Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 124 -
Tinjauan Pustaka
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 24/03/2026 Disetujui: 18/05/2026 Diterbitkan:01/06/2026
Sastra Anak Sebagai Media Penguatan Nilai-nilai Multikultural Dalam Pembelajaran
Di Sekolah Dasar
Siti Anafiah
1
, Irfan Adi Nugroho
2
1,2
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Kota Yogyakarta , Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, Indonesia
e-mail:
1
siti.anafiah@ustjogja.ac.id;
2
irfan.adi@ustjogja.ac.id
Abstrak: Sastra anak merupakan media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai multikultural pada
peserta didik sekolah dasar. Artikel ini bertujuan menganalisis peran sastra anak sebagai media
penanaman nilai-nilai multikultural, mengidentifikasi nilai-nilai multikultural yang terkandung di
dalamnya, serta mendeskripsikan strategi pemanfaatannya dalam pembelajaran di sekolah dasar.
Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai buku dan artikel
ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sastra anak mengandung nilai toleransi, empati,
penghargaan terhadap keberagaman, kesetaraan, keadilan sosial, kerja sama, dan sikap inklusif.
Pemanfaatannya dapat dilakukan melalui pemilihan karya sastra multikultural, membaca interaktif,
diskusi reflektif, pembelajaran kolaboratif, pemanfaatan media digital, dan pembelajaran yang responsif
terhadap budaya. Dengan demikian, sastra anak tidak hanya mendukung pengembangan literasi, tetapi
juga menjadi media yang efektif untuk membentuk karakter peserta didik yang menghargai keberagaman.
Kata kunci: sastra anak; penguatan, nilai-nilai multikultural; sekolah dasar.
Children's Literature as a Medium for Reinforcing Multicultural Values in Elementary School
Instruction
Abstract: Children's literature is an effective medium for instilling multicultural values in elementary
school students. This article aims to analyze the role of children's literature as a medium for fostering
multicultural values, identify the multicultural values embedded within it, and describe strategies for its
implementation in elementary school learning. This study employed a literature review method by
analyzing various relevant books and scholarly articles. The findings indicate that children's literature
embodies values of tolerance, empathy, respect for diversity, equality, social justice, cooperation, and
inclusiveness. Its implementation can be carried out through the selection of multicultural children's
literature, interactive reading activities, reflective discussions, collaborative learning, the use of digital
media, and culturally responsive teaching. Therefore, children's literature not only supports literacy
development but also serves as an effective medium for shaping students' character by fostering respect
for diversity.
Keywords: children's literature; fostering, multicultural values; elementary school.
Hak Cipta©2026 Siti Anafiah, Irfan Adi Nugroho
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 125 -
1. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi,
ditandai oleh lebih dari 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta keberagaman agama,
adat istiadat, dan budaya yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Keberagaman tersebut
merupakan modal sosial sekaligus kekayaan bangsa yang perlu dijaga melalui sikap saling
menghormati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Namun demikian, keberagaman
juga berpotensi memunculkan prasangka, diskriminasi, intoleransi, bahkan konflik sosial
apabila tidak disertai dengan pemahaman dan pendidikan yang memadai. Data Badan Pusat
Statistik (2024) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa, sedangkan Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2024) mencatat sedikitnya 718 bahasa daerah yang
masih digunakan oleh masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan
memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan peserta didik untuk hidup harmonis di
tengah masyarakat yang majemuk.
Pentingnya pendidikan multikultural juga sejalan dengan arah kebijakan nasional. Dalam
dimensi Profil Lulusan pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, peserta didik
diharapkan memiliki karakter beriman, berkebinekaan global, bergotong royong, bernalar
kritis, kreatif, dan mampu hidup berdampingan dengan berbagai kelompok masyarakat. Oleh
karena itu, pendidikan multikultural menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk
mengembangkan karakter peserta didik yang menghargai keberagaman, menjunjung persamaan
hak, serta mampu berinteraksi secara positif dalam kehidupan sosial.
Secara konseptual, pendidikan multikultural merupakan pendekatan pendidikan yang
bertujuan mengembangkan pemahaman, penghargaan, dan penghormatan terhadap
keberagaman budaya, etnis, bahasa, agama, maupun latar belakang sosial peserta didik.
Menurut. Banks (2021), pendidikan multikultural tidak hanya berorientasi pada pengenalan
keragaman budaya, tetapi juga pada pengembangan kesetaraan (equity), keadilan sosial (social
justice), dan kesempatan belajar yang sama bagi seluruh peserta didik. Banks mengemukakan
lima dimensi utama pendidikan multikultural, yaitu content integration, knowledge
construction process, prejudice reduction, equity pedagogy, dan empowering school culture
and social structure, yang menjadi dasar dalam mengembangkan pembelajaran yang
menghargai keberagaman.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Gay (2018) melalui konsep Culturally Responsive
Teaching, yang menekankan bahwa pembelajaran perlu mengakomodasi latar belakang budaya
peserta didik agar proses belajar menjadi lebih bermakna, adil, dan inklusif. Sementara itu,
Nieto (2018) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural merupakan proses pendidikan yang
menempatkan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun demokrasi, keadilan, dan
penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dengan demikian, pendidikan multikultural menjadi
bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik yang toleran, inklusif, demokratis,
serta menghargai hak setiap individu tanpa membedakan latar belakang budayanya.
Penanaman nilai-nilai multikultural perlu dimulai sejak usia sekolah dasar karena masa
kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan karakter, nilai, dan sikap sosial.
Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia sekolah dasar mulai memasuki
tahap operasional konkret sehingga mampu memahami sudut pandang orang lain dan berbagai
bentuk hubungan sosial secara lebih objektif. Selain itu, teori pembelajaran sosial Bandura
(1986) menjelaskan bahwa nilai, sikap, dan perilaku sosial berkembang melalui proses
pengamatan, peniruan, dan pengalaman belajar dari lingkungan. Oleh karena itu, sekolah dasar
memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan pendidikan multikultural ke dalam proses
pembelajaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural yang
diimplementasikan secara kontekstual mampu meningkatkan toleransi, empati, penghargaan
terhadap keberagaman, serta kompetensi antarbudaya peserta didik (Xu, Ahmad, & Rahman,
2024).
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 126 -
Salah satu media pembelajaran yang potensial untuk menginternalisasikan nilai-nilai
multikultural adalah sastra anak. Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai sarana
pengembangan literasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang memungkinkan
peserta didik mengenal berbagai latar budaya, memahami perspektif orang lain, serta
mengembangkan sikap menghargai perbedaan melalui tokoh, konflik, latar, dan pesan moral
yang terdapat dalam cerita. Menurut Perry Nodelman (2008), sastra anak merupakan karya
sastra yang dirancang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak sehingga mampu
menjadi media efektif dalam membangun pemahaman, imajinasi, dan nilai-nilai kehidupan.
Selanjutnya, Zohar Shavit (2009) menjelaskan bahwa sastra anak memiliki fungsi edukatif
karena menyampaikan nilai budaya, moral, dan sosial melalui cerita yang dekat dengan
pengalaman anak. Dengan demikian, sastra anak mampu menghubungkan pengembangan
kemampuan literasi dengan pembentukan karakter peserta didik.
Berbagai penelitian telah mengonfirmasi efektivitas sastra anak dalam mengembangkan
kompetensi multikultural. Xu et al. (2024) melaporkan bahwa sastra multikultural mampu
meningkatkan kompetensi komunikasi antarbudaya dan empati peserta didik. Yıldırım et al.
(2024) menemukan bahwa buku cerita bergambar yang memuat keberagaman budaya efektif
meningkatkan sensitivitas antarbudaya (intercultural sensitivity). Sementara itu, Adam dan
Byrne (2024) menegaskan bahwa pemanfaatan sastra anak perlu didukung oleh pembelajaran
yang responsif terhadap budaya agar peserta didik memperoleh pemahaman yang autentik
mengenai keberagaman. Selain itu, Gunn dan Bennett (2025) menyatakan bahwa integrasi
sastra anak dalam pembelajaran merupakan salah satu strategi yang efektif untuk
mengembangkan kompetensi antarbudaya dan membangun lingkungan belajar yang inklusif.
Meskipun demikian, penelitian-penelitian terdahulu lebih banyak menitikberatkan pada
pengembangan literasi, kompetensi antarbudaya, atau penggunaan buku cerita multikultural.
Kajian yang secara khusus membahas pemanfaatan sastra anak sebagai media penanaman nilai-
nilai multikultural dalam pembelajaran di sekolah dasar, khususnya dalam konteks pendidikan
di Indonesia, masih relatif terbatas. Selain itu, belum banyak penelitian yang menguraikan
bagaimana unsur-unsur sastra anak dapat dimanfaatkan secara sistematis untuk
menginternalisasikan nilai toleransi, empati, penghargaan terhadap keberagaman, serta sikap
inklusif kepada peserta didik.
Berdasarkan kesenjangan tersebut, kebaruan (novelty) artikel ini terletak pada
penyusunan kajian konseptual mengenai pemanfaatan sastra anak sebagai media penanaman
nilai-nilai multikultural melalui analisis keterkaitan antara unsur-unsur sastra anak, nilai-nilai
multikultural, teori pendidikan multikultural, dan implementasinya dalam pembelajaran di
sekolah dasar. Artikel ini tidak hanya memandang sastra anak sebagai media pengembangan
literasi, tetapi juga sebagai sarana strategis untuk membentuk karakter peserta didik yang
toleran, empatik, dan menghargai keberagaman budaya.
Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran sastra anak
sebagai media penanaman nilai-nilai multikultural, mengidentifikasi nilai-nilai multikultural
yang terkandung dalam karya sastra anak, serta mendeskripsikan strategi pemanfaatannya
dalam pembelajaran di sekolah dasar. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
teoretis bagi pengembangan kajian sastra anak dan pendidikan multikultural, serta menjadi
referensi praktis bagi guru dalam mengintegrasikan karya sastra anak ke dalam pembelajaran
guna membangun karakter peserta didik yang inklusif, toleran, dan menghargai keberagaman.
