I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
1
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa
Sekolah Dasar Melalui Gerakan Priority Reading
Optimistic (PRO)
Indah Rahmalia
a,1*
, Fepryna Yenti
b,2
, Abdul Istiqlal
c,3
, Majidah Khairani
d,4
a
STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh, Sumatera Barat
b,c,d
STKIP Ahlussunnah, Bukittinggi, Sumatera Barat
*1
rahmaliabayu@gmail.com,
2
feprynayenti@gmail.com,
3
Abdulistiqlal618@gmail.com,
4
majidah1907@gmail.com
*
Indah Rahmalia
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 25 Februari 2026
Direvisi: 17 Maret 2026
Disetujui: 23 April 2026
Tersedia Daring: 1 Mei 2026
Banyak siswa mengalami kesulitan mengenal huruf, membaca dengan
mengeja, membaca lambat, serta kurang memahami isi bacaan sederhana
sehingga memengaruhi hasil belajar mereka. Oleh karena itu, diperlukan
suatu program pendampingan membaca yang efektif, untuk membantu
meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa secara bertahap dan
berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan
Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dalam meningkatkan kemampuan
literasi membaca siswa sekolah dasar di SD Negeri 21 Pasir Tinggi.
Penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca siswa SD
yang ditunjukkan melalui kesulitan mengenal huruf, membaca dengan
mengeja, membaca lambat, serta rendahnya pemahaman bacaan sederhana.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan
data kuantitatif sederhana. Subjek penelitian terdiri dari 31 siswa yang
mengalami kesulitan membaca. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model
Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan
Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) memberikan dampak positif
terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca siswa. Pendampingan
membaca dilakukan secara bertahap melalui pengelompokan siswa
berdasarkan kemampuan membaca, latihan membaca rutin, serta
pendampingan individual dan pembelajaran interaktif. Setelah pelaksanaan
program, jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca mengalami
penurunan pada beberapa indikator, seperti mengenal huruf, membaca
mengeja, kesalahan pengucapan, dan membaca lambat. Selain itu,
kemampuan membaca lancar dan memahami bacaan sederhana juga
mengalami peningkatan. Program ini tidak hanya membantu meningkatkan
kemampuan membaca siswa, tetapi juga meningkatkan motivasi belajar dan
rasa percaya diri siswa dalam kegiatan membaca.
Kata Kunci:
Gerakan PRO
Kemampuan Membaca
Literasi Membaca
Sekolah Dasar
ABSTRACT
Keywords:
PRO Movement
reading ability
reading literacy
elementary school
Many elementary school students experience difficulties in recognizing letters,
reading by spelling, reading fluently, and understanding simple reading texts,
which affect their overall learning outcomes. Therefore, an effective reading
assistance program is needed to improve students’ reading literacy skills
gradually and continuously. This study aimed to describe the implementation
of the Priority Reading Optimistic (PRO) Movement in improving elementary
school students’ reading literacy skills at SD Negeri 21 Pasir Tinggi. The study
was motivated by the low reading ability of students, as indicated by
difficulties in recognizing letters, reading with spelling, slow reading, and low
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
2
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
comprehension of simple texts. This research employed a descriptive
qualitative approach supported by simple quantitative data. The research
subjects consisted of 31 students who experienced reading difficulties. Data
were collected through observation, interviews, and documentation. Data
analysis used the Miles and Huberman model, including data reduction, data
display, and conclusion drawing. The results showed that the implementation
of the Priority Reading Optimistic (PRO) Movement had a positive impact on
improving students’ reading literacy skills. Reading assistance was conducted
gradually through grouping students based on their reading abilities, routine
reading exercises, individual mentoring, and interactive learning activities.
After the implementation of the program, the number of students experiencing
reading difficulties decreased in several indicators, such as letter recognition,
reading by spelling, pronunciation errors, and slow reading. In addition,
students’ reading fluency and comprehension of simple texts also improved
significantly. The program not only improved students’ reading abilities but
also increased their learning motivation and self-confidence in reading
activities.
©2026, Indah Rahmalia, Fepryna Yenti, Abdul Istiqlal, Majidah Khairani
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Kemampuan literasi membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa
sekolah dasar sebagai fondasi dalam memahami pembelajaran pada seluruh mata pelajaran.
Literasi membaca tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenal huruf dan membaca teks,
tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan
informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Pada era pendidikan modern dan
perkembangan society 5.0, kemampuan literasi menjadi salah satu indikator penting dalam
menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu, peningkatan literasi membaca pada
jenjang sekolah dasar perlu menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa
sekolah dasar di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil Programme for
International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang dirilis oleh OECD (2023),
kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD.
Indonesia memperoleh skor membaca sebesar 359, sedangkan rata-rata OECD mencapai 476.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa Indonesia masih mengalami kesulitan
dalam memahami isi bacaan, menemukan informasi penting, serta menghubungkan isi teks
dengan konteks kehidupan sehari-hari. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan literasi
membaca masih menjadi tantangan nasional yang memerlukan perhatian serius dari berbagai
pihak.
Rendahnya kemampuan literasi membaca juga diperkuat oleh hasil Asesmen Nasional
(AN) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menunjukkan bahwa
sebagian besar peserta didik sekolah dasar belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi
membaca. Banyak siswa hanya mampu membaca secara teknis, tetapi belum mampu memahami
makna bacaan secara utuh. Permasalahan ini semakin kompleks setelah terjadinya pandemi
Covid-19 yang menyebabkan proses pembelajaran dilakukan secara daring dalam waktu yang
cukup lama. Perubahan sistem pembelajaran tersebut berdampak pada menurunnya kualitas
belajar siswa, khususnya pada kemampuan membaca permulaan di tingkat sekolah dasar.
