Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-16
E-ISSN: 3026-4014
- 1 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 23/03/2026Disetujui: 17/05/2026Diterbitkan:01/06/2026
Pengaruh Kecanduan Media Sosial Tiktok Terhadap Minat Belajar Matematika Siswa
Kelas III SD NU Sleman
Nisa Nurhayati, Wahyu Purwaningsih
Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta
Jl. Ringroad Barat, Dowangan, Banyuraden, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakara
E-mail: nisanurhayati872@gmail.com
Abstrak: Penggunaan tiktok yang berlebihan berpotensi menimbulkan kecanduan dan memengaruhi
berbagai aspek perkembangan siswa, termasuk minat belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh kecanduan media sosial tiktok terhadap minat belajar matematika siswa kelas III SD NU
Sleman. Metode yang digunakan adalah kuantitatif ex-post facto dengan jumlah sebanyak 68 siswa yang
ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis
dengan teknik analisis regresi linear sederhana dan analisis koefisien determinasi (R2). Pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa kecanduan media sosial tiktok berpengaruh signifikan terhadap variabel
minat belajar matematika. Koefisien determinasi yang diperoleh adalah Y=33.971+0,237, yang berarti
setiap peningkatan satu satuan pada variable X, maka minat belajar matematika (Y) akan meningkat
sebesar (0,237) satuan dengan nilai konstanta 33.975. Nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah
0,174 (17,4%), artinya kecanduan tiktok memiliki pengaruh kontribusi sebesar17,4% terhadap minat
belajar matematika dan 82,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya yang dijelaskan oleh model lain di
luar topik penelitian ini.
Kata kunci: Kecanduan Tiktok, Minat Belajar, Matematika
The Influence of TikTok Social Media Addiction on Mathematics Learning Interest of Grade III
Students at NU Elementary School, Sleman
Abstract: Excessive use of tiktok has the potential to cause addiction and affect various aspects of student
development, including learning interest. This study aims to analyze the effect of TikTok social media
addiction on the interest in learning mathematics of third-grade students at SD NU Sleman. The method
used is quantitative ex-post facto with a total of 68 students determined through purposive sampling
technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed using simple linear regression
analysis techniques and coefficient of determination (R2) analysis. Hypothesis testing shows that TikTok
social media addiction has a significant effect on the variable of interest in learning mathematics. The
coefficient of determination obtained is Y = 33.971 + 0.237, which means that for every one unit increase
in variable X, the interest in learning mathematics (Y) will increase by (0.237) units with a constant value
of 33.975. The coefficient of determination obtained is 0.174 (17.4%), meaning that TikTok addiction has
a 17.4% contribution to interest in learning mathematics and the remaining 82.6% is influenced by other
factors explained by other models outside the topic of this study.
Keywords: Tiktok addiction, Learning interest, Mathematics
Hak Cipta©2026 Nisa Nurhayati, Wahyu Purwaningsih
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-16
E-ISSN: 3026-4014
- 2 -
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi dalam pendidikan membawa berbagai perubahan terhadap kehidupan
masyarakat di Indonesia tanpa terkecuali. Hal ini dibuktikan dengan UU Nomor 1 tahun 2024 bab 2
pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan berfungsi sebagai fasilitas bagi para siswa dalam
belajar mengembangkan kemampuan keterampilan seperti kecerdasan, moral, etika yang digunakan
untuk kehidupan sehari-hari. Belajar tidak cukup di lingkungan sekolah saja, melainkan di
lingkungan luar sekolah juga bisa mendapatkan pendidikan baik itu untuk berbagai interaksi sosial
seperti penggunaan teknologi pada anak secara bebas tanpa didampingi oleh orang tua atau pun
guru (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik, 2024). Pendampingan orang tua dalam penggunaan teknologi sangat penting untuk
mencegah terjadinya dampak negatif serta terjadinya perubahan lain yang terjadi akibat penggunaan
teknologi. Tanpa pendampingan orang tua, anak rentan terhadap konten negatif yang dapat memicu
perubahan sikap seperti perilaku pemarah, tekanan sosial serta menurunnya konsentrasi belajar.
Perubahan yang diakibatkan penggunaan teknologi telah memberikan perubahan yang sangat
pesat termasuk dalam bidang teknologi dan digital, dimana media sosial seperti media sosial tiktok
yang sangat krusial digunakan oleh semua orang. Perubahan tersebut juga sangat mempengaruhi
proses pendidikan dan membantu mencapai tujuan pendidikan yang sama (Amaliyah & Rahmat,
2021). Pencapaian tujuan dalam pendidikan dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan
masyarakat, termasuk anak-anak usia sekolah dasar (SD). Hal tersebut merupakan dampak
perkembangan teknologi salah satunya yaitu kemunculan media sosial yang kini menjadi bagian
penting dalam kehidupan sehari-hari (Puradireja et al., 2024). Kemunculan media sosial telah
mengubah kehidupan manusia menjadi lebih modern dengan memfasilitasi komunikasi instan lintas
jarak, mengakses berita tanpa batas, serta berbagi konten kreatif seperti video edukatif yang
mendukung pembelajaran mandiri.
Perubahan ini terlihat sangat jelas dapat memberikan perubahan pada pola kehidupan serta
pengetahuan manusia (Kamaruddin, 2022). Salah satu contohnya yaitu kemunculan media sosial
telah banyak mempengaruhi cara berkomunikasi dan bersosial, juga menciptakan kemungkinan-
kemungkinan baru di setiap lingkungan, seperti halnya dalam lingkungan pendidikan. Media sosial
dapat diintegrasikan ke dalam lingkungan pendidikan sehingga dapat memberikan dampak terhadap
belajar mengajar dan peningkatan akademik siswa tingkat sekolah dasar (Qurrotu, 2024).
Perkembangan teknologi biasanya dapat memberikan pengaruh langsung seperti siswa memiliki
ketertarikan yang kuat yang menyebabkan mereka sering penggunaan media sosial. Dalam
menggunakan media sosial perilaku mereka harus menjadi perhatian penting bagi para peneliti,
guru, dan orang tua. Media sosial juga menawarkan banyak kemudahan dalam berkomunikasi serta
dalam mendapatkan informasi (Syifa & Nugraha, 2020).
Kemudahan dalam penggunaan media sosial dapat mengakibatkan interaksi, berbagi informasi
dan membuat konten para penggunanya melalui internet, seperti teks, gambar, video dan audio yang
bertujuan untuk membangun jaringan sosial, berkomunikasi dan berbagi informasi secara global
(Kamaruddin, 2022). Selain memberikan kemudahan dalam penggunaannya, media sosial juga
dapat memberikan risiko dalam penggunaannya. Seperti kejadian saat ini, siswa SD banyak
menyalahgunakan media sosial yang seharusnya digunakan untuk menonton video edukatif
pelajaran sekolah yang kreatif dan inovatif. Tetapi, tidak sedikit anak-anak menggunakannya hanya
untuk mencari kesenangan. Anak-anak usia sekolah dasar yang masih dalam tahap perkembangan
kognitif, emosional dan sosial sehingga sangat rentan terhadap pengaruh negatif yang dapat muncul
dari media sosial salah satunya dapat menimbulkan risiko kecanduan (Andara et al., 2022).
Kecanduan media sosial pada siswa dapat menyebabkan penurunan minat belajar karena siswa
lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial dibandingkan belajar. Hal
tersebut dapat dibuktikan dengan adanya berita yang menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara
paling banyak kecanduan HP di dunia. Warga Indonesia menghabiskan waktu untuk menggunakan
internet seperti tiktok, youtube pada tahun 2023 mencapai 6,05 jam setiap hari dan merupakan
penggunaan perangkat dengan durasi terlama di dunia (Zulfikar, 2024). Selain itu dapat diperkuat
juga dengan hasil penelitian Purnama (2022) mengenai tingkat adiksi penggunaan media sosial
yaitu berada di kategori tinggi dengan tingkat presentasi 37%. Hal tersebut diperkuat dengan adanya
tabel gambar seperti berikut.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-16
E-ISSN: 3026-4014
- 3 -
Gambar 1. Kategori Penggunaan Media Sosial
Berdasarkan gambar di atas, penggunaan media sosial berada pada kategori tinggi sehingga
media sosial dapat menyebabkan penggunanya mengalami kecanduan (Purnama, 2022). Orang tua
sudah seharusnya menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, terutama di era perkembangan
sosial media yang pesat ini sehingga memberikan kemudahan akses bagi anak terlebih jika anak
sudah diberi kebebasan untuk memiliki gawai pribadi. Pemantauan dan pengawasan dari guru serta
orang tua sangat penting saat mereka menggunakan media sosial (Puradireja et al., 2024).
