi proses,
kedisiplinan spiritual menjadi pengikat, dan uswah hasanah menjadi wajah nyata dari sistem
tersebut. Dalam konstelasi inilah, madrasah tidak lagi menjadi lembaga birokratis yang kaku,
melainkan komunitas moral yang hidup, di mana setiap anggota dari kepala madrasah hingga
siswa merasakan bahwa mereka sedang bersama-sama menjalankan misi suci: mencetak insan
kamil yang cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Ketika kelima pilar tersebut diinternalisasi secara konsisten, madrasah menjadi ekosistem
pendidikan yang hidup, di mana iklim kondusif bukan hasil dari aturan kaku, tetapi dari
kesadaran kolektif. Iklim harmonis muncul karena konflik diselesaikan melalui dialog dan
saling memaafkan, bukan melalui hukuman. Iklim partisipatif terbentuk karena setiap warga
madrasah merasa memiliki lembaga ini mereka tidak hanya menjalankan tugas, tetapi ikut
membentuk masa depan madrasah.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
97
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
Interaksi di dalam madrasah pun berlangsung dalam nuansa akhlakul karimah: saling
menghormati, menjaga adab, dan menunjukkan empati (Afifah et al., 2024). Hal ini
berdampak langsung pada suasana akademik yang kondusif siswa belajar dalam ketenangan,
guru mengajar dengan penuh semangat, dan kolaborasi antarpihak berjalan lancar. Temuan ini
selaras dengan konsep spiritual leadership yang dikemukakan Fry, yang menekankan
pentingnya makna, tujuan, dan nilai dalam memimpin organisasi. Namun, artikel ini
memperkaya kerangka tersebut dengan epistemologi Islam yang menempatkan akhlak dan
ketuhanan sebagai fondasi sesuatu yang tidak ditemukan dalam model sekuler.
Perbandingan dengan penelitian Suparman yang hanya melihat iklim sekolah dari aspek
psikologis siswa menunjukkan bahwa pendekatan berbasis nilai memberikan pemahaman
yang lebih holistik: iklim sekolah bukan hanya soal kenyamanan individu, tetapi soal
kesehatan moral kolektif.
Implikasi untuk Manajemen Pendidikan Islam di Era Kontemporer
Temuan utama dari kajian ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan
madrasah saat ini bukanlah pada keterbatasan infrastruktur, kurangnya dana, atau rendahnya
kompetensi teknis guru melainkan pada kemerosotan makna pendidikan itu sendiri. Di tengah
arus standarisasi global yang menekankan indikator kuantitatif seperti persentase kelulusan,
peringkat akreditasi, atau jumlah medali lomba banyak madrasah secara tidak sadar mulai
mengadopsi logika manajemen sekuler yang berorientasi pada output semata (Zakiyyah,
2023). Akibatnya, nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi jiwa lembaga justru
terpinggirkan menjadi ornamen simbolis: dipajang di dinding, diucapkan dalam sambutan,
tetapi tidak dihidupkan dalam tata kelola sehari-hari. Padahal, justru di sinilah letak keunikan
dan kekuatan madrasah sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal,
tetapi juga membentuk jiwa.
Oleh karena itu, artikel ini menegaskan perlunya pergeseran paradigmatik yang mendasar:
dari manajemen prosedural yang berfokus pada kepatuhan terhadap regulasi, efisiensi
birokrasi, dan pencapaian target teknis menuju manajemen berbasis nilai (value-based
management), di mana nilai-nilai Islam menjadi poros utama dalam setiap keputusan dan
praktik (Helandri & Supriadi, 2024). Dalam paradigma baru ini, keberhasilan madrasah tidak
lagi diukur semata oleh angka-angka, tetapi oleh sejauh mana ikhlas, amanah, musyawarah,
kedisiplinan spiritual, dan uswah hasanah benar-benar hidup dalam interaksi antarwarga
sekolah. Seorang siswa yang jujur meski tidak juara olimpiade, seorang guru yang sabar
meski tidak memiliki sertifikasi internasional, atau seorang kepala madrasah yang adil meski
tidak pernah tampil di media mereka inilah yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan
yang sejati dalam perspektif Islam.
Pergeseran ini menuntut transformasi peran kepala madrasah. Tidak lagi cukup menjadi
administrator yang mahir mengelola anggaran atau menyusun laporan, tetapi harus menjadi
agen transformasi nilai seorang pemimpin spiritual yang mampu menginspirasi, mendidik
melalui keteladanan, dan menciptakan iklim organisasi yang memungkinkan nilai-nilai Islami
tumbuh secara alami. Ini berarti kepemimpinan di madrasah harus dibangun di atas fondasi
akhlak, bukan kekuasaan; di atas kepercayaan, bukan kontrol; dan di atas pelayanan, bukan
dominasi.
