Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84
Journal of Economics, Business, Accounting and Management
(JEBAM)
Journal homepage:https://kurniajurnal.com/index.php/jebam
E-ISSN: 3032-274X
Strategi Pengembangan Roti Manis Queen dengan Pendekatan Matriks Space
Firdaus Anggoro Firmansyah
1
, Reza Widhar Pahlevi
2
1,2
Fakultas Ekonomi dan Sosial, Universitas Amikom Yogyakarta, Indonesia
Article History
Received : 5-Agustus-2026
Revised : 27-Agustus-2026
Accepted : 3-September-2026
Published : 21-September-2026
Keywords:
Strategy, Business Development,
SWOT Analysis, SPACE Matrix
Corresponding author:
firdaus.f@students.amikom.ac.id
DOI:
https://doi.org/10.61476/58f6gx42
A B S T R A C T
This study aims to formulate an appropriate business development strategy
for Roti Manis Queen, a micro-bakery MSME in Moyudan, Sleman,
Yogyakarta. The study uses a descriptive qualitative approach with a case-
study design. Data were obtained through active participant observation,
semi-structured in-depth interviews, documentation, and literature study,
with source and technique triangulation involving the owner, production
employee, customers, supplier, and consignment outlet. Data were reduced
through cross-case analysis and subsequently transformed into the input
stage using IFAS and EFAS, followed by the matching stage using the
SPACE Matrix. The findings show that the main internal strengths are
consistency of distinctive taste and the use of premium ingredients without
preservatives. Critical weaknesses include plain packaging, limited oven
capacity and unstable temperature, irregular distribution, dependence on
consignment channels, and incomplete business legality. Externally, the
business has opportunities in the rural breakfast market, expansion of
selling points, digital marketing, supplier support, and product-variety
innovation, while facing raw-material price fluctuations, aggressive price
competition, short shelf life, and supply uncertainty. The IFAS score is 2.66
and the EFAS score used in the strategic mapping is 2.92, placing Roti
Manis Queen in the aggressive quadrant. The recommended direction is
market penetration and product development supported by production
modernization, legal compliance, supply-chain improvement, and visual
branding.
A B S T R A K
Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan usaha yang
tepat bagi Roti Manis Queen, UMKM bakery skala mikro di Moyudan,
Sleman, Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi
partisipan aktif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dokumentasi, dan
studi pustaka, serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan teknik yang
melibatkan pemilik, karyawan produksi, pelanggan, pemasok, dan toko
tempat penitipan. Data direduksi melalui analisis lintas kasus, kemudian
diolah pada tahap input menggunakan matriks IFAS dan EFAS serta tahap
pencocokan menggunakan Matriks SPACE. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kekuatan utama usaha terletak pada konsistensi rasa khas dan
penggunaan bahan premium tanpa pengawet. Kelemahan penting meliputi
kemasan polos, kapasitas oven terbatas dengan suhu yang tidak stabil,
distribusi yang belum teratur, ketergantungan pada konsinyasi, dan
legalitas usaha yang belum lengkap. Dari lingkungan eksternal, peluang
utama berasal dari pasar sarapan masyarakat desa, perluasan titik jual,
pemasaran digital, dukungan pemasok, dan inovasi varian rasa. Ancaman
terutama berupa fluktuasi harga bahan baku, persaingan harga roti massal,
masa simpan singkat, dan ketidakpastian pasokan. Skor IFAS sebesar 2,66
68 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
dan skor EFAS sebesar 2,92 menempatkan Roti Manis Queen pada
Kuadran Agresif. Strategi yang direkomendasikan adalah penetrasi pasar
dan pengembangan produk, disertai modernisasi produksi, pembenahan
legalitas, perbaikan rantai pasok, dan penguatan branding visual.
©2026, Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi
This is an open access article under CC BY-SA license
PENDAHULUAN
Industri roti berkembang dari sekadar penyedia pangan menjadi bagian dari pola
konsumsi masyarakat yang dipengaruhi kualitas, harga, kemudahan memperoleh
produk, serta pengalaman konsumen. Perubahan tersebut membuka ruang bagi usaha
mikro untuk mempertahankan pasar melalui kedekatan dengan komunitas sekaligus
melakukan inovasi secara lebih fleksibel. Namun, fleksibilitas tidak otomatis
menghasilkan pertumbuhan. Usaha yang mampu bertahan lama tetapi tidak
memperkuat kapasitas produksi, pemasaran, administrasi, dan pengambilan keputusan
strategis berisiko mengalami stagnasi.
Kondisi tersebut relevan bagi UMKM bakery. Sektor makanan dan minuman memiliki
peluang pasar yang besar, tetapi pelaku usaha juga menghadapi keterbatasan modal,
teknologi, sumber daya manusia, inovasi, dan pemasaran (Armareta & Pahlevi, 2024).
Dalam perspektif manajemen strategis, keputusan pengembangan perlu
mempertemukan kemampuan internal dengan perubahan lingkungan eksternal.
Manajemen strategis sebagai proses merumuskan, mengimplementasikan, dan
mengevaluasi keputusan lintas fungsi untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Analisis SWOT dapat digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman. Akan tetapi, SWOT yang hanya bersifat deskriptif belum selalu
menghasilkan arah tindakan yang terukur. SWOT bermanfaat sebagai kerangka
diagnosis, tetapi hasilnya perlu diolah lebih lanjut agar dapat mendukung keputusan.
Dalam penelitian ini, identifikasi SWOT ditransformasikan ke dalam IFAS dan EFAS
melalui pembobotan dan rating. Selanjutnya, hasil tersebut dipetakan menggunakan
Matriks SPACE untuk memperoleh posisi strategis (Ningrum & Pahlevi, 2024).
Roti Manis Queen merupakan usaha mikro bakery yang berlokasi di Kaliduren 3,
Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, dan berdiri sejak 2012. Usaha ini
mempertahankan resep dan karakter rasa melalui penggunaan bahan baku pilihan,
termasuk bahan premium tanpa pengawet. Basis pelanggan yang loyal menjadi salah
satu modal penting. Secara operasional, produksi dilakukan setiap hari dengan
kapasitas rata-rata sekitar 100 buah roti dari dua kali proses pengadukan adonan.
Usaha pada awalnya menggunakan oven gas, stand mixer, dan loyang sebagai aset
utama.
Di sisi lain, hasil observasi menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha menghadapi
beberapa hambatan. Kapasitas oven terbatas dan suhu tidak selalu stabil. Distribusi ke
toko titipan belum konsisten sehingga stok dapat kosong. Kemasan masih polos dan
belum sepenuhnya berfungsi sebagai identitas merek. Legalitas juga perlu diperkuat,
terutama pembaruan P-IRT dan sertifikasi Halal. Di luar usaha, kenaikan harga bahan
baku mingguan dan persaingan dengan roti massal berharga lebih rendah menciptakan
tekanan terhadap margin dan loyalitas pelanggan.
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 69
Fenomena tersebut membentuk research gap. Studi pada UMKM makanan dan bakery
yang dirujuk dalam naskah akhir banyak menggunakan SWOT secara kualitatif,
sedangkan pendekatan kuantitatif seperti QSPM memiliki fokus berbeda. Kegunaan
SPACE untuk menentukan posisi strategis UKM, tetapi konteks penelitian tersebut
berada di luar Indonesia dan tidak spesifik pada bakery mikro berbasis komunitas.