Fenomena ini menjadi perhatian penting karena minat belajar merupakan faktor utama dalam
pencapaian prestasi akademik. Jika minat belajar menurun, maka proses pembelajaran dan hasil
belajar siswa juga akan terdampak negatif.
Media sosial seharusnya memberikan manfaat positif, namun sering kali malah disalahgunakan
untuk kepentingan negatif (Umam et al., 2023). Kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak
juga dapat memberikan efek negatif dari media sosial kepada anak. Dampak negatif tersebut dapat
membuat anak kecanduan untuk bermain gawai. Anak ketika dibebaskan bermain gawai sering kali
mereka lupa waktu akan kewajibannya sehingga perlu pengawasan orang tua untuk meningkatkan
kesadaran supaya tidak terjadinya kecanduan pada anak (Nabilah & Suprayitno, 2022).
Kecanduan dimulai dengan pencarian akan kenikmatan dan kepuasan, namun seiring
berjalannya waktu, seseorang akan merasa perlu untuk terus terlibat dalam aktivitas tersebut agar
mereka merasa normal (Hayadi, 2021). Seseorang dapat dikategorikan kecanduan jika dirinya
menghabiskan waktu dalam mengakses internet lebih dari 5-6 jam dalam sehari, atau jika
frekuensinya melebihi tiga kali penggunaan dalam sehari (Chastanti, 2020). Hal tersebut terjadi
ketika seseorang memiliki waktu luang sehingga mereka memilih untuk memainkan gawai dan
media sosial merupakan salah satu yang mereka buka. Berdasarkan penelitian sebelumnya
mengungkapkan bahwa konten yang dibuka melalui media sosial paling sering yaitu video tiktok
sebanyak 86%. Dapat dibuktikan dengan tingkat presentasi sebagai berikut.
Tabel 1. Konten Yang Dibuka Melalui Media Sosial
No
Pertnyataan
Persentase (%)
1
Video Tiktok
86%
2
Gosip artis atau berita viral
55%
3
Melihat status dan foto teman-teman
78%
4
Instastory, Status WA, dan Maupun live Facebook
56%
5
Game online
46%
Berdasarkan tabel di atas, menyatakan bahwa konten yang paling banyak dibuka melalui media
sosial yaitu video tiktok dengan presentasi 86% (Purnama, 2022). Siswa yang sering membuka
video tiktok dapat mengalami penurunan minat belajar matematika karena pengalih perhatian,
ketergantungan, kurangnya motivasi, penggunaan waktu yang tidak efektif, dan pengaruh
lingkungan. Mereka lebih memilih membuka tiktok yang menarik dan singkat daripada belajar
matematika yang memerlukan konsentrasi dan fokus, sehingga kehilangan minat dan waktu untuk
belajar. Oleh karena itu, penting bagi guru dan orang tua untuk memantau penggunaan tiktok siswa
dan membantu mereka mengembangkan kebiasaan belajar yang efektif dan sehat. Siswa ketika
menggunakan media sosial secara berlebihan merupakan permasalahan serius yang berdampak
negatif, karena dapat menyebabkan menurunnya minat belajar, mempengaruhi kedisiplinan anak
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-16
E-ISSN: 3026-4014
- 4 -
dan berpotensi menimbulkan kecanduan yang pada akhirnya mempengaruhi prestasi
akademik mereka terutama pada mata pelajaran matematika (Hidayah et al., 2022).
Prestasi belajar matematika siswa saat ini masih banyak yang belum memenuhi harapan guru
dan tergolong rendah. Hal itu dapat dibuktikan berdasarkan hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa
hasil belajar matematika di Indonesia memiliki peringkat yang masih rendah secara global yaitu
dengan jumlah skor 388 serta menjadi peringkat global 69 dari 81 negara. Berdasarkan hasil
tersebut salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaan media sosial, khususnya kecanduan
media sosial termasuk tiktok yang dapat menyebabkan siswa kurang fokus dalam mengikuti
pelajaran dan enggan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Siswa cenderung tidak antusias pada
saat mengikuti pembelajaran matematika, mereka juga cenderung pasif dan tidak mau berpartisipasi
aktif, seperti bertanya atau menjawab pertanyaan pada saat proses pembelajaran. Kurangnya
antusias siswa pada saat mengikuti pembelajaran matematika menyebabkan suasana kelas tidak
kondusif ketika pembelajaran matematika (Putri et al., 2023).
Minat belajar merupakan faktor penting untuk menentukan keefektifan proses pembelajaran
atau kegemaran dari setiap siswa. Hal tersebut berarti minat belajar dapat dipengaruhi oleh faktor
internal seperti motivasi pribadi dan faktor eksternal seperti lingkungan (Malimbe et al., 2021).
Minat belajar adalah kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam proses pembelajaran, diiringi
dengan perasaan senang yang muncul ketika mereka memperhatikan dan mengerjakan hal tersebut.
Minat belajar dapat menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar dikarenakan minat belajar
dijadikan faktor yang sangat krusial dalam pencapaian akademis individu (Kamaruddin, 2022).
Melalui pendampingan dan pengawasan orang tua dalam penggunaan media sosial tiktok menjadi
strategi penting untuk mengoptimalkan potensi akademik siswa, memastikan pemeliharaan yang
sehat terhadap era digital serta meminimalisir terjadinya penurunan pada minat belajar siswa
terutama pada pembelajaran matematika.
Penurunan minat belajar matematika di kalangan siswa dapat dilihat dari beberapa gejala.
Pertama, banyak siswa tampak kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Kedua, mereka
sering kali tidak memberikan respons ketika guru memberikan pertanyaan dikelas. Ketiga, siswa
cenderung kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang ditugaskan, siswa sangat antusias bertanya
ketika siswa kesulitas dalam memahami materi pelajaran. Tingginya kecanduan pada penggunaan
media sosial seperti tiktok yang digunakan untuk hiburan juga menjadi kendala, karena banyak anak
lebih memilih menggunakan waktu mereka untuk bersenang-senang sehingga mengalihkan
perhatian dari kegiatan edukatif seperti mempelajari matematika yang memerlukan lebih banyak
usaha kognitif untuk belajar (Maryono et al., 2022). Anak lebih tertarik memainkan media sosial
tiktok daripada belajar matematika yang kurang menarik bagi mereka, sehingga menyebabkan
penurunan minat belajar matematika dan waktu belajar berkurang akibat kebiasaan scrolling
berjam-jam. Akibatnya, pola ini tidak hanya menghambat pencapaian akademis tetapi, dapat
menyebabkan gangguan pada perkembangan. Maka, pendampingan orang tua diperlukan untuk
mengarahkan penggunaan gawai supaya menyeimbangkan antara waktu hiburan dan pembelajaran.
Maka, penting untuk meneliti lebih lanjut bagaimana pengaruh kecanduan media sosial
memengaruhi minat belajar khususnya pada siswa kelas III SD. Hal tersebut dikarenakan peneliti
sebelumnya sering fokus pada kelas atas seperti kelas IV-VI, SMP dan SMA, seperti pengaruh
kecanduan media sosial tiktok terhadap minat belajar matematika siswa kelas IV SD Negeri
Pandean Lamper 02, tanpa menyoroti kecanduan ekslusif di kelas III. Penelitian lain juga
mengeksplorasi tiktok sebagai media pembelajaran positif untuk minat belajar matematika, bukan
dampak negatif kecanduan. Penelitian ini berfokus pada kelas III sehingga dapat memberikan
perhatian khusus pada kelompok usia yang sering diabaikan oleh studi sebelumnya sehingga dapat
memberikan kontribusi baru dalam literatur pendidikan. Penelitian ini, peneliti berharap agar dapat
menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi pengaruh kecanduan media sosial supaya dapat
meningkatkan minat belajar matematika siswa serta hasil belajar mereka dapat terjaga. Fokus pada
tingkat SD awal menawarkan wawasan baru tentang pencegahan dini, berbeda dari studi
sebelumnya di tingkat lebih tinggi. Temuan potensial dapat mendukung intervensi literasi digital
khusus anak usia 8-9 tahun di Indonesia.
Penelitian berjudul “Analisis Dampak Penggunaan Media Sosial Tiktok Terhadap Minat
Belajar Matematika Siswa kelas IV SD Negeri Pandean Lamper 02” oleh Putri et al. (2023)
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-16
E-ISSN: 3026-4014
- 5 -
menunjukkan bahwa penggunaan siswa ketika terbiasa menggunakan media sosial secara
berlebihan dapat menyebabkan terjadinya perilaku menunda waktu dan tugas belajar. Sejalan
dengan penelitian tersebut, Umam et al. (2023) memperkuat temuan tersebut melalui kajian yang
lebih spesifik pada minat belajar Hasil penelitiannya menemukan bahwa minat belajar siswa
menjadi kurang baik dikarenakan siswa lebih sering menghabiskan waktunya untuk memainkan
situs media sosial daripada belajar. Kedua penelitian tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan
penelitian ini yaitu sama-sama menegaskan bahwa peran media sosial penting dalam memengaruhi
minat belajar matematika siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh kecanduan
media sosial terhadap minat belajar matematika siswa untuk memberikan gambaran yang relevan
dengan kondisi pembelajaran saat ini.
Berdasarkan wawancara dengan guru serta peserta didik kelas III SD NU Sleman, mereka
sudah dibebaskan untuk bermain media sosial di rumahnya. Selain itu, peserta didik juga memiliki
minat belajar yang kurang terhadap mata pelajaran matematika. Mereka kurang berpartisipasi pada
saat pembelajaran matematika. Siswa menunjukkan ketidakantusiasan pada saat mengikuti
pelajaran matematika, seperti menghindari latihan soal dan kurangnya keterlibatan selama
pembelajaran matematika di kelas. Peserta didik juga telah memiliki akun media sosial pribadi
seperti tiktok dan instagram. Selain itu, peserta didik juga mengakui bahwa mereka bermain media
sosial dari setelah mereka pulang sekolah sampai menjelang tidur tanpa adanya batasan ketika
memainkan media sosial tiktok dari orang tua mereka. Hasil observasi menunjukkan bahwa dampak
yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial tersebut membuat lingkungan belajar di kelas
kurang fokus dan kurangnya aktivitas belajar siswa. Siswa juga terkadang menirukan apa yang
mereka lihat di platform tersebut ketika di rumahnya, dan mempraktikkannya di dalam kelas bahkan
ketika pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti menemukan bahwa siswa sudah dibebaskan untuk
bermain media sosial tanpa adanya pengawasan dari orang tuanya sehingga hal tersebut dapat
mengakibatkan minat belajar serta aktivitas belajar siswa menjadi berkurang. Maka, peneliti
melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Kecanduan Media Sosial Tiktok terhadap Minat
Belajar Matematika Siswa Kelas III di SD NU Sleman”.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif ex-post facto. Penelitian ex-post facto
merupakan proses penelitian yang bertujuan untuk menganalisis sesuatu yang sudah terjadi dan
mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Metode ini digunakan karena
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecanduan media sosial
terhadap minat belajar siswa kelas III di SD NU Sleman (Nurdin et al., 2022). Dalam penelitian ini,
metode yang digunakan adalah survei, dimana pengambilan data dilakukan melalui observasi,
kuesioner (yang mencakup angket uji kelayakan, angket kecanduan media sosial tiktok, angket
minat belajar matematika, dan dokumentasi) dalam (Creswell, 2023). Data yang digunakan dalam
penelitian kuantitatif biasanya berupa angka, baik dalam proses pengumpulan data, analisis data,
maupun dalam hasil penelitian.
3. Hasil dan Pembahasan
A. Analisis Deskriptif
Penelitian ini dilaksanakan di SD NU Sleman yang beralamat di Jl. Siliwangi Jl. Ringroad
Barat, Mlangi, Nogotirto, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dan dilaksanakan pada semester satu tahun ajaran 2025/2026, tepatnya pada November 2025. Untuk
data dalam penelitian ini sendiri didapatkan dari kelas III yang berjumlah 68 siswa SD NU Sleman
yang terdiri dari data mengenai jenis media sosial yang digemari siswa, intensitas waktu dan
frekuensi siswa dalam bermain media sosial, kemampuan mengontrol diri, serta pernyataan
mengenai pembelajaran di kelas selama mengikuti pembelajaran matematika, keaktifan selama
belajar di kelas, kesadaran siswa belajar di rumah, respon siswa terhadap tugas yang diberikan,
perhatian siswa saat belajar matematika dikelas III SD NU Sleman.
Pada penelitian ini, peneliti memanfaatkan kuesioner sebagai alat pengumpulan data.
Instrumen tersebut telah melalui tahap pengujian terlebih dahulu untuk memastikan tingkat validitas
- 6 -
dan reliabilitasnya, sehingga layak digunakan dalam proses pengumpulan data penelitian.
Penggunaan instrumen penelitian ini digunakan untuk mengetahui kebenaran atas hipotesis
penelitian. Berikut ini disajikan hasil penelitian yang diperoleh dari proses analisis data yang telah
dilaksanakan.
a. Deskripsi Data Mengenai Media Sosial Tiktok
Dalam penelitian ini, data dari variabel X (kecanduan media sosial tiktok) dikumpulkan
melalui 30 butir pernyataan dengan menggunakan skala likert yaitu 1-4. Setelah data terkumpul,
deskripsi data seperti mean (M), median (Me), dan Mode (Mo) disajikan, serta ukuran keragaman
seperti mean, standar deviasi, skor minimum, dan skor maksimum dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 2. Deskripsi Data Variabel Media Sosial Tiktok
Mean
St. Deviasi
Minimum
Maksimum
74.22
9.65656
42
93
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa skor rerata = 74,2; median = 74; modus = 75;
standar deviasi = 9.65656; minimun = 42 dan maksimum = 93. Agar dapat mengetahui
kecenderungan rata-rata skor varibel kecanduan media sosial tiktok, maka dilakukan
pengkategorian skor ideal yang seharusnya diperoleh. Distribusi frekuensi kecanduan tiktok dibuat
dengan menentukan kelas interval. Diperoleh 6,08 kelas, kemudian dibulatkan menjadi 6 dengan
panjang inteval 8,5 yang dibulatkan menjadi 8. Tabel distribusi frekuensi kecanduan tiktok bisa
dilihat pada tabel 10.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kecanduan Tiktok
Kelas
Interval Skor
Frekuensi
Presentase
1
42-50
4
6%
2
51-59
19
28%
3
60-68
33
49%
4
69-77
9
13%
5
78-86
2
3%
6
87-95
1
1%
Jumlah
68
100%
Histogram dari distribusi frekuensi tersebut bisa digambarkan sebagai berikut.
Gambar 2. Histogram Kecanduan Tiktok
Berdasarkan histogram di atas, siswa dengan skor kecanduan tiktok 42-50 ada 4 siswa, 51-59
ada 19 siswa, 60-68 ada 33 siswa, 69-77 ada 9 siswa, 78-86 ada 2 siswa, dan 87-95 ada 1 siswa.
Tabel 4. Kategori Tingkat Kecanduan Tiktok
No.
Kategori
Rumus
Nilai
Frekuensi
Presntase
1.
Rendah
X < M - 1SD
>59
22
32 %
2.
Sedang
M–1SD≤X <M+1SD
59 - 75
42
62 %
3.