Permasalahan serupa ditemukan di SD Negeri 21 Pasir Tinggi Kabupaten Agam. Berdasarkan
hasil observasi selama 2 minggu ditemukan bahwa masih banyak siswa yang mengalami
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
3
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
kesulitan dalam membaca. Beberapa siswa belum mengenal huruf dengan baik, belum mampu
membedakan bunyi vokal dan konsonan, membaca dengan cara mengeja, serta mengalami
kesulitan memahami isi bacaan. Selain itu, siswa juga menunjukkan kemampuan membaca yang
lambat dan kurang percaya diri ketika diminta membaca di depan kelas. Kondisi tersebut
menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang efektif karena siswa mengalami hambatan
dalam memahami materi pelajaran.
Permasalahan literasi di sekolah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama,
dampak pandemi Covid-19 menyebabkan siswa kehilangan kesempatan belajar secara optimal
selama pembelajaran daring. Kedua, keterbatasan akses teknologi dan jaringan internet di
wilayah sekolah menghambat proses pembelajaran online. Ketiga, kurangnya pendampingan
belajar dari orang tua juga menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya kemampuan membaca
siswa. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, sebagian orang tua siswa memiliki
keterbatasan kemampuan membaca dan sebagian besar bekerja dari pagi hingga sore sehingga
tidak dapat mendampingi anak belajar di rumah secara maksimal. Temuan tersebut sejalan
dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa rendahnya literasi
membaca siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh minimnya pembiasaan membaca, rendahnya
motivasi belajar, keterbatasan sarana pembelajaran, serta kurangnya keterlibatan orang tua dalam
proses pendidikan anak. Penelitian yang dilakukan oleh Antasari (2021) menunjukkan bahwa
pembelajaran pascapandemi menyebabkan penurunan kemampuan membaca permulaan pada
siswa sekolah dasar, terutama di daerah terpencil dengan akses pendidikan yang terbatas.
Penelitian lain oleh Sari & Nugroho (2022) juga menjelaskan bahwa program pendampingan
literasi melalui pembelajaran interaktif mampu membantu meningkatkan kemampuan membaca
siswa secara bertahap.
Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, SD Negeri 21 Pasir Tinggi
melaksanakan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Program ini merupakan strategi
pendampingan literasi membaca yang dilakukan secara bertahap melalui pengenalan huruf, suku
kata, membaca sederhana, hingga memahami isi bacaan. Program PRO dirancang dengan
pendekatan yang lebih interaktif dan menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa sehingga
diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi
peningkatan literasi membaca siswa melalui Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) serta
melihat perkembangan kemampuan membaca siswa selama pelaksanaan program Gerakan PRO
di SD Negeri 21 Pasir Tinggi.
Literasi membaca merupakan kemampuan individu dalam memahami, menggunakan,
mengevaluasi, dan merefleksikan informasi yang diperoleh dari teks tertulis untuk mencapai
tujuan tertentu. Kemampuan literasi tidak hanya terbatas pada aktivitas membaca secara teknis,
tetapi juga mencakup kemampuan memahami makna bacaan serta menghubungkannya dengan
kehidupan sehari-hari. Menurut Abidin (2018), literasi membaca adalah kemampuan seseorang
dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas melalui berbagai
aktivitas membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan potensi diri. Dalman (2017)
menjelaskan bahwa membaca merupakan suatu proses berpikir untuk memahami isi teks yang
dibaca. Dalam proses tersebut, pembaca tidak hanya mengenali simbol atau huruf, tetapi juga
memahami pesan yang terkandung di dalam bacaan. Oleh karena itu, kemampuan membaca
menjadi keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa sejak jenjang sekolah dasar karena sangat
memengaruhi keberhasilan belajar pada mata pelajaran lainnya.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme
for International Student Assessment (PISA) mendefinisikan literasi membaca sebagai
kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks
untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, serta berpartisipasi dalam masyarakat.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
4
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
Definisi tersebut menunjukkan bahwa literasi membaca memiliki peranan penting dalam
membentuk kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan
membaca permulaan merupakan tahap awal dalam proses pembelajaran membaca yang
umumnya diberikan pada siswa sekolah dasar kelas rendah. Pada tahap ini siswa mulai
dikenalkan pada huruf, bunyi huruf, suku kata, kata, hingga kalimat sederhana. Menurut Tarigan
(2015), membaca permulaan adalah proses pengenalan lambang-lambang bunyi bahasa tertulis
yang bertujuan agar siswa mampu melafalkan dan memahami bacaan sederhana.
Kemampuan membaca permulaan menjadi fondasi utama dalam perkembangan
kemampuan literasi siswa. Apabila siswa mengalami hambatan pada tahap awal membaca, maka
akan berdampak pada kemampuan memahami pembelajaran pada tingkat berikutnya. Rahim
(2018) menyatakan bahwa siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan cenderung
mengalami hambatan dalam memahami informasi dan memiliki motivasi belajar yang rendah.
