JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
58
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
Implementasi nilai-nilai karakter dan keteladanan
K. H. Ahmad Dahlan pada Siswa Kelas 2 SDN Sadang
Mei Dwi Purwanti
a,1
, Hendratno
b,2
, Nurul Istiq’faroh
c,3
Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
mei.23001@mhs.unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 5 Juli 2023
Direvisi: 10 Agustus 2023
Disetujui: 17 September 2023
Tersedia Daring: 1 November
2023
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai karakter dan
keteladanan yang diajarkan oleh K. H. Ahmad Dahlan pada siswa kelas
2 SD Negeri Sadang Kabupaten Sidoarjo. Metode penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian
kualitatif deskriptif, subjek penelitian ini adalah pada siswa SD kelas 2
sebanyak 25 siswa di SD Negeri Sadang Kecamatan Taman Kabupaten
Sidoarjo. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi,
wawancara dan dokumentasi. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa
terdapat beberapa nilai-nilai karakter K. H. Amad Dahlan yang di
tanamkan, hasil penelitian menunjukan terdapat 4 nilai karakter dan
keteladanan yang ditanamkan pada siswa kelas 2 oleh SD Negeri
Sadang Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, yaitu nilai religius,
nasionalis, Jujur dan integritas, pendidikan karamkter yang di
tanamkan di SD Negeri Sadang Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo
menanamkan pendidikan karakter sesuai dengan ajaran K. H. Ahmad
Dahlan.
Kata Kunci:
Karakter
Keteladanan
K. H. Ahmad Dahlan
ABSTRACT
Keywords:
Character
Exemplary
K. H. Ahmad Dahlan
The purpose of this study was to determine the value of character and
example taught by K.H. Ahmad Dahlan to grade 2 students of SD Negeri
Sadang, Sidoarjo Regency. This research method uses qualitative
research methods with descriptive qualitative research types, the subject
of this research is 25 grade 2 elementary school students at SD Negeri
Sadang, Taman District, Sidoarjo Regency. Data collection techniques use
observation, interview and documentation techniques. The results of this
study show that there are several character values of K.H Amad Dahlan
instilled, the results of the study show that there are 4 character values
and examples instilled in grade 2 students by SD Negeri Sadang Taman
District, Sidoarjo Regency, namely religious, nationalist, honest and
integrity values, education karam The instilled in SD Negeri Sadang,
Taman District, Sidoarjo Regency instilled character education in
accordance with the teachings of K.H. Ahmad Dahlan.
.
©2023, Mei Dwi Purwanti, Hendratno, Nurul Istiqfaroh
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan
merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tak pernah bisa ditinggalkan.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
59
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 2025 (UU No. 17 Tahun 2007)
antara lain adalah dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika,
berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Salah satu upaya untuk
merealisasikannya adalah dengan cara memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui
pendidikan. Upaya ini bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia Indonesia yang
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan
internal dan antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan
modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai
bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika
pembangunan bangsa.
Pendidikan bukan sekedar berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kemampuan
semata, melainkan juga berfungsi untuk membentuk watak dan peradaban bangsa yang
bermatabat. Dari hal ini maka sebenarnya pendidikan watak (karakter) tidak bisa ditinggalkan
dalam berfungsinya pendidikan. Oleh karena itu, sebagai fungsi yang melekat pada
keberadaan pendidikan nasional untuk membentuk watak dan peradaban bangsa, pendidikan
karakter merupakan manifestasi dari peran tersebut. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi
tugas dari semua pihak yang terlibat dalam usaha pendidikan (pendidik).
Pentingnya pendidikan karakter dewasa ini, disebabkan karena banyaknya tentang
perundungan. Menurut data yang dihimpun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus perundungan di Indonesia selama 2022
mencapai 226 kasus. Angka ini meningkat apabila dibandingkan dengan 2020, yaitu 119 kasus
dan 2021 yang hanya mencapai 53 kasus. Berdasarkan kasus-kasus tersebut, kasus
perundungan fisik menjadi jenis kasus yang paling banyak dialami pelajar di Indonesia dengan
persentase mencapai 55,5%. Semakin meningkatnya kasus perundungan di antara pelajar,
maka pemerintah fokus pada upaya mengatasi perundungan di sekolah dengan melibatkan
teman sebaya. Beberapa siswa yang memiliki pengaruh terhadap teman-teman di sekolahnya
dibentuk menjadi agen perubahan yang dapat memberikan dampak positif terhadap tindak
perundungan.
