Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 21/03/2026 Selesai revisi: 18/05/2026 Disetujui: 25/07/2026Diterbitkan: 1/08/2026
34
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Pelatihan Diversifikasi Olahan Susu Sapi Untuk Kemandirian
Ekonomi Perempuan Peternak Kepuharjo Cangkringan
Dyah Wahyuning Tyas
1*
, Maya Dewi Savitri
2
, Farah Diana Djamil
3
,
Danang Prasetyo
4
1,2,3,4
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo, Yogyakarta, Indonesia
e-mail:
1*
dyahwt@stipram.ac.id,
2
mayadewi@stipram.ac.id,
3
farahdjamil@stipram.ac.id,
4
danangprasetyo@stipram.ac.id
Abstrak
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh perlunya
meningkatkan nilai tambah (value-added) komoditas susu segar serta memperkuat
partisipasi ekonomi perempuan peternak di Desa Kepuharjo, Kecamatan
Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Selama ini, susu segar hasil
peternakan lokal dominan dijual dalam bentuk mentah dengan harga relatif rendah,
sementara keterlibatan istri peternak dalam aktivitas ekonomi produktif berbasis
potensi pariwisata lereng Merapi masih belum optimal. Program ini bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis mitra dalam mengolah susu
segar menjadi produk siap konsumsi yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Metode
yang digunakan adalah pendekatan kualitatif partisipatif melalui kegiatan pelatihan,
demonstrasi interaktif, serta evaluasi berbasis instrumen observasi keterampilan.
Intervensi berfokus pada teknik pembuatan susu varian rasa buah serta kue pie susu,
yang dipadukan dengan penerapan prinsip sanitasi higienitas pengolahan pangan
rumahan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan peserta
secara signifikan dengan rata-rata ketercapaian sebesar 88,25% (kategori Sangat
Terampil). Capaian tertinggi diperoleh pada aspek mutu organoleptik produk
(93,0%) serta pengemasan dan pelabelan (89,0%). Diversifikasi ini tidak hanya
menghasilkan produk olahan yang layak jual dan diminati wisatawan lokal, tetapi
juga berhasil memperkuat peran strategis perempuan (women's economic
empowerment) dalam mendorong kemandirian dan kesejahteraan ekonomi rumah
tangga peternak secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Diversifikasi olahan susu, Pemberdayaan perempuan, Pie Susu, Susu
Varian Rasa, Cangkringan.
Abstract
This community service activity was driven by the need to increase the added value of raw
cow’s milk and empower the economic participation of female dairy farmers in Kepuharjo
Village, Cangkringan District, Sleman Regency, Yogyakarta. Historically, fresh milk
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 35
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
produced by local farmers was predominantly sold raw at low market prices, while the
involvement of farmers' wives in productive economic activities within the Merapi tourism
area remained underutilized. This program aimed to enhance the technical knowledge and
skills of community partners in processing raw milk into high-value, ready-to-consume
products. A participatory qualitative approach was employed, incorporating interactive
workshops, practical demonstrations, and skill observation evaluations. The intervention
focused on processing fruit-flavored milk, as well as milk pies, integrated with basic home-
based food hygiene practices. The results revealed a significant increase in participants'
technical competencies, achieving an overall average score of 88,25% (Highly Skilled
category). The highest achievements were recorded in product organoleptic quality (93.0%)
and packaging and labeling (89.0%). This product diversification not only yielded market-
ready products suitable for local tourists but also successfully strengthened women's strategic
economic roles, fostering sustainable household financial independence.
Keywords: Dairy Product Diversification, Women's Empowerment, Milk Pie, Flavored
Milk, Cangkringan
Pendahuluan
Sektor peternakan sapi perah di Indonesia memiliki peranan strategis dalam
mendukung ketahanan pangan nasional serta memperkuat fondasi ekonomi rumah
tangga di kawasan pedesaan. Susu sapi merupakan komoditas pangan dengan
kandungan gizi bernilai tinggi, namun memiliki sifat alami yang mudah rusak
(perishable). Tanpa penanganan dan pengolahan pascapanen yang memadai, kualitas
susu segar dapat menurun secara drastis dalam waktu singkat, yang pada akhirnya
menekan nilai tawar dan pendapatan peternak. Oleh karena itu, strategi diversifikasi
produk olahan susu menjadi langkah mendesak untuk memperpanjang masa
simpan (shelf-life), meningkatkan hibridisasi produk, serta menciptakan nilai tambah
(value added) ekonomis yang signifikan. Berbagai program pengabdian kepada
masyarakat di beberapa wilayah, seperti Semarang dan Jember, membuktikan
bahwa intervensi berupa pelatihan diversifikasi olahan susu efektif mendorong
kemandirian usaha serta meningkatkan kesejahteraan peternak secara berkelanjutan
(Landy et al., 2025); Nareswari et al., 2025).
