Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 70 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 24/03/2026Disetujui: 18/05/2026Diterbitkan:01/06/2026
Pengembangan LKPD Mini Booklet Kearifan Lokal Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia
Kelas V SD
Vanesa Dwi Agustin
1
, Nurul Istiq’faroh
2
, Ledia Hanifah
3
, Adzra Taqiyah Zahra Labibah
4
1,2,3,4
Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
e-mail:
1
24010644004@unesa.ac.id,
2
nurulistiqfaroh@unesa.ac.id,
3
24010644312@mhs.unesa.ac.id,
4
24010644316@mhs.unesa.ac.id
Abstrak: Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar sering kali monoton dan berpusat pada guru,
menyebabkan rendahnya minat dan pemahaman membaca siswa, serta minimnya integrasi kearifan lokal
yang dapat memperkaya literasi budaya. Kearifan lokal merupakan pengetahuan, nilai, serta tradisi yang
berkembang dalam masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas
budaya suatu daerah. Melalui pembelajaran berbasis kearifan lokal, siswa tidak hanya memperoleh
pengetahuan akademik tetapi juga dapat mengenal, memahami, serta menghargai budaya daerahnya sendiri.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan LKPD Mini Booklet berbasis kearifan lokal Kota Solo untuk
meningkatkan keterampilan membaca kelas V SD. Metode Research and Development (R&D) dengan
model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) diterapkan di SD Gresik semester genap 2025/2026,
melibatkan analisis kebutuhan, perancangan, validasi ahli, dan uji coba pada 23 siswa. Instrumen berupa
lembar validasi dan angket respon dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan LKPD sangat
layak (validasi ahli media 80%, materi 88%) dan praktis (77,75%). Simpulan, LKPD ini efektif sebagai
media inovatif yang menarik dan kontekstual; prospeknya dapat diuji efektivitasnya pada hasil belajar serta
dikembangkan untuk materi lain.
Kata kunci: LKPD Mini Booklet, Kearifan Lokal, Pembelajaran, Membaca, Model 4D, Bahasa Indonesia
SD
Development of Mini Booklet LKPD Local Wisdom in Indonesian Language Learning
for Grade V Elementary School
Abstract: Indonesian language learning in elementary schools is often monotonous and teacher-centered,
leading to low reading interest and comprehension among students, with minimal integration of local
wisdom to enrich cultural literacy. Local wisdom constitutes knowledge, values, and traditions that develop
within society and are passed down from generation to generation as part of a region’s cultural identity.
Through learning based on local wisdom, students not only acquire academic knowledge but also learn to
know, understand, and appreciate their own regional culture. This study aimed to develop a Mini Booklet
LKPD based on Solo City’s local wisdom to enhance reading skills for fifth-grade elementary students. The
Research and Development (R&D) method using the 4D model (Define, Design, Develop, Disseminate)
was implemented at an elementary school in Gresik during the even semester of 2025/2026, involving needs
analysis, design, expert validation, and trials with 23 students. Instruments included validation sheets and
response questionnaires, analyzed descriptively and quantitatively. Results indicated the LKPD was highly
feasible (media expert 80%, material expert 88%) and practical (77.75%). In conclusion, this LKPD serves
as an innovative, engaging, and contextual medium; future prospects include testing its effectiveness on
learning outcomes and expansion to other materials.
Keywords: Mini Booklet LKPD, local wisdom, reading learning, 4D model, Indonesian elementary.
Hak Cipta©2026 Vanesa Dwi Agustin, Nurul Istiq’faroh, Ledia Hanifah, Adzra Taqiyah Zahra Labibah
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 71 -
1. Pendahuluan
Pendidikan harus terus-menerus diawasi dan dirawat sebagai dasar untuk membentuk cara berpikir
dan kebiasaan. (Slavin, 2018) mengemukakan bahwa, anak-anak yang masih di sekolah dasar sedang
berada di fase berpikir konkret, di mana mereka mendapatkan ilmu melalui pengalaman langsung, bermain
dengan barang, dan berinteraksi dengan orang lain. Sesuai dengan padangan Ki Hajar Dewantara dalam
(Istiq’faroh, 2020) yang menyatakan bahwa pendidikan yang baik harus sesuai dengan tahap perkembangan
anak. Hal ini sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional yang termaktub dalam Pasal 1 ayat (1) UU No.