Penelitian ini mengisi ruang tersebut dengan mengintegrasikan temuan kualitatif,
pembobotan IFAS-EFAS, dan pemetaan SPACE pada satu kasus bakery mikro.
Persaingan dalam industri makanan yang semakin dinamis menuntut pelaku usaha
untuk tidak hanya mempertahankan keberlangsungan operasional, tetapi juga mampu
merumuskan strategi pengembangan yang tepat (Lintang & Widhar, 2024). Dalam
perspektif manajemen strategis, strategi merupakan proses sistematis yang mencakup
analisis lingkungan internal dan eksternal, formulasi strategi, implementasi, serta
evaluasi untuk mencapai tujuan organisasi secara berkelanjutan. Oleh karena itu,
pemilihan strategi perlu didasarkan pada kondisi nyata perusahaan, baik dari aspek
sumber daya maupun perubahan lingkungan bisnis (Yasid & Pahlevi, 2024).
Roti Manis Queen sebagai usaha di bidang makanan memiliki peluang pengembangan
melalui peningkatan kualitas produk, inovasi varian rasa, penguatan merek,
pemanfaatan pemasaran digital, dan perluasan jaringan distribusi. Namun, usaha ini
juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain persaingan dengan produk sejenis,
perubahan preferensi konsumen, fluktuasi harga bahan baku, serta perkembangan
saluran pemasaran. Kondisi tersebut membutuhkan analisis strategis untuk
menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan posisi usaha.
Salah satu alat dalam manajemen strategis yang dapat digunakan adalah Strategic
Position and Action Evaluation (SPACE) Matrix. Matriks SPACE menganalisis posisi
strategis berdasarkan empat dimensi, yaitu Financial Strength (FS), Competitive
Advantage (CA), Industry Strength (IS), dan Environmental Stability (ES). Hasil
pemetaan keempat dimensi tersebut menghasilkan posisi strategis perusahaan yang
dapat mengarahkan pilihan strategi, seperti agresif, kompetitif, konservatif, atau
defensif. Dengan demikian, penerapan SPACE Matrix pada Roti Manis Queen
diharapkan dapat mengidentifikasi posisi strategis usaha dan menjadi dasar dalam
merumuskan alternatif strategi pengembangan yang lebih terarah, realistis, dan
berkelanjutan (Jiao et al., 2024).
Berdasarkan konteks tersebut, penelitian ini berfokus pada tiga pertanyaan: bagaimana
kondisi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman Roti Manis Queen; bagaimana
posisi strategis usaha berdasarkan Matriks SPACE; serta hambatan apa yang perlu
diatasi agar strategi pengembangan dapat dilaksanakan. Tujuan penelitian adalah
mengidentifikasi faktor strategis, menentukan posisi usaha, dan merumuskan strategi
pengembangan yang aplikatif.
LANDASAN TEORI
Manajemen Strategis
Manajemen strategis merupakan serangkaian proses yang dilakukan organisasi untuk
menentukan arah, tujuan, serta strategi yang diperlukan agar mampu mencapai
keunggulan dan mempertahankan keberlangsungan usaha (Anning-dorson, 2025).
Manajemen strategis tidak hanya berkaitan dengan penyusunan rencana, tetapi juga
mencakup proses analisis lingkungan, formulasi strategi, implementasi, dan evaluasi
70 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
strategi. Dalam lingkungan bisnis yang dinamis, manajemen strategis menjadi penting
karena perusahaan menghadapi perubahan selera konsumen, perkembangan teknologi,
persaingan, perubahan harga bahan baku, serta berbagai faktor ekonomi dan sosial
(Aslam, 2026).
Manajemen strategis merupakan seni dan ilmu dalam memformulasikan,
mengimplementasikan, serta mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang
memungkinkan organisasi mencapai tujuannya. Konsep tersebut menunjukkan bahwa
strategi harus dibangun berdasarkan keterkaitan antara kondisi internal organisasi
dengan lingkungan eksternalnya. Dengan demikian, perusahaan tidak cukup hanya
mengetahui kekuatan dan kelemahannya, tetapi juga harus mampu memahami
peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan bisnis (Castilla-polo & S, 2025).
Bagi usaha Roti Manis Queen, penerapan manajemen strategis diperlukan untuk
menentukan arah pengembangan usaha secara sistematis. Strategi dapat diarahkan
pada pengembangan produk, peningkatan kualitas, efisiensi operasional, perluasan
pasar, penguatan merek, pemanfaatan pemasaran digital, maupun pengembangan
saluran distribusi. Pemilihan strategi tersebut perlu mempertimbangkan kemampuan
internal usaha dan kondisi lingkungan persaingan.
Strategi Pengembangan Usaha
Strategi pengembangan usaha merupakan serangkaian tindakan yang dirancang untuk
meningkatkan kemampuan dan posisi suatu usaha sehingga dapat mencapai
pertumbuhan serta keberlanjutan. Pengembangan usaha dapat dilakukan melalui
beberapa pendekatan, seperti penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan
produk, diversifikasi, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan hubungan
dengan pelanggan (Lee & Kim, 2024).
Dalam usaha makanan, strategi pengembangan dapat diwujudkan melalui inovasi
produk, peningkatan kualitas bahan dan proses produksi, penambahan variasi rasa dan
ukuran, penetapan harga yang kompetitif, peningkatan pelayanan, serta penggunaan
media digital sebagai sarana promosi. Strategi pengembangan juga dapat mencakup
perluasan pasar melalui kerja sama dengan reseller, toko, platform digital, maupun
jaringan distribusi lainnya (Budianto & Zaman, 2025).
Strategi yang tepat harus mempertimbangkan sumber daya yang tersedia. Usaha
dengan sumber daya terbatas perlu memilih strategi yang dapat memberikan manfaat
optimal tanpa menimbulkan beban operasional yang terlalu besar. Oleh karena itu,
analisis posisi strategis menjadi penting sebelum menentukan alternatif pengembangan
usaha (Teng et al., 2026).
Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal
Formulasi strategi pada dasarnya membutuhkan pemahaman terhadap lingkungan
internal dan eksternal organisasi. Analisis lingkungan internal digunakan untuk
mengidentifikasi sumber daya, kemampuan, kekuatan, dan kelemahan perusahaan.
Aspek internal dapat meliputi kondisi keuangan, kemampuan produksi, kualitas
produk, sumber daya manusia, pemasaran, pelayanan, teknologi, dan kemampuan
manajerial (Madueño et al., 2016).
Sementara itu, analisis lingkungan eksternal digunakan untuk mengidentifikasi faktor-
faktor di luar kendali perusahaan yang dapat menciptakan peluang atau ancaman.
Faktor tersebut antara lain kondisi persaingan, perubahan kebutuhan konsumen,
perkembangan teknologi, kondisi ekonomi, perubahan harga bahan baku, kebijakan
pemerintah, serta perkembangan saluran distribusi (Cadden et al., 2023).
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 71
Bagi Roti Manis Queen, analisis internal dapat digunakan untuk mengetahui
kemampuan usaha dalam menghasilkan produk berkualitas, mengelola keuangan,
melakukan pemasaran, dan mempertahankan pelanggan. Analisis eksternal diperlukan
untuk memahami tingkat persaingan usaha roti, perubahan tren konsumsi,
perkembangan pemasaran digital, serta peluang perluasan pasar (Redjeki & Affandi,
2021).