Tinggi
X≥M+1SD
<75
4
6 %
Jumlah
68
100 %
- 7 -
Berdasarkan tabel hasil kuesioner mengenai kecanduan media sosial di atas, dapat diketahui
bahwa dari 68 responden yang telah diteliti terdapat 32% atau 22 siswa memiliki hasil kecanduan
tiktok rendah, 62% atau 42 siswa memiliki hasil kecanduan tiktok sedang,6% atau 4 siswa memiliki
hasil kecanduan tiktok kategori tinggi. Persentase dari data tersebut dihitung dengan menggunakan
rumus sehingga kemudian dapat digambarkan dalam
diagram gambar sebagai berikut:
Gambar 3. Diagram Distribusi Data Hasil Kecanduan Tiktok
b. Deskripsi Data Mengenai Minat Belajar Matematika
Variabel minat belajar matematika (Y) menggunakan 20 butir pernyataan dengan setiap butir
penilaian diberi rentang skor antara 1 sampai 4. Setelah semua data terkumpul, tahap berikutnya
adalah melakukan analisis deskriptif dengan meninjau ukuran pemusatan data, yang meliputi rata-
rata (mean), nilai tengah (median), dan nilai yang paling sering muncul (modus), serta mengkaji
tingkat variasi atau penyebaran datanya.
Tabel 5. Deskripsi Data Minat Belajar Matematika
Mean
St. Deviasi
Minimum
Maksimum
51.52
5.47306
46
92
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa mean = 51,52, standar deviasi = 5,47306, skor
minimum = 46 dan skor maksimum = 92. Pengkategorian dilakukan untuk mengetahui skor ideal
yang seharusnya diperoleh variable minat belajar siswa. Terdapat 20 pernyataan untuk variabel
minat belajar matematika masing-masing dengan skor 1-4 sehingga diperoleh skor minimum adalah
46 dan skor maksimum adalah 92. Distribusi frekuensi minat belajar matematika siswa disusun
dengan terlebih dahulu menentukan jumlah kelas interval. Hasil perhitungan menunjukkan 7,04
kelas, yang kemudian dibulatkan menjadi 7 kelas, dengan panjang interval sebesar 8,7 yang
dibulatkan menjadi 9. Tabel distribusi frekuensi minat belajar matematika siswa dapat dilihat pada
tabel 12 berikut.
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Minat Belajar matematika
Kelas
Interval Skor
Frekuensi
Presentase
1
46-54
7
10%
2
55-63
23
34%
3
64-72
28
41%
4
73-81
4
6%
5
82-90
5
7%
6
91-99
1
1%
Jumlah 68 100%
Distribusi frekuensi tersebut selanjutnya dapat disajikan dalam bentuk histogram sebagai
berikut.
- 8 -
Gambar 4. Histogram Minat Belajar Matematika
Berdasarkan pada gambar, siswa dengan skor minat belajar matematika 46-54 terdapat 7 siswa,
55-63 terdapat 23 siswa, 64-72 terdapat 28 siswa, 73-81 terdapat 4 siswa , 82-90 ada 5 siswa, dan
91-99 terdapat 1 siswa. Adapun hasil perhitungan kategorisasi secara manual yang telah dilakukan
oleh peneliti adalah sebagai berikut.
Tabel 7. Kategori Tingkat Minat Belajar Matematika
No.
Kategori
Rumus Nilai Frekuensi Persentase
1.
Rendah
X < M - 1SD >61 23 34%
2.
Sedang
M 1SD ≤X M+1SD 6177 37 54%
3.
Tinggi
X≥M+1SD <77 8 12%
Berdasarkan tabel hasil kuesioner mengenai kecanduan media sosial di atas, dapat diketahui
bahwa dari 68 responden yang telah diteliti terdapat 34% atau 23 siswa memiliki hasil kecanduan
tiktok rendah, 54% atau 37 siswa memiliki hasil kecanduan tiktok sedang,12% atau 8 siswa
memiliki hasil kecanduan tiktok kategori tinggi. Persentase dari data tersebut dihitung dengan
menggunakan rumus sehingga kemudian dapat
digambarkan dalam diagram gambar sebagai berikut.
Gambar 5. Diagram Distribusi Data Hasil Minat Belajar Matematika
Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa sebanyak 34% atau 23 siswa memiliki minat
belajar rendah, 54% atau 37 siswa memiliki minat belajar kategori sedang, dan 12% atau 8 siswa
memiliki minat belajar dengan kategori tinggi.
B. Uji Prasyarat
Sebelum melaksanakan uji hipotesis, dilakukan pengujian prasyarat terlebih dahulu untuk
memastikan bahwa data memenuhi asumsi yang diperlukan agar hasil analisis dapat dipercaya dan
valid. Uji prasyarat yang ditetapkan dalam dalam penelitian ini meliputi:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah data yang dihasilkan dalam penelitian
berdistribusi normal atau tidak. Dasar pengambilan keputusan untuk subyek yang lebih dari atau
sama dengan 50 (N≥50) menggunakan dasar uji normalitas Kolmogrov-Smirnov. Data dinyatakan
berdistribusi normal apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 (Sig. > 0,05).
- 9 -
Tabel 8. Tabel Uji Normalitas
Variabel
Taraf Sig.
Nilai Sig.
Keterangan
X
0,05
0,307
Normal
Y
0,05
0,247
Normal
Mengacu pada hasil pengujian uji normalitas dengan bantuan SPSS versi 21, diperoleh nilai
signifikansi variabel X adalah 0,307 > 0,05 dan nilai signifikansi variabel Y adalah 0,274 > 0,05
yang juga lebih besar daripada 0,05. Denagn demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua variable
tersebut terdistribusi normal.
b. Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengevaluasi apakah terdapat hubungan yang bersifat linier
antara dua variabel menunjukkan pola garis lurus yang bermakna secara statistik. Pengujian ini
menjadi prasyarat penting sebelum analisis regresi linear dilaksanakan, karena regresi linear
mensyaratkan adanya hubungan yang bersifat linear antara variabel yang diteliti.. Dasar
pengambilan keputusan untuk uji linearitas diperoleh dari nilai signifikansi linearitas dan nilai
signifikansi deviasi dari linearitas. Data dinyatakan linear apabila nilai signifikansi linearitas kurang
dari 0,05 (Sig. < 0,05) dan nilai Deviation from Linearity lebih besar dari 0,05 (DFL > 0,05).
Tabel 9. Tabel Uji Linearitas
Variabel
Sig.
Taraf DFL
Nilai DFL
Keterangan
X - Y
0,000
0,05
0,210
Linear
Mengacu pada hasil pengujian linearitas dengan SPSS versi 21, diperoleh nilai signifikansi
deviation from linearity (DFL) sebesar 0,210. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05 (0,210 >
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kecanduan TikTok sebagai variabel
independen dan minat belajar matematika sebagai variabel dependen bersifat linier.
C. Hasil Uji Hipotesis
Analisis regresi linear sederhana diterapkan untuk menguji hipotesis yang diajukan, dengan
bantuan program SPSS versi 21. Analisis ini dilakukan untuk menmenilai adanya hubungan yang
signifikan antara variable-variabel yang diteliti. Hipotesis yang menjadi fokus penelitian selanjutnya
dijabarkan sebagai berikut.
a. Hipotesis Alternatif (Ha)
“Adanya pengaruh secara signifikan kecanduan media sosial tiktok terhadap minat belajar
matematika siswa kelas III SD NU Sleman”.
b. Hipotesis Nihil/Nol (Ho)
“Tidak adanya pengaruh kecanduan media sosial tiktok secara signifikan terhadap minat
belajar matematika siswa kelas III SD NU Sleman”.
Hasil uji statistik t dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 21, adalah sebagai
berikut:
Tabel 10. Hasil Pengolahan Data
No
Nama Data
Nilai Keterangan
1.
R
0,417 Korelasi antar variabel
2.
3.
R Square
Constant (a)
0,174 Nilai dari variabel Y yang dapat
dijelaskan oleh variabel X
33,971 Nilai minat belajar matematika saat
4. Coefficient for kecanduan
0,237
memainkan tiktok = 0
Nilai peningkatan variabel Y setiap
tiktok (b)
1 peningkatan variabel X
5. t-value
3,732
Nilai uji signifikan variabel X
6. Sig. (kecanduan tiktok)
0,000
Variabel X berpengaruh signifikan
terhadap variabel Y
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menilai signifikansi koefisien regresi serta pengaruh
variabel X terhadap variabel dependen. Hipotesis kecanduan media sosial tiktok (variabel X) yang
berpengaruh terhadap minat belajar matematika (variabel Y). Hipotesis penelitian divalidasi setelah
- 10 -
diperoleh nilai t hitung dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05. Oleh karena itu, siswa yang
kecanduan media sosial TikTok menjadi lebih tertarik untuk belajar matematika.