20 Tahun 2003, di mana pendidikan diarahkan untuk mengembangkan potensi spiritual, pengendalian diri,
hingga keterampilan yang relevan bagi masyarakat. Visi ini kemudian dipertajam melalui pengembangan
Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2022), yang menitikberatkan pada perwujudan pelajar
sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,
termasuk beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia."
Terdapat empat aspek dalam keterampilan berbahasa saling berkaitan, antara lain yang dimulai dari
kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Setiawan et al., 2023). Membaca merupakan bagian
dari literasi, yakni kemampuan seseorang mengakses, memahami, dan menggunakan informasi dalam
berbagai konteks kehidupan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Literasi sosial dan budaya
di sekolah atau madrasah tidak hanya berarti bisa membaca dan menulis. Tapi juga termasuk kemampuan
untuk mengerti budaya, menjadi warga negara yang baik, dan mengelola informasi (Marlina &
Halidatunnisa, 2022). Dengan itu makna dari membaca merupakan kegiatan penting untuk memperoleh
ilmu pengetahuan, karena melibatkan proses berpikir dalam memahami makna teks (Rinawati, 2020).
Banyak siswa sekolah dasar yang masih merasa bosan dengan metode pembelajaran membaca yang
monoton dan berpusat pada guru. Kondisi tersebut menyebabkan motivasi belajar dan minat membaca
siswa menjadi rendah sehingga berdampak pada kemampuan memahami bacaan. Pembelajaran membaca
yang hanya menggunakan buku teks tanpa variasi media sering kali membuat siswa kurang tertarik untuk
mengikuti kegiatan belajar. Padahal, pada jenjang sekolah dasar, siswa membutuhkan pembelajaran yang
menarik dan interaktif agar mereka lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Oleh karena itu,
diperlukan inovasi dalam penggunaan media pembelajaran yang mampu meningkatkan minat serta
pemahaman membaca siswa. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dan informasi dalam proses belajar sehingga dapat merangsang perhatian, minat, serta
pemahaman peserta didik (Arsyad, 2017; Hamalik, 2016; Sudjana & Rivai, 2017). Hal ini terjadi karena isi
buku teks terlalu banyak dan tidak memberikan contoh yang jelas bagi siswa, sehingga membuat siswa
kesulitan untuk mengerti pelajaran yang diajarkan. Terkait dengan hal itu, (Niswandil Akrom, 2021)
menjelaskan bahwa penggunaan buku tambahan atau alat bantu sangat penting untuk memaksimalkan
kekurangan materi di buku utama. Adanya media yang lebih spesifik dapat membantu memberikan
informasi yang lebih tepat dan sesuai dengan konteks, sehingga memudahkan siswa di sekolah dasar untuk
memahami pelajaran.
Penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih
mudah sekaligus meningkatkan motivasi belajar mereka. Sehingga guru sebagai fasilitator harus memiliki
pemahaman tentang berbagai media serta sumber pembelajaran (Aliyah & Istiq’faroh, 2022). Media
pembelajaran yang menarik mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan
sehingga siswa tidak merasa jenuh ketika membaca. Salah satu media yang dapat digunakan dalam
pembelajaran membaca adalah mini booklet, yaitu media pembelajaran berbentuk buku kecil yang memuat
informasi secara singkat, padat, serta dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Mini booklet dirancang
dengan ukuran yang praktis sehingga memudahkan siswa untuk membaca dan memahami isi materi secara
bertahap. Tampilan visual yang menarik pada mini booklet juga dapat digunakan dalam pembelajaran
membaca adalah mini booklet, yaitu media pembelajaran berbentuk buku kecil yang memuat informasi
secara singkat, padat, serta dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Mini booklet dirancang dengan
ukuran yang praktis sehingga memudahkan siswa untuk membaca dan memahami isi materi secara
bertahap. Tampilan visual yang menarik pada mini booklet juga dapat membantu siswa lebih fokus serta
mengurangi rasa bosan dalam kegiatan membaca (Arsyad, 2017; Prastowo, 2019; Daryanto, 2016).
Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang
menarik dapat meningkatkan minat serta kemampuan membaca siswa. Media visual dan bahan bacaan yang
disajikan secara ringkas terbukti mampu membantu siswa memahami isi bacaan dengan lebih baik karena
informasi disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 72 -
penggunaan media visual dan bahan bacaan yang ringkas mampu meningkatkan motivasi belajar serta
pemahaman siswa terhadap isi bacaan (Rahmawati, 2021; Pratama, 2022; Sari, 2020). Meskipun demikian,
sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada penggunaan media booklet secara umum dan belum
banyak yang mengintegrasikan materi pembelajaran dengan kearifan lokal sebagai konteks pembelajaran
yang dekat dengan kehidupan siswa. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap)
yang masih perlu dikaji lebih lanjut. Selain itu, berdasarkan kondisi di lapangan pada salah satu sekolah
dasar di Gresik, pembelajaran membaca masih berpusat pada guru dan hanya menggunakan buku teks
sehingga siswa mudah merasa bosan dan minat membaca menjadi rendah. Pembelajaran juga belum
memanfaatkan media yang menarik serta belum mengintegrasikan kearifan lokal.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar masih sering didominasi oleh metode konvensional
yang berpusat pada guru sehingga menyebabkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran menjadi
rendah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya minat belajar serta hasil belajar siswa. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh (Rukmi, Istiq’faroh, Azizah, Pramudita, Aprilia, dan Tien-Hsiang, 2023) menunjukkan
bahwa pembelajaran yang kurang inovatif membuat siswa cenderung pasif dan kurang tertarik dalam
mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pembelajaran, baik
melalui penggunaan model maupun media pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan serta
pemahaman siswa. Lebih lanjut, penerapan model pembelajaran yang inovatif seperti Problem Based
Learning terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan karena melibatkan siswa
secara aktif dalam memecahkan masalah yang kontekstual. Penelitian tersebut menunjukkan adanya
peningkatan hasil belajar dari kategori rendah menjadi tinggi setelah penerapan pembelajaran inovatif
(Rukmi, Istiq’faroh, Azizah, Pramudita, Aprilia, & Tien-Hsiang, 2023).
Padahal, pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran memiliki peran penting dalam
menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik sejak dini. Kearifan lokal merupakan pengetahuan,
nilai, serta tradisi yang berkembang dalam masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai
bagian dari identitas budaya suatu daerah. Melalui pembelajaran berbasis kearifan lokal, siswa tidak hanya
memperoleh pengetahuan akademik tetapi juga dapat mengenal, memahami, serta menghargai budaya
daerahnya sendiri. Namun pada kenyataannya, materi pembelajaran di sekolah sering kali belum banyak
memanfaatkan potensi kearifan lokal yang ada di lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar (Suyitno,
2020; Tilaar, 2018; Koentjaraningrat, 2015). Kondisi ini menyebabkan siswa kurang mengenal budaya
daerahnya sendiri.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan inovasi media pembelajaran yang tidak hanya mampu
meningkatkan keterampilan membaca siswa tetapi juga dapat memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal
kepada mereka. Salah satu alternatif solusi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah media mini
booklet berbasis kearifan lokal. Media ini dirancang dengan memuat berbagai informasi mengenai budaya
daerah, seperti makanan khas, tradisi, serta tempat bersejarah yang ada di Kota Solo. Selain itu, kearifan
lokal juga dipadukan dengan materi penggunaan huruf kapital, kalimat perintah, dan membaca cepat
(scanning), serta dipadukan dengan materi bilangan dan angka. Penyajian materi dalam bentuk teks yang
singkat disertai gambar diharapkan dapat membantu siswa lebih mudah memahami isi bacaan sekaligus
menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah (Prastowo, 2019; Suyitno, 2020; Daryanto, 2016).
Kebaruan (novelty) dalam penelitian ini terletak pada pengembangan dan pemanfaatan media mini
booklet yang mengintegrasikan keterampilan membaca dengan materi kearifan lokal Kota Solo. Dengan
demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan literasi siswa, tetapi juga pada
penguatan identitas budaya peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk untuk
mengetahui tingkat kevalidan dan kepraktisan media mini booklet berbasis kearifan lokal yang
dikembangkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru sebagai alternatif
media pembelajaran yang inovatif dan kontekstual, bagi siswa untuk meningkatkan minat serta pemahaman
membaca, serta bagi peneliti lain sebagai referensi dalam pengembangan media pembelajaran berbasis
kearifan lokal di tingkat sekolah dasar (Rahmawati, 2021; Pratama, 2022; Sari, 2020).
2. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini jenis metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) yang
bertujuan untuk mengembangkan produk berupa LKPD mini booklet sebagai bahan ajar dalam
pembelajaran. Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D yang terdiri dari 4 tahap yaitu Define
(Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran),
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 73 -
sebagaimana dijelaskan oleh Sigit Widodo, B. (2021). Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD di Gresik
pada semester genap/II tahun ajaran 2025/2026. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V yang
terlibat dalam uji coba penggunaan LKPD mini booklet dalam pembelajaran, serta validator ahli materi dan
ahli media. Prosedur penelitian yang dilakukan dimulai dari tahap define yang dilakukan dengan
menganalisis kebutuhan pembelajaran, karakteristik siswa, serta permasalahan yang terjadi selama
pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan analisis kurikulum dan materi yang akan digunakan sebagai
pengembangan LKPD mini booklet. Tahap design dilakukan untuk merancang struktur, isi materi, serta
tampilan LKPD mini booklet yang akan dikembangkan. Kemudian pada tahap develop dilakukan dengan
pembuatan produk LKPD mini booklet serta validasi oleh ahli materi dan ahli media untuk mengetahui
kelayakan produk.
Setelah produk direvisi berdasarkan saran dari validator, LKPD mini booklet di uji cobakan dalam
kegiatan pembelajaran di kelas. Pada kegiatan uji coba produk dalam pembelajaran, guru dan siswa diberi
angket respon umtuk mengetahhui tanggapan terhadap penggunaan LKPD mini booklet yang
dikembangkan. Data yang diperoleh dari angket tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kepraktisan
dan penerimaan produk dalam proses pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari
lembar validasi oleh ahli materi dan media, dan juga angket respon siswa terhadap penggunaan produk
LKPD mini booklet selama pembelajaran. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui proses
validasi yang dilakukan oleh para ahli serta penyebaran angket siswa. Data yang dikumpulkan dianalisis
dengan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan menghitung skor penilaian untuk mengetahui tingkat
kelayakan dan kepraktisan produk LKPD mini booklet yang dikembangkan.
3. Hasil dan Pembahasan
Tahap Perancangan
Perancangan desain LKPD Mini Booklet yang akan di kembangkan.
Gambar 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 Perancangan desain LKPD Mini Booklet yang akan di kembangkan
a. Kevalidan
kelayakan LKPD Mini Booklet di perkuat oleh hasil validasi ahli media dan materi yang dilakukan
oleh praktisi pendidikan (Guru).
