3) Evaluasi
Dalam proses pembelajaran, evaluasi merupakan bagian terpenting, karena evaluasi
memberikan gambaran tentang tingkat penguasaan peserta didik pada satu materi,
memberi gambaran tentang kesulitan belajar peserta didik, dan memberi gambaran
tentang posisi peserta didik dengan temannya (Setemen, 2010). Evaluasi adalah suatu
proses untuk menentukan nilai (ketentuan, kegiatan, unjuk kerja, keputusan, proses)
berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian (Mahirah, 2017). Jadi evaluasi merupakan
patokan bagi pendidik untuk melihat proses dalam pembelajaran peserta didik dalam
ketercapaian suatu materi pembelajaran.
Selain lingkungan khas Montessori, dalam pembelajarannya juga Montessori memiliki
beberapa konsep, diantaranya Mengikuti Anak (follow the child), Bebas Dengan Batasan
(freedom with limitation), Menghargai Anak (respect the child), Lingkungan yang Disiapkan
(prepared environment), Briefing sebelum Kegiatan, Penggunaan Alas Kerja (mat work),
Kegiatan yang Bermakna (meaningful activity), Konkret-Abstrak, Sederhana, Kompleks,
Mengoreksi Diri (self correction), Penggabungan Usia, Penggunaan Kata ‘work’, dan
Kolaborasi bukan Kompetisi. (Vidya Dwina. 2018: 59)
Mengikuti anak atau follow the child adalah konsep pembelajaran Montessori (dalam Vidya
Dwina, 2018: 60), mengikuti anak bukan berarti membiarkan anak berperilaku sebebas-
bebasnya, follow the child yang dimaksud adalah memahami kebutuhan anak sesuai minatnya.
Bisa juga disebut sebagai upaya untuk mempertajam indra kita sebagai orang dewasa untuk
mengartikan setiap perilaku anak sebagai cara ia memenuhi kebutuhannya, kemudian kita
manfaatkan hal tersebut untuk memahami kebutuhannya. Dalam kelas Montessori di preschool
Awliya ini guru tentunya menggunakan konsep follow the child dalam pembelajaran, guru
memfasilitasi sesuai kebutuhan dan minat anak. Kebebasan membuat anak berpikir kreatif,
melatih kemandirian, dan pengambilan keputusan.
Pada kegiatan pembelajaran Montessori anak akan diarahkan secara menyenangkan baik
secara berkelompok maupun individu dalam kegiatan pembentukan karakter mandiri ini.
Misalkan, anak mampu menggunakan alat makan sendiri, seperti minum dari gelas, makan
menggunakan sendok dan garpu mereka tanpa bantuan orang tua, memakai baju sendiri,
meletakan Kembali mainan yang sudah digunakan, berani mencuci tangan sendiri ke kamar
mandi tanpa dibantu guru maupun orang tuanya, dan bahkan mampu menyusun puzzle dengan
membentuk gambar yang sempurna sendiri. Jika orang tua atau pendidik jika terbiasa melayani
setiap hal-hal yang dibutuhkan anak tanpa memikirkan imbasnya pasti akan menyulitkan
kehidupan anak dimasa yang akan daatang. Anak hanya akan jadi bergantung secara terus
menerus kepada lingkungan sekitarnya, hal ini tentunya akan menyulitkan pribadi anak sendiri
dimasa yang akan dating dan juga orang-orang disekelilingnya.
Sebagai orang tua tidak boleh menganggap anak sebagai bayi secara terus menerus, yang
mau melakukan apapun atau disuruh melakukakn sesuatu. Tugas orang atau pendidika adalah
membantu anak untuk melakukakn kegiatan-kegiatan sederhana sehari-hari agar anak dapat
menguasai keterampilan-keterampilan secara alami.
4. Kesimpulan
Montessori merupakan metode pendidikan yang membantu anak untuk mencapai potensinya
dalam kehidupan. Metode ini menekankan pada kemandirian dan keaktifan anak dengan konsep
pembelajaran langsung melalui praktik dan permainan kolaboratif. Implementasi pendekatan
metode Montessori dalam membentuk karakter kemandirian anak dirasa cukup efektif. selain
membentuk karakter kemandirian, metode ini pun menstimulasi karakter tanggung jawab,
penguasaan diri, memperpanjang rentang konsetntrasi, kemampuan sosialisasi, dan juga
menstimulasi kemampuan intelektual. Pendekatan metode Montessori lebih mengajarkan konsep
kepada anak, mengikuti kebutuhan dan minat anak, dan berpusat pada masing-masing anak.