Selain itu dapat pula ditempuh langkah penanaman karakter siswa melalui keteladanan
dan ketokohan agar mampu menjadikan berkepribadian yang baik dan berguna dalam
kehidupan sehari-hari mulai dari lingkungan sekolah,keluarga, dan masyarakat, Seperti halnya
dicontohkan oleh tokoh Pahlawan Nasional yang bergerak dalam bidang keagamaan yaitu K.
H. Ahmad Dahlan. K. H. Ahmad Dahlan mempunyai peran penting dalam sejarah Indonesia
khususnya pada masa pergerakan nasional. Beliau mendirikan organisasi Muhammadiyah
sekaligus meluruskan agama islam yang pada masa itu masyarakat Indonesia masih percaya
dengan pemikiran yang telah diwarisi oleh nenek moyangnya. Hal tersebut tetap berkembang
kemudian muncul adat istiadat yang menjadi pegangan hidup pada masa itu. Anak memiliki
jiwa sosial learning atau anak meniru berdasarkan lingkungan sekitar (Haerudin et al., 2020),
keteladanan tokoh dapat menjadikan contoh bagi anak untuk bisa meniru atau meneladani
perilaku tokoh tersebut, K. H. Ahmad Dahlan Memiliki keteladanan mandiri, mencintai ilmu
pengetahuan, jiwa wirausaha, pandai berorganisasi, nasionalisme, cerdas, dan tidak pernah
membeda-bedakan. Hal ini dapat menjadikan sebuah keteladanan bagi siswa, sehingga
keteladanan KH. Ahmad Dahlan dapat ditiru dan dapat diimplementasikan dengan
membiasakan siswa melakukan hal tersebut, sehinggaketeladanan K. H. Ahmad Dahlan dapat
menjadi contoh bagi semua insan termasuk diantaranya siswa usia sekolah dasar.
Dalam menyampaikan keteladanan kepada anak didik ada dua cara dalam
penyampaiannya, pertama secara langsung, pendidik menyampaikan atau mencontohkan
kepada anak berupa sikap, perbuatan, perkataan yang menjadi nilai sebagai motivasi untuk
belajar anak, kedua secara tidak langsung pendidik menyampaikan kisah atau cerita-cerita
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
60
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
tentang seseorang yang jujur, adil, bijaksana, berkerja keras dan pantang menyerah serta
mandiri dalam melakukan dan memperoleh sesuatu yang akan dicapai. Pendidikan yang
diselenggarakan oleh K. H. Ahmad Dahlan tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan umat
muslim secara intelektual saja, melainkan juga berupaya untuk mengembangkan
kepribadiannya. Seorang muslim yang maju secara intelektual, sekaligus memahami dan
memegang teguh ajaran agamanya, serta mengamalkan segala perintah agama merupakan
tujuan akhir dari pendidikan yang diusahakannya. Hasil akhir yang didambakannya dari
pendidikan tadi adalah terbentuknya masyarakat yang sejahtera, damai, serta terbebas dari
segala kungkungan, termasuk kungkungan kolonialisme Barat (Kumalasari, 2017).
Keteladanan juga dapat ditunjukkan dalam perilaku dan sikap pendidik dan tenaga
kependidikan dalam memberikan contoh tindakan-tindakan yang baik berupa nilai-nilai yang
positif seperti tingkah laku, sifat, cara berpikir, dan sebagainya. sehingga diharapkan menjadi
panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya (Puspitasari, 2014). Menerapkan keteladanan
di sekolah, ada beberapa hal yang dapat digunakan antara lain: 1) Memberikan keteladanan
dengan cara yang dapat dilihat anak. 2) Keteladanan bisa dilakukan dalam proses
pembelajaran di kelas melalui cerita. 3) Keteladanan juga dapat diterapkan dengan cara guru
atau pendidik memberikan contoh pada anak dengan cara merespon orang-orang yang
membutuhkan di sekitar (Hadisi, 2015). Berdasarkan dari beberapa pendapat diatas peneliti
dapat menyimpulkan bahwa keteladanan adalah suatu aspek perilaku dalam bentuk tindakan
yang nyata, serta mengandung unsur ilustrasi dalam penerapannya. Teori social learning dari
(Albert, 1977) mengatakan bahwa anak belajar dari lingkungannya, sehingga memberikan
keteladanan pada siswa dengan memberikan contoh keteladanan dari K. H. Ahmad Dahlan
merupakan salah satu altternatif agar siswa dapat termotivasi mengimplementasikan
keteladanan dalam hidupnya. Ternyata bagi siswa melihat keteladanan secara langsung dapat
lebih menyerap secara maksimal, dibandingkan hanya dengan bercakap-cakap mengenan
keteladanan. Keteladanan merupakan salah satu hal yang penting dalam pendidikan.