Beberapa indikator kesulitan membaca permulaan meliputi: (a) belum mengenal huruf vokal dan
konsonan; (b) membaca dengan cara mengeja; (c) kesalahan pengucapan kata; (d) penghilangan
huruf atau kata; (e) membaca lambat; (f) kesulitan memahami isi bacaan. Permasalahan tersebut
sering ditemukan pada siswa sekolah dasar terutama siswa kelas rendah. Pandemi Covid-19
memberikan dampak yang signifikan terhadap dunia pendidikan, khususnya pada kemampuan
literasi siswa sekolah dasar. Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi daring
menyebabkan siswa mengalami keterbatasan dalam proses belajar, terutama pada kemampuan
membaca permulaan yang membutuhkan pendampingan langsung dari guru.
Menurut penelitian Antasari (2021), pembelajaran daring menyebabkan menurunnya
kemampuan membaca siswa karena kurangnya interaksi langsung antara guru dan peserta didik.
Selain itu, keterbatasan fasilitas belajar dan rendahnya pendampingan orang tua juga menjadi
faktor penyebab menurunnya kemampuan literasi siswa. Penelitian Sari & Nugroho (2022
menjelaskan bahwa siswa di daerah terpencil mengalami kesulitan lebih besar dalam mengikuti
pembelajaran daring akibat keterbatasan jaringan internet dan kurangnya media pembelajaran.
Akibatnya, banyak siswa mengalami ketertinggalan dalam kemampuan membaca dan
memahami bacaan sederhana. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil observasi di SD Negeri 21
Pasir Tinggi yang menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mampu membaca dengan lancar
serta mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan setelah pandemi berlangsung.
Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) merupakan strategi pendampingan literasi
membaca yang dirancang untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan membaca secara
bertahap dan berkelanjutan. Program ini berfokus pada pengenalan huruf, membaca suku kata,
membaca kata sederhana, hingga memahami isi bacaan sesuai kemampuan masing-masing
siswa. Pendekatan dalam Gerakan PRO dilakukan melalui pembelajaran yang interaktif,
pendampingan individual, latihan membaca rutin, serta pemberian motivasi kepada siswa agar
memiliki rasa percaya diri dalam membaca. Menurut teori pembelajaran konstruktivisme, siswa
akan lebih mudah memahami pembelajaran apabila terlibat langsung secara aktif dalam proses
belajar. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program pendampingan membaca yang
dilakukan secara intensif dan berkelanjutan mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa
sekolah dasar. Sari & Nugroho (2022) menyatakan bahwa pembelajaran interaktif dan
pendampingan individual memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan
literasi membaca siswa. Dengan demikian, Gerakan PRO diharapkan dapat menjadi salah satu
strategi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar,
khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas pendidikan dan akses pembelajaran.
Literasi merupakan kemampuan individu dalam membaca, memahami, menganalisis, dan
menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Condliffe et al
(2017), literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga
kemampuan memahami bahasa dalam berbagai konteks komunikasi. Sementara itu, UNESCO
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
5
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
mendefinisikan literasi sebagai seperangkat keterampilan nyata yang berkaitan dengan
kemampuan membaca, menulis, serta mengolah informasi untuk meningkatkan kualitas hidup
individu. Dalam konteks pendidikan dasar, literasi menjadi fondasi utama dalam proses
pembelajaran karena hampir seluruh aktivitas belajar bergantung pada kemampuan memahami
informasi tertulis. Menurut Dalman (2021) literasi membaca merupakan kemampuan memahami
isi bacaan secara kritis sehingga peserta didik mampu memperoleh informasi, pengetahuan, dan
pengalaman baru melalui kegiatan membaca. Kemampuan literasi yang baik akan membantu
siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah. Hasil
PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih berada di
bawah rata-rata negara OECD. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan budaya
literasi sejak jenjang sekolah dasar melalui pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa.
Penelitian Yuda & Rosmilawati (2024) menjelaskan bahwa rendahnya kemampuan literasi siswa
sekolah dasar dipengaruhi oleh rendahnya kebiasaan membaca dan kurangnya kegiatan literasi
yang terintegrasi dalam pembelajaran.
Penelitian Handayani et al. (2024) menjelaskan bahwa strategi penguatan literasi dan
numerasi dalam Program Kampus Mengajar dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pojok
baca, klinik membaca, media pembelajaran interaktif, dan pembelajaran berbasis permainan.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa Program Kampus Mengajar mampu meningkatkan
keterlibatan siswa dalam pembelajaran meskipun masih menghadapi tantangan keterbatasan
sarana dan budaya belajar siswa. Selain itu, Susanto (2024) menyatakan bahwa implementasi
Program Kampus Mengajar memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil pretest dan
posttest literasi numerasi siswa sekolah dasar. Kehadiran mahasiswa dinilai mampu menciptakan
suasana pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan berpusat pada siswa. Game Based
Learning (GBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan unsur permainan
dalam proses belajar untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar siswa.
Menurut Plass et al (2015), Game Based Learning mampu menciptakan pengalaman belajar
yang interaktif dan menyenangkan sehingga siswa lebih aktif dalam memahami materi
pembelajaran.
Dalam pembelajaran sekolah dasar, penggunaan permainan edukatif membantu siswa
memahami konsep abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Pembelajaran berbasis
permainan juga mampu meningkatkan konsentrasi, rasa percaya diri, dan kemampuan bekerja
sama siswa. Penelitian Pratama & Widodo (2022) menunjukkan bahwa penerapan Game Based
Learning dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar secara signifikan. Siswa
menjadi lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas pembelajaran karena suasana
belajar menjadi lebih menarik dan tidak monoton. Selain itu, penggunaan media permainan
numerasi juga membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih mudah. Penerapan
Game Based Learning dalam Program Kampus Mengajar dilakukan melalui berbagai media
permainan edukatif, seperti ular tangga numerasi dan permainan berbasis kelompok. Pendekatan
tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus memperkuat
kemampuan literasi dan numerasi mereka.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan data
kuantitatif sederhana. Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan secara mendalam proses
implementasi Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dalam meningkatkan kemampuan
literasi membaca siswa sekolah dasar, sekaligus menggambarkan perubahan yang terjadi secara
terukur berdasarkan indikator kemampuan membaca. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 21
Pasir Tinggi, Kabupaten Agam, pada periode Agustus hingga Desember 2024. Subjek penelitian
terdiri dari 31 siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam membaca. Penentuan subjek
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
6
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
dilakukan secara purposive sampling berdasarkan hasil observasi awal dan rekomendasi guru
kelas. Kriteria siswa meliputi: belum mengenal huruf dengan baik, membaca dengan mengeja,
kesalahan pengucapan kata, membaca lambat, serta belum mampu memahami bacaan sederhana.
Subjek dipilih karena sesuai dengan fokus penelitian, yaitu peningkatan literasi membaca pada
siswa dengan kemampuan rendah.
Instrumen penelitian terdiri atas lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi.
Lembar observasi disusun secara terstruktur berdasarkan indikator kemampuan membaca
permulaan, yaitu pengenalan huruf, kemampuan mengeja, ketepatan pengucapan kata,
kelancaran membaca, dan pemahaman bacaan sederhana. Setiap indikator diberi kategori
penilaian untuk memudahkan analisis perkembangan kemampuan siswa. Pedoman wawancara
bersifat semi-terstruktur dan digunakan untuk menggali informasi dari guru serta siswa
mengenai faktor penyebab kesulitan membaca dan respons terhadap program PRO.
Dokumentasi digunakan untuk merekam proses pembelajaran dalam bentuk foto, catatan
lapangan, dan arsip kegiatan.
Tabel 1 Kisi-kisi Instrumen Observasi Kemampuan Literasi Membaca
No
Indikator Kemampuan
Membaca
Deskripsi Indikator
1
Pengenalan huruf
Kemampuan siswa mengenali huruf vokal dan konsonan secara tepat
dan cepat.
2
Membaca dengan mengeja
Kemampuan siswa membaca kata dengan cara mengeja huruf demi
huruf.
3
Ketepatan pengucapan kata
Kemampuan siswa melafalkan kata sesuai bunyi yang benar tanpa
kesalahan.
4
Kelancaran membaca
Kemampuan siswa membaca teks tanpa jeda panjang, terbata-bata,
atau pengulangan berlebihan.
5
Pemahaman bacaan
sederhana
Kemampuan siswa memahami isi teks sederhana dan menjawab
pertanyaan dasar dari bacaan.
Tabel 2. Skala Penilaian Instrumen Kemampuan Membaca
Kategori
Deskripsi Skala
Sangat
Baik
Siswa mampu melakukan indikator dengan sangat tepat, lancar, dan tanpa bantuan
guru.
Baik
Siswa mampu melakukan indikator dengan cukup tepat, masih terdapat kesalahan kecil
namun tidak mengganggu pemahaman.
Cukup
Siswa mampu melakukan indikator tetapi masih sering melakukan kesalahan dan
membutuhkan bantuan guru.
Kurang
Siswa belum mampu melakukan indikator dengan baik dan sangat bergantung pada
bantuan guru.
Setiap indikator kemampuan membaca diamati secara langsung selama proses pembelajaran
berlangsung. Skor diberikan berdasarkan performa siswa pada setiap pertemuan. Hasil observasi
kemudian dijumlahkan untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan membaca masing-masing
siswa. Data ini digunakan untuk melihat perkembangan kemampuan literasi membaca sebelum, selama,
dan setelah penerapan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Prosedur penelitian diawali dengan
tahap pra-penelitian berupa observasi awal untuk mengidentifikasi kemampuan membaca siswa dan
memetakan tingkat kesulitan mereka. Setelah itu, dilakukan tahap pelaksanaan intervensi melalui
penerapan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) selama 10 kali pertemuan. Setiap pertemuan
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
7
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
dilaksanakan secara sistematis dengan kegiatan literasi bertahap, mulai dari pengenalan huruf, latihan
fonik, membaca suku kata, membaca kata, hingga membaca kalimat sederhana. Siswa dikelompokkan
berdasarkan tingkat kemampuan membaca agar pendampingan lebih efektif dan sesuai kebutuhan
masing-masing. Pada setiap akhir kegiatan dilakukan evaluasi singkat untuk memantau perkembangan
siswa secara berkala. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung selama proses
pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi kegiatan. Observasi dilakukan
menggunakan lembar ceklis untuk mencatat perubahan kemampuan membaca siswa dari waktu ke waktu.
Wawancara digunakan untuk memperoleh data kualitatif terkait faktor-faktor yang memengaruhi
kemampuan literasi membaca, baik dari aspek internal maupun eksternal siswa.
Analisis data dilakukan menggunakan model Miles & Huberman (2014) yang meliputi reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data kuantitatif sederhana dianalisis dengan
membandingkan frekuensi perubahan pada setiap indikator kemampuan membaca sebelum dan sesudah
pelaksanaan program. Sementara itu, data kualitatif dianalisis melalui proses pengelompokan temuan,
interpretasi, dan penarikan makna terhadap hasil observasi dan wawancara. Kombinasi kedua jenis data
ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas program PRO.