2. Metode Penelitian
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Studi literatur
melibatkan serangkaian kegiatan terkait dengan cara pengumpulan data dari sumber tertulis,
membaca, mencatat, serta mengolah materi penelitian (Zed, 2008). Data diambil dari berbagai
sumber tertulis, termasuk buku teks, artikel ilmiah, dan sumber-sumber lain seperti google
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 127 -
scholar, perpustakaan digital, dan lain-lain. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data
adalah dengan mengkaji sumber-sumber bacaan yang relevan dengan topik yang dibahas, yaitu
sastra anak sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa di tingkat sekolah
dasar. Analisis literatur memungkinkan untuk mempelajari beragam buku acuan dan penelitian
sebelumnya yang sejenis, yang bermanfaat untuk membangun kerangka teori terkait isu yang
akan diteliti.
3. Hasil dan Pembahasan
Peran Sastra Anak sebagai Media Penanaman Nilai-Nilai Multikultural
Hasil kajian menunjukkan bahwa sastra anak memiliki peran yang strategis sebagai media
penanaman nilai-nilai multikultural di sekolah dasar. Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai
bahan bacaan untuk meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga menjadi sarana yang
memungkinkan peserta didik memahami keberagaman budaya, membangun empati, serta
mengembangkan sikap menghargai perbedaan. Cerita yang menghadirkan tokoh, latar, konflik,
dan penyelesaian masalah dari berbagai latar budaya memberikan pengalaman tidak langsung
(vicarious experience) sehingga peserta didik dapat mengenal perspektif orang lain tanpa harus
mengalaminya secara langsung. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan multikultural yang
dikemukakan oleh Banks (2021), bahwa pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk memahami berbagai perspektif budaya sebagai dasar terbentuknya sikap
demokratis, adil, dan menghargai keberagaman.
Dalam perspektif sastra anak, cerita berfungsi sebagai media transmisi budaya sekaligus
pembentukan karakter. Menurut Nodelman (2008), sastra anak merupakan representasi
kehidupan yang disesuaikan dengan perkembangan kognitif dan emosional anak sehingga
mampu membantu mereka memahami nilai-nilai sosial melalui pengalaman tokoh dalam cerita.
Pendapat tersebut diperkuat oleh Shavit (2009) yang menjelaskan bahwa sastra anak memiliki
fungsi edukatif karena menyampaikan nilai budaya, moral, dan sosial melalui narasi yang dekat
dengan kehidupan anak. Dengan demikian, penyampaian nilai-nilai multikultural melalui sastra
anak berlangsung secara kontekstual dan lebih mudah dipahami dibandingkan penyampaian
secara konseptual.
Sejalan dengan fungsi tersebut, sastra anak tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga
memiliki nilai edukatif yang penting. Melalui sastra, anak dapat memperkaya kemampuan
berbahasa, mengembangkan imajinasi, serta memahami dan menghargai keberagaman budaya,
adat istiadat, dan agama. Nilai-nilai tersebut berperan dalam membentuk sikap saling
menghormati dan memahami perbedaan melalui pembelajaran antarbudaya. Oleh karena itu,
sastra anak perlu dikenalkan sejak dini sebagai sarana pengembangan karakter dan wawasan
multikultural (Anafiah, 2014).
Kajian-kajian mutakhir menunjukkan bahwa sastra anak multikultural berkontribusi
terhadap pengembangan kompetensi antarbudaya (intercultural competence). Xu et al. (2024)
dalam kajian sistematisnya menemukan bahwa penggunaan sastra multikultural dalam
pembelajaran mampu meningkatkan kompetensi komunikasi antarbudaya, empati, keterbukaan
terhadap keberagaman, serta kemampuan peserta didik dalam memahami perspektif budaya yang
berbeda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sastra anak tidak hanya mendukung
perkembangan literasi, tetapi juga menjadi media efektif dalam membangun kompetensi sosial
yang diperlukan pada masyarakat multikultural.
Temuan lain menunjukkan bahwa buku cerita bergambar yang memuat keberagaman
budaya efektif meningkatkan sensitivitas antarbudaya (intercultural sensitivity). Penelitian
Yıldırım et al. (2024) menjelaskan bahwa kegiatan membaca interaktif menggunakan buku cerita
multikultural memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenali budaya lain,
menghargai perbedaan, serta mengembangkan kemampuan memahami perspektif orang lain.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 128 -
Interaksi selama kegiatan membaca juga mendorong munculnya dialog mengenai keberagaman
sehingga peserta didik lebih mudah menginternalisasi nilai toleransi dan saling menghormati.
Namun demikian, keberhasilan pemanfaatan sastra anak tidak hanya bergantung pada
kualitas buku yang digunakan, tetapi juga pada strategi pembelajaran yang diterapkan guru.
Adam dan Byrne (2024) menegaskan bahwa buku cerita yang merepresentasikan keberagaman
budaya perlu diintegrasikan melalui pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap budaya
(Culturally Responsive Pedagogy). Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta
didik mendiskusikan isi cerita, menghubungkan pengalaman tokoh dengan kehidupan nyata,
serta mendorong refleksi terhadap nilai-nilai keberagaman yang terdapat dalam cerita. Melalui
proses tersebut, sastra anak tidak berhenti sebagai aktivitas membaca, tetapi menjadi media
pembentukan sikap inklusif dan penghargaan terhadap identitas budaya yang beragam.
Peran guru semakin penting dalam menciptakan ruang dialog selama pembelajaran sastra.