Pembiasaan dan keteladanan merupakan proses pendidikan yang berlangsung dengan
membiasakan dan mencontohkan perilaku atau sosok figur dalam bertingkah laku, berbicara,
berpikir dan melakukan aktivitas tertentu untuk membentuk kebiasaan yang baik sehingga
akan membentuk karakter yang baik pula (Budiyono & Harmawati, 2020). Keteladanan dalam
pendidikan adalah cara mendidik dan memberi contoh dimana anak dapat menirunya baik dari
segi perkataan, perbuatan, maupun cara berfikir. Salah satu faktor yang mempunyai pengaruh
terhadap pendidikan dan dalam kehidupan manusia sehari-hari adalah uswatun hasanah atau
suri teladan.
Keteladanan mengenai penanaman pendidikan karakter bagi anak masi kurang, perlunya
menelaah kembali konsep pendidikan karakter yang diajarkan para tokoh di masa lalu, seperti
K. H. Ahmad Dahlan yang dapat menjadi teladan, serta perlunya pengembangan metode
penanaman karakter pada anak agar dapat sesuai dengan perkembangan zaman. Maka
penelitian ini membatasi pada nilai karakter apa saja yang diajarkan oleh K. H. Ahmad Dahlan
yang menjadi sumber teladan, serta bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai dan
keteladanan pada siswa kelas 2 di SD Negeri Sadang Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang diajarkan oleh K. H.
Ahmad karakter dan keteladanan K. H. Ahmad Dahlan pada kelas 2 SD Negeri Sadang
Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Jenis penelitian deskriptif
kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang memanfaatkan data kualitatif dan
dijabarkan secara deskriptif.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
61
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
Jenis penelitian ini juga mempunyai tujuan untuk menyajikan gambaran lengkap
mengenai setting sosial atau dimaksudkan unntuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu
fenomena atau kenyataan sosial dengan cara mendeskripsikan sejumlah variabel yang
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Jenis penelitian deskriptif kualitatif
merupakan sebuah metode penelitian yang memanfaatkan data kualitatif dan dijabarkan
secara deskriptif. Jenis penelitian ini juga mempunyai tujuan untuk menyajikan gambaran
lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan unntuk eksplorasi dan klarifikasi
mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan cara mendeskripsikan sejumlah
variabel yang Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Jenis penelitian
deskriptif kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang memanfaatkan data kualitatif
dan dijabarkan secara deskriptif. Jenis penelitian ini juga mempunyai tujuan untuk
menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan unntuk eksplorasi
dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan cara mendeskripsikan
sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena
yang diuji. Ditinjau dari jenis data maka penelitian yang digunakan adalah penelitian
kualitatif melalui pendekatan deskriptif. Jenis penelitian deskriptif kualitatif yang digunakan
dalam penelitian ini untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada berdasarkan data-data.
Penelitian deskriptif kualitatif ini untuk memperoleh informasi dan hasil dari penanaman
nilai-nilai karakter K. H. Ahmad Dahlan pada kelas 2 SD Negeri Sadang Kecamatan Taman
Kabupaten Sidoarjo.
Sumber data dalam penelitian ini adalah terdiri dari pendidik, tenaga kependidikan dan
anak kelas 2 Sekolah Dasar sebanyak 25 anak, penelitian ini berada pada SD Negeri Sadang
di Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo Prosedur penelitian ini adalah mengamati secara
langsung karakter yang ditanamkan, melihat pembiasaan yang dilakukan sehari-hari pada
siswa kelas 2 pada siswa SD SD Negeri Sadang Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo.