Keabsahan data dijamin melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik dilakukan
dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan triangulasi sumber
dilakukan dengan membandingkan informasi dari guru dan siswa. Pendekatan ini bertujuan untuk
meningkatkan validitas data serta memastikan bahwa hasil penelitian mencerminkan kondisi nyata di
lapangan (Sugiyono, 2019).
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan Gerakan Priority Reading
Optimistic (PRO) di SD Negeri 21 Pasir Tinggi, ditemukan bahwa kemampuan literasi membaca
siswa masih tergolong rendah, terutama pada siswa kelas rendah. Hasil identifikasi awal
menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mengenal huruf vokal dan konsonan dengan baik,
membaca dengan cara mengeja, serta mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan
sederhana. Selain itu, beberapa siswa juga menunjukkan kesalahan membaca seperti
penghilangan huruf, pemenggalan kata yang tidak tepat, membaca lambat, dan kurang percaya
diri ketika diminta membaca di depan kelas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pandemi
Covid-19 memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan kemampuan membaca
siswa sekolah dasar. Pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dilakukan melalui
pendampingan membaca secara bertahap berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Siswa
dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu belum mengenal huruf, mengenal huruf,
membaca suku kata, membaca dengan mengeja, dan membaca pemahaman. Pendampingan
dilakukan secara rutin melalui latihan pengenalan huruf, membaca suku kata, membaca kata
sederhana, hingga membaca kalimat pendek. Selama proses pendampingan, siswa menunjukkan
perkembangan kemampuan membaca yang cukup baik. Hal ini terlihat dari berkurangnya jumlah
kesalahan membaca pada beberapa indikator pengamatan, seperti kemampuan mengenal huruf,
pengucapan kata, serta peningkatan kelancaran membaca siswa.
Hasil pengamatan selama 10 kali pertemuan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa
mengalami peningkatan kemampuan membaca secara bertahap. Beberapa siswa yang awalnya
belum mengenal huruf mulai mampu membaca suku kata sederhana, sedangkan siswa yang
sebelumnya membaca dengan mengeja mulai menunjukkan peningkatan kelancaran membaca.
Selain itu, minat dan motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan setelah diterapkannya
pendampingan membaca melalui Gerakan PRO. Pendekatan pembelajaran yang interaktif,
pendampingan individual, serta pemberian motivasi secara langsung membantu siswa menjadi
lebih aktif dan percaya diri dalam kegiatan membaca. Dengan demikian, Gerakan Priority
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
8
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
Reading Optimistic (PRO) dapat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam membantu
meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar di SD Negeri 21 Pasir Tinggi.
Tabel 3. Perkembangan Kemampuan Membaca Siswa melalui Gerakan Priority
Reading Optimistic (PRO)
No
Indikator Kemampuan Membaca
Kondisi Awal
Kondisi Akhir
1
Siswa belum mengenal huruf dengan baik
10 siswa
3 siswa
2
Siswa membaca dengan cara mengeja
15 siswa
7 siswa
3
Siswa mengalami kesalahan pengucapan kata
12 siswa
5 siswa
4
Siswa membaca lambat
18 siswa
8 siswa
5
Siswa mampu membaca lancar sederhana
4 siswa
14 siswa
6
Siswa memahami isi bacaan sederhana
5 siswa
16 siswa
Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa kemampuan membaca siswa mengalami
peningkatan setelah pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Jumlah siswa
yang mengalami kesulitan membaca mengalami penurunan pada setiap indikator, sedangkan
kemampuan membaca lancar dan memahami bacaan menunjukkan peningkatan yang cukup
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan membaca secara bertahap dan
berkelanjutan memberikan dampak positif terhadap perkembangan literasi membaca siswa
sekolah dasar.
Tabel 4. Analisis Kategori Perkembangan Kemampuan Membaca Siswa
No
Indikator
Kemampuan
Membaca
Kondisi Awal
(Kategori
Dominan)
Kondisi Akhir
(Kategori
Dominan)
Interpretasi Perubahan
1
Pengenalan huruf
Kurang (Skor 1
2)
Baik (Skor 3)
Siswa yang belum mengenal huruf menurun
signifikan, menunjukkan peningkatan
kemampuan dasar literasi fonemik.
2
Membaca dengan
mengeja
Kurang (Skor 1
2)
CukupBaik
(Skor 23)
Terjadi pergeseran dari tahap mengeja
menuju membaca kata utuh secara bertahap.
3
Ketepatan
pengucapan kata
Kurang (Skor 1
2)
Baik (Skor 3)
Kesalahan pengucapan berkurang,
menunjukkan peningkatan akurasi
membaca.
4
Kelancaran
membaca
Kurang (Skor 1
2)
CukupBaik
(Skor 23)
Membaca lambat berkurang, siswa mulai
lebih lancar dalam membaca teks sederhana.
5
Membaca lancar
sederhana
Kurang (Skor 1
2)
BaikSangat
Baik (Skor 34)
Peningkatan signifikan pada kemampuan
membaca fluency siswa.
6
Pemahaman
bacaan sederhana
Kurang (Skor 1
2)
BaikSangat
Baik (Skor 34)
Kemampuan memahami isi bacaan
meningkat secara nyata setelah
pendampingan PRO.
Berdasarkan hasil analisis yang diturunkan dari instrumen skala penilaian 14, terlihat
adanya pergeseran kategori kemampuan membaca siswa dari dominan “kurang” pada kondisi
awal menjadi “cukup” hingga baik” pada kondisi akhir. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi
Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) memberikan dampak positif terhadap seluruh
indikator literasi membaca. Pada aspek dasar seperti pengenalan huruf dan membaca dengan
mengeja, terjadi transisi kemampuan dari kategori rendah menuju kategori menengah. Sementara
itu, pada aspek tingkat lanjut seperti kelancaran membaca dan pemahaman bacaan, terjadi
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
9
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
peningkatan yang lebih signifikan hingga mencapai kategori baik bahkan sangat baik pada
sebagian siswa. Secara umum, hasil analisis instrumen ini memperkuat temuan kuantitatif
sebelumnya bahwa program PRO efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca
siswa sekolah dasar secara bertahap, sistematis, dan terukur berdasarkan indikator penilaian
yang digunakan.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa SD Negeri 21
Pasir Tinggi mengalami peningkatan setelah diterapkannya Gerakan Priority Reading Optimistic
(PRO). Pada kondisi awal, sebagian besar siswa mengalami berbagai hambatan membaca,
seperti belum mengenal huruf dengan baik, membaca dengan cara mengeja, kesalahan
pengucapan kata, membaca lambat, dan kesulitan memahami isi bacaan sederhana. Kondisi
tersebut menunjukkan adanya fenomena learning loss pascapandemi Covid-19 yang berdampak
langsung terhadap kemampuan dasar siswa sekolah dasar. Temuan ini sejalan dengan penelitian
Putri & Rahmah (2023) yang menyatakan bahwa tingkat literasi membaca siswa sekolah dasar
pascapandemi berada pada kategori rendah akibat minimnya aktivitas membaca di rumah,
rendahnya motivasi membaca, serta keterbatasan sumber belajar. Rendahnya kemampuan
membaca siswa pada penelitian ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga dan
keterbatasan pendampingan belajar di rumah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara,
sebagian besar orang tua bekerja dari pagi hingga sore sehingga tidak dapat mendampingi anak
belajar secara optimal. Selain itu, terdapat beberapa orang tua yang memiliki keterbatasan
kemampuan membaca. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan literasi anak tidak
hanya dipengaruhi oleh sekolah, tetapi juga keterlibatan keluarga dalam proses belajar. Temuan
ini sesuai dengan hasil penelitian pada SD Negeri 21 Pasir Tinggi yang menyatakan bahwa
keterbatasan pendampingan orang tua selama pembelajaran daring menjadi salah satu penyebab
utama menurunnya kemampuan literasi siswa pascapandemi (Handayani et al., 2024).
Pelaksanaan Gerakan PRO dilakukan melalui pendampingan membaca secara bertahap
berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada siswa
untuk belajar sesuai kemampuan awal masing-masing sehingga proses pembelajaran menjadi
lebih efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang awalnya belum mengenal huruf
mulai mampu membaca suku kata sederhana, sedangkan siswa yang sebelumnya membaca
dengan mengeja mulai menunjukkan peningkatan kelancaran membaca. Temuan ini mendukung
penelitian Pamungkas et al (2023) yang menjelaskan bahwa program pendampingan literasi
melalui Gerakan PRO mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa karena pembelajaran
dilakukan secara intensif dan lebih individual. Peningkatan kemampuan membaca siswa juga
dipengaruhi oleh penggunaan pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada siswa.
Dalam pelaksanaan Gerakan PRO, siswa tidak hanya diminta membaca teks, tetapi juga
diberikan motivasi, latihan berulang, permainan edukatif, dan pendampingan langsung.
Pendekatan tersebut membantu siswa lebih aktif dan percaya diri dalam belajar membaca. Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian Handayani et al (2024) yang menyatakan bahwa
penguatan literasi melalui Gerakan PRO dapat meningkatkan minat membaca dan partisipasi
aktif siswa dalam proses pembelajaran.
Selain itu, peningkatan kemampuan membaca siswa dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa pembelajaran yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan memberikan pengaruh
positif terhadap perkembangan literasi siswa sekolah dasar. Selama 10 kali pertemuan, jumlah
siswa yang mengalami kesulitan membaca mengalami penurunan pada hampir seluruh indikator
pengamatan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pembiasaan membaca secara konsisten mampu
meningkatkan kemampuan membaca siswa secara bertahap. Temuan ini didukung oleh
penelitian Himawanto et al (2022) yang menyatakan bahwa kelas literasi dan pendampingan
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
10
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
membaca secara intensif efektif dalam membantu siswa mengatasi kesulitan membaca dan
menulis pada masa pandemi. Program Gerakan PRO juga memberikan kontribusi yang cukup
besar terhadap peningkatan kualitas pembelajaran literasi di sekolah dasar. Kehadiran
mahasiswa membantu guru dalam melaksanakan pendampingan belajar yang lebih intensif
kepada siswa. Mahasiswa dapat memberikan inovasi pembelajaran, media pembelajaran yang
menarik, serta pendekatan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan siswa. Penelitian Mubarakati et
al (2023). menjelaskan bahwa Program Gerakan PRO memberikan dampak positif terhadap
peningkatan budaya literasi dan numerasi siswa sekolah dasar melalui berbagai inovasi
pembelajaran yang kreatif dan kolaboratif.