Gunn et al. (2025) menjelaskan bahwa kegiatan membaca nyaring (read aloud) menggunakan
sastra anak multikultural mampu menciptakan diskusi yang bermakna mengenai identitas,
keberagaman, keadilan, dan kehidupan sosial. Diskusi tersebut membantu peserta didik
memahami dirinya sendiri sekaligus memahami pengalaman orang lain sehingga tumbuh
kesadaran untuk menghargai perbedaan dan membangun lingkungan belajar yang inklusif.
Dengan demikian, sastra anak berfungsi sebagai jembatan antara pengalaman pribadi peserta
didik dengan realitas sosial yang lebih luas.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pemanfaatan sastra anak yang mengangkat
budaya lokal memiliki relevansi yang tinggi. Indonesia sebagai negara multikultural memerlukan
bahan bacaan yang mampu merepresentasikan keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan
nilai-nilai lokal. Kajian literatur terbaru menunjukkan bahwa karya sastra berbasis kearifan lokal
berperan sebagai media pelestarian budaya sekaligus sarana pendidikan multikultural karena
mampu menanamkan nilai gotong royong, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta
identitas budaya kepada peserta didik. Selain itu, integrasi sastra berbasis budaya lokal dalam
pembelajaran memperkuat literasi budaya dan karakter peserta didik.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, dapat dipahami bahwa sastra anak memiliki tiga fungsi
utama dalam pendidikan multikultural. Pertama, sebagai media representasi budaya, yaitu
memperkenalkan berbagai identitas budaya melalui tokoh, latar, dan alur cerita. Kedua, sebagai
media internalisasi nilai, yaitu menanamkan sikap toleransi, empati, penghargaan terhadap
keberagaman, keadilan, dan inklusivitas melalui pengalaman membaca dan refleksi. Ketiga,
sebagai media pembelajaran kontekstual, yaitu menghubungkan pengalaman peserta didik
dengan realitas kehidupan masyarakat multikultural melalui diskusi, kegiatan membaca bersama,
dan pembelajaran yang responsif terhadap budaya. Oleh karena itu, pemanfaatan sastra anak
tidak hanya mendukung pencapaian kompetensi literasi, tetapi juga menjadi strategi yang efektif
dalam membentuk karakter peserta didik yang menghargai keberagaman serta mampu hidup
harmonis di tengah masyarakat yang plural.
Nilai-Nilai Multikultural yang Terkandung dalam Karya Sastra Anak
Hasil kajian menunjukkan bahwa karya sastra anak mengandung berbagai nilai
multikultural yang dapat menjadi dasar pembentukan karakter peserta didik di sekolah dasar.
Nilai-nilai tersebut tidak disampaikan secara langsung dalam bentuk nasihat, tetapi
diinternalisasikan melalui tokoh, alur cerita, latar budaya, konflik, dialog, dan penyelesaian
masalah. Penyajian nilai dalam bentuk narasi menjadikan peserta didik lebih mudah memahami
makna keberagaman melalui pengalaman tokoh dalam cerita. Menurut Banks (2021), pendidikan
multikultural bertujuan mengembangkan sikap menghargai keberagaman, kesetaraan, keadilan,
serta kemampuan hidup berdampingan dalam masyarakat yang plural. Oleh karena itu, karya
sastra anak menjadi media yang efektif untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam
pembelajaran. Berdasarkan hasil kajian, karya sastra anak mengandung berbagai nilai
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 129 -
multikultural yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah dasar. Nilai-nilai tersebut
disajikan pada Tabel 1, berikut ini:
Tabel 1. Nilai-Nilai Multikultural Dalam Sastra Anak
Nilai
Multikultural
Bentuk dalam Sastra
Anak
Dampak terhadap
Peserta Didik
Toleransi
Tokoh dari latar budaya
berbeda saling
menghormati
Menghargai perbedaan
Empati
Memahami perasaan dan
pengalaman tokoh
Meningkatkan
kepedulian sosial
Penghargaan
terhadap
keberagaman
Cerita memperkenalkan
budaya, bahasa, adat,
dan tradisi
Menumbuhkan
wawasan budaya
Kesetaraan
Semua tokoh
memperoleh
kesempatan yang sama
Menghormati hak setiap
individu
Keadilan sosial
Penyelesaian konflik
secara adil
Mengembangkan sikap
demokratis
Kerja sama
dan gotong
royong
Tokoh menyelesaikan
masalah bersama
Meningkatkan
kolaborasi
Sikap inklusif
Menerima semua tokoh
tanpa diskriminasi
Menumbuhkan sikap
menerima keberagaman
Penghormatan
terhadap
identitas
budaya
Penggambaran budaya
lokal dan nasional
Memperkuat identitas
budaya dan
nasionalisme
Salah satu nilai utama yang banyak ditemukan dalam sastra anak adalah toleransi.
Toleransi tercermin melalui interaksi antartokoh yang berasal dari latar belakang budaya, agama,
bahasa, atau kebiasaan yang berbeda tetapi tetap mampu hidup berdampingan secara harmonis.
Melalui cerita, peserta didik belajar menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan sosial,
bukan sebagai sumber konflik. Xu et al. (2024) menjelaskan bahwa sastra multikultural mampu
meningkatkan sikap terbuka terhadap keberagaman dan mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk menghargai perspektif budaya yang berbeda. Dengan demikian, sastra anak menjadi
media yang efektif dalam membentuk sikap toleran sejak usia dini.