walaupun kegiatan pembelajaran dilakukan secara terbatas, namun pembiasaan tetap
dilaksanakan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi atau pengamatan terhadap
karakter siswa sebelum penanaman nilai karakter K. H. Ahmad Dahlan dan setelah
penanaman nilai karakter K. H. Ahmad Dahlan. Wawancara kepada guru untuk mengetahui
perubahan sikap dari siswa setelah dilakukannya penanaman nilai karakter, selain itu
pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi berupa melalui kurikulum yang di
gunakan di SD Negeri Sadang Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo. Instrumen yang
digunakan adalah human instrumen atau peneliti sendiri yang berfungsi menetapkan fokus
penelitian, memilih informan sumber data, pengumpulan data dan analisis data serta
melakukan kesimpulan. Instrumen lainnya adalah pedoman wawancara dan juga lembar
observasi, wawancara dilakukan secara langsung pada pendidik serta kepada tenaga
kependidikan dengan memenuhi standar protokol kesehatan. Data yang terkumpul dari
wawancara, analisis dokumen dan observasi dilakukan melalui proses identifikasi, analisis
dan penyimpulan.
3. Hasil dan Pembahasan
Implementasi nilai-nilai karakter dan keteladanan K. H. Ahmad Dahlan
Tolok ukur keberhasilan suatu bangsa adalah dari keberhasilan generasi mudanya di
masa yang akan datang, karena mempertahankan keberhasilan itu lebih sulit dari pada
mendapatkannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah dari
karakter bangsa itu sendiri. Pada zaman sekarang pembentukan karakter generasi muda ini
menjadi tantangan tersendiri, seperti yang kita ketahui bersama bahwa globalisasi dan
modernisasi ternyata sedikit banyaknya telah menggerus bahkan telah mematikan nilai nilai
karakter positif dari generasi muda bangsa ini. Maka dari itu pentingnya diterapkan pendidikan
karakter sejak dini.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
62
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
Karakter merupakan salah satu nilai yang paling mendasar yang membentuk jati diri
seseorang yang kemudian diwujudkan melalui sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari
hari (Apriliyanti et al., 2021). Kemampuan seseorang dalam bermasyarakat tergantung dari
karakter yang dimilikinya, karena itu karakter tidak akan lepas dari nilai dan norma yang
berlaku dilingkungan masyarakat. Pendidikan dan karakter ini memiliki irisanyang sangat besar
karena keduanya saling berkaitan. Esensi dari pendidikan ini harus memiliki karakter
didalamnya. Akan tetapi pada saat ini esensi tersebut kurang dirasakan karena pendidikan saat
ini lebih mengedepankan hasil bagaimana seorang anak harus mendapatkan nilai akademik
yang besar. Pendidikan karakter merupakan kolaborasi dari orang tua, guru dan masyarakat
(Prasanti & Fitrianti, 2018). Pemerintah melalui beberapa rancangan konsep kurikulumnya
selalu menitik beratkan pada penerapan pendidikan karakter. Namun, yang sering kita lihat
penerapan pendidikan karakter di lembaga pendidikan sebagian besar hanya sebatas
implementasi belum pada tahap pengaplikasian. Pendidikan karakter ini tidak hanya teori
teori yang disampaikan disekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar saja, tetapi
lebih kepada pembiasaan penerapan nilai nilai keagamaan, disiplin, jujur, toleran, kerjasama,
tanggung jawab dan sebagainya.
Dalam aktivitas kesehariannya selalu menerapkan nilai nilai karakter dan keteladanan
K. H. Ahmad Dahlan yang dimana tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, akan tetapi
juga membangun integritas dan kepribadian siswanya (HM Masrudin Anshory, 2010). Konsep
yang dibentuk yaitu memadukan pendidikan akhlak dan pendidikan budi pekerti. Konsep ini
menjadi sebuah alternatif untuk menemukan sebuah konsep pendidikan karakter yang ideal.
Penelitian ini di fokuskan pada anak kelas 2 SD Negeri Sadang. Alasannya karena penanaman
karakter yang baik sejak dini akan menghasilakan karakter yang baik pula untuk anak dimasa
mendatang. Beberapa bentuk pembiasaan yang dilakukan di SD Negeri Sadang yaitu di pagi
hari pada saat masuk pukul 09.30 siswa dibiasakan untuk melaksanakan shalat dhuha
berjamaah pada saat jam istirahat, dimana imam dipilih dari siswa secara bergantian setiap
harinya dan dibimbing oleh guru. Setelah shalat dhuha siswa bermusyafahah dengan sesama
teman dan guru secara tertib, hal ini dilakukan untuk menjaga silaturahmi diantara sesamanya.