Berdasarkan perhitungan dengan bantuan SPSS versi 21, diperoleh derajat keabsahan yaitu 66,
sehingga nilai t-tabel yaitu 1,668. Hasil perhitungan SPSS versi 21 menyatakan bahwa nilai
signifikan adalah nilai t hitung adalah 3,732, dan kecanduan media sosial tiktok terhadap minat
belajar matematika siswa adalah 0,000. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan pada uji
regresi linear sederhana, jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (Sig < 0,05) dan nilai t hitung
melebihi t tabel, maka hipotesis nol (H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa kecanduan media sosial TikTok berpengaruh terhadap minat belajar
matematika siswa.. Jika sebaliknya terjadi, H0 ditolak dan Ha diterima, menunjukkan bahwa tidak
ada pengaruh kecanduan media sosial Tiktok terhadap minat belajar matematika siswaBerdasarkan
hasil tersebut, diketahui nilai sig. 0,000 < 0,05 dan nilai t hitung > t tabel 1,6668. Oleh karena itu
dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya adanya pengaruh yang signifikan
kecanduan media sosial tiktok terhadap minat belajar matematika.
a. Persamaan Regresi Linear Sederhana
Persamaan regresi dapat diketahui dengan menggunakan rumus Y = a+ bX atau diartikan sama
dengan persamaan Y = 33.971 + 0,237X. Nilai 33.971 ini menunjukkan bahwa tanpa adanya
pengaruh dari kecanduan media sosial tiktok, maka nilai minat belajar matematika adalah 33,975.
Sedangkan nilai 0,237 berarti bahwa setiap kenaikan 1 untuk skor dari kecanduan media sosial
tiktok akan memberi peningkatan sebesar 0,237 kepada skor minat belajar matematika.
b. Koefisiensi Determinasi Sederhana
Dengan hasil koefisien determinasi sederhana (R-square) sebesar 0,174 untuk variabel X
dterhadap variabel Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan nilai 17,4% kecanduan media
sosial tiktok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat belajar matematika. Selanjutnya,
variasi 82,6% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam topik penelitian ini.
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejauh mana kecanduan media sosial tiktok
memengaruhi minat belajar matematika pada siswa kelas III SD NU Sleman dengan responden
sebanyak 68 siswa. Pembahasan ini didapatkan dari data primer yang dikumpulkan melalui
kuesioner kecanduan media sosial tiktok (x) dan kuesioner minat belajar matematika (y). Analisis
dilakukan dengan memanfaatkan metode statistik deskriptif dan inferensial melalui penggunaan
perangkat lunak SPSS. versi 21. Tujuan utamanya yaitu untuk menginterpretasikan temuan,
menghubungkannya dengan teori relevan, menghubungkannya dengan penelitian sebelumnya, serta
mengidentifikasi implikasi praktis dan saran untuk pengembangan pendidikan.
Nadiva Putri (2024) mengemukakan bahwa dampak media sosial pada siswa sekolah dasar
dapat meningkatkan partisipasi dan kesadaran siswa tentang faktor-faktor yang dapat mengurangi
fokus belajar. Selain itu, media sosial juga turut membawa pengaruh yang bersifat positif apabila
digunakan secara bijak seperti digunakan untuk menjadi sarana pembelajaran. Hal tersebut
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri at al. (2023) yang menjelaskan bahwa
pemanfaatan media sosial dapat menimbulkan efek yang merugikan terhadap minat belajar siswa.
Hal tersebut dapat menyebabkan penurunan motivasi akademik dan prioritas pada media sosial
daripada keberhasilan belajar sehingga membuat mereka lebih fokus pada interaksi online daripada
belajar.
Jenis media sosial yang yang diteliti dalam penelitian ini yaitu media sosial yang dimainkan
siswa kelas III di SD NU Sleman yang dianggap sedang populer dan banyak dikenal di kalangan
siswa. Berdasarkan dari kuesioner kecanduan media sosial dan minat belajar matematika yang diisi
siswa, maka hasil penelitian dapat digabungkan dalam tabel berikut.
Tabel 11. Media Sosial yang Diminati Siswa
Tiktok
Instagram
Youtube Twitter WhattApp
49
2
12 0 5
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa media sosial tiktok menjadi jenis media sosial yang
paling diminati siswa kelas III di SD NU Sleman, yaitu dengan jumlah 49 siswa. Temuan ini
menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan siswa terhadap media sosial tiktok lebih tinggi jika
- 11 -
dibandingkan dengan media sosial lain. Sejalan dengan pendapat (Qurrotu, 2024) yang
mengemukakan bahwa aplikasi tiktok menjadi salah satu media sosial yang pavotit siswa sekolah
dasar. Mereka rata-rata menghabiskan waktu 2-4 jam sehari. Ketika siswa bermain media sosial
tiktok berlebihan dapat menyebabkan terjadinya dampak terhadap perilaku dan minat belajar siswa
terutama pada mata pelajaran matematika yang kerap dipandang sebagai pelajaran yang dianggap
menakutkan dan kurang menarik.
Selama proses penelitian di lapangan, peneliti juga menemukan bahwa siswa yang memainkan
media sosial tiktok cenderung lebih aktif dengan temannya. sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Nadiva Putri Ananda (2024) yang menyebutkan bahwa media sosial tiktok dapat
meningkatkan partisipasi dan kesadaran siswa tentang faktor-faktor yang dapat mengurangi fokus.
Namun, untuk mengendalikan penggunaan media sosial tiktok dan mengurangi efek negatifnya,
diperlukan kolaborasi antara sekolah, orang tua dan siswa. Penelitian ini merekomendasikan
beberapa strategi, seperti lebih mengedepankan kepentingan pendidikan tentang efek negatif
penggunaan media sosial tiktok pada siswa, kerja sama orang tua dan siswa, serta memberikan
pengawasan dan arahan dalam penggunaan media sosial. Penggunaan media sosial jika dengan
strategi yang seimbang ini, dapat mengurangi dampak negatif dan dapat mengoptimalkan dampak
positif penggunaan media sosial pada siswa.
Selain data mengenai minat belajar siswa terhadap jenis media sosial yang telah dipaparkan di
atas, hasil kuesioner menunjukkan bahwa hubungan kecanduan media sosial tiktok dengan minat
belajar matematika kelas III SD NU Sleman berada pada taraf kategori “sedang”. Hasil penelitian
yang diperoleh dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa kecanduan media sosial tiktok
memiliki pengaruh secara signifikan terhadap minat belajar matematika kelas III SD NU Sleman.
Hasil ini berbeda dengan penelitian yang berjudul “Analisis Dampak Penggunaan Media Sosial
Tiktok Terhadap Minat Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri Pandea Lamper 02 oleh
(Putri et al., 2023) yang menunjukkan bahwa penggunaan tiktok berdampak negatif, seperti dapat
menyebabkan menurunnya minat belajar, perubahan sikap dan perilaku (malas belajar, menirukan
ucapan buruk, pemarah), kecanduan dan hasil tes matematika yang rendah.
Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh (Victor et al., 2024) menjelaskan bahwa
penggunaan media sosial tiktok dapat memperluas wawasan akademis dan memberikan dampak
positif. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa media sosial tiktok dapat dijadikan sebagai video
pembelajaran yang menarik dalam membantu meningkatkan minat belajar siswa terutama pada
mata pelajaran matematika karena kebanyakan siswa menganggap matematika merupakah mata
pelajaran yang susah dan membosankan. Namun, pengaruh positif ini tentu tidak lepas dari jenis
media sosial yang dimainkan siswa, serta peran dan pengawasan orang tua dalam mengontrol waktu
bermain media sosial.