Nilai berikutnya adalah empati, yaitu kemampuan memahami dan merasakan pengalaman
orang lain. Empati berkembang ketika peserta didik mengikuti perjalanan tokoh yang
menghadapi berbagai persoalan sosial maupun budaya dalam cerita. Melalui proses tersebut,
peserta didik belajar memahami perasaan, kesulitan, dan sudut pandang tokoh yang berbeda dari
dirinya. Menurut teori pembelajaran sosial Bandura (1986), pengamatan terhadap perilaku tokoh
dapat memengaruhi perkembangan sikap dan perilaku peserta didik melalui proses pemodelan
(observational learning). Hasil kajian Xu et al. (2024) juga menunjukkan bahwa sastra
multikultural berkontribusi terhadap peningkatan empati sebagai bagian dari kompetensi
antarbudaya.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 130 -
Nilai multikultural lainnya adalah penghargaan terhadap keberagaman budaya. Berbagai
karya sastra anak memperkenalkan keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, makanan
tradisional, pakaian adat, maupun tradisi masyarakat dari berbagai daerah. Representasi tersebut
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal identitas budaya yang berbeda
sekaligus membangun rasa bangga terhadap kekayaan budaya bangsa. Menurut Yıldırım et al.
(2024), buku cerita bergambar multikultural yang digunakan dalam pembelajaran mampu
meningkatkan sensitivitas antarbudaya (intercultural sensitivity) karena peserta didik
memperoleh pengalaman belajar yang memperluas wawasan mengenai budaya lain.
Selain itu, karya sastra anak juga mengandung nilai kesetaraan dan keadilan sosial. Nilai
ini ditunjukkan melalui cerita yang menggambarkan setiap tokoh memperoleh kesempatan yang
sama tanpa memandang perbedaan latar belakang budaya, agama, jenis kelamin, maupun kondisi
sosial ekonomi. Banks (2021) menegaskan bahwa pendidikan multikultural harus
mengembangkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya persamaan hak, keadilan, dan
penghormatan terhadap martabat manusia. Melalui cerita, peserta didik belajar bahwa setiap
individu memiliki hak yang sama untuk dihargai dan diperlakukan secara adil.
Nilai kerja sama dan gotong royong juga banyak ditemukan dalam karya sastra anak.
Konflik dalam cerita umumnya diselesaikan melalui kerja sama antartokoh yang memiliki latar
belakang berbeda. Hal tersebut mengajarkan bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang
dalam mencapai tujuan bersama, tetapi menjadi kekuatan yang memperkaya penyelesaian
masalah. Nilai ini sejalan dengan karakter gotong royong yang menjadi salah satu karakter
penting dalam pendidikan di Indonesia serta mendukung terciptanya kehidupan sosial yang
harmonis.
Nilai berikutnya adalah sikap inklusif dan anti-diskriminasi. Karya sastra anak
multikultural memberikan ruang bagi representasi kelompok-kelompok yang selama ini kurang
terlihat, seperti masyarakat adat, penyandang disabilitas, atau kelompok minoritas budaya.
Melalui representasi tersebut, peserta didik belajar menerima setiap individu sebagai bagian yang
setara dalam kehidupan bermasyarakat. Adam dan Byrne (2024) menegaskan bahwa sastra anak
yang mengangkat keberagaman perlu didukung oleh pembelajaran yang responsif terhadap
budaya agar peserta didik memperoleh pemahaman yang autentik mengenai identitas, inklusi,
dan penghargaan terhadap perbedaan.
Di samping itu, sastra anak juga menanamkan nilai penghormatan terhadap identitas
budaya. Cerita yang mengangkat budaya lokal memperkenalkan berbagai tradisi, bahasa daerah,
permainan tradisional, upacara adat, maupun nilai-nilai kearifan lokal kepada peserta didik.
Melalui pengalaman membaca tersebut, peserta didik tidak hanya mengenal budaya sendiri,
tetapi juga belajar menghormati budaya masyarakat lain. Nilai ini penting untuk memperkuat
identitas nasional sekaligus menumbuhkan sikap terbuka terhadap budaya global.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, nilai-nilai multikultural yang paling dominan dalam
karya sastra anak meliputi toleransi, empati, penghargaan terhadap keberagaman budaya,
kesetaraan, keadilan sosial, kerja sama, gotong royong, sikap inklusif, anti-diskriminasi, serta
penghormatan terhadap identitas budaya. Nilai-nilai tersebut saling berkaitan dalam membentuk
kompetensi multikultural peserta didik. Apabila diintegrasikan secara sistematis dalam
pembelajaran, sastra anak tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga
berkontribusi terhadap pembentukan karakter peserta didik yang demokratis, humanis, dan
mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang majemuk.
Strategi Pemanfaatan Sastra Anak dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan sastra anak sebagai media penanaman nilai-
nilai multikultural akan lebih efektif apabila diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran yang
dirancang secara sistematis. Sastra anak tidak hanya digunakan sebagai bahan bacaan, tetapi juga
sebagai media untuk membangun dialog, refleksi, dan pengalaman belajar yang mendorong
peserta didik memahami keberagaman budaya. Dalam perspektif pendidikan multikultural,
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 131 -
pembelajaran tidak sekadar mengenalkan perbedaan budaya, tetapi juga mengembangkan sikap
toleransi, empati, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman (Banks, 2021). Oleh karena
itu, guru memiliki peran penting dalam merancang strategi pembelajaran yang mampu
menghubungkan isi cerita dengan pengalaman nyata peserta didik.