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 74 -
Tabel 1. Hasil Validasi Ahli Media
No
Aspek
Indikator
Skor
Kriteria
1
Efisiensi Media
Kesesuaian media dengan tujuan
pembelajaran
4
Baik
Kesesuaian media dengan tema yang
dipilih
4
Baik
2
Mudah Pengelolaan
Mudah dalam penggunaan media
5
Sangat Baik
Kejelasan petunjuk media dalam
penggunaan
4
Baik
Kemudahan dalam penyimpanan media
4
Baik
3
Pemanfaatan
Kembali
Kemampuan media untuk digunakan
kembali
5
Sangat Baik
Kemampuan media untuk dapat
menciptakan rasa senang peserta didik
4
Baik
4
Kebermaknaan
Kesesuaian media dengan karakteristik
peserta didik
3
Cukup
Penggunaan media dapat meningkatkan
aktivitas belajar
4
Baik
5
Komunikatif
Ketepatan pada jenis huruf
3
Cukup
Ketepatan dengan ukuran huruf
3
Cukup
Keterbacaan pada tulisan
4
Baik
6
Penggunaan Warna
Ketepatan pada komposisi warna
4
Baik
Ketepatan dalam penggunaan gambar
3
Cukup
7
Desain
Kualitas tampilan media
3
Cukup
Ketepatan ukuran media
5
Sangat Baik
Kualitas bentuk media
5
Sangat Baik
Kerapaian desain
4
Baik
Sederhana
5
Sangat Baik
Jumlah Skor
80
Presentase Nilai
80%
Kategori
Sangat Layak
Media mendapatkan jumlah skor 80 dengan persentase 80%, sehingga dikategorikan Sangat Layak.
Validator memberikan kesimpulan bahwa media layak digunakan untuk penelitian dengan catatan
perbaikan pada ukuran huruf yang harus diperbesar dan peningkatan kualitas daya tarik gambar
Tabel 2. Hasil Validasi Ahli Materi
No
Aspek
Indikator
Skor
Kriteria
1
Tujuan
Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran ditulis secara jelas
4
Baik
Tujuan sesuai dengan materi kearifan
lokal Solo
5
Sangat Baik
2
Materi
Pembelajaran
Materi sesuai dengan kurikulum Bahasa
Indonesia kelas V
5
Sangat Baik
Konsep kearifan lokal disajikan dengan
benar
5
Sangat Baik
Materi disajikan secara runtut dan
sistematis
4
Baik
Contoh relevan dengan kehidupan siswa
3
Cukup
Bahasa komunikatif dan mudah dipahami
4
Baik
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 75 -
Materi sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa
4
Baik
3
Kelayakan Isi
LKPD mendorong keaktifan dan
partisipasi siswa
4
Baik
Informasi budaya yang disajikan akurat
5
Sangat Baik
Materi berkaitan dengan konteks
kehidupan nyata
4
Baik
4
Evaluasi
Soal sesuai dengan indikator
pembelajaran
4
Baik
Tingkat kesulitan soal bervariasi
4
Baik
Jumlah Skor
57
Presebtase Nilai
88%
Kategori
Sangat Layak
Presentase nilai pada Tabel Ahli Materi dihitung berdasarkan skor total yang diperoleh (57) dari skor
maksimal (65), menghasilkan angka 88% yang masuk dalam kategori Sangat Layak. Secara umum,
validator menyatakan bahwa produk ini “Layak digunakan untuk penelitian”. Meskipun dinyatakan layak,
validator memberikan beberapa saran penting untuk memperbaiki bagian teknis dan penampilan media.
Salah satu hal yang ditegaskan adalah tentang ukuran huruf harus ditingkatkan. Hal ini sangat penting
karena sasaran penggunanya adalah siswa kelas V SD yang perlu kemudahan dalam membaca yang baik
untuk memahami petunjuk dalam LKPD. Mengubah ukuran huruf ini sesuai dengan prinsip desain media
pembelajaran menurut (Sudjana dan Rivai, 2015) yang mengatakan bahwa tulisan dalam media harus jelas
agar tidak mengganggu siswa dalam memahami informasi.