Fokus pendidikan karakter di SD Negeri sadang adalah berdasarkan karakter yang
diterapkan oleh K. H. Ahmad Dahlan, dan di SD tersebut menerapkan program yang bernama
The Nine Golden Habits yaitu Sholat dengan tertib, berpuasa sunah, berinfaq, beradab islami,
membaca AlQur’an, membaca, menghadiri pengajian, berorganisasi, berfikir positif (Ahmad
Dahlan, 1985). Yang diimplementasikan melalui kegiatan-kegiatan siswa, diantaranya seperti
mengaji, sholat berjamaah, kepemimpinan, literasi.
Kepala sekolah, dimana guru selalu memantau, memperhatikan juga bisa sebagai role
model dan teladan bagi para siswa serta kepala sekolah sebagai supervisor. Nilai-nilai karakter
dan keteladanan yang diimplementasikan pada siswa kelas 2 sebelum dan setelah
melaksanakan kegiatan contohnya berdoa sebelum dan sesudah belajar, melaksanakan ibadah
di sekolah yaitu sholat duha dan sholat dzuhur yang dibiaskan setiap harinya sebelum
melaksanakan pembelajaran siswa diarahkan untuk melaksanakan sholat duha berjamaah
dimana salah satu siswa menjadi imam yang sudah dijadwalkan sehingga semua siswa laki-laki
akan secara bergantian menjadi imam sesuai jadwal yang telah di tentukan, kegiatan ini selain
menanamkan sifat religius bagi anak namun jugamengajarkan anak untuk memiliki sifat
sebagai pemimpin dan bertanggung jawab. Siswa juga dibiasakan setelah sholat untuk
mushafahah yaitu bersalam-salaman baik kepada guru maupun siswa kegiatan ini merupakan
upaya yang dilakukan sekolah agar siswa memiliki sikap sopan santun, saling menghargai atau
toleransi, Selain itu juga siswa dibiasakan untuk menyisihkan uangnya untuk infaq, dimana
setelah melaksanakan sholat duha siswa masuk ke kelasnya masing-masing sebelum
melaksanakan pembelajaran siswa di arahkan untuk menyisihkan uang jajannya untuk di
infaqkan kegiatan ini dimaksudkan agar siswa memiliki sifat peduli, ikhlas, menumbuhkan rasa
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
63
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
empati. Sebelum proses pembelajaran berlangsung siswa melaksanakan tashin terlebih dahulu
secara rutin sesuai dengan jilidnya, dimana siswa bukan hanya diajarkan mengaji saja namun
juga diajarkan bacaan yang baik dan benar dimulai dari panjang pendek ayat, makhrojul huruf,
tajwid dan yang lainnya.
Dalam penanaman sikap nasionalis sekolah memfasilitasi untuk memperingati hari hari
kebangsaan bermaksud agar siswa memiliki rasa cinta terhadap tanah air, bangga terhadap
Negara Indonesia. Kemudian siswa di sekolah di biasakan untuk menggunakan bahasa
indonesia yang baik, agar siswa bisa cinta dan bangga terhadap bahasa indonesia, siswa juga di
arahkan untuk memiliki sikap toleransi dengan tidak membeda-bedakan teman, menghormati
perbedaan yang ada dengan berbagai cara salah satunya ketika siswa diajak untuk berdiskusi,
dalam pembelajaran diskusi siswa diharapkan untuk mendengarkan pendapat orang lain dengan
baik, menghargai ketika ada perbedaan pendapat dan tidak saling menyalahkan. selalu
menanamkan karakter berdasarkan penokohan, karena K. H. Ahmad Dahlan memiliki rasa
Nasionalisme yang kuat, salah satu contohnya Beliau mengajar di sekolahan Belanda yang
dikelola oleh orang Belanda dan mengajar murid-murid dari dari keturunan orang Belanda dan
kalangan priyayi. Beliau juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pastur
van Lith pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan.
Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katolik. Pada saat
itu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya (Sutarna & Anwar,
2020). Penanaman karakter di SD Negeri Sadang sangat di pentingkan sehingga antara
kognitif, afektif dan psikomotorik itu seimbang, salah satunya dalam penanaman sikap jujur
siswa di arahkan untuk menegur ketika ada teman yang menyontek, mengakui ketika belum
mengerjakan tugas, curang dalam mengerjakan tugas, berbicara sesuai dengan fakta yang ada,
mengakui ketika berbuat salah, menepati setiap janji, meminjam barang teman ketika di
ijinkan, diharapkan pembiasaan berprilaku jujur ini agar dalam segala hal bentuk perbuatan
siswa di dasari atas perbuatan jujur karena sudah di biasakan sejak sedini mungkin yang
kedepannya sudah menjadi kebiasaan siswa dalam berprilaku. Penanaman karakter jujur
melalui pembiasaan sehari-hari dalam menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, berkata sesuai
dengan kenyataan, tidak berbohong. Siswa di biasakan untuk mentaati setiap tata tertib yang
ada, bisa dilihat dari peserta didik yang memakai seragam sesuai dengan jadwal, datang tepat
waktu, menghargai pendapat dari teman, mendengarkan masukan dari guru mengerjakan tugas
yang berikan oleh guru, tertib saat belajar, membuang sampah pada tempatnya, melaksanakan
jadwal piket, menyimpan sepatu secara rapih pada tempatnya dimana kegiatan tersebut di
biasakan agar siswa sudah terbiasa untuk mentaati setiap peraturan yang berlaku,
sehinggakedepannya siswa akan mentaati peraturan yang ada di masyarakat, dan Negara
Indonesia, menanmkan komitmen kepada siswa untuk belajar dengan giat baik di sekolah
maupun di rumah kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dan diterapkan pada peserta didik
sehingga peserta didik memiliki kepribadian yang baik sesuai dengan apa yang diharapkan.
Berdasarkan hasil penelitian, maka kami menyimpulkan bahwa terdapat 4 karakter yang
difokuskan untuk ditanamkan pada siswa di SD Negeri sadang yaitu Nilai Karakter Religius,
jujur, nasionalis, dan disiplin.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 4 nilai karakter dan
keteladanan yang terdapat pada anak kelas 2 SD Negeri sadang Kecamatan taman Kabupaten
Sidoarjo memiliki program penguatan. Dimana program ini diimplementasikan melalui
kegiatan-kegiatan siswa, diantaranya seperti mengaji, shalat berjamaah, kepemimpinan,literasi.
Pembiasaan merupakan salah satu upaya mewujudkan pembentukan karakter untuk siswa SD
Negeri Sadang Kecamatan taman Kabupaten Sidoarjo.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 58-64
E-ISSN: 3031-2957
64
Mei Dwi Purwanti et.al (Implementasi Nilai-Nilai Karakter.)
5. Ucapan Terima Kasih
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, cukup sulit bagi
saya untuk menyelesaikan jurnal ini. Oleh sebab itu saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bpk. Hendratno selaku Dosen Teori Belajar Prodi S2 Pendidikan Dasar Fakultas ilmu
Pendidikan.
2. Ibu Nurul Istiq’faroh selaku selaku Dosen Teori Belajar Prodi S2 Pendidikan Dasar
Fakultas ilmu Pendidikan.
Yang telah memberikan bimbingan, arahan, dukungan serta masukan kepada penulis.
6. Daftar Pustaka
Abu Bakar, K. A., Noor, I. H. M., & Dan Widodo. (2018). Nurturing nationalism
character valuesat the primary schools in jayapura, papua. Cakrawala Pendidikan, 37(1), 42-
56. https://doi.org/10.21831/cp.v37i1.13616
Ahmad Dahlan. (1985). Tali Pengikat Hidup Manusia, Dalam Buku Perkembangan
Pemikiran Muhammadiyah Dan Masa ke Masa, Menyambut Muktamar Ke-41. PT Dua
Dimensi.
Albert, B. (1977). Social Learning Theory. Prentice-Hall, Inc.
Apriliyanti, F., Hanurawan, F., & Sobri, A. Y. (2021). Keterlibatan Orang Tua dalam
Penerapan Nilai-nilai Luhur Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara. Jurnal Obsesi: Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini, 6(1), 1-8. https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i1.595
Budiyono, & Harmawati, Y. (2020). Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Nilai-
Nilai Keteladanan Guru Dan Orang Tua Pada Siswa Sekolah Dasar. Prosiding Seminar
Nasional PPKn III, 1-10.
Churiyah, M., Sholikhan, S., Filianti, F., & Sakdiyyah, D. A. (2020). Indonesia
Education Readiness Conducting Distance Learning in Covid-19 Pandemic Situation.
https://mediaindonesia.com/humaniora 621065/fenomena perundunganindonesia-
penyelesaian-butuh-kolaborasi-banyak-pihak