1. Pendahuluan
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerentanan yang tinggi
terhadap berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan badai tropis,
yang dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim tropis, serta perubahan iklim global. Kondisi
geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah tropis menyebabkan
perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang meningkatkan potensi terjadinya bencana alam. Oleh
karena itu, mitigasi bencana menjadi aspek penting yang perlu ditanamkan sejak dini melalui
pendidikan formal, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Edukasi mitigasi bencana pada
siswa sekolah dasar bertujuan untuk membentuk pengetahuan, sikap, serta kesiapsiagaan
terhadap potensi bencana di lingkungan sekitar (Fauzi & Rahman, 2021; Vieira & Tenreiro-
Vieira, 2021). Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiyono (2019) yang menyatakan bahwa
pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang mampu mengaitkan materi pembelajaran
dengan konteks kehidupan nyata peserta didik. Selain itu, Trianto (2010) juga menegaskan
bahwa pembelajaran yang bermakna terjadi ketika siswa terlibat aktif dalam proses
menemukan dan memahami pengetahuan melalui pengalaman langsung. Dengan demikian,
integrasi materi mitigasi bencana dalam pembelajaran di sekolah dasar perlu dilakukan melalui
pendekatan kontekstual dan berbasis pengalaman, sehingga siswa tidak hanya memahami
konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu wilayah yang memiliki potensi bencana tersebut adalah Kota Surabaya.
Meskipun merupakan wilayah perkotaan, beberapa daerah di Surabaya masih berpotensi
mengalami kekeringan pada musim kemarau akibat keterbatasan sumber air dan perubahan
lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa perlu memiliki pemahaman yang baik
mengenai mitigasi bencana kekeringan sebagai bagian dari literasi lingkungan sejak dini.
Namun, proses pembelajaran di sekolah dasar masih cenderung menggunakan metode
konvensional yang berpusat pada guru, sehingga keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih
rendah. Hal ini berdampak pada kurang optimalnya pemahaman siswa terhadap materi,
termasuk materi mitigasi bencana. Seiring dengan adanya perkembangan teknologi,
penggunaan media pembelajaran digital menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran. Media digital mampu menyajikan informasi secara visual, interaktif,
dan menarik sehingga dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam proses
pembelajaran (Hidayati & Kusuma, 2022; Widodo & Susanti, 2022).
Media sebagai alat bantu belajar mengajar berkembang seiring dengan kemajuan
teknologi. Variasi dan jenis media pun cukup melimpah, sehingga bisa dimanfaatkan sesuai
dengan kebutuhan, antara lain melihat situasi dan kondisi, waktu, keuangan, serta materi yang
akan diajarkan (Cecep & Bambang, 2011).Salah satu platform yang dapat digunakan dalam
pengembangan media pembelajaran digital adalah Canva. Canva merupakan aplikasi desain
grafis yang menyediakan berbagai fitur untuk membuat media pembelajaran seperti presentasi
interaktif, infografis, dan bahan ajar visual lainnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis Canva dapat meningkatkan minat belajar dan
mempermudah pemahaman siswa karena penyajiannya yang menarik dan komunikatif (Utami
& Wibowo, 2023; Pratiwi & Setiawan, 2022).
Meskipun demikian, hasil kajian menunjukkan bahwa penelitian mengenai penggunaan
media digital dalam pembelajaran mitigasi bencana pada jenjang sekolah dasar masih terbatas.
Sebagian besar penelitian lebih berfokus pada peningkatan hasil belajar secara umum tanpa
mengaitkannya dengan konteks mitigasi bencana (Septiana & Hidayat, 2020; Yuliana &
Hartono, 2022). Selain itu, belum banyak penelitian yang secara khusus mengkaji keefektifan
media berbasis Canva dalam pembelajaran mitigasi bencana kekeringan pada siswa sekolah
dasar. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut.
Kebaruan (novelty) dalam penelitian ini terletak pada penggunaan media digital berbasis