Strategic Position and Action Evaluation (SPACE) Matrix
Strategic Position and Action Evaluation (SPACE) Matrix merupakan salah satu alat
analisis dalam manajemen strategis yang digunakan untuk menentukan posisi strategis
organisasi dan mengidentifikasi arah tindakan yang sesuai. Matriks SPACE
menggabungkan faktor internal dan eksternal melalui empat dimensi utama, yaitu
Financial Strength (FS), Competitive Advantage (CA), Industry Strength (IS), dan
Environmental Stability (ES)(Saad et al., 2023).
Financial Strength (FS) menggambarkan kekuatan finansial perusahaan. Indikator yang
dapat digunakan antara lain pertumbuhan penjualan, profitabilitas, arus kas, modal
kerja, kemampuan memenuhi kewajiban, dan kemampuan memperoleh modal.
Semakin kuat kondisi keuangan suatu usaha, semakin besar kemampuan usaha
tersebut dalam menjalankan strategi pengembangan (Lai et al., 2025).
Competitive Advantage (CA) menunjukkan tingkat keunggulan kompetitif perusahaan
dibandingkan pesaing. Faktor yang dapat dipertimbangkan meliputi kualitas produk,
loyalitas pelanggan, citra merek, keunikan produk, penguasaan pasar, harga, serta
kemampuan mempertahankan pelanggan. Dalam konteks Roti Manis Queen,
keunggulan kompetitif dapat berasal dari cita rasa, kualitas, variasi produk, pelayanan,
harga, maupun karakteristik produk yang membedakannya dari pesaing (Sogenbits &
Turksen, 2024).
Industry Strength (IS) menggambarkan daya tarik dan kekuatan industri tempat
perusahaan beroperasi. Indikatornya dapat mencakup potensi pertumbuhan industri,
tingkat keuntungan, stabilitas permintaan, potensi pasar, kemudahan pengembangan
produk, dan tingkat pemanfaatan teknologi. Industri makanan dan roti dapat
memberikan peluang pengembangan apabila terdapat permintaan konsumen yang
relatif berkelanjutan dan peluang inovasi produk (Moshood et al., 2022).
Sementara itu, Environmental Stability (ES) menggambarkan tingkat ketidakstabilan
lingkungan eksternal. Faktor yang dapat dianalisis antara lain perubahan teknologi,
inflasi, fluktuasi harga bahan baku, intensitas persaingan, perubahan perilaku
konsumen, serta tekanan lingkungan bisnis. Semakin tidak stabil lingkungan eksternal,
semakin besar tantangan yang harus dihadapi perusahaan dalam mempertahankan
posisinya (Zhu, 2025).
Penentuan Posisi Strategis melalui SPACE Matrix
SPACE Matrix menggunakan koordinat strategis yang dibentuk dari kombinasi
dimensi internal dan eksternal. Sumbu horizontal umumnya menggambarkan
kombinasi Competitive Advantage (CA) dan Industry Strength (IS), sedangkan sumbu
vertikal menggambarkan kombinasi Financial Strength (FS) dan Environmental
Stability (ES). Nilai masing-masing faktor diperoleh melalui penilaian terhadap
indikator yang telah ditentukan (Amoussohoui et al., 2022).
Hasil perhitungan kemudian diplot ke dalam diagram SPACE. Posisi titik koordinat
menunjukkan kecenderungan strategi yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan.
Secara umum, SPACE Matrix menghasilkan empat posisi strategis, yaitu aggressive,
competitive, conservative, dan defensive.
72 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
Posisi aggressive menunjukkan kondisi ketika perusahaan memiliki kekuatan internal
dan peluang industri yang mendukung pertumbuhan. Strategi yang dapat
dipertimbangkan antara lain penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan
produk, dan diversifikasi (Jiao et al., 2024).
Posisi competitive menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kekuatan untuk bersaing,
tetapi menghadapi tekanan lingkungan atau persaingan yang perlu diperhatikan.
Strategi dapat diarahkan pada peningkatan kualitas, penguatan keunggulan kompetitif,
pengembangan pasar, serta peningkatan efektivitas pemasaran.
Posisi conservative menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kondisi internal tertentu
yang relatif kuat, tetapi menghadapi keterbatasan atau kondisi industri yang kurang
mendukung ekspansi agresif. Strategi dapat difokuskan pada efisiensi,
mempertahankan kompetensi inti, penetrasi pasar secara selektif, dan pengembangan
produk dengan risiko yang terkendali (Zhai et al., 2024).
Posisi defensive menunjukkan kondisi ketika perusahaan menghadapi tekanan yang
relatif kuat baik dari lingkungan maupun dari kondisi internal. Strategi dapat
diarahkan pada pengurangan biaya, peningkatan efisiensi, mempertahankan pasar
yang masih menguntungkan, atau melakukan tindakan pemulihan usaha (Hao et al.,
2025).
SPACE Matrix sebagai Dasar Perumusan Strategi Roti Manis Queen
Penggunaan SPACE Matrix dalam pengembangan Roti Manis Queen memberikan
kerangka yang sistematis untuk menghubungkan kondisi internal usaha dengan
lingkungan industri. Analisis tidak hanya berfokus pada kelemahan atau kekuatan
perusahaan, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan finansial, keunggulan
kompetitif, daya tarik industri, dan stabilitas lingkungan.
Hasil pemetaan SPACE Matrix selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk
merumuskan alternatif strategi yang sesuai dengan posisi Roti Manis Queen. Strategi
tersebut dapat mencakup peningkatan kualitas dan inovasi produk, diversifikasi varian
roti, penguatan merek, optimalisasi media sosial dan marketplace, perluasan jaringan
distribusi, peningkatan pelayanan pelanggan, kerja sama dengan reseller, serta
peningkatan efisiensi produksi.
Dengan demikian, SPACE Matrix berfungsi sebagai alat pendukung pengambilan
keputusan strategis. Matriks ini membantu mengubah hasil identifikasi kondisi internal
dan eksternal menjadi gambaran posisi strategis yang dapat digunakan untuk
menentukan arah pengembangan usaha. Dalam penelitian Roti Manis Queen,
pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan strategi pengembangan yang
sesuai dengan kemampuan usaha, karakteristik industri roti, serta perubahan
lingkungan bisnis.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus.
Pemilihan desain didasarkan pada kebutuhan untuk memahami strategi
pengembangan usaha dalam kondisi alamiah. Peneliti berperan sebagai instrumen
kunci dan melakukan observasi partisipan aktif pada kegiatan operasional, termasuk
proses produksi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menghubungkan informasi
verbal dari informan dengan kondisi nyata di lapangan (Ferdinand, 2005).
Lokasi penelitian adalah Roti Manis Queen di Kaliduren 3, Sumberagung, Moyudan,
Sleman, Yogyakarta. Informan dipilih secara purposive karena memiliki pengalaman
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 73
langsung terhadap dinamika usaha. Informan meliputi pemilik sebagai informan kunci,
karyawan bagian produksi sebagai informan internal, serta pelanggan, pemasok bahan
baku, dan pengelola toko tempat penitipan sebagai informan eksternal. Keragaman
sumber digunakan untuk memperoleh perspektif yang tidak hanya berpusat pada
pemilik.