Implikasi praktis dari paradigma ini sangat luas. Pertama, pelatihan kepemimpinan
madrasah baik yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama maupun lembaga swadaya
perlu direorientasi untuk memasukkan dimensi spiritual dan akhlak secara serius. Bukan
hanya soal teknik manajemen, tetapi juga pemahaman mendalam tentang maqasid al-syariah,
etika kepemimpinan dalam Al-Qur’an, dan studi kasus tentang pemimpin teladan dalam
sejarah Islam (Tahir, 2019). Kedua, sistem evaluasi kinerja guru harus diperluas melampaui
indikator teknis seperti kehadiran, kelengkapan administrasi, atau hasil ujian siswa (Silfiana et
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
98
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
al., 2025). Aspek moral seperti kejujuran dalam menilai, keadilan dalam memperlakukan
siswa, dan keteladanan dalam berpakaian dan berbicara harus menjadi bagian integral dari
penilaian profesionalisme. Ketiga, mekanisme pengambilan keputusan di madrasah perlu
dirancang ulang agar lebih inklusif dan sesuai dengan prinsip syura. Forum musyawarah tidak
boleh menjadi formalitas, tetapi ruang nyata di mana suara guru, staf, bahkan siswa dan orang
tua dapat berkontribusi dalam menentukan arah kebijakan.
Madrasah ideal bukanlah lembaga yang sempurna secara administratif, tetapi komunitas
moral yang hidup, di mana setiap anggotanya dari kepala madrasah hingga petugas
kebersihan merasa sedang menjalankan amanah ilahi. Di sinilah pendidikan Islam
menemukan kembali jiwanya: bukan sebagai proyek birokrasi, tetapi sebagai gerakan
peradaban.
4. Kesimpulan
Melalui kajian mendalam terhadap berbagai sumber literatur, artikel ini berupaya
memahami bagaimana budaya organisasi Islami dapat menjadi landasan dalam menciptakan
iklim sekolah yang kondusif di lingkungan madrasah. Temuan yang terungkap menunjukkan
bahwa nilai-nilai Islam ketika tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar dihayati dan
diwujudkan mampu membentuk suasana kelembagaan yang jauh melampaui sekadar
ketertiban administratif atau kedisiplinan formal. Dalam praktiknya, nilai-nilai seperti ikhlas,
amanah, musyawarah, kedisiplinan spiritual, dan keteladanan tidak berdiri sendiri, melainkan
saling menguatkan satu sama lain hingga melahirkan iklim sekolah yang tidak hanya tenang
dan fokus secara akademik, tetapi juga penuh keharmonisan, partisipasi aktif, dan akhlak yang
luhur. Kajian ini mengarah pada sebuah kesadaran penting: bahwa madrasah tidak akan
pernah menjadi lembaga pendidikan yang benar-benar Islami selama manajemennya masih
berjalan di atas logika birokrasi semata. Keberhasilan sesungguhnya bukan terletak pada
seberapa tinggi persentase kelulusan atau seberapa bagus predikat akreditasinya, melainkan
pada sejauh mana setiap anggota komunitas madrasah dari kepala sekolah hingga siswa
merasakan bahwa mereka sedang bersama-sama menjalankan amanah ilahi dalam keseharian.
Dari sinilah muncul gagasan tentang value-based madrasah management, sebuah pendekatan
yang menempatkan nilai sebagai fondasi tata kelola, bukan sekadar pelengkap identitas.
Gagasan ini diharapkan dapat menjadi pijakan konseptual bagi pengembangan madrasah di
masa depan bukan hanya sebagai lembaga yang cerdas, tetapi yang juga utuh secara moral dan
spiritual.
5. Daftar Pustaka
Afifah, E. N., Astutik, D., Masitoh, S., & Khoidah, I. A. (2024). Pembentukan Empati Siswa
Melalui Pengembangan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.
Social Science Academic, 2(2), 163180.
https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/ssa/article/view/5795
Alfian, A., Komariah, A., Kurniady, D. A., & Herawan, E. (2025). MANAJEMEN
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL: Strategi Meningkatkan
Mutu Lulusan Sekolah Dasar. Yogyakarta: PT. Star Digital Publishing.
Destiana, V., Hanafi, M. H., Ghalib, M. S., & Wismanto, W. (2024). Hakikat manusia
(perspektif filsafat pendidikan Islam). Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam,
2(1), 7087. https://journal.aripafi.or.id/index.php/jmpai/article/view/61
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
99
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
Dewi, L. R., Ustazia, P. A., & Rizki, M. (2025). IMPLEMENTASI BUDAYA ORGANISASI
ISLAMI DALAM MENINGKATKAN KINERJA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM.