Hasil analisis pada Tabel 2 menunjukkan bahwa implementasi Gerakan Priority Reading
Optimistic (PRO) memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan literasi
membaca siswa sekolah dasar. Perubahan kategori dari dominan “kurang” pada kondisi awal
menjadi “cukup” hingga “baik” pada kondisi akhir menunjukkan adanya peningkatan bertahap
pada aspek literasi dasar. Temuan ini sejalan dengan penelitian Dhani & Wibowo (2025) yang
menunjukkan bahwa program literasi berbasis pendampingan seperti Kampus Mengajar mampu
meningkatkan kemampuan membaca melalui kegiatan terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis
kebutuhan siswa. Dengan demikian, model pendampingan PRO memiliki karakteristik yang
selaras dengan intervensi literasi yang efektif di sekolah dasar. Peningkatan paling menonjol
terjadi pada indikator kelancaran membaca dan pemahaman bacaan sederhana. Hal ini
mengindikasikan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan berulang mampu
memperkuat kemampuan decoding sekaligus pemaknaan teks. Hasil ini didukung oleh temuan
Salsabila & others (2024) yang menyatakan bahwa program literasi sistematis dengan
pendekatan pendampingan intensif mampu meningkatkan fluency dan reading comprehension
siswa sekolah dasar secara signifikan melalui latihan berkelanjutan dan evaluasi rutin. Dengan
demikian, struktur kegiatan PRO yang berbasis pengulangan dan pengelompokan kemampuan
siswa terbukti mendukung perkembangan literasi secara holistik. Pada aspek kesulitan awal
seperti pengenalan huruf dan membaca dengan mengeja, terjadi penurunan kategori dari
“kurang” menjadi “cukup–baik”. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi PRO efektif dalam
memperkuat kemampuan literasi dasar (early literacy skills). Penelitian Irma & others (2023)
juga menegaskan bahwa pendampingan individual dalam literasi membaca mampu mempercepat
penguasaan huruf dan transisi dari tahap mengeja menuju membaca kata secara utuh pada siswa
kelas rendah sekolah dasar . Hasil ini memperkuat bahwa pendekatan individual dan berbasis
level kemampuan merupakan strategi penting dalam mengatasi kesenjangan kemampuan
membaca.
Selain itu, peningkatan motivasi dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran juga
berkontribusi terhadap hasil yang diperoleh. Pendekatan interaktif dalam PRO, seperti latihan
rutin, pengelompokan kemampuan, dan pendampingan langsung, menciptakan lingkungan
belajar yang lebih adaptif dan suportif. Temuan ini konsisten dengan penelitian Fitriyanti &
others (2024) yang menunjukkan bahwa pendampingan literasi berbasis aktivitas interaktif
mampu meningkatkan minat baca dan motivasi belajar siswa sekolah dasar secara signifikan .
Dengan demikian, keberhasilan PRO tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis membaca, tetapi
juga oleh faktor afektif berupa motivasi dan kepercayaan diri siswa.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka memiliki peranan
penting dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar dibandingkan
pembelajaran daring. Selama pandemi, banyak siswa mengalami kesulitan memahami materi
karena keterbatasan interaksi dengan guru dan kurangnya akses teknologi. Setelah dilakukan
pendampingan langsung melalui Gerakan PRO, siswa menunjukkan perkembangan kemampuan
membaca yang lebih baik. Temuan ini didukung oleh penelitian internasional tentang
pembelajaran jarak jauh pada sekolah dasar yang menyatakan bahwa keterbatasan akses internet,
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
11
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
perangkat belajar, dan interaksi guru menjadi faktor utama menurunnya kualitas pembelajaran
selama pandemi Covid-19.(Rovai & Jordan, 2004).
Dalam konteks pembelajaran modern, keberhasilan program literasi juga dipengaruhi oleh
kemampuan guru dan pendamping dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan
karakteristik siswa. Pada penelitian ini, siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan
membaca sehingga strategi pendampingan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Pendekatan tersebut sesuai dengan penelitian Rahadian & Budiningsih (2023) yang menjelaskan
bahwa pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik dan gaya belajar siswa mampu
meningkatkan ketertarikan dan efektivitas belajar di kelas. Peningkatan kemampuan membaca
siswa melalui Gerakan PRO menunjukkan bahwa pembiasaan membaca dan pendampingan
individual merupakan strategi yang efektif untuk mengatasi rendahnya literasi membaca siswa
sekolah dasar pascapandemi. Program ini tidak hanya membantu siswa meningkatkan
kemampuan teknis membaca, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri, motivasi belajar, dan
partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, Gerakan Priority Reading
Optimistic (PRO) dapat dijadikan salah satu alternatif strategi penguatan literasi membaca pada
sekolah dasar, khususnya di daerah yang masih mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan dan
dampak learning loss pascapandemi Covid-19.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi membaca
siswa SD Negeri 21 Pasir Tinggi sebelum pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic
(PRO) masih tergolong rendah. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam mengenal huruf,
membaca dengan mengeja, kesalahan pengucapan kata, membaca lambat, serta belum mampu
memahami isi bacaan sederhana. Rendahnya kemampuan membaca tersebut dipengaruhi oleh
dampak pembelajaran daring selama pandemi Covid-19, keterbatasan pendampingan belajar di
rumah, serta rendahnya pembiasaan membaca pada siswa. Pelaksanaan Gerakan Priority
Reading Optimistic (PRO) melalui pendampingan membaca secara bertahap dan berkelanjutan
menunjukkan hasil yang positif terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca siswa.