Di dunia pendidikan sendiri, guru merupakan sosok yang patut memberikan contoh yang baik
pada para siswanya. Sebagai seorang guru, tentu mendidik siswanya agar menjadi siswa yang
berprestasi, memiliki minat belajar yang baik dan memiliki akhlak yang baik merupakan salah satu
tujuan yang ingin dicapai oleh semua guru dan menjadi harapan semua orang tua (Amaliyah &
Rahmat, 2021). Alangkah baiknya jika pendidik juga memberikan contoh dengan menjadikan media
sosial tiktok sebagai sumber belajar (konten edukatif) kepada siswanya seperti guru aktif
membagikan konten yang bermanfaat, seperti tips belajar, materi pembelajaran dalam bentuk video
yang menarik, atau informasi yang terkait pendidikan. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa
media sosial tiktok merupakan alat yang dapat menjadikan siswa produktif dan bukan hanya
digunakan untuk hiburan.
Meski demikian, peneliti tetap menganjurkan supaya orang tua maupun guru terus
mengarahkan anak dan siswa pada saat penggunaan media sosial. Hal ini bertujuan agar mereka
tidak berlebihan dalam bermain media sosial hingga kemudian terkena dampak negatif.
Berdasarkan data yang diperoleh, perlakuan dan arahan serta pengawasan seperti itu akan lebih baik
untuk anak daripada benar-benar melarang mereka untuk bermain media sosial.
a. Intensitas Penggunaan Tiktok
Di era globalisasi saat ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung dengan
sangat cepat. Beragam inovasi teknologi modern terus bermunculan guna menunjang pemenuhan
kebutuhan manusia dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, hiburan, dan bidang
lainnya. Salah satu contoh fenomena yang sangat populer adalah aplikasi tiktok, yang dengan cepat
- 12 -
menjadi viral di kalangan masyarakat dan pelajar. Banyak pengguna gawai yang mengunduh
aplikasi tiktok, sehingga aplikasi tersebut telah populer di lingkungan masyarakat. Adapun definisi
aplikasi tiktok menurut Qurrotu (2024) aplikasi tiktok merupakan aplikasi yang berisi berbagai
video yang tersedia dapat ditonton dan dimanfaatkan sebagai media hiburan. Tiktok pun kerap
menjadi bagian dari aktivitas harian, baik sepulang sekolah maupun saat waktu senggang. Platform
ini menyuguhkan beragam konten menarik, seperti tarian yang sedang tren, ulasan kuliner, hingga
berbagai tutorial kreatif dalam membuat sesuatu dari benda-benda tertentu.
Mengacu pada hasil analisis deskriptif yang telah dilaksanakan, didapati hasil skor kecanduan
tiktok di kelas III SD NU Sleman yaitu 51-59 ada 19 siswa, 60-68 ada 33 siswa, 69-77 ada 9 siswa,
78-86 ada 2 siswa, 87-95 ada 1 siswa. Maka, dapat dikategorisasikan bahwa sebanyak 32% atau 22
siswa memiliki hasil kecanduan tiktok rendah, 62% atau 42 siswa memiliki hasil kecanduan tiktok
sedang, 6% atau 4 siswa memiliki hasil kecanduan tiktok kategori tinggi. Berdasarkan temuan
penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat penggunaan aplikasi tiktok oleh siswa termasuk dalam
kategori sedang. Sebagian besar siswa menilai tiktok mudah digunakan dan memanfaatkannya
sebagai sarana hiburan pada waktu luang. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya.
Putri et al. (2023) yang mengungkapkan bahwa media sosial tiktok menjadi salah satu media sosial
pavorit anak-anak sekarang.
Tiktok adalah aplikasi media sosial yang berisi video pendek yang disertai musik. Aplikasi ini
memungkinkan penggunanya membuat video dengan berbagai musik, efek, dan pengeditan.
Pengguna juga dapat berinteraksi melalui tombol suka, komentar, dan menambahkan teman. Selain
itu, video di tiktok dapat dibagikan kepada pengguna lain atau diunduh untuk dibagikan di media
sosial lainnya. Siswa cenderung lebih suka bermain tiktok ketika mereka mendapatkan sesuatu yang
menghibur dari aplikasi tersebut. Selain itu, tiktok mudah digunakan dan tidak ribet sehingga
menyebabkan mereka terus-menerus menggunakannya.
Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa tingkat kecanduan media sosial tiktok
kelas III di SD NU Sleman yaitu memiliki tingkat kecanduan dengan kategori sedang dengan
presentasi 62%.
b. Tingkat Minat Belajar Matematika
Minat belajar adalah keinginan kuat untuk memperoleh pengetahuan dan memahami ilmu
pengetahuan (Ndraha et al., 2022). Minat belajar yang kuat dapat membantu siswa fokus pada
pembelajaran, namun kecanduan media sosial tiktok dapat mengalihkan perhatian dan mengurangi
minat belajar. Sebaliknya, jika siswa memiliki minat belajar yang rendah, mereka mungkin lebih
rentan terhadap kecanduan tiktok sebagai bentuk pelarian atau hiburan. Oleh karena itu, penting
untuk menyeimbangkan penggunaan tiktok dengan kegiatan belajar dan mengembangkan minat
belajar yang kuat untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang sudah dilakukan didapati bahwa minat belajar
matematika siswa dalam kelas interval yaitu 46-54 ada 7 siswa, 55-63 ada 23 siswa, 64-72 ada 28
siswa, 73-81 ada 4 siswa, 82-90 ada 5 siswa, dan 91-99 ada 1 siswa dengan nilai mean sebesar
51,52.Adapun hasil kategorisasi diketahui bahwa sebanyak 34% atau 23 siswa memiliki minat
belajar rendah, 54% atau 37 siswa memiliki minat belajar kategori sedang, dan 12% atau 8 siswa
memiliki minat belajar dengan kategori tinggi.
Berdasarkan uraian hasil yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulkan mengenai
minat belajar matematika kelas III SD NU Sleman berada pada kategori sedang dengan presentasi
87%. Hal ini sependapat dengan konsep bahwa minat dapat dipengaruhi oleh rangsangan dan
penguatan dari lingkungan. Menurut Teori Behavior, perilaku belajar dapat diperkuat melalui
pemberian stimulus positif atau reinforcement, sehingga minat siswa terhadap matematika dapat
meningkat jika mereka mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan selama
proses belajar. Dengan kata lain, jika guru mampu memberikan penguatan positif, seperti pujian
atau penghargaan, maka siswa akan lebih termotivasi dan menunjukkan minat yang lebih tinggi
terhadap pelajaran matematika.
Handarisky Sekar (2022) mengemukakan bahwa minat belajar adalah keadaan di mana Suatu
objek atau kegiatan yang sesuai dengan keinginannya menarik dan menarik bagi seseorang.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peran penting dalam pendidikan
dasar karena diperlukan untuk proses perhitungan dan berpikir untuk menyelesaikan masalah.
Dengan demikian, kegiatan pembelajaran matematika perlu dilaksanakan dalam lingkungan yang
- 13 -
kondusif, menyenangkan, dan mampu menarik perhatian siswa. Proses belajar yang dirancang
secara menarik akan mendorong siswa untuk lebih fokus dan antusias, sehingga potensi mereka
dapat berkembang secara optimal. Siswa yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap pelajaran
cenderung lebih mudah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, teliti, serta logis, yang
pada akhirnya mendukung keberhasilan mereka dalam mempelajari matematika. Guru harus kreatif
dan berusaha menarik perhatian siswa agar mereka memiliki minat terhadap pelajaran yang
diajarkan. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa tingkat minat belajar matematika
kelas III di SD NU Sleman yaitu memiliki tingkat minat belajar matematika dengan kategori sedang
dengan presentasi 54%.
c. Pengaruh Kecanduan Tiktok terhadap Minat Belajar Matematika
Berdasarkan hasil pengolahan dan penafsiran data, dapat dinyatakan bahwa tingkat kecanduan
dalam penggunaan media sosial tiktok memiliki pengaruh yang bermakna terhadap minat belajar
matematika siswa. Besaran kontribusi tersebut terlihat dari koefisien determinasi yang mencapai
17,4%, yang berarti bahwa 17,4% variasi minat belajar matematika dapat dijelaskan oleh variabel
kecanduan tiktok, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini. Di samping itu, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 mengindentifikasikan
bahwa pengaruh yang ditemukan bersifat signifikan secara statistik, sehingga dapat dinyatakan
bahwa kecanduan media sosial tiktok memiliki kontribusi nyata terhadap perubahan minat belajar
matematika siswa.