Berdasarkan hasil sintesis berbagai penelitian, strategi pemanfaatan sastra anak dalam
pembelajaran di sekolah dasar dapat diimplementasikan melalui beberapa kegiatan pembelajaran
yang mendukung internalisasi nilai-nilai multikultural. Ringkasan strategi tersebut disajikan pada
Tabel 2, sebagai berikut:
Tabel 2. Strategi Pemanfaatan Sastra Anak dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Strategi
Implementasi dalam
Pembelajaran
Nilai Multikultural
yang Dikembangkan
Pemilihan sastra
anak multikultural
Memilih cerita yang
merepresentasikan
berbagai budaya,
suku, bahasa, dan
agama
Penghargaan terhadap
keberagaman
Membaca interaktif
(interactive read-
aloud)
Guru membacakan
cerita disertai
pertanyaan dan
diskusi
Empati, toleransi
Diskusi reflektif
Menganalisis tokoh,
konflik, dan pesan
moral
Berpikir kritis,
keadilan, penghargaan
terhadap perbedaan
Mengaitkan cerita
dengan pengalaman
peserta didik
Menghubungkan isi
cerita dengan
kehidupan sehari-hari
Kesadaran budaya,
toleransi
Pembelajaran
kolaboratif
Drama, proyek
budaya, poster,
presentasi kelompok
Kerja sama, gotong
royong, inklusivitas
Pemanfaatan media
digital
Buku digital, video
cerita, aplikasi literasi
Literasi budaya dan
literasi digital
Refleksi dan tindak
lanjut
Jurnal membaca,
menulis cerita,
bermain peran
Empati, tanggung
jawab, penghargaan
terhadap keberagaman
Pembelajaran
responsif terhadap
budaya
Guru memfasilitasi
dialog dan
menciptakan kelas
inklusif
Inklusivitas,
kesetaraan,
penghormatan terhadap
identitas budaya
Salah satu strategi yang banyak direkomendasikan adalah pemilihan karya sastra yang
merepresentasikan keberagaman budaya. Guru perlu memilih cerita yang menampilkan tokoh,
latar, bahasa, adat istiadat, maupun nilai-nilai dari berbagai kelompok budaya sehingga peserta
didik memperoleh gambaran yang beragam tentang kehidupan masyarakat. Representasi budaya
yang berimbang membantu peserta didik memahami bahwa setiap budaya memiliki nilai yang
patut dihargai. Adam dan Byrne (2024) menegaskan bahwa penggunaan sastra anak yang
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 132 -
beragam perlu disertai dengan pemilihan bahan bacaan yang autentik dan bebas dari stereotip
agar peserta didik memperoleh pemahaman yang tepat mengenai identitas budaya. Sejalan
dengan itu, Gunn et al. (2025) menjelaskan bahwa pemilihan buku yang merepresentasikan
pengalaman budaya secara autentik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
membangun identitas diri sekaligus menghargai identitas budaya orang lain.
Strategi berikutnya adalah menerapkan kegiatan membaca interaktif (interactive read-
aloud). Dalam kegiatan ini guru tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga mengajukan
pertanyaan, mengajak peserta didik memprediksi alur cerita, mendiskusikan karakter tokoh, serta
menghubungkan isi cerita dengan pengalaman mereka. Interaksi tersebut mendorong peserta
didik berpikir kritis sekaligus memahami berbagai perspektif budaya. Penelitian Yıldırım et al.
(2024) menunjukkan bahwa kegiatan membaca interaktif menggunakan buku cerita bergambar
multikultural mampu meningkatkan sensitivitas antarbudaya (intercultural sensitivity) dan
pemahaman peserta didik terhadap keberagaman budaya. Temuan tersebut diperkuat oleh Xu et
al. (2024) yang menyatakan bahwa diskusi selama membaca sastra multikultural berkontribusi
terhadap peningkatan kompetensi komunikasi antarbudaya, kemampuan mengambil perspektif
orang lain, dan empati peserta didik.
Selain membaca interaktif, diskusi reflektif menjadi strategi penting dalam pembelajaran
berbasis sastra anak. Setelah membaca cerita, guru memfasilitasi peserta didik untuk
mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, seperti toleransi, empati, kerja sama,
dan penghargaan terhadap perbedaan. Diskusi dapat diarahkan pada pertanyaan-pertanyaan
reflektif, misalnya bagaimana perasaan tokoh ketika mengalami diskriminasi, bagaimana cara
menyelesaikan konflik secara damai, atau bagaimana sikap yang tepat ketika bertemu teman dari
budaya yang berbeda. Strategi ini membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai
multikultural melalui proses berpikir dan refleksi. Kim dan Kim (2023) menjelaskan bahwa
dialog reflektif setelah membaca cerita mampu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam
memahami perspektif sosial serta mengembangkan empati terhadap kelompok budaya yang
berbeda.