Pengumpulan data dilakukan melalui empat teknik. Pertama, observasi partisipan aktif
untuk menangkap alur kerja, standar kualitas, kapasitas produksi, dan kendala
operasional. Kedua, wawancara mendalam semi-terstruktur untuk menggali aspek
produksi, pemasaran, keuangan, distribusi, kualitas, peluang, dan ancaman. Ketiga,
dokumentasi yang mencakup sejarah usaha, profil, data penjualan, dan dokumentasi
kegiatan. Keempat, studi pustaka yang digunakan untuk memperkuat landasan teori
dan membandingkan hasil penelitian (Qadri, 2016).
Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Informasi dari
pemilik dan karyawan dibandingkan dengan persepsi pelanggan, pemasok, dan toko
titipan. Hasil wawancara juga dikonfrontasikan dengan observasi lapangan, misalnya
terkait kapasitas oven, kualitas produk, dan pola distribusi. Objectivitas dapat
ditelusuri melalui jejak audit berupa transkrip wawancara, catatan lapangan,
dokumentasi, cross-case analysis, serta member check (Kusumahati & Pahlevi, 2024).
Analisis data dilakukan secara bertahap. Data mentah direduksi dengan
mengelompokkan informasi ke dalam dimensi operasional, finansial, sumber daya
manusia, pemasaran, dan pengembangan bisnis. Hasil reduksi disusun dalam cross-case
analysis untuk melihat pola yang muncul antar-informan. Faktor yang menunjukkan
konvergensi dan dampak operasional kemudian diklasifikasikan sebagai strengths,
weaknesses, opportunities, dan threats (Lintang & Widhar, 2024).
Pada tahap input, faktor strategis dimasukkan ke dalam IFAS dan EFAS. Bobot
ditentukan berdasarkan tingkat kepentingan relatif, dengan total bobot satu dalam
setiap matriks. Rating diberikan berdasarkan efektivitas respons usaha; untuk kekuatan
dan peluang, rating juga menggunakan informasi persepsi pelanggan. Skor diperoleh
dari perkalian bobot dan rating. Hasil ini tidak dimaksudkan menggantikan data
kualitatif, tetapi mengubah temuan kualitatif yang telah tervalidasi menjadi ukuran
yang dapat digunakan untuk pemetaan (Amoussohoui et al., 2022).
Tahap matching menggunakan Matriks SPACE. Dalam naskah akhir, pemetaan
dilakukan dengan menggunakan hasil faktor peluang dan kelemahan pada sumbu
horizontal serta kekuatan dan ancaman pada sumbu vertikal. Posisi akhir ditentukan
dari koordinat yang dihasilkan. Hasil tersebut kemudian ditafsirkan berdasarkan
karakter kuadran dan dikaitkan kembali dengan kondisi faktual Roti Manis Queen
sehingga strategi yang dipilih tetap realistis bagi usaha mikro.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil dan Temuan Utama
Roti Manis Queen adalah usaha mikro bakery yang beroperasi di Moyudan, Sleman,
Yogyakarta. Usaha didirikan pada 2012 dan mempertahankan fokus pada roti manis.
Produk dikembangkan dengan perhatian pada rasa, tekstur, dan bahan baku.
Penggunaan bahan premium tanpa pengawet menjadi bagian dari positioning produk.
Konsistensi rasa dan tekstur serat yang lembut muncul sebagai kekuatan yang
dikonfirmasi lintas informan.
74 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
Konsumen menilai rasa dan kualitas produk sebagai alasan untuk tetap membeli
meskipun terdapat roti lain yang lebih murah. Hasil wawancara pelanggan dalam
naskah akhir juga menunjukkan bahwa ukuran produk relatif konsisten dan harga
dinilai sebanding dengan kualitas. Ketika stok habis di toko, pelanggan dapat merasa
kecewa dan beralih sementara ke produk lain. Temuan ini memperlihatkan bahwa
loyalitas telah terbentuk, tetapi kontinuitas ketersediaan produk menjadi bagian
penting dari pemeliharaan loyalitas tersebut.
Dari sisi produksi, usaha memiliki proses yang relatif stabil tetapi kapasitasnya dibatasi
peralatan. Naskah akhir mencatat produksi rata-rata sekitar 100 buah per hari melalui
dua kali pengadukan adonan. Oven gas memiliki kapasitas sekitar dua loyang dan
suhu yang tidak selalu stabil. Kondisi ini menjadi penting ketika strategi
pengembangan diarahkan pada penambahan titik distribusi. Ekspansi permintaan
tanpa penambahan kapasitas berpotensi meningkatkan kekosongan stok atau
menurunkan konsistensi kualitas.
Dalam distribusi, usaha sangat bergantung pada toko titipan atau konsinyasi. Model
tersebut sesuai dengan karakter pasar lokal karena produk dapat menjangkau
konsumen tanpa investasi outlet yang besar. Akan tetapi, jadwal distribusi yang belum
teratur menyebabkan rak mitra dapat kosong. Ketergantungan pada konsinyasi juga
membuat jangkauan pasar relatif terbatas pada wilayah sekitar. Karena itu, ekspansi
titik jual harus diikuti penguatan jadwal pengiriman dan pengendalian stok.
Pada sisi bahan baku, pemilik menggunakan bahan premium dan menghindari bahan
curah untuk mempertahankan kualitas. Pilihan ini menjadi sumber diferensiasi, tetapi
membuat usaha sensitif terhadap perubahan harga. Temuan cross-case menunjukkan
harga bahan baku utama dapat meningkat setiap minggu dan pasokan dari distributor
pusat dapat mengalami ketidakpastian. Pengadaan yang masih cenderung dadakan
atau eceran memperbesar risiko biaya produksi meningkat. Pada sisi administrasi dan
branding, terdapat kelemahan yang lebih struktural. Kemasan masih polos dan belum
secara optimal menampilkan identitas merek. Informasi Halal, P-IRT, dan tanggal
kedaluwarsa belum tercantum secara memadai. Status P-IRT juga perlu diperbarui.
Kelemahan ini tidak langsung menghilangkan pelanggan lama, tetapi dapat menjadi
penghambat ketika usaha ingin memasuki saluran ritel formal atau memperluas pasar
di luar komunitas yang telah mengenal produk.
Lingkungan eksternal memberikan beberapa peluang. Pasar sarapan masyarakat desa
dinilai stabil dan sesuai dengan karakter produk. Perluasan titik jual dapat diarahkan
ke area sekolah, perkantoran lokal, jalan raya, dan lokasi ramai. Pemasaran digital
melalui WhatsApp juga memiliki potensi karena dapat menjadi saluran komunikasi
dan pemesanan langsung. Dukungan promosi dari pemasok dan inovasi varian rasa
membuka ruang untuk mengembangkan produk tanpa meninggalkan karakter utama.
Ancaman utama adalah persaingan harga dengan roti massal yang dapat dijual sekitar
Rp2.000. Roti Manis Queen tidak berada pada posisi terbaik jika berkompetisi hanya
melalui harga, sehingga keunggulan rasa dan kualitas harus dipertahankan sebagai
dasar diferensiasi. Ancaman lain adalah masa simpan yang singkat karena produk
tanpa pengawet, ketidakpastian pasokan, dan kejenuhan pelanggan apabila varian
tidak berkembang.
Identifikasi Faktor Strategis
Untuk memperjelas proses kuantifikasi faktor strategis, hasil identifikasi SWOT
selanjutnya diringkas ke dalam Matriks IFAS dan EFAS. Pembobotan
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 75
mempertimbangkan tingkat kepentingan faktor serta hasil konfirmasi lintas informan,
sedangkan rating menunjukkan kondisi internal atau kemampuan respons usaha
terhadap lingkungan eksternal. Penyajian tabel ini dimaksudkan agar hubungan antara
temuan kualitatif dan skor strategis dapat ditelusuri secara lebih transparan.