Validator juga memberi saran tentang tampilan media, seperti warna yang tidak terlalu mencolok
dan gambar yang harus menarik perhatian anak-anak sekolah dasar. Saran ini menunjukkan bahwa dalam
bentuk booklet kecil daya tarik dari tampilan visual sangat penting untuk mendorong siswa belajar. Gambar
dan warna bukan hanya dekorasi, tetapi juga bagian penting yang membantu siswa untuk memahami materi
tentang kearifan lokal dengan cara yang jelas. Tindak lanjut dari hasil validasi ini adalah melakukan
perbaikan pada draf produk dengan memperbesar ukuran huruf dan meningkatkan kontras warna serta
kualitas gambar agar lebih cocok dengan karakter psikologis anak-anak di sekolah dasar. Proses ini
memastikan bahwa LKPD Mini Booklet yang dibuat tidak hanya valid secara teori, tetapi juga praktis dan
menarik secara visual saat digunakan di lapangan. Menurut Tegeh dan Kirana (2013), perbaikan
berdasarkan masukan para ahli adalah langkah penting untuk mengurangi masalah teknis dalam belajar,
sehingga produk akhirnya benar-benar siap untuk menjadi sarana pendukung literasi yang efektif bagi siswa
kelas V SD.
Kepraktisan
Kepraktisan LKPD Mini Booklet Kearifan Lokal diukur menggunakan angket respon siswa yang
terdiri dari 15 pertanyaan dengan skala penilaian 1-4. Angket ini diisi oleh 23 siswa kelas V sekolah dasar.
Sebelum menyajikan hasil, kategori kepraktisan ditentukan berdasarkan presentase skor yang diperoleh
dengan kriteria sebagai berikut.
Tabel 1. Kriteria/Indikator Skor Kepraktisan
Kriteria
Sangat Praktis
Praktis
Cukup Praktis
Kurang Praktis
Tidak Praktis
Sumber: Agustina et al., (2023) dalam Aisyah et al., (2024)
Berdasarkan hasil pengisian angket oleh siswa, diperoleh data sebagaimana disajikan pada Tabel 2
berikut.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 76 -
Tabel 2. Hasil angket respon siswa terhadap kepraktisan LKPD Mini Booklet
No
Nama
Skor Total
1
Siswa A
49
2
Siswa B
54
3
Siswa C
50
4
Siswa D
48
5
Siswa E
46
6
Siswa F
31
7
Siswa G
47
8
Siswa H
47
9
Siswa I
44
10
Siswa J
42
11
Siswa K
54
12
Siswa L
55
13
Siswa M
35
14
Siswa N
49
15
Siswa O
51
16
Siswa P
48
17
Siswa Q
45
18
Siswa R
43
19
Siswa S
45
20
Siswa T
52
21
Siswa U
42
22
Siswa V
45
23
Siswa W
51
Total keseluruhan
1.073
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh total skor sebesar 1.073 dengan jumlah siswa sebanyak 23
orang. Maka rata-rata skor yang diperoleh adalah:
= 46, 65
Selanjutnya, nilai tersebut dikonversi ke dalam bentuk persentase sebagai berikut:
x 100 = 77,75 %
Sehingga, berdasarkan kriteria nilai kepraktisan yang telah ditentukan, maka nilai 77,75% masuk ke
dalam kategori praktis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa LKPD Mini Booklet Kearifan Lokal yang
telah dikembangkan memperoleh nilai sebesar 77,75% dengan kategori praktis. Sehingga, LKPD tersebut
mudah digunakan oleh siswa kelas V dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian,
LKPD tersebut memenuhi kriteria kepraktisan, yang merupakan salah satu kriteria penting dalam penelitian
pengembangan. Nilai yang diperoleh tersebut juga menunjukkan bahwa LKPD sudah digunakan oleh
sebagian besar siswa dengan baik. Kepraktisan merupakan salah satu aspek penting dalam penelitian
pengembangan. Kepraktisan sendiri mengacu pada kemudahan penggunaan produk oleh pengguna, baik
dari segi, bahasa, isi, maupun tampilan. Produk yang praktis akan memungkinkan siswa untuk belajar
secara mandiri tanpa mengalami kesulitan. Oleh karena itu, dalam menentukan kelayakan suatu bahan ajar,
kepraktisan menjadi indikator yang penting.