Hasil temuan ini mendukung pendapat Kamaruddin (2022) yang menyebutkan bahwa media
sosial tiktok dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran, sehingga mendorong siswa untuk lebih
aktif dalam mengeksplorasi ide, berinovasi, serta mengembangkan kreativitas mereka. Media sosial
tiktok juga dapat diimanfaatkan sebagai pembelajaran yang efisien, dengan mempertimbangkan
karakteristik dan kebutuhan siswa. Saat ini yang sangat familiar dengan media sosial tiktok
sehingga dapat membantu menambah pengetahuan maupun minat belajar siswa. Demikian pula
pendapat yang dikemukakan oleh Malimbe (2021) bahwa dengan penggunaan media sosial tiktok
dapat menambah wawasan siswa, mengurangi kejenuhan dalam belajar. Penggunaan media sosial
pada siswa harus tetap diawasi oleh orang tua guna mengurangi terjadinya kecanduan media sosial
tiktok terhadap siswa.
Hal tersebut bertentangan dengan pendapat Umam et al. (2023) yang mengungkapkan bahwa
penggunaan media sosial tiktok memberikan pengaruh negatif terhadap minat belajar siswa, yang
menyebabkan penurunan motivasi akademik dan prioritas pada jaringan sosial daripada
keberhasilan belajar. Kecanggihan teknologi dan media sosial telah mengubah perilaku siswa,
sehingga membuat mereka lebih fokus pada interaksi online daripada proses belajar. Berdasarkan
hasil pengujian hipotesis, diperoleh nilai t hitung sebesar 3,732 yang lebih besar dibandingkan
dengan nilai t tabel sebesar 1,668, serta tingkat signifikansi 0,000. Temuan tersebut
mengindikasikan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan
demikian, dapat dinyatakan bahwa kecanduan media sosial tiktok memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap minat belajar matematika siswa. Siswa kelas III SD NU Sleman bisa
menggunakan dengan baik adanya media sosiali tiktok dan meniru perilaku positif di aplikasi media
social tiktok tersebut sebagai sarana belajar melalui konten yang bermanfaat dan inspiratif.
Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) Albert Bandura menyatakan bahwa
seseorang belajar hal baru melalui pengamatan, peniruan, dan respon sosial. Seperti halnya pada
saat menggunakan aplikasi tiktok, siswa dapat meniru perilaku pengguna lain, terutama influencer
populer, yang mempengaruhi pandangan mereka tentang perilaku sopan atau tidak. Umpan balik
sosial seperti likes, komentar, dan shares juga membentuk perilaku siswa dan membantu mereka
menanamkan norma-norma sosial di lingkungan digital. Hal ini sejalan dengan pendapat Habibah &
Putri (2023) yang mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial memberikan dampak positif
dikarenakan media sosial tiktok dapat membantu siswa dapat meningkatkan minat belajar.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Asyari & Mirannisa (2022) menunjukkan bagaimana
media sosial tiktok mempengaruhi keinginan untuk belajar matematika. Menurut penelitian ini,
berbagai fitur media sosial yang menarik membuat siswa terhibur dan membuat mereka lupa waktu
karena mereka terhibur menonton video-video yang tersedia di tiktok. Temuan penelitian
memperlihatkan bahwa tingkat penggunaan media sosial tiktok oleh responden di Kabupaten
Tembelok berada pada kategori sedang dengan persentase 59,5%. Demikian pula, minat belajar
- 14 -
siswa tergolong pada kategori sedang dengan capaian 61,9%. Selain itu, hasil uji statistik
menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,005, sehingga hipotesis nol
(H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan positif dan signifikan antara penggunaan media sosial TikTok dan minat belajar
siswa. Kecanduan media sosial tiktok sebesar 34% memengaruhi minat siswa dalam matematika.
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
penggunaan media sosial dapat meningkatkan minat belajar matematika apabila dimanfaatkan
dengan baik seperti dijadikan sebagai media pendukung pembelajaran matematika yang menarik.
Oleh karena itu, semakin intens penggunaan tiktok secara positif, maka semakin besar kemungkinan
meningkatnya minat belajar matematika siswa. Orang tua dan guru harus memastikan bahwa siswa
penggunaan media sosial tiktok secara bijak sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap
minat belajar matematika siswa.
Keterbatasan Penelitian
Secara umum, peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki berbagai keterbatasan,
khususnya pada aspek pelaksanaannya. Keterbatasan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk
perbaikan dan penyempurnaan penelitian di masa yang akan datang. Keterbatasan penelitian yaitu
penelitian ini hanya fokus pada pengaruh kecanduan media sosial tiktok tanpa mempertimbangkan
faktor lain seperti metode pengajaran, lingkungan keluarga, atau motivasi individu yang dapat
mempengaruhi minat belajar matematika.
Selain itu, dikarenakan pengambilan data ini menggunakan kuesioner tertutup, peneliti tidak
mampu mengendalikan faktor-faktor yang memungkinkan dapat mempengaruhi jawaban
responden, misalnya kejujuran dalam mengisi kuesioner. Responden dalam penelitian ini yaitu kelas
III yang masih dalam tahap perkembangan konkret secara kognitif dapat berdampak pada
kemampuan siswa untuk memahami item pernyataan di instrumen penelitian, meskipun bahasanya
telah disederhanakan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati
dan dikembangkan melalui penelitian lanjutan yang lebih komprehensif untuk memperoleh
gambaran yang lebih lengkap terkait pengaruh kecanduan media sosial tiktok terhadap minat belajar
matematika.
4. Simpulan
Berdasarkan temuan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tingkat kecanduan
penggunaan media sosial TikTok berpengaruh secara signifikan terhadap minat belajar matematika siswa
kelas III SD NU Sleman. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,174. Angka
tersebut mengindikasikan bahwa 17,4% variasi minat belajar matematika siswa dipengaruhi oleh variabel
kecanduan TikTok, sedangkan sisanya sebesar 82,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel yang
diteliti dalam penelitian ini. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif orang tua dan guru dalam melakukan
pengawasan terhadap penggunaan gawai oleh anak, agar mereka terhindar dari dampak negatif yang
mungkin timbul.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa meskipun siswa kelas tiga di SD NU Sleman memainkan
media sosial tiktok di gawai mereka, mereka cenderung masih mampu mengendalikan dan memiliki
minat belajar matematika yang baik ketika proses pembelajaran di kelas. Hasil R2 (R-square) dari
variabel X terhadap variabel Y yang diteliti dalam penelitian ini menunjukkan angka sebesar 0,174 yang
dapat diartikan bahwa semakin erat interaksi siswa dengan media sosial tiktok maka minat belajar
matematika siswa akan semakin naik. Meski demikian akan lebih baik bagi orang tua dan guru di sekolah
untuk tetap memantau anak maupun siswa mereka dalam bermain media sosial tiktok agar tidak
terjerumus dalam pengaruh negatif yang ada di dalamnya.
5. Daftar Pustaka
Adolph, R. (2023). Upaya Guru PPKn Untuk Meningkatkan Minat Belajar Terhadap Peserta Didik yang
Kecanduan Media SSosial di MTs Miftahul Ulum Banyuanyar Lor Kabupaten Probolinggo Tahun
Ajaran 2023. 123.
Amaliyah, A., & Rahmat, A. (2021). Pengembangan Potensi Diri Peserta Didik Melalui Proses
Pendidikan.
Attadib:
Journal
of
Elementary
Education,
5(1),
28.
https://doi.org/10.32507/attadib.v5i1.926
- 15 -
Andara, S., Aisy, Z. I. R., Sutini, T., & Arifin, M. H. (2022). Penggunaan Media Sosial Dikalangan Anak
Sekolah Dasar. Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS Dan PKN, 7(1), 4852.
https://doi.org/10.15294/harmony.v7i1.55893
Asyari, A., & Mirannisa, M. (2022). Pengaruh Media Sosial TikTok terhadap Minat Belajar di MA
Miftahul Ishlah Tembelok. Islamika, 4(3), 421432. https://doi.org/10.36088/islamika.v4i3.1977
Bahri, S., & Akhmad, N. A. (2022). Jurnal jendela pendidikan. Jendelaedukasi.Id, 01(02), 4860.
https://www.ejournal.jendelaedukasi.id/index.php/JJP/article/view/6
Chastanti, I. (2020). Analisis Adiksi Internet Terhadap Kemampuan Interpersonal Siswa Sma Di
Kabupaten Labuhan Batu Utara. Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial, 7(1), 2936.
https://doi.org/10.31571/sosial.v7i1.1618
Fajar, M., & Machmud, H. (2020). Penggunaan Media Sosial di Kalangan Siswa Sekolah Dasar.