Program ini dilakukan melalui pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan membaca, latihan
membaca rutin, pendampingan individual, serta pembelajaran interaktif yang disesuaikan dengan
kebutuhan siswa. Hasil pengamatan selama 10 kali pertemuan menunjukkan adanya penurunan
jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca dan peningkatan kemampuan membaca lancar
serta pemahaman bacaan sederhana. Dengan demikian, Gerakan Priority Reading Optimistic
(PRO) dapat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi
membaca siswa sekolah dasar, khususnya pada sekolah yang mengalami dampak learning loss
pascapandemi Covid-19. Selain meningkatkan kemampuan membaca, program ini juga
membantu meningkatkan motivasi belajar, rasa percaya diri, dan partisipasi aktif siswa dalam
proses pembelajaran. Oleh karena itu, program pendampingan literasi membaca secara intensif
dan berkelanjutan perlu terus dikembangkan sebagai upaya penguatan literasi di sekolah dasar.
5. References (Daftar Pustaka)
Abidin, Y. (2018). Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi
Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. Bumi Aksara.
Antasari, I. W. (2021). Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Kemampuan Literasi Membaca
Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 6(2), 8592.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
12
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
Condliffe, B., Quint, J., Visher, M. G., Bangser, M. R., Drohojowska, S., Saco, L., & Nelson, E.
(2017). Project-based Learning: a Literature Review. Mdrc : Building Knowledge to
Improve Social Policy, P-12 Education, 2.
Dalman. (2021). Keterampilan Membaca. Rajagrafindo Persada.
Dhani, A., & Wibowo, R. (2025). Program Kampus Mengajar dalam Peningkatan Kemampuan
Literasi Membaca Siswa Sekolah Dasar. Warta LPM.
https://journals2.ums.ac.id/index.php/warta/article/view/7159
Fitriyanti, L., & others. (2024). Pendampingan Literasi Berbasis Aktivitas Interaktif dalam
Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Pendidikan Dan
Pembelajaran. https://e-journal.nalanda.ac.id/index.php/jipm/article/view/1356
Han, W., Susanto, D., & Dewayani, S. (2017). Materi Pendukung Literasi Numerasi.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Handayani, D., Hariyanti, & Sasmita, S. K. (2024). Analisis Strategi dan Tantangan Program
Literasi Numerasi Kampus Mengajar di Sekolah Dasar. Jurnal Obsesi, 9(3).
Himawanto, D., Nugraha, F., & Sari, I. (2022). Pendampingan Literasi Membaca dan Menulis
pada Siswa Sekolah Dasar Selama Pandemi. Jurnal Abdimas Indonesia, 5(2), 98106.
Ifrida, F., Huda, M., Prayitno, H. J., Purnomo, E., & Sujalwo. (2023). Pengembangan dan
Peningkatan Program Kemampuan Literasi dan Numerasi Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal
Ilmiah Kampus Mengajar, 3(1), 112.
Irma, S., & others. (2023). Pendampingan Individual dalam Meningkatkan Kemampuan
Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar. Journal of Educational Research.
https://jer.or.id/index.php/jer/article/view/285
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook
(3rd ed.). Sage Publications.
Mubarakati, L., Hidayat, A., & Saputra, Y. (2023). Kontribusi Program Kampus Mengajar
terhadap Budaya Literasi dan Numerasi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dan
Pengabdian Masyarakat, 6(3), 145154.
Mustapa, M. (2024). Peningkatan Kemampuan Literasi Numerasi Peserta Didik Sekolah Dasar
melalui Program Kampus Mengajar. Jurnal Basicedu, 8(5), 40434050.
OECD. (2023). PISA 2022 Results: Learning During and From Disruption. OECD Publishing.
Pamungkas, A., Wibowo, H., & Lestari, S. (2023). Pembelajaran Kontekstual dalam
Meningkatkan Numerasi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar, 3(2), 88
97.
Plass, J. L., Homer, B. D., & Kinzer, C. K. (2015). Foundations of Game-Based Learning.
Educational Psychologist, 50(4), 258283.
https://doi.org/10.1080/00461520.2015.1122533
Pratama, R., & Widodo, A. (2022). Pengaruh Game Based Learning terhadap Keterlibatan
Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan, 8(1), 5563.
Putri, W. A., & Rahmah, N. (2023). Analisis Kemampuan Literasi Membaca Siswa Sekolah
Dasar Pascapandemi Covid-19. Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar, 7(2), 112120.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 3, No. 1, Mei 2026, page: 1-13
E-ISSN: 3064-0180
13
Indah Rahmalia et.al (Strategi Peningkatan Literasi Membaca Siswa.)
Rahadian, F., & Budiningsih, A. (2023). Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan
Efektivitas Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 9(1), 66
75.
Rahim, F. (2018). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Bumi Aksara.
Rovai, A. P., & Jordan, H. M. (2004). Blended Learning and Sense of Community: A
Comparative Analysis with Traditional and Fully Online Graduate Courses. International
Review of Research in Open and Distance Learning, 5(2), 119.
https://doi.org/10.19173/irrodl.v5i2.192
Salsabila, N., & others. (2024). Efektivitas Program Literasi Sistematis terhadap Peningkatan
Fluency dan Reading Comprehension Siswa Sekolah Dasar. Jurnal JOMPARND.
https://jurnal.jomparnd.com/index.php/jpabdi/article/view/1497
Sari, N., & Nugroho, A. (2022). Pendampingan Literasi Membaca melalui Pembelajaran
Interaktif pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Literasi Pendidikan, 4(1), 4553.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R\&D.
Alfabeta.
Susanto, A. B. (2024). Implementasi Program Kampus Mengajar untuk Meningkatkan Literasi
dan Numerasi bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi. Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar,
4(2), 147154.
Tarigan, H. G. (2015). Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa.
Yuda, E. K., & Rosmilawati, I. (2024). Literasi Numerasi di Sekolah Dasar Berdasarkan
Indikator PISA 2023. Journal of Instructional and Development Researches, 4(3).