Berdasarkan data yang diperoleh, sebagian besar siswa memberikan respon yang positif terhadap
LKPD. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang memperoleh skor total angket dalam kategori tinggi.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 77 -
Siswa menilai bahwa bahasa dalam LKPD mudah dipahami, petunjuk jelas, dan memiliki tampilan yang
menarik. Sehingga, menunjukkan bahwa LKPD mampu mendukung proses pembelajaran yang lebih
efektif. Selain itu, kebahasaan yang ada dalam LKPD seperti huruf kapital, kalimat perintah, membaca
scanning, dan adanya teka-teki silang memberikan variasi dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar. Dengan
adanya variasi dalam belajar, siswa menjadi tidak mudah bosan, tidak mudah mengantuk, fokus, dan siswa
lebih aktif, sehingga tujuan belajar mudah tercapai (Sumiani HSB et al., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa
LKPD tidak hanya menyajikan tugas saja, tetapi mampu meningkatkan ketertarikan siswa dalam proses
pembelajaran.
Penggunaan LKPD dengan integrasi kearifan lokal mendukung kepraktisan pembelajaran karena
tugas yang diberikan juga mendukung siswa untuk mengetahui kearifan lokal dari daerah lain. Sehingga,
pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa mendapatkan wawasan baru. Oleh karena itu, integrasi
kearifan lokal dalam LKPD menjadi salah satu keunggulan yang membuat siswa lebih tertarik dlama
pembelajaran. Namun demikian, dari data hasil angket menunjukkan masih adanya bagian LKPD yang
perlu diperbaiki, terutama pada bagian kejelasan petunjuk dan tingkat kesulitan soal. Secara keseluruhan,
LKPD Mini Booklet Kearifan Lokal telah memenuhi kriteria kepraktisan dan layak digunakan dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V sekolah dasar, serta menjadi bahan ajar yang menarik dan efektif.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa LKPD Mini Booklet
berbasis kearifan lokal yang telah dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan dan kepraktisan. Hasil
validasi oleh para ahli menunjukkan bahwa produk ini cocok untuk digunakan dalam penelitian, tetapi perlu
diperbaiki dalam hal ukuran huruf, warna, dan kualitas gambar agar lebih disesuaikan dengan karakteristik
siswa sekolah dasar. Selain itu, hasil uji kepraktisan yang didasarkan dari angket siswa, menunjukkan nilai
akhir 77,75% yang masuk dalam kategori praktis. Hal ini menunjukkan bahwa LKPD mudah digunakan,
ditulis dnegan bahasa yang jelas, menarik secara visual, dan efektif dalam emmbantu siswa memahami
pembelajaran Bahasa Indonesia. Saran bagi guru untuk memanfaatkan LKPD Mini Booklet berbasis
kearifan lokal sebagai bahan ajar yang praktis dan menarik, dengan tetap melakukan perbaikan pada
kejelasan petunjuk serta tingkat kesulitan soal. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat menguji
keefektifan LKPD terhadap hasil belajar siswa serta mengembangkannya pada materi dan jenjang
pendidikan yang berbeda.