Desa Kepuharjo, yang terletak di Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman,
merupakan salah satu kawasan dengan potensi peternakan sapi perah yang sangat
potensial di Daerah Istimewa Yogyakarta (Anggraeni & Gunawan, 2024;
Lananinggar, 2024). Sebagian besar masyarakat di wilayah ini menggantungkan
mata pencaharian utama pada sektor peternakan sapi perah. Namun, analisis situasi
di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan hasil produksi susu segar di Desa
Kepuharjo masih jauh dari optimal. Rata-rata hasil pemerahan susu segar langsung
dijual dalam bentuk mentah (raw milk) kepada pengepul atau koperasi dengan harga
penetapan yang relatif rendah. Kondisi ini menyebabkan marjin keuntungan yang
diterima peternak menjadi sangat terbatas dan rentan terhadap fluktuasi harga pasar
maupun risiko penolakan akibat standar kesegaran.
Di sisi lain, keterlibatan perempuankhususnya para ibu dari keluarga
peternak di Kepuharjoselama ini masih sebatas pada aktivitas pendukung
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 36
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pengelolaan harian ternak (seperti memberi pakan dan membersihkan kandang).
Mereka belum memiliki ruang produktif yang memberikan kontribusi finansial
secara langsung. Padahal, para ibu peternak memiliki potensi besar untuk dibina
menjadi pelaku wirausaha pengolahan hasil ternak. Kurangnya keterampilan teknis
dalam pengolahan pangan (food processing) serta terbatasnya akses pengetahuan
mengenai manajemen kemasan dan pemasaran menjadi hambatan utama belum
optimalnya potensi komoditas susu di kawasan ini. Situasi serupa juga dijumpai di
Dusun Banyudono, Semarang, di mana pelatihan diversifikasi terbukti berhasil
mengubah pola pikir dan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah
susu segar menjadi produk bernilai jual tinggi seperti yogurt, puding, dan susu
berani rasa (Putri & Ramadhan, 2026).
Potensi ekonomi Desa Kepuharjo semakin diperkuat oleh keunggulan letak
geografisnya yang berada di lintasan utama destinasi wisata lereng Gunung Merapi.
Kawasan ini dikelilingi oleh berbagai objek wisata populer yang ramai dikunjungi
wisatawan lokal maupun mancanegara, seperti The Nice Playland, The Lost World
Castle, dan The Stonehenge. Tingginya arus wisatawan ini menciptakan ruang pasar
(captive market) yang sangat terbuka bagi produk-produk UMKM kuliner lokal.
Namun, potensi pasar wisata ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh
masyarakat lokal untuk menjajakan produk olahan susu khas daerah. Produk seperti
susu rasa buah dan pie susu memiliki karakteristik unik: menarik secara visual,
disukai berbagai kalangan usia, serta memiliki kepraktisan tinggi untuk dijadikan
oleh-oleh khas kawasan Cangkringan.
Pemberdayaan perempuan peternak melalui diversifikasi olahan susu
merupakan pendekatan yang komprehensif. Melalui strategi diferensiasi produk
seperti variasi rasa, pewarnaan alami yang menarik, higienitas proses produksi, serta
pengemasan yang modernnilai jual susu dapat meningkat berlipat ganda
dibanding sekadar menjual susu mentah (Kustiandi et al., 2020; Supartini et al.,
2022). Peningkatan keterlibatan aktif kaum ibu dalam rantai nilai (value chain)
ekonomi produktif ini tidak hanya memanfaatkan waktu luang menjadi aktivitas
bernilai tambah, tetapi juga mendorong penguatan women's economic empowerment.
Perempuan menjadi lebih berdaya dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga
serta berperan sebagai motor penggerak ketahanan ekonomi rumah tangga secara
mandiri dan berkelanjutan (Amani et al., 2025; Putri & Ramadhan, 2026).
Berdasarkan analisis situasi dan permasalahan mitra tersebut, tim pengabdian
kepada masyarakat menyelenggarakan program intervensi terstruktur berupa
Pelatihan Diversifikasi Olahan Susu Sapi (Susu Rasa Buah dan Pie Susu) pada bulan
Oktober 2025 di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Pelaksanaan program ini
bertujuan untuk:
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skills) kaum ibu
peternak dalam mengolah susu segar menjadi produk siap jual yang higienis dan
bernilai ekonomis tinggi.
2. Mendorong kemandirian ekonomi perempuan peternak melalui penumbuhan
jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) memanfaatkan peluang pasar wisata di
sekitar Kepuharjo.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 37
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
3. Memberikan solusi konkrit atas permasalahan ketergantungan penjualan susu
mentah, sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga
peternak secara berkelanjutan.
Metode
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang secara
sistematis menggunakan pendekatan partisipatif melalui metode Participatory Rural
Appraisal (PRA). Pendekatan PRA menempatkan masyarakatkhususnya
perempuan peternakbukan sekadar sebagai objek penerima manfaat, melainkan
sebagai subjek utama yang aktif dalam identifikasi masalah, perencanaan,
pelaksanaan, hingga evaluasi program (Chambers, 2017). Kerangka kerja
pelaksanaan pengabdian ini diuraikan sebagai berikut:
1. Waktu, Tempat, dan Mitra Sasaran
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 di Desa
Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) berdasarkan potensi
produksi susu sapi perah yang melimpah serta kedekatannya dengan kawasan
strategis pariwