JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
51
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
Meningkatkan kemandirian siswa SD melalui
pembelajaran metode montesorri
Dian Aristya
a,1
, Nurul Istiqfaroh
b,2
, Hendratno
c,3
a
Pendidikan dasar, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
1
dianaristya.23026@mhs.unesa.ac.i
2
nurulistiqfaroh@unesa.ac.id
3
hendratno@unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 10 Juni 2023
Direvisi: 15 Agustus 2023
Disetujui: 24 Oktober 2023
Tersedia Daring: 1 November
2023
Kajian ini untuk menggambarkan lebih lanjut bagaimana meningkatkan
kemandirian siswa menggunakan modul pembelajaaran montessori.
Kajian ini menerapkan jenis penelitian studii literatur. Kajian ini
diselenggarakan dengan mengkaji penelitian lain terkait cara
peningkatan kemandirian siswa SD dengan cara menggambarkan,
menjabarkan dan mengevaluasi penelitian terkait kemudian menarik
kesimpulan. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu 1) perlu adanya
suatu pembelajaran yang dirancang khusus untuk peningkatan
kemandirian siswa, 2) guru perlu menyediakan sumber belajar, 3)
perlunya kolaborasi siswa, guru dan orangtua dalam rangka mencapai
tujuan pendidiikan yang optimal.
Kata Kunci:
Kemandirian Anak
Metode Mentasorri
Sekolah Dasar
ABSTRACT
Keywords:
Student independence
Mentasorri Method
Elementary school
This study is to further illustrate how to increase student independence
using Montessori learning modules. This study applies a type of literary
study research. This study was conducted by examining other research
related to how to increase the independence of elementary school
students by describing, explaining and presenting related research and
then drawing conclusions. The conclusions of this research are 1) the
need for learning that is specifically designed to increase student
independence, 2) teachers need to provide learning resources, 3) the need
for collaboration between students, teachers and parents in order to
achieve optimal educational goals.
©2023, Dian Aristya, Nurul Istiqfaroh, Hendratno
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Perlu diketahui tujuan dari Pendidikan ialah memberikan ruang kepada siswa untuk
mengembangkan potensinya dengan optimal sehingga siswa mampu menemukan jati dirinya.
Namun yang terjadi saat ini pembelajaran belum optimal dalam mengembangkan potensi
siswa. Salah satu penyebabnya ialah pembelajaran di sekolah cenderung pasif, kecenderungan
siswa hanya mendengarkan pemaparan guru, menctat, dan meminta siswa mengerjakan
latihan. Kemudian guru hanya mengejarkan kepada siswa apa yang tertulis pada buku tema
dalam kurikulum 2013. Seharusnya guru dapat melatih kemampuan berpiikir siswa dengan
menggunakan metode yang berbeda yang menciptakan aktivitas belajar siswa. Guru dapat
menyediakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuaan berpikirnya melalui bhan
ajaar yang akan membuat siswa lebih aktif dan dapat memunclkan idee-ide, pemiikiran baru
untuk menyelesaikan permasalahan (Sulistyaningsih & Mawarsari, 2016). Bahan ajar yaitu
suatu alat untuk mempermudah siswa belajar, dikarenakan didalamnya berisi materi pokok
(Dewi & Harahap, 2016). Diantaranya berupa modul pembelajaran, Martiningsih et al (2019)
berpendapat bahwa modul dapat mengakomodasi kemampuan siswa dengan memanfaatkan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
52
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
waktu belajar menjadi lebih efisien sehingga tercapainya tujuan pendidikan.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, berbagai cara telah dilakukan dalam dunia
pendidikan dimulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dalam pembelajaran peserta
didik diharuskan aktif agar dapat belajar sesuai dengan bakat dan segala potensi yang
dimilikinya. Keaktifan peserta didik dapat diwujudkan baik keaktifan fisik maupun keaktifan
mental. Interaksi yang baik antara guru dan peserta didik sangat diperlukan agar proses
pembelajaran dapat berlangsung efektif. Interaksi belajar mengajar dapat dilakukan dengan
mengaktifkan peserta didik menggunakan teknik tanya jawab atau dialog yang interaktif dalam
proses pembelajaran. Adanya interaksi multi arah secara langsung akan membuat
pembelajaran lebih bermakna.
Dalam kegiatan mengajar, metode pembelajaran juga sangat penting. Maka dari itu guru
harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran yang dapat membuat peserta didik
semakin aktif dan mampu menangkap pembelajaran tersebut. Selama ini kebanyakan proses
pembelajaran selalu menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas, sehingga proses
pembelajaran terlalu monoton dan hanya berpusat pada guru. Dan ketika memberikan materi
banyak siswa yang kurang paham apa yang disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran ada
berbagai macam metode pembelajaran, salah satunya adalah Metode Montessori yang akan
diterapkan pada proses pembelajaran.
Kemandirian anak sangat dipengaruhi oleh perlakuan orangtua atau saudara-saudaranya
dalam keluarga (Susanto, 2017). Peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan
dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar, seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan
santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan
menanamkan kebiasaan-kebiasaan (Hasan, 2009). Selain keluarga, menurut Hurlock (Indrijati,
2017), bahwa pengaruh kelompok terhadap perkembangan sosial anakyaitu membantu anak-
anak mencapai kemandirian, lepas dari orangtua, dan menjadi dirinya sendiri. Menurut
Masnipal (2013), apa yang dipelajari bergantung dari apa yang dikatakan dan dilakukan oleh
orang disekitarnya. Perkembangan kemandirian ini juga menjadi prioritas dalam lembaga
pendidikan untuk anak usia dini ini baik itu taman kanak-kanak, tempat penitipan anak, dan
bermain kelompok.
Seorang dokter wanita yang bernama Maria Montessori, memperkenalkan metode
pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan kemandirian anak yang
mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak. Terdapat perbedaan antara metode
Montessori dengan tokoh pendidikan seperti Rousseau, dan Pestalozzie. Pada metode
Montessori menyiapkan lingkungan yang terstruktur serta lebih bersifat menyeluruh dan
bebas. Sedangkan pada Rousseau dalam aliran romantisnya yang membiarkan anak belajar
pada lingkungan yang alami dan tidak terstruktur. Namun pada Pestalozzi, menekankan pada
penggunaan dengan mekanisme yang terlalu formal.
2. Metode
Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan studi literatur.
Penelitian kualitatif deskriptif merupakan sebuah metode penelitian yang melibatkan berbagai
usaha penting seperti mencari dan mengumpulkan referensi serta menganalisis hasil data guna
mengkaji masalah. Metode studi literatur adalah salah satu metode penelitian yang digunakan
untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi yang terdapat dalam
literatur atau sumber sumber tertulis lainnya.
3. Hasil dan Pembahasan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), karakter diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan individu seseorang dengan yang
lain.Sementara dalam kamus sosiologi, karakter diartikan sebagai watak atau ciri khusus dari
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
53
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
struktur kepribadian seseorang. Karakter berhubungan erat dengan kebiasaan-kebiasaan yang
mengarah pada perilaku seseorang. Karakter terbentuk dari lingkungan sekitar seseorang dari
masa kana-kanak hingga dewasa. Jadi, karakter bukan sesuatu yang sudah melekat secara alami
sejak lahir. Oleh sebab itu, pembentukan karakter yang positif sangat penting diterapkan dan
dilakukan orang tua atau pendidik terhadap anak sedini mungkin. Ciri khas individu tersebut
akan mengakar pada kepribadiannya yang mendorong bagaimana seseorang akan bertindak,
bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Sementara itu, Masnur Muslich menyatakan bahwa
karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran,
sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,
budaya, dan adat istiadat.
Menurut Steinberg, mandiri diambil dari dua istilah yang pengertiannya sejajar, yaitu
autonomy dan independence, karena perbedaan sangat tipis dari dua istilah itu. Mandiri secara
terminologi adalah kemampuan yang menunjukkan individu untuk menjalankan atau melakukan
sendiri aktivitas hidup terlepas dari kontrol orang lain (dalam Eti Nurhayati. 2010: 58).
Karakter kemandirian merupakan perwujudan perilaku individu yang tidak bergantung pada
orang lain. Karakter mandiri dapat terlihat pada setiap individu melalui perilakunya sehari-hari.
Kemandirian dibagi dalam tiga bentuk menurut Steiberg dalam Desmita, yakni kemandirian
emosional (emotional autonomy), kemandirian tingkah laku (behavioral autonomy), dan
kemandirian nilai (value autonomy):
1) Kemandirian emosional, yakni aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan
hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional siswa dengan guru atau
dengan orang tuangnya.
2) Kemandirian tingkah laku, yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan keputusan
tanpa tergantung pada orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab. Mandiri
dalam tingkah laku berarti bebas untuk bertindak atau berbuat sendiri tanpa bergantung pada
orang lain.
3) Kemandirian nilai, yakni kemampuan memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan
salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting. Kemandirian ini sesungguhnya
mengarah kepada suatu pengertian mengenai kemampuan seseorang dalam mengambil
sebuah keputusan dan menetapkan sebuah pilihan dengan berpegang atas dasar prinsip-
prinsip individual yang dimilikinya dari pada mengambil prinsip-prinsip orang lain.
Pada Penelitian ini dilakukan di SD Holistik Awliya Fahmina yang beralamat di jalan
Swadaya Majasem, Kota Cirebon. Sekolah ini dalam pembelajarannya menggunakan metode
montessori. Sekolah montessori adalah sekolah yang menganut pendidikan holistik. Pendidikan
holistik sendiri adalah pembelajaran yang pada dasarnya seseorang dapat menemukan identitas,
makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Sama hal nya dengan montessori sendiri yang pembelajarannya terkemas dalam suatu kegiatan
dimana anak menjadi pusat belajar, menuangkan ide-ide atau gagasan mereka dari setiap aspek
perkembangan anak-anak. Seperti yang dipaparkan dalam wawancara dengan Kepala Sekolah
SD Holistik Awliya Kota Cirebon.
Proses pembelajaran dengan menggunakan metode montessori lingkungan harus di siapkan
dengan baik agar anak dapat menuangkan ide-ide, gagasan, kreatifitas dengan alami sesuai
dengan kemampuan yang mereka miliki. Lingkungan yang disiapkan yang disiapkan oleh orang
dewasa untuk anak-anak agar anak dapat mengeksplorasi lingkungannya dengan bebas, aman,
dan nyaman dalam montessori adalah prepared environment (Paramita, 2019). Lingkungan yang
disiapkan atau prepared environment merupakan lingkungan yang disiapkan oleh sekolah untuk
peserta didik agar anak dapat mengeksplorasi lingkungan dengan bebas dan aman. Prepared
environment dalam montessori tampak pada ukuran rak dan material yang berukuran anak
sehingga dapat memudahkan anak menggapai, membawa, dan mengeksplorasi secara mandiri
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
54
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
(Paramita, 2019, Hal: 82-83). Maksud dari lingkungan yang disiapkan seperti di ruang kelas di
desain dengan warna tembok yang tidak warna-warni, tidak mencolok, tapi lebih ke warna-
warna yang natural, materi yang disiapkan pun harus sesuai dengan kemampuan anak, benda-
benda seperti rak ataupun tempat penyimanan alat peraga disesuaikan dengan tinggi peserta
didik sehingga mereka mudah menjaungkau apa yang mereka pilih. Ketika lingkungan disiapkan
dengan baik anak dapat bereksplorasi, mengembangkan ide atau potensi yang mereka miliki
tanpa adanya paksaan atau keterlibatan dari guru atau sebagai pendidik dan dalam
perkembangannya pun tumbuh kembang dengan baik.
Adapun pembelajaran di kelas montessori ini dibagi kedalam 5 area, yaitu: area sensorial
(indra), area pratical life (kehidupan), area culture (budaya), area bahasa, dan area matematika.
Dari kelima area ini mempunyai alat peraganya masing-masing sehingga anak-anak bebas
bekerja sesuai dengan kemauan mereka.
Partical life ialah kegiatan kehidupan sehari-hari yang dilakukan secara langsung dalam
proses pembelajaran di sekolah maupun di lingkungan untuk pembekalan keterampilan hidup
(Rantina, 2015). Partical life merupakan fondasi bagi anak di dalam kelas montessori, Maria
Montessori menyatakan “Perkembangan yang paling penting bagi anak adalah mereka bisa
berkonsentrasi” (Zahira, 2019).
a. Area Partical Life
Dalam area partical life anak anak dapat berlatih cara menyendok, menuangkan
makanannya ke dalam piring atau mangkok, mengambil piring, mencuci piring setelah di
pakai, memasak itu dilakukan di montessori dari segi area partical life. Area partical life ini
memiliki manfaat bagi peserta didik, yaitu untuk mengembangkan fokus dan konsentrasi,
kemandirian anak, keteraturan, dan koordinasi anggota tubuh. Selain memiliki manfaat dari
area partical life bertujuan untuk meningkatkan motorik halus dan kasar, anak mampu
merawat material yang berada di lingkungan sekitar, bertanggung jawab dalam melakukan
pekerjaannya, dan dari kegiatan di area ini baik untuk meningkatkan interaksi anak baik dari
bahasa, sosial dan emosional.
b. Area Matematika
Dalam area ini ketika pembelajaran matematika anak sulit menguasai nanti akan di pelajari
lagi di kelas montessori dengan menggunakan alat peraga yang dimulai daripembelajaran
yang konkret terlebih dahulu sehingga peserta didik dapat memahami dan menguasai materi.
Tidak hanya itu di area ini anak diajarkan cara memahami kalender, mengetahui waktu dan
masih banyak. Montessori menekankan pada pemahaman konsep melalui penggunaan
material konkret dengan mengikuti cara belajar dan kebutuhan anak, pembelajaran area ini
Montessori memiliki tiga cara untuk pemahaman anak, yaitu: (1) berawal dari alat peraga
yang nyata atau konkret contoh alat peraganya adalah number rods, (2) setelah anak
memahami dari yang konkret dilanjut pada abstrak dengan menggunakan simbol angka, (3)
menggabungkan antara konkret dengan abstrak sehingga tujuan akhirnya anak dapat
memahami konsep abstrak (Paramita, 2019, hal 137). Area matematika Tujuan dari area
matematika bagi peserta didik adalah membantu anak belajar memahami konsep matematika
dasar secara konkret dan memiliki manfaat diantaranya pembentukan pola berpikir kritis,
sistematis, membantu memecahkan masalah, dapat menyamakan, membandingkan,
mengurutkan, dan mengelompokkan.
c. Area Sensori
Area ini merupakan kegiatan untuk menstimulus panca indera dalam setiap kegiatan
pembelajaran. Area sensori terdapat berbagai element interaktif dan memiliki fungsi yang
berdeba-beda sehingga anak bebas memilih aktivitas yang menarik sesuai dengan minat
anak, area ini juga dapat menstimulus indra penglihatan dan perabaan anak (Natalia &
Wonoseputro, 2017). Dalam pembelajaran itu anak-anak menggunakan secara menyeluruh
mulai dari indera perasa dan indra peraba anak menggunakannya. Dengan sensori seperti
indra peraba dan penglihatan peserta didik membedakan beragam bentuk, ukuran dan indera
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
55
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
perasa peserta didik dapat merasakan rasa manis, asin, pedas itu seperti apa, seberapa enak
rasa masakan dan lain-lainnya. Dari kegiatan sensori ini memiliki peran yang sangat penting
yaitu untuk mempertajam segala indera yang dimiliki setiap anak, dengan indera yang
dimiliki anak-anak mereka mendapatkan banyak pengetahuan dan menemukan hal-hal yang
baru (Mumtazah & Rohmah, 2018). Area Sensori bertujuan untuk menstimulus panca indra
setiap anak dan mengembangkan rentang konsentrasi yang memiliki manfaat seperti
keterampilan motorik halus dan kasar, mendukung perkembangan bahasa, penalaran yang
baik dan juga interaksi sosial.
d. Area Culture
Area culture atau budaya mengajarkan anak tentang agama, keluarga, lingkungan, zoologi
(hewan), botani (tumbuhan), dan lain-lainnya. Menurut Paramita (2019, hal 132) kegiatan-
kegiatan dalam area budaya dan ilmu pengetahuan membantu anak dalam memahami
perannya di alam semesta, dengan begitu anak akan memiliki keinginan untuk berkontribusi
pada alam dan tidak terpaku pada apa yang alam berikan untuknya. Materi pengajaran area
culture tentang mengenal globe, misalnya pada pembelajaran ini digunakan alat peraga
berjenis sandpaper globe yang memiliki tujuan dalam aktivitas dengan menggunakan alat
peraga ini, yaitu: (1) memperkenalkan kepada anak bahwa bumi berbentuk bulat, (2)
memperkenalkan kepada anak bahwa bumi memiliki daratan dan perairan (Paramita, 2019,
hal 133).
Area culture bertujuan untuk membentuk manusia yang mencintai makhluk hidup dan
lingkungan atau alam sekitarnya, dan dapat mengetahui perbedaan dari alam semesta.