5. Daftar Pustaka
Aisyah, R. P., Elfitra, L., Andheska, H., Shanty, I. L., Testy, F., Loren, A., Lolita, A., Bahasa, P., Indonesia,
S., Maritim Raja, U., Haji, A., Dompak, J. R., & Tanjungpinang, K. (2024). KEPRAKTISAN
MEDIA PEMBELAJARAN BELAJAR PUISI RAKYAT (BERSIRAT) BERBANTUAN MOBILE
WORDWALL APPS UNTUK SISWA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Jurnal
Edukasi Khatulistiwa Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(2), 98109.
https://doi.org/10.26418/ekha.v7i2.82475
Aliyah, A., & Istiq’faroh, N. (2022). Pengembangan Media FlipBook Bahasa Indonesia Materi Fabel Kelas
IV SD. Jurnal Muassis Pendidikan Dasar, 1(1), 19.
Arsyad, A. (2017). Media pembelajaran. Rajagrafindo Persada.
Daryanto. (2016). Media pembelajaran. Gava Media.
Hamalik, O. (2016). Proses belajar mengajar. Bumi Aksara.
Istiqfaroh, N., & Akrom, N. (2021). Pengembangan Buku Suplemen IPS Tema “Indahnya Kebersamaan”
Berbasis Kearifan Lokal Sidoarjo. Lintang Songo: Jurnal Pendidikan, 4(2), 19-24.
https://journal.unusida.ac.id/index.php/jls/article/view/436
Istiq’faroh, N. (2020). Relevansi filosofi ki hajar dewantara sebagai dasar. Lintang Songo: Jurnal
Pendidikan, 3(2), 110. https://journal.unusida.ac.id/index.php/jls/article/view/266
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 70-78
E-ISSN: 3026-4014
- 78 -
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Materi pendukung literasi baca tulis: Gerakan literasi
nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Keputusan Kepala Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek Nomor 009/H/KR/2022 tentang Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Marlina, L., & Halidatunnisa, L. (2022). Literasi budaya dan kewargaan sebagai instrumen pembentuk
karakter warga negara. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 19(1).
Prastowo, A. (2019). Pengembangan bahan ajar tematik. Kencana.
Pratama, A. (2022). Penggunaan media visual dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Jurnal
Pendidikan Dasar, 10(1), 2129.
Rukmi, A. S., Istiq’faroh, N., Azizah, A. N., Pramudita, A. P., Aprilia, V., & Tien-Hsiang, M. L. (2023).
Model problem based learning meningkatkan hasil belajar muatan pelajaran Bahasa Indonesia
sekolah dasar. EduStream: Jurnal Pendidikan Dasar, 7(2), 132142.
Rinawati. (2020). Peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan
Dasar, 8(1), 5562.
Rahmawati, D. (2021). Pengaruh media pembelajaran terhadap minat baca siswa sekolah dasar. Jurnal
Pendidikan, 9(1), 3340.
Sari, M. (2020). Efektivitas bahan ajar ringkas terhadap pemahaman membaca siswa. Jurnal Literasi, 4(2),
8895.
Setiawan, R., Muhimmah, H. A., Subrata, H., Istiq’faroh, N., Abidin, Z., & Noerdiana, A. F.
(2023). Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Inovatif Tingkat Sekolah Dasar
Dengan Teori Belajar Sibernetika. Jurnal Review Pendidikan Dasar : Jurnal Kajian
Pendidikan Dan Hasil Penelitian, 9(2), 117122. https://doi.org/10.26740/jrpd.v9n2.p117-
122
Slavin, R. E. (2018). Educational psychology: Theory and practice (12th ed.). Pearson.
Sumiani HSB, Jefryanti Syafitri, & Gusmaneli Gusmaneli. (2024). Pengembangan Variasi Mengajar.
Dewantara : Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 3(2), 6478.
https://doi.org/10.30640/dewantara.v3i2.2464
Sudjana, N., & Rivai, A. (2017). Media pengajaran. Sinar Baru Algensindo.
Tilaar, H. A. R. (2018). Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia. Remaja Rosdakarya.
Widodo, B. S. (2021). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan sistematis & komprehensif. Yogyakarta:
Eiga Media.