LintekEdu: Jurnal Literasi Dan Teknologi Pendidikan, 6(2).
https://ejurnals.com/ojs/index.php/jltp/article/view/2278
Hadijaya, Y., Wijaya, A. R. H., Lestari, E., Monalisa, F. N., & Fadla, S. L. (2023). Proses
Pembentukan Budaya Organisasi Melalui Nilai-Nilai Islam. Innovative: Journal Of
Social Science Research, 3(2), 78937908. http://j-
innovative.org/index.php/Innovative/article/view/905
Hariyanto, T., Tamlekha, T., Ihsanda, N., Hambali, A., & Basri, H. (2025). LANDASAN
TEOLOGIS MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM: Theological foundations and their
implications in Islamic education management: a conceptual perspective. Epistemic:
Jurnal Ilmiah Pendidikan, 4(3), 490505.
http://journal.pegiatliterasi.or.id/index.php/epistemic/article/view/480
Helandri, J., & Supriadi, S. (2024). Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Konteks
Modern: Tinjauan Terhadap Praktik Dan Tantangan. TA’LIM: Jurnal Studi Pendidikan
Islam, 7(1), 93116. https://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/talim/article/view/5742
Hidayah, N., Rosidi, A. R., & Shofiyani, A. (2023). Konsep Ikhlas Menurut Imam Al-Ghazali
dan Relevansinya Terhadap Tujuan Pendidikan Islam. Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi
Kependidikan Dan Keislaman, 12(2), 190207.
http://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/UrwatulWutsqo/article/view/957
Karimah, A., & Nugraha, M. S. (2023). Implementasi Manajemen Pembiayaan Pendidikan di
Madrasah Aliyah Swasta Pedesaan: The Implementation of Educational Finance
Management in Rural Private Madrasah Aliyah. Kharismatik: Jurnal Ilmu Pendidikan,
1(2), 103116. https://journal.stai-kharisma.ac.id/index.php/kharismatik/article/view/38
Karthikeyan, S., Nair, S. S., Sabarish, S., Kumar, K. M., Ajay, M., & Sriharan, V. (2024).
Experimental study of the Mechanical Properties of Jute fiber and Coconut Shell Powder
reinforced Epoxy Composites Stage-01 Stage-02 Stage-03. 30(5), 47574761.
https://doi.org/10.53555/kuey.v30i5.2985
Saeful, A. (2021). Implementasi nilai kejujuran dalam pendidikan. Tarbawi: Jurnal Pendidikan
Dan Pemikiran Islam, 4(2), 124142. https://ejournal.ibi.ac.id/Tarbawi/article/view/260
Saputra, M. A. W., Nur, M. D. M., & Syahid, A. (2025). Implementasi Prinsip-Prinsip
Manajemen Islam dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan: Studi pada Madrasah Aliyah
di Indonesia. Jurnal Integrasi Manajemen Pendidikan, 4(1), 1322.
https://jurnal.uindatokarama.ac.id/index.php/jimpe/article/view/3891
Selfiana, S., Syarweny, N., Achdiat, A., Islah, K., Syafaat, F., Septiadi, M. A., Wahyu, F. P., &
Ramadhan, R. (2025). Buku Ajar Budaya Organisasi. Jambi: PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Silfiana, N. D., Asiyah, S. N., Nenggar, T. E. T., Ramadhani, W., & Putra, L. V. (2025).
Penilaian Guru Sebagai Alat untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Pendidikan. Jurnal
Bersama Ilmu Pendidikan (DIDIK), 1(2), 121130.
https://jurnal.literasisains.id/index.php/didik/article/view/236
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 2, November 2025, page: 92-100
E-ISSN: 3064-0180
100
Eli Sabrifha (Budaya Organisasi Islami dalam....)
Suryadi, A., Yaumi, M. P. P. D. M., Damopolii, M. A. P. D. M., & Rahman, M. A. D. U.
(2025). Transformasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah:
Implementasi TPACK Pada Unit Kegiatan Belajar Mandiri. Jawa Barat: CV Jejak (Jejak
Publisher).
Suryana, A., & Pgmi, P. S. (2016). Development of Value-Based Leadership: Model in Quality
Culture Improvement on Primary Schools. 14, 163166.
https://scispace.com/papers/development-of-value-based-leadership-model-in-quality-
3skrobklsv
Tahir, M. (2019). Implementasi Manajemen Dakwah Pada Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Zakiyyah, I. (2023). Manajemen Peningkatan Mutu Madrasah. Jawa Tengah: Penerbit NEM.