Tabel 1. Komponen Faktor strategis SWOT
Faktor strategis
Aspek
Konsistensi rasa khas dan tekstur
serat lembut
Kekuatan produk
Bahan premium tanpa pengawet
Diferensiasi
kualitas
Arus kas dan pembayaran tunai
relatif lancar
Stabilitas
operasional
Loyalitas karyawan dan higienitas
produksi
Kapabilitas
internal
Reputasi usaha sejak 2012
Modal relasional
Kemasan polos tanpa branding
menarik
Branding
Kapasitas oven dua loyang dan suhu
tidak stabil
Produksi
Belanja bahan baku masih cenderung
dadakan/eceran
Rantai pasok
Distribusi tidak teratur dan stok
sering kosong
Distribusi
Ketergantungan pada konsinyasi
serta legalitas yang perlu dilengkapi
Pasar dan
administrasi
Potensi pasar sarapan masyarakat
desa
Pasar
Ekspansi titik jual di lokasi
ramai/sekolah
Distribusi
Pemasaran digital dan WhatsApp
Marketing
Promosi
Dukungan pemasok untuk
promosi/stok
Kemitraan
Inovasi varian rasa dari tren selai baru
Produk
Fluktuasi harga bahan baku
mingguan
Biaya
Persaingan harga roti massal
Kompetisi
Masa simpan singkat
Produk
Ketidakpastian stok bahan dari
distributor
Pasokan
Kejenuhan pelanggan jika varian
tidak berkembang
Permintaan
Sumber: Data Primer diolah (2026)
76 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
Tabel 2. Matriks IFAS Roti Manis Queen
Kode
Faktor Strategis Internal
Bobot
Rating
Skor
Keterangan
S1
Konsistensi rasa khas &
tekstur serat lembut
0,12
4
0,48
Keunggulan
kompetitif
utama
S2
Komitmen bahan premium
tanpa pengawet
0,11
4
0,44
Membangun
kepercayaan
pelanggan
S3
Arus kas sehat &
pembayaran tunai lancar
0,08
3
0,24
Menjamin
kelancaran
operasional
S4
Loyalitas & kenyamanan
karyawan bekerja
0,07
3
0,21
Meminimalisir
risiko turnover
S5
Standar higienitas produksi
& kejujuran owner
0,07
3
0,21
Menjaga
kualitas
produk
S6
Reputasi usaha sejak 2012 &
proses NIB
0,08
3
0,24
Modal
relasional dan
legalitas awal
W1
Visual kemasan polos tanpa
branding menarik
0,08
2
0,16
Menghambat
daya tarik
pasar luas
W2
Tiadanya info Halal, P-IRT, &
expired di label
0,10
1
0,10
Kelemahan
penting untuk
legalitas/ritel
W3
Kapasitas oven terbatas &
suhu tak stabil
0,09
2
0,18
Menghambat
efisiensi
produksi
W4
Manajemen belanja bahan
baku dadakan
0,06
2
0,12
Risiko biaya
tinggi karena
pembelian
eceran
W5
Jadwal distribusi & stok
sering kosong
0,07
2
0,14
Mengecewakan
toko titipan
W6
Ketergantungan penuh pada
saluran konsinyasi
0,07
2
0,14
Risiko retur
dan
ketergantungan
Total
1,00
—
2,66
Posisi internal
kuat (>2,5)
Sumber: Data Primer diolah (2026)
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 77
Tabel 3. Matriks EFAS Roti Manis Queen
Kode
Faktor Strategis Eksternal
Bobot
Rating
Skor
Keterangan
O1
Pemanfaatan media digital
& WhatsApp Marketing
0,12
3
0,36
Potensi pasar yang
belum tersentuh
O2
Ekspansi outlet/titik jual
di lokasi ramai
0,11
4
0,44
Peluang
peningkatan omzet
signifikan
O3
Dukungan promosi &
jaminan stok supplier
0,09
3
0,27
Mempermudah
rantai pasok
O4
Inovasi varian rasa (tren
baru) dari supplier
0,08
3
0,24
Menarik minat
konsumen baru
O5
Tingginya potensi pasar
sarapan masyarakat
0,10
3
0,30
Segmen pasar yang
stabil di desa
T1
Fluktuasi kenaikan harga
bahan baku
0,13
4
0,52
Ancaman serius
bagi margin profit
T2
Persaingan harga agresif
roti massal
0,11
3
0,33
Tekanan pada
harga jual produk
T3
Masa simpan sangat
singkat
0,10
3
0,30
Risiko retur karena
produk alami
T4
Ketidakpastian stok bahan
distributor
0,08
2
0,16
Mengganggu
kontinuitas
produksi
T5
Kejenuhan pelanggan jika
rasa tidak variatif
0,08
2
0,16
Risiko kehilangan
pelanggan loyal
Total
1,00
—
2,92
Respons strategis
sangat baik
Sumber: Data Primer diolah (2026)
Dengan demikian, integrasi IFAS 2,66 dan EFAS 2,92 memberikan dasar yang lebih jelas
bagi posisi Kuadran Agresif. Posisi tersebut bukan berarti usaha bebas melakukan
ekspansi tanpa batas, melainkan menunjukkan bahwa kekuatan internal dan peluang
eksternal cukup mendukung pertumbuhan apabila kelemahan kritis ditangani terlebih
dahulu. Dalam konteks Roti Manis Queen, ekspansi paling rasional adalah ekspansi
bertahap: memperbaiki legalitas dan kemasan, menata distribusi serta pasokan bahan,
meningkatkan kapasitas produksi, kemudian memperluas titik jual dan pemasaran
digital. Urutan ini menjaga agar strategi agresif tetap sesuai dengan kemampuan usaha
mikro (Kusumahati & Pahlevi, 2024).
Namun, nilai EFAS yang tinggi perlu dibaca bersama struktur ancaman. Fluktuasi
harga bahan baku menjadi ancaman dengan skor 0,52, tertinggi dalam matriks
eksternal. Penggunaan bahan premium memang memperkuat diferensiasi kualitas,
tetapi pada saat yang sama meningkatkan sensitivitas biaya ketika harga bahan
berubah. Ancaman persaingan harga roti massal dengan skor 0,33 juga menegaskan
bahwa strategi menurunkan harga bukan pilihan utama yang aman bagi Roti Manis
Queen. Strategi yang lebih konsisten dengan temuan penelitian adalah
78 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
mempertahankan kualitas, memperjelas identitas produk, dan memperluas akses pasar
melalui kanal yang memberikan nilai tambah (Aslam, 2026).
Pada Tabel 3, skor EFAS sebesar 2,92 menunjukkan bahwa lingkungan eksternal
menyediakan ruang pertumbuhan yang relatif besar dan usaha memiliki respons yang
baik terhadap peluang tersebut. Peluang dengan skor terbobot terbesar adalah ekspansi
outlet atau titik jual di lokasi ramai sebesar 0,44, disusul pemanfaatan media digital dan
WhatsApp Marketing sebesar 0,36 serta potensi pasar sarapan masyarakat sebesar 0,30.