Manfaat dari area culture ini adalah menghargai perbedaan, membantu anak beradaptasi
dilingkungan yang baru, dapat mengidentifikasi dan mengklarifikasi tumbuhan, hewan.
e. Area Bahasa
Kemampuan bahasa yang diperhatikan pada anak usia dini antara lain membaca, menulis,
berhitung, bekomunikasi, bercerita. Hasil wawancara dengan guru Montessori, bahwa di area
bahasa ini kegiatannya bisa berupa bercerita, mendongeng di depan kelas, dan untuk
memperkenalkan huruf abjad pun memiliki alat peraga sehingga anak bukan hanya mengerti
huruf akan tetapi dapat memahami bentuk huruf itu dengan mudah. Pada saat
memperkenalkan huruf bisa menggunakan huruf raba ini merupakan cara untuk mengenalkan
huruf kepada anak dengan cara yang konkret, dapat membedakan setiap huruf, membedakan
bunyi huruf (Paramita, 2019).
Pada kegiatan bercerita ini juga merupakan stimulus yang baik untuk melatih kepekaannya
terhadap urutan peristiwa, anak memiliki kemampuan untuk menceritakan kembali sebuah
peristiwa yang mereka alami (Paramita, 2019). Area bahasa Manfaat adalah area bahasa
bertujuan yaitu membantu mengembangkan kemampuan komunikasi, pengembangan
keterampilan berbahasa dan membantu dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan
memiliki manfaat diantaranya.
Rancangan pembelajarannya untuk mencapai tujuan atau target yang ingin dicapai
1) Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran dirancang dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) sama halnya dengan RPP lainnya yang bertujuan kurikulum
nasional yang memiliki tujuan pembelajaran tetapi tujuan ini disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing peserta didik.
2) Materi Materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.
Materi di sekolah inipun tercantum dari dalam kurikulum montessori pembelajaran yang
diajarkan kepada peserta didik dimulai dari mengenai penciptaan alam semesta,
kehidupan alam dan kemudian membahas tentang manusia dan diriku. Guru Montessori
dan guru kelas dalam pembelajaran di kelas maupun di kelas Montessori saling bertukar
informasi mengenai materi pembelajaran antara di kelas dan di kelas Montessori,
sehingga pembelajaran tidak saling timpang tindih melainkan beraturan sesuai dengan
pencapaian anak dalam pembelajaran baik di kelas maupun di kelas Montessori.
Kurikulum nasional dengan kurikulum montessori.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
56
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
3) Evaluasi
Dalam proses pembelajaran, evaluasi merupakan bagian terpenting, karena evaluasi
memberikan gambaran tentang tingkat penguasaan peserta didik pada satu materi,
memberi gambaran tentang kesulitan belajar peserta didik, dan memberi gambaran
tentang posisi peserta didik dengan temannya (Setemen, 2010). Evaluasi adalah suatu
proses untuk menentukan nilai (ketentuan, kegiatan, unjuk kerja, keputusan, proses)
berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian (Mahirah, 2017). Jadi evaluasi merupakan
patokan bagi pendidik untuk melihat proses dalam pembelajaran peserta didik dalam
ketercapaian suatu materi pembelajaran.
Selain lingkungan khas Montessori, dalam pembelajarannya juga Montessori memiliki
beberapa konsep, diantaranya Mengikuti Anak (follow the child), Bebas Dengan Batasan
(freedom with limitation), Menghargai Anak (respect the child), Lingkungan yang Disiapkan
(prepared environment), Briefing sebelum Kegiatan, Penggunaan Alas Kerja (mat work),
Kegiatan yang Bermakna (meaningful activity), Konkret-Abstrak, Sederhana, Kompleks,
Mengoreksi Diri (self correction), Penggabungan Usia, Penggunaan Kata ‘work’, dan
Kolaborasi bukan Kompetisi. (Vidya Dwina. 2018: 59)
Mengikuti anak atau follow the child adalah konsep pembelajaran Montessori (dalam Vidya
Dwina, 2018: 60), mengikuti anak bukan berarti membiarkan anak berperilaku sebebas-
bebasnya, follow the child yang dimaksud adalah memahami kebutuhan anak sesuai minatnya.
Bisa juga disebut sebagai upaya untuk mempertajam indra kita sebagai orang dewasa untuk
mengartikan setiap perilaku anak sebagai cara ia memenuhi kebutuhannya, kemudian kita
manfaatkan hal tersebut untuk memahami kebutuhannya. Dalam kelas Montessori di preschool
Awliya ini guru tentunya menggunakan konsep follow the child dalam pembelajaran, guru
memfasilitasi sesuai kebutuhan dan minat anak. Kebebasan membuat anak berpikir kreatif,
melatih kemandirian, dan pengambilan keputusan.