Diniyah : Jurnal Pendidikan Dasar, 1(1), 46. https://doi.org/10.31332/dy.v1i1.1822
Fatwana. (2022). Hubungan Kesepian dengan kecanduan Media Sosial Pada Siswa SMAN 1 Mutiara
Pidie. Braz Dent J., 33(1), 112.
Habibah, I. H., & Putri, M. R. (2023). Penggunaan Media Sosial Terhadap Minat Belajar (Analisis Siswa
SMK Muhammadiyah Sekampung dan MAN 1 Metro). JSP: Jurnal Social Pedagogy (Journal of
Social Science Education), 4(1), 91104.
Handarisky Sekar. (2022). Pengaruh penggunaan Media Sosial Tiktok Terhadap Minat Belajar Siswa
Kelas V MIN 1 Yogyakarta.
Hayadi, N. B. (2021). Perilaku menyimpang remaja yang kecanduan game online di Rt 49 kelurahan
Sidodadi. EJournal Sosiatri-Sosiologi, 9(1), 3041.
Hidayah, P. S. N., Abdilah, A. I., Ubaidillah, M. T., & Adinugraha, H. H. (2022). Sosialisasi Bahaya
Penggunaan Media Sosial pada Siswa di Sekolah Dasar Negeri 09 Wanarejan Utara. Jumat
Informatika: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(2), 6065.
https://doi.org/10.32764/abdimas_if.v3i2.2630
Kamaruddin, N. F. (2022). Fenomena Media Sosial Terhadap Minat Belajar. Jurnal Dakwah Dan Sosial
Keagamaan, 8(2), 3954.
Korompot, S., Rahim, M., & Pakaya, R. (2020). Persepsi Siswa Tentang Faktor yang Mempengaruhi
Minat Belajar. JAMBURA Guidance and Counseling Journal, 1(1), 4048.
https://doi.org/10.37411/jgcj.v1i1.136
Liedfray, T., Waani, F. J., & Lasut, J. J. (2022). Peran Media Sosial Dalam Mempererat Interaksi Antar
Keluarga Di Desa Esandom Kecamatan Tombatu Timur Kabupaten Tombatu Timur Kabupaten
Minasa Tenggara. Jurnal Ilmiah Society, 2(1), 2.
Malimbe, A., Waani, F., & Suwu, E. A. A. (2021). Dampak Penggunaan Aplikasi Online Tiktok (Douyin)
Terhadap Minat Belajar di Kalangan Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik. Ilmiah
Society, 1(1), 110.
Manwong, M., Lohsoonthorn, V., Booranasuksakul, T., & Chaikoolvatana, A. (2020). Effects of a group
activity-based motivational enhancement therapy program on social media addictive behaviors
among junior high school students in Thailand: A cluster randomized trial. Psychology Research
and Behavior Management, 11, 329339. https://doi.org/10.2147/PRBM.S168869
Mariyanti, S., Lunanta Patricia, L., & Luthfi, A. (2021). Keberfungsian Keluarga Dan Aspek-Aspek Yang
Berkontribusi Terhadap Perilaku Kecanduan Smartphone Remaja di Jakarta. Journal of
Psychology: Humanlight, 2(1), 1530. https://ejournal-iakn-
manado.ac.id/index.php/humanlight/article/view/556/396
Maryono, M., Nurdalila, N., Ardian Nst, W., Hasibuan, T. W., & Ningsih, W. (2022). Peran Media Sosial
terhadap Rendahnya Minat Belajar Siswa Atau Kelas. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(3), 13748
13765. https://doi.org/10.31004/jptam.v6i3.4501
Nabilah, & Suprayitno. (2022). Dampak Media Sosial Terhadap Karakter Sopan Santun Siswa Kelas VI
Sekolah Dasar. PGSD,FIP Universitas Negeri Surabaya, 10(4), 736.
Nadiva Putri Ananda. (2024). Dampak Media Sosial Terhadap Pendidikan di SD. Protasis: Jurnal Bahasa,
Sastra, Budaya, Dan Pengajarannya, 3(1), 7178. https://doi.org/10.55606/protasis.v3i1.139
Ndraha, I. S., Mendrofa, R. N., & Lase, R. (2022). Analisis Hubungan Minat Belajar Dengan Hasil
Belajar Matematika. 1(2), 672681.
Nurhayati, H., & , Langlang Handayani, N. W. (2020). Jurnal basicedu. Jurnal Basicedu,. Jurnal
Basicedu, 5(5), 3(2), 524532. https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/971
- 16 -
Praditasari, E. L., Handayanto, A., & Wulandari, D. (2019). Penggunaan Structural Equation Modeling
(SEM) untuk Mengetahui Pengaruh Kebiasaan Mengakses Media Sosial terhadap Minat Belajar
Siswa. Imajiner: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 1(6), 306309.
https://doi.org/10.26877/imajiner.v1i6.4858
Psikologi, F., & Malang, U. M. (2023). Volume. 03(05).
Pujiono, A. (2021). Media Sosial Sebagai Media Pembelajaran Bagi Generasi Z. Didache: Journal of
Christian Education, 2(1), 1. https://doi.org/10.46445/djce.v2i1.396
Puradireja, S., Futri, E., Salsabilla, M., Wahyudin, D., & Caturiasari, J. (2024). Analisis Dampak Sosial
Media Terhadap Pendidikan Karakter Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Sinektik, 7(1), 815.
https://doi.org/10.33061/js.v7i1.9183
Purnama, D. B. (2022). Tingkat Adiksi Penggunaan Media Sosial Remaja : Studi Deskriptif. 5(2), 106
113.
Putri, F. A., Cahyadi, F., & Budiman, M. A. (2023). Analisis Dampak Penggunaan Media Sosial Tiktok
Terhadap Minat Belajar Matematika Siswa Kelas Iv Sd Negeri Pandean Lamper 02. Wawasan
Pendidikan, 3(2), 745754. https://doi.org/10.26877/wp.v3i2.16260
Qurrotu, A. (2024). Dampak Media Sosial Tiktok Terhadap Perilaku Siswa Kelas V di SDN Sunter Jaya
03. 5(5), 16451653.
Sahlan, S., & Sihombing, A. (2022). Dampak Media Sosial Terhadap Minat Belajar Siswa/I Kelas Vb
Mis Al-Hidayah. Nizhamiyah, 12(1), 5364. https://doi.org/10.30821/niz.v12i1.1487
Selly, K., & Praditha, G. (2024). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Adiksi Media Sosial Pada
Mahasiswa : Literature Review. 4, 25062524.
Umam, K., Quthny, A. Y. A., & Badruttamam, C. A. (2023). Phubbing: Suatu Degredasi Minat Belajar
Siswa sebagai Dampak Media Sosial di Mi Dlauul Islam. Journal on Education, 5(3), 87178724.
https://doi.org/10.31004/joe.v5i3.1666
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
(2024). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 Tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik. Zitteliana, 19(8), 159170.
Victor, S. A., Ibrahim, M. S., Yusuf, S., Mahmud, N., Bahari, K. A., Yoke Ling, L., & Abd Mubin, N. N.
(2024). Social media addiction and depression among adolescents in two Malaysian states.
International Journal of Adolescence andYouth, 29(1).
Wulandari, R., Netrawati, N., & Info, A. (2020). Analisis Tingkat Kecanduan Media Sosial pada Remaja.
5(2), 4146.
Zulfikar, F. (2024). Indonesia Jadi Negara Paling Kecanduan HP di Dunia, Rata-rata Berapa Jam per
Hari? Detik Edu. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7137746/indonesia-jadi-negara-paling-
kecanduan-hp-di-dunia-rata-rata-berapa-jam-per-hari