Hasil wawancara dengan pelanggan dan pengelola toko titipan mengarah pada
kebutuhan memperluas akses produk ke lokasi yang lebih ramai, sementara pemasok
juga membuka peluang dukungan promosi dan ketersediaan bahan. Artinya, pasar
potensial tidak hanya berada pada pelanggan yang sudah mengenal produk, tetapi juga
pada lokasi baru yang memiliki karakter kebutuhan serupa.
Kelemahan dengan implikasi paling serius adalah aspek administrasi dan tampilan
produk. Informasi Halal, P-IRT, dan tanggal kedaluwarsa yang belum tercantum secara
memadai memperoleh rating rendah dan skor terbobot 0,10. Temuan wawancara
menunjukkan bahwa persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan kepatuhan
administratif, tetapi juga membatasi keberanian mitra untuk membawa produk ke
jaringan ritel yang lebih luas. Kemasan polos memperkuat masalah tersebut karena
produk belum memiliki identitas visual yang cukup kuat ketika disandingkan dengan
produk roti pabrikan. Oleh sebab itu, pembenahan legalitas dan branding harus
dipahami sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, bukan pekerjaan administratif
yang berdiri sendiri.
Temuan internal juga memperlihatkan bahwa kekuatan produk telah ditopang oleh
aspek manusia dan operasional. Loyalitas serta kenyamanan karyawan, standar
higienitas produksi, arus kas yang relatif lancar, dan reputasi usaha sejak 2012
memberikan fondasi bagi keberlanjutan proses produksi. Akan tetapi, kekuatan
tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kapasitas pertumbuhan. Kapasitas oven
yang hanya sekitar dua loyang dengan suhu yang tidak selalu stabil, distribusi yang
belum teratur, dan pola belanja bahan baku yang masih dadakan menunjukkan adanya
kesenjangan antara kualitas produk dan kesiapan sistem bisnis. Hal ini penting karena
penambahan titik jual tanpa pembenahan kapasitas berpotensi memperbesar
kekosongan stok atau menurunkan konsistensi mutu (Aslam, 2026).
Pembacaan terhadap Tabel 2 menunjukkan bahwa skor IFAS sebesar 2,66 tidak muncul
semata-mata karena banyaknya faktor kekuatan, tetapi terutama karena dua atribut
produk memperoleh skor terbobot paling besar. Konsistensi rasa khas dan tekstur serat
lembut menghasilkan skor 0,48, sedangkan komitmen penggunaan bahan premium
tanpa pengawet menghasilkan 0,44. Dalam temuan lapangan, kedua faktor tersebut
berhubungan langsung dengan alasan pelanggan tetap membeli ketika tersedia
alternatif roti yang lebih murah. Dengan demikian, kualitas produk berfungsi sebagai
sumber diferensiasi yang menjaga usaha dari persaingan harga langsung dengan roti
massal.
Hasil identifikasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Roti Manis Queen terutama
bersumber dari produk dan hubungan dengan pasar lokal. Kekuatan tersebut bersifat
sulit digantikan oleh strategi harga semata karena pelanggan telah mengenali karakter
rasa dan kualitas. Namun, kekuatan produk belum sepenuhnya didukung oleh sistem
yang memungkinkan usaha memperluas pasar secara konsisten. Dengan kata lain,
masalah utama bukan ketiadaan nilai produk, tetapi kesenjangan antara kualitas
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 79
produk dan kesiapan sistem bisnis.
Pada sisi kelemahan, dua kelompok masalah terlihat menonjol. Kelompok pertama
bersifat fisik-operasional, yaitu kapasitas oven dan distribusi. Kelompok kedua bersifat
kelembagaan, yaitu branding dan legalitas. Kedua kelompok saling terkait. Ketika titik
jual ditambah, kebutuhan pasokan meningkat; ketika pasar diperluas, kemasan dan
legalitas menjadi lebih penting; dan ketika produksi ditingkatkan, stabilitas alat
menjadi syarat untuk menjaga kualitas.
Hasil pembobotan IFAS menghasilkan skor 2,66. Angka ini digunakan dalam naskah
akhir sebagai indikator posisi internal yang relatif kuat. Faktor yang menonjol adalah
konsistensi rasa dan penggunaan bahan premium tanpa pengawet. Pembobotan juga
mengidentifikasi kelemahan pada kemasan, kapasitas oven, distribusi, pengadaan
bahan baku, ketergantungan konsinyasi, dan legalitas. Dengan demikian, skor internal
yang kuat tidak berarti kelemahan dapat diabaikan; justru kelemahan tersebut menjadi
agenda utama agar kekuatan dapat dikonversi menjadi pertumbuhan (Nguyen &
Strange, 2025).
Pada lingkungan eksternal, peluang pasar komunitas pedesaan dan digitalisasi
pemasaran memberi ruang pertumbuhan. Hasil EFAS yang digunakan dalam
pemetaan adalah 2,92. Nilai tersebut menunjukkan kemampuan respons yang baik
terhadap lingkungan eksternal. Namun, ancaman fluktuasi harga bahan baku menjadi
faktor yang perlu dimitigasi karena penggunaan bahan premium meningkatkan
sensitivitas biaya. Strategi pertumbuhan karena itu perlu menggabungkan ekspansi
pasar dengan manajemen pengadaan.
Secara substantif, hasil SWOT menunjukkan bahwa Roti Manis Queen tidak seharusnya
masuk ke perang harga dengan roti massal. Strategi yang lebih sesuai adalah
menonjolkan kualitas rasa, bahan premium, dan kedekatan dengan komunitas, lalu
memperluas akses melalui titik distribusi dan saluran digital. Pengembangan produk
juga perlu dilakukan secara terukur agar inovasi tidak menghilangkan karakter utama
produk.
Pemetaan faktor tersebut memperlihatkan hubungan sebab-akibat yang penting. S1 dan
S2 dapat digunakan untuk O1, O2, dan O3 melalui diferensiasi berbasis kualitas. S3 dan
S4 mendukung ekspansi selama kapasitas produksi diperkuat. Sebaliknya, W2 dan W4
dapat menghambat O2 apabila titik jual baru dibuka tanpa perbaikan kapasitas dan
distribusi. T1 perlu dijawab dengan pengadaan yang lebih terencana, sedangkan T2
perlu dijawab melalui diferensiasi, bukan penurunan harga yang berisiko menekan
margin.
Secara manajerial, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi agresif sebaiknya
diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang terkendali. Pemilik dapat menggunakan
indikator sederhana seperti volume produksi harian, penjualan per titik titipan,
frekuensi stok kosong, retur, perubahan harga bahan baku, dan respons pelanggan
terhadap varian baru. Pengukuran tersebut tidak memerlukan sistem yang kompleks,
tetapi dapat membantu memastikan bahwa ekspansi benar-benar menghasilkan
perbaikan kinerja. Dengan demikian, Matriks SPACE berfungsi bukan hanya sebagai
penentu kuadran, tetapi sebagai dasar untuk menyusun prioritas tindakan yang
realistis bagi usaha mikro (Charles & Freeman, 2021).
80 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
Posisi Matriks SPACE dan Strategi Pengembangan
Integrasi hasil IFAS dan EFAS menempatkan Roti Manis Queen pada koordinat (2,66;
2,92), yaitu Kuadran Agresif. Posisi ini menunjukkan kombinasi kekuatan internal dan
peluang eksternal yang mendukung pertumbuhan. Temuan tersebut konsisten dengan
logika SPACE bahwa organisasi yang memiliki posisi internal dan lingkungan industri
yang menguntungkan dapat memilih strategi pertumbuhan. Matriks SPACE dapat
membantu UKM memahami posisi strategis secara lebih sistematis.