Strategi lainnya adalah mengaitkan isi cerita dengan konteks kehidupan sehari-hari. Guru
dapat meminta peserta didik menceritakan pengalaman mereka berinteraksi dengan teman yang
memiliki latar belakang budaya, bahasa, atau kebiasaan yang berbeda. Kegiatan ini membuat
pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Menurut teori Culturally Responsive
Teaching, pembelajaran yang menghubungkan materi dengan pengalaman peserta didik akan
meningkatkan keterlibatan belajar sekaligus memperkuat pemahaman terhadap keberagaman
budaya (Gay, 2018). Penelitian Hammond (2023) juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang
menghubungkan pengalaman budaya peserta didik dengan materi pembelajaran meningkatkan
partisipasi, motivasi belajar, dan penghargaan terhadap identitas budaya.
Pembelajaran juga dapat diperkaya melalui kegiatan kolaboratif berbasis proyek. Peserta
didik bekerja dalam kelompok untuk membuat poster budaya, peta keberagaman daerah di
Indonesia, drama berdasarkan cerita, buku cerita sederhana, atau presentasi mengenai tradisi dari
berbagai daerah. Kegiatan kolaboratif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
belajar bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan tugas bersama
meskipun memiliki perbedaan. Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran konstruktivistik
yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam membangun pengetahuan.
UNESCO (2024) menegaskan bahwa pembelajaran kolaboratif berbasis proyek merupakan
strategi yang efektif dalam mengembangkan kompetensi global, komunikasi lintas budaya, dan
penghargaan terhadap keberagaman.
Pemanfaatan media digital juga menjadi strategi yang relevan dalam pembelajaran abad
ke-21. Guru dapat menggunakan buku cerita digital, video animasi, cerita interaktif, maupun
aplikasi membaca yang memuat cerita multikultural. Media digital memberikan pengalaman
belajar yang lebih menarik dan memungkinkan peserta didik mengakses berbagai cerita dari
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 133 -
beragam budaya. Xu et al. (2024) menjelaskan bahwa integrasi sastra multikultural melalui
berbagai media pembelajaran mampu memperluas wawasan budaya sekaligus meningkatkan
kompetensi komunikasi antarbudaya peserta didik. Temuan tersebut didukung oleh OECD
(2023) yang menyatakan bahwa pemanfaatan sumber belajar digital memperkaya pengalaman
literasi sekaligus membantu peserta didik mengembangkan kompetensi global melalui akses
terhadap berbagai perspektif budaya.
Strategi berikutnya adalah mengembangkan kegiatan tindak lanjut setelah membaca cerita.
Guru dapat meminta peserta didik menulis refleksi, membuat jurnal membaca, menggambar
tokoh favorit beserta nilai yang dipelajari, bermain peran, atau menyusun cerita baru dengan
mengangkat nilai toleransi dan keberagaman. Kegiatan tersebut membantu peserta didik
memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai multikultural sekaligus mengembangkan kreativitas
dan kemampuan literasi. Mendoza dan Reese (2023) menjelaskan bahwa kegiatan respons
terhadap sastra (literature response activities) mendorong peserta didik menghubungkan isi
cerita dengan pengalaman pribadi sehingga proses internalisasi nilai menjadi lebih bermakna.
Keberhasilan pemanfaatan sastra anak juga dipengaruhi oleh kompetensi guru dalam
menerapkan pembelajaran yang responsif terhadap budaya. Guru perlu menciptakan suasana
kelas yang inklusif, menghargai setiap pendapat peserta didik, menghindari stereotip budaya,
serta memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk berpartisipasi.
Gunn et al. (2025) menegaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator dialog yang membantu
peserta didik memahami identitas budaya, membangun empati, serta menciptakan lingkungan
belajar yang inklusif melalui penggunaan sastra anak multikultural. Senada dengan itu, OECD
(2023) menekankan bahwa kompetensi guru dalam mengelola keberagaman budaya merupakan
faktor penting dalam membangun iklim kelas yang inklusif dan mendukung perkembangan
kompetensi global peserta didik.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, strategi pemanfaatan sastra anak dalam pembelajaran di
sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga
diarahkan pada pembentukan karakter peserta didik yang menghargai keberagaman. Integrasi
sastra anak dengan pembelajaran yang interaktif, reflektif, kolaboratif, kontekstual, dan responsif
terhadap budaya memungkinkan peserta didik mengembangkan kompetensi literasi sekaligus
kompetensi multikultural yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat yang majemuk.
4. Simpulan dan Saran
Simpulan
Kajian ini menunjukkan bahwa sastra anak memiliki peran yang strategis sebagai media
penanaman nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran di sekolah dasar. Melalui tokoh, alur,
latar, konflik, dan pesan moral yang disajikan dalam cerita, sastra anak mampu memperkenalkan
keberagaman budaya sekaligus mengembangkan karakter peserta didik yang toleran, empatik,
inklusif, serta menghargai perbedaan. Nilai-nilai multikultural yang terkandung dalam karya
sastra anak meliputi toleransi, empati, penghargaan terhadap keberagaman budaya, kesetaraan,
keadilan sosial, kerja sama, gotong royong, sikap inklusif, anti-diskriminasi, dan penghormatan
terhadap identitas budaya. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk peserta
didik yang mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.
Hasil kajian juga menunjukkan bahwa keberhasilan pemanfaatan sastra anak sangat
dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang diterapkan guru. Pemilihan karya sastra yang
merepresentasikan keberagaman budaya, kegiatan membaca interaktif (interactive read-aloud),
diskusi reflektif, pengaitan cerita dengan pengalaman peserta didik, pembelajaran kolaboratif
berbasis proyek, pemanfaatan media digital, kegiatan tindak lanjut, serta penerapan pembelajaran
yang responsif terhadap budaya merupakan strategi yang efektif untuk menginternalisasikan
nilai-nilai multikultural. Strategi-strategi tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi,
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 134 -
tetapi juga mengembangkan kompetensi antarbudaya, kemampuan berpikir kritis, serta
keterampilan sosial peserta didik.
Berdasarkan hasil kajian ini, sastra anak tidak lagi dipandang hanya sebagai media
pengembangan literasi, tetapi juga sebagai sarana pedagogis yang efektif dalam pendidikan
multikultural di sekolah dasar. Oleh karena itu, guru perlu mengintegrasikan karya sastra anak
yang merepresentasikan keberagaman budaya ke dalam pembelajaran secara terencana dan
kontekstual agar proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi
akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang demokratis, humanis, dan
mampu hidup harmonis dalam masyarakat multikultural. Kajian ini diharapkan dapat menjadi
landasan konseptual bagi pengembangan pembelajaran berbasis sastra anak serta menjadi
referensi bagi penelitian selanjutnya yang menguji efektivitas implementasi sastra anak dalam
menanamkan nilai-nilai multikultural melalui penelitian empiris di sekolah dasar.
Saran
Berdasarkan hasil kajian ini, guru perlu memilih dan memanfaatkan karya sastra anak yang
autentik, bebas dari stereotip, serta mengintegrasikannya dengan strategi pembelajaran yang
interaktif dan responsif terhadap budaya agar nilai-nilai multikultural dapat diinternalisasikan
secara optimal kepada peserta didik. Sekolah diharapkan memperkaya koleksi buku sastra anak
multikultural dan mendukung pengembangan kompetensi guru dalam mengimplementasikan
pendidikan multikultural melalui berbagai kegiatan literasi. Selain itu, pengembang kurikulum
dan penyusun bahan ajar disarankan memasukkan lebih banyak karya sastra anak yang
mengangkat keberagaman budaya Indonesia sebagai sumber belajar guna memperkuat
pembentukan karakter peserta didik. Peneliti selanjutnya juga perlu melakukan penelitian
eksperimen maupun penelitian pengembangan untuk menguji efektivitas pemanfaatan sastra
anak dalam meningkatkan toleransi, empati, serta kompetensi multikultural peserta didik pada
berbagai jenjang dan konteks pembelajaran.
5. Daftar Pustaka
Adam, H., & Byrne, M. (2024). I'm not from a country, I'm from Australia: Costumes, scarves,
and fruit on their heads: The urgent need for culturally responsive pedagogy when sharing
diverse books with children. The Australian Educational Researcher, 51(4), 11211140.
https://doi.org/10.1007/s13384-023-00631-
Anafiah, Siti. 2014. Pemanfaatan Sastra Anak sebagai Media Penanaman Wawasan
Multikultural. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, Vol. 1, No. 1, hlm. 10-15.
Bandura, A. (1986). Social Foundations Of Thought And Action: A Social Cognitive Theory.
Prentice-Hall.
Banks, J. A. (2021). An Introduction To Multicultural Education (7th ed.). Pearson.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2024). Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Indonesia 2024. Badan Pusat Statistik.
Gay, G. (2018). Culturally responsive teaching: Theory, research, and practice (3rd ed.).
Teachers College Press.
Gunn, A. A., Bennett, S. V., & McConnaughy, E. (2025). We Don't Know What's Going On In
Their Life”: Multicultural Children's Literature In Early Childhood Classrooms.
Multicultural Perspectives, 27(1), 4149. https://doi.org/10.1080/15210960.2025.2511593
Hammond, Z. (2023). Culturally Responsive Teaching and the Brain (revised ed.). Corwin.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 124-135
E-ISSN: 3026-4014
- 135 -
Kim, H., & Kim, J. (2023). Dialogic reading and children's empathy development through
multicultural literature. Journal of Early Childhood Literacy.
Mendoza, J., & Reese, D. (2023). Examining Multicultural Picture Books: A Critical Literacy
Perspective. Teachers College Press.
Nieto, S. (2018). Language, culture, and teaching: Critical perspectives (3rd ed.). Routledge.
Nodelman, P. (2008). The hidden adult: Defining children's literature. Johns Hopkins University
Press.
OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume II): Learning Duringand FromDisruption.
OECD Publishing.
UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report 2024: Leadership in Education.
UNESCO Publishing.
Shavit, Z. (2009). Poetics of children's literature. University of Georgia Press.
Xu, A., Ahmad, N. K., & Rahman, S. N. A. (2024). Impact of multicultural literature on
intercultural communicative competence development in English language education: A
systematic review. International Journal of Learning, Teaching and Educational Research,
23(11), 308324. https://doi.org/10.26803/ijlter.23.11.16
Yıldırım, K., Çetinkaya, F. Ç., Topçam, A. B., Durmaz, M., Öksüz, H. İ., Sezer, B. B., &
Demirkıran, F. (2024). Enhancing intercultural sensitivity with children's picture books: A
perspective from Erasmus+ project. International Journal of Düzce Educational Sciences,
2(1), 3548. https://doi.org/10.62195/ijdes.1488281
Zed, M. (2008). Metode penelitian kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.