Pada kegiatan pembelajaran Montessori anak akan diarahkan secara menyenangkan baik
secara berkelompok maupun individu dalam kegiatan pembentukan karakter mandiri ini.
Misalkan, anak mampu menggunakan alat makan sendiri, seperti minum dari gelas, makan
menggunakan sendok dan garpu mereka tanpa bantuan orang tua, memakai baju sendiri,
meletakan Kembali mainan yang sudah digunakan, berani mencuci tangan sendiri ke kamar
mandi tanpa dibantu guru maupun orang tuanya, dan bahkan mampu menyusun puzzle dengan
membentuk gambar yang sempurna sendiri. Jika orang tua atau pendidik jika terbiasa melayani
setiap hal-hal yang dibutuhkan anak tanpa memikirkan imbasnya pasti akan menyulitkan
kehidupan anak dimasa yang akan daatang. Anak hanya akan jadi bergantung secara terus
menerus kepada lingkungan sekitarnya, hal ini tentunya akan menyulitkan pribadi anak sendiri
dimasa yang akan dating dan juga orang-orang disekelilingnya.
Sebagai orang tua tidak boleh menganggap anak sebagai bayi secara terus menerus, yang
mau melakukan apapun atau disuruh melakukakn sesuatu. Tugas orang atau pendidika adalah
membantu anak untuk melakukakn kegiatan-kegiatan sederhana sehari-hari agar anak dapat
menguasai keterampilan-keterampilan secara alami.
4. Kesimpulan
Montessori merupakan metode pendidikan yang membantu anak untuk mencapai potensinya
dalam kehidupan. Metode ini menekankan pada kemandirian dan keaktifan anak dengan konsep
pembelajaran langsung melalui praktik dan permainan kolaboratif. Implementasi pendekatan
metode Montessori dalam membentuk karakter kemandirian anak dirasa cukup efektif. selain
membentuk karakter kemandirian, metode ini pun menstimulasi karakter tanggung jawab,
penguasaan diri, memperpanjang rentang konsetntrasi, kemampuan sosialisasi, dan juga
menstimulasi kemampuan intelektual. Pendekatan metode Montessori lebih mengajarkan konsep
kepada anak, mengikuti kebutuhan dan minat anak, dan berpusat pada masing-masing anak.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 51-57
E-ISSN: 3031-2957
57
Dian Aristya et.al (Meningkatkan Kemandirian Siswa SD)
5. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih yang pertama adalah penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah
memberi kemudahan dan kelancaran. Ucapan terima kasih kepada Dr. Nurul Istiqfaroh M.Pd.
dan Hendratno selaku dosen pembimbing. Kepada editor yang memberi kesempatan pos artikel
ini.
6. Daftar Pustaka
Fida Yanti, W., Hendratno, H., & Istiq’faroh, N. (2023). Analisis Implementasi Teori Ki
Hajar Dewantara: Mengungkap Praktik-Praktik Pendidikan Inovatif Di Sekolah
Dasar. Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya Indonesia (JISBI), 1(1), 28-
35. https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/41
Widyalistyorini, D., Istiq’faroh, N., & Hendratno, H. (2023). Implementasi Teori
Pendidikan Ki Hajar Dewantara: Tinjauan Praktik Pembelajaran dan Dampaknya pada
Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar. Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya Indonesia
(JISBI), 1(1), 36-43. https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/46
https://www.jurnal.syekhnurjati.ac.id/index.php/awlady/article/view/3216/1831
https://edutrimedia.com/ojs/index.php/uniedu/article/view/17/9
https://ejournal.bbg.ac.id/buahhati/article/view/2098
https://www.jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1008
https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bunayya/article/view/2045
https://www.jurnal.syekhnurjati.ac.id/index.php/awlady/article/view/3216/1831
https://edutrimedia.com/ojs/index.php/uniedu/article/view/17/9
https://ejournal.bbg.ac.id/buahhati/article/view/2098
https://www.jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1008
https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bunayya/article/view/2045
https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=cmvqoN0AAA
AJ&citation_for_view=cmvqoN0AAAAJ:0EnyYjriUFMC
https://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajup/article/view/97
https://www.jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/view/2440