Posisi agresif tidak berarti seluruh kelemahan telah terselesaikan. Justru temuan
lapangan menunjukkan bahwa ekspansi hanya akan efektif apabila prasyarat
operasional dipenuhi. Oleh karena itu, strategi pertama adalah penetrasi pasar. Roti
Manis Queen dapat menambah titik konsinyasi pada lokasi strategis seperti sekitar
sekolah, perkantoran lokal, dan jalan raya yang ramai. Ekspansi sebaiknya dilakukan
bertahap dengan mengukur penjualan, retur, kekosongan stok, dan kemampuan
produksi setiap titik.
Penetrasi pasar juga perlu memanfaatkan pemasaran digital. WhatsApp Marketing
dapat digunakan untuk komunikasi langsung, pemesanan, dan penyebaran informasi
produk. Media sosial seperti Instagram dan TikTok dapat memperluas brand
awareness. Namun, kanal digital sebaiknya diarahkan untuk mendukung keunggulan
yang memang dimiliki usaha, yaitu rasa, kualitas bahan, dan kedekatan dengan
pelanggan, bukan sekadar mengejar jangkauan (Qamari, 2026).
Strategi kedua adalah pengembangan produk. Inovasi dapat dilakukan melalui varian
rasa atau selai yang sedang diminati pasar. Naskah akhir menunjukkan bahwa usaha
telah memiliki beberapa varian seperti semir, pisang, dan cokelat serta terbuka
terhadap permintaan konsumen. Pengembangan produk sebaiknya tetap
mempertahankan standar resep, takaran, dan kualitas bahan sehingga inovasi tidak
menurunkan konsistensi produk yang selama ini menjadi kekuatan (Davcik et al.,
2021).
Strategi ketiga adalah penguatan kelembagaan dan operasional. Legalitas NIB,
pembaruan P-IRT, dan sertifikasi Halal perlu diprioritaskan sebagai fondasi memasuki
pasar formal. Kemasan juga perlu didesain ulang agar mencantumkan identitas merek,
informasi legalitas, dan tanggal kedaluwarsa. Perubahan kemasan bukan sekadar
estetika, tetapi bagian dari pembentukan kepercayaan konsumen dan kesiapan produk
untuk masuk ke etalase penjualan yang lebih kompetitif (Teng et al., 2026).
Strategi keempat adalah modernisasi produksi. Oven dengan kapasitas lebih besar dan
kontrol suhu yang lebih stabil menjadi investasi penting. Modernisasi harus dilakukan
bertahap sesuai kemampuan finansial agar tidak membebani arus kas. Tujuan
utamanya bukan sekadar meningkatkan jumlah produksi, melainkan menjaga
konsistensi mutu sekaligus memenuhi permintaan dari titik jual baru (Rajeh et al.,
2025).
Strategi kelima adalah perbaikan rantai pasok. Pengadaan bahan baku yang masih
bersifat eceran atau dadakan perlu diarahkan ke pembelian grosir secara mingguan
atau bulanan ketika kondisi kas memungkinkan. Cara tersebut dapat mengurangi
dampak fluktuasi harga dan membantu menjaga ketersediaan bahan. Hubungan
dengan pemasok juga dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi harga, tren
bahan, dukungan promosi, dan kemungkinan pengembangan varian (Nadhira et al.,
2025).
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 81
Kelima strategi tersebut saling menguatkan. Penetrasi pasar tanpa modernisasi
produksi dapat menimbulkan kekosongan stok. Pengembangan produk tanpa branding
dan legalitas dapat membatasi penerimaan pasar formal. Modernisasi tanpa
pengendalian rantai pasok dapat meningkatkan kapasitas tetapi tidak menurunkan
risiko biaya. Karena itu, arah agresif harus diterjemahkan sebagai pertumbuhan yang
terintegrasi, bukan ekspansi yang berdiri sendiri (Agnihotri et al., 2024).
Dari sudut pandang teoritis, temuan ini memperkuat gagasan bahwa analisis strategi
untuk UMKM perlu mempertimbangkan kesesuaian antara kapabilitas dan
lingkungan. Penelitian ini berbeda dari pendekatan SWOT deskriptif yang berhenti
pada daftar faktor karena faktor tersebut diteruskan ke IFAS, EFAS, dan SPACE.
Dengan demikian, rekomendasi strategi memiliki dasar kuantitatif sekaligus tetap
mempertahankan konteks kualitatif yang menjelaskan mengapa suatu faktor penting.
SIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa Roti Manis Queen memiliki fondasi internal yang
relatif kuat, terutama melalui konsistensi rasa khas, tekstur produk, penggunaan bahan
premium tanpa pengawet, reputasi usaha, dan loyalitas pelanggan. Kekuatan tersebut
menjadi modal penting untuk pengembangan karena memberikan diferensiasi yang
tidak mudah digantikan oleh kompetitor yang hanya mengandalkan harga.
Pada saat yang sama, terdapat kelemahan yang harus diselesaikan sebelum ekspansi
dilakukan secara lebih luas. Kelemahan tersebut meliputi kapasitas oven yang terbatas
dan suhu yang tidak stabil, distribusi yang belum konsisten, ketergantungan pada
konsinyasi, pengadaan bahan baku yang belum optimal, kemasan polos, serta legalitas
yang perlu diperbarui dan dilengkapi. Lingkungan eksternal menawarkan peluang
melalui pasar sarapan masyarakat desa, penambahan titik jual, pemasaran digital,
dukungan pemasok, dan inovasi varian rasa. Ancaman terutama berasal dari fluktuasi
harga bahan baku, kompetisi harga roti massal, masa simpan singkat, ketidakpastian
pasokan, dan risiko kejenuhan pelanggan.
Skor IFAS sebesar 2,66 dan skor EFAS sebesar 2,92 yang digunakan dalam pemetaan
menghasilkan koordinat (2,66; 2,92) dan menempatkan Roti Manis Queen pada
Kuadran Agresif. Posisi tersebut mengarah pada strategi pertumbuhan, terutama
penetrasi pasar dan pengembangan produk. Namun, implementasinya perlu didukung
modernisasi alat produksi, penguatan legalitas, perbaikan rantai pasok, pengaturan
distribusi, serta redesain kemasan.
Bagi pemilik, prioritas pertama adalah pembenahan legalitas dan branding agar
ekspansi tidak terhambat ketika memasuki pasar formal. Prioritas kedua adalah
meningkatkan kapasitas produksi melalui investasi oven yang lebih besar dan stabil.
Prioritas ketiga adalah mengatur pembelian bahan baku secara lebih terencana untuk
menghadapi fluktuasi harga. Prioritas keempat adalah memperluas titik distribusi
secara bertahap dengan sistem pengendalian stok. Prioritas kelima adalah
mengembangkan varian rasa secara berkala berdasarkan permintaan pelanggan.
Penelitian selanjutnya dapat memperdalam aspek manajemen persediaan dengan
pendekatan kuantitatif seperti Economic Order Quantity (EOQ), serta menguji
efektivitas saluran distribusi digital atau layanan pesan-antar lokal. Pengembangan
tersebut dapat melengkapi hasil penelitian ini dengan ukuran efisiensi biaya dan
kinerja saluran pemasaran.
82 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
DAFTAR PUSTAKA
Agnihotri, A., Bhattacharya, S., & Gorton, M. (2024). Founder ’ s birth order and triple
bottom line in B2B SMEs. 117(November 2023), 1–13.
Amoussohoui, R., Arouna, A., Bavorova, M., Tsangari, H., & Banout, J. (2022). An
extended Canvas business model: A tool for sustainable technology transfer and
adoption. Technology in Society, 68(September 2021).
https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2022.101901
Anning-dorson, T. (2025). Unlocking SME success : optimizing capability development amidst
dynamic market conditions in emerging economies. 17(7), 1–24.
https://doi.org/10.1108/JEEE-11-2022-0336
Aslam, M. (2026). Driving SMEs ’ international performance : Deciphering the role of strategic
orientations and ambidextrous dynamic capabilities in emerging economies. 5(December
2025).
Budianto, D. V., & Zaman, K. (2025). Kemampuan Organisasi dalam Keberlanjutan dan
Ketahanan untuk Meningkatkan Manajemen Kelangsungan Bisnis : Tinjauan Literatur.
November.
Cadden, T., Weerawardena, J., Cao, G., Duan, Y., & McIvor, R. (2023). Examining the
role of big data and marketing analytics in SMEs innovation and competitive
advantage: A knowledge integration perspective. Journal of Business Research,
168(August). https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2023.114225
Castilla-polo, F., & S, M. I. (2025). European Research on Management and Business
Economics A bibliometric and thematic analysis of the reputation-performance relationship
within the triple bottom line framework. 31(February).
Charles, F., & Freeman, S. (2021). Strategic agility , dynamic relational capability and trust
among SMEs in transitional economies. 56(November 2020).
Davcik, N. S., Cardinali, S., Sharma, P., & Cedrola, E. (2021). Exploring the role of
international R & D activities in the impact of technological and marketing capabilities on
SMEs ’ performance. 128(April 2019), 650–660.
Delaksmi Armareta, O., & Pahlevi, R. W. (2024). Strategi Pengembangan Usaha Delicia
Dalam Meningkatkan Pendapatapendapatan. Bisnis Dan Akuntansi, 3(3), 253–262.
http://bajangjournal.com/index.php/JEMBA
Ferdinand, A. (2005). Metode Penelitian Manajemen. Edisi 2. BP Universitas Diponogoro:
Semarang.
Hao, J., Ren, X., Bi, H., & George, J. (2025). Technological Forecasting & Social Change How
does digital transformation predict the investment cycle in family enterprises ? 210(June
2024).
Herrera Madueño, J., Larrán Jorge, M., Martínez Conesa, I., & Martínez-Martínez, D.
(2016). Relationship between corporate social responsibility and competitive
performance in Spanish SMEs: Empirical evidence from a stakeholders’
perspective. BRQ Business Research Quarterly, 19(1), 55–72.
https://doi.org/10.1016/j.brq.2015.06.002
Jiao, L., Lu, S., Chen, C., & Feng, Y. (2024). Social security, relative deprivation, digital
capacity, and household financial investment behavior. International Review of
Financial Analysis, 96(PB), 103771. https://doi.org/10.1016/j.irfa.2024.103771
Kusumahati, D., & Pahlevi Widhar, R. (2024). Strategi Pengembangan Usaha Haydei
Kitchen. Jurnal Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 5(September), 188–194.
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 67 - 84 83
Lai, X., Quan, L., Guo, C., & Gao, X. (2025). Exploring the digital era: Has digital
technology innovation reshaped investment efficiency in Chinese enterprises?
Research in International Business and Finance, 75(September 2024), 102729.
https://doi.org/10.1016/j.ribaf.2024.102729
Lee, J., & Kim, D. (2024). Social Sciences & Humanities Open Analyzing factors in Korean
youth SME employment : A behavioral perspective. 9(September 2023).
Lintang, B., & Widhar, R. (2024). Pengembangan bisnis jasa “ kaluna badminton club ”
menggunakan business model canvas. 15(1), 581–589.
Moshood, T. D., Nawanir, G., Mohd, N., Hanafiah, M., Loon, K., Hussain, S., Kolawole,
Y., & Ajibike, W. A. (2022). Lean business model canvas and sustainable
innovation business model based on the industrial synergy of microalgae
cultivation. Environmental Challenges, 6(August 2021), 100418.
https://doi.org/10.1016/j.envc.2021.100418
Nadhira, A., Putri, A., Hermawan, P., Raafaldini, I., Meadows, M., & Sadraei, R. (2025).
Unpacking green growth in SMEs : A framework for dynamic capabilities , value co-
creation , and sustainable performance. 10(October 2024).
Nguyen, H., & Strange, R. (2025). Do global dynamic managerial capabilities affect
MNEs’ divestments of their overseas subsidiaries? Journal of International
Management, 31(2). https://doi.org/10.1016/j.intman.2025.101236
Ningrum, S. S., & Pahlevi, R. W. (2024). Strategi pengembangan usaha “ Bakso Pak Wasino ”
dengan pendekatan. 2(1), 80–88.
Qadri, Z. M. El. (2016). Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi (2nd ed.). Graha Ilmu.
Qamari, I. N. (2026). International Journal of Innovation Studies The mediating role of
innovation capability and technological capability in the relationship between absorptive
capacity and SMEs ’ business performance. 10(March 2025), 65–79.
Rajeh, J., Abusharbeh, M., Yousef, S., Fawzi, M., Naeem, M., & Mowafaq, S. (2025).
Impact of corporate social responsibility , technological capability , and green
entrepreneurial orientation on green innovation and sustainable performance.
World Development Sustainability, 7(December 2024), 100233.
https://doi.org/10.1016/j.wds.2025.100233
Redjeki, F., & Affandi, A. (2021). Utilization of Digital Marketing for MSME Players as
Value Creation for Customers during the COVID-19 Pandemic. International
Journal of Science and Society, 3(1), 40–55. https://doi.org/10.54783/ijsoc.v3i1.264
Saad, A. M., Dulaimi, M., & Zulu, S. L. (2023). Broader use of the Modern Methods of
Construction ( MMC ) in the UK public sector : A Business Model Canvas ( BMC )
perspective. 9(March).
Sogenbits, T., & Turksen, U. (2024). Cracking the code: Unveiling carding crime through
the darknet-acquired criminal carding manual and the business model canvas.
Journal of Economic Criminology, 5(April), 100071.
https://doi.org/10.1016/j.jeconc.2024.100071
Teng, X., Zhang, X., Li, Y., & Dong, Y. (2026). The impact of AI capability on responsible
innovation in high-tech SMEs from the perspective of the knowledge-based view. 11(April
2025).
Yasid, I. F., & Pahlevi, R. W. (2024). Strategi Pengembangan dan Pemasaran Digital Industry
Agency judul Analisis Model Bisnis Minuman Olahan Rumput Laut dengan Pendekatan
Business. 2(2), 197–205.
84 Strategi Pengembangan Roti Manis Queen….(Firdaus Anggoro Firmansyah, Reza Widhar Pahlevi)
Zhai, J., Zhang, S., & Yang, X. (2024). Financial subsidies, digital finance, and corporate
industrial investment level. Finance Research Letters, 69(September), 1–7.
https://doi.org/10.1016/j.frl.2024.106225
Zhu, L. (2025). The influence of digital transformation on Chinese firms’ outward
foreign direct investment. Finance Research Letters, 72(September 2024), 1–8.
https://doi.org/10.1016/j.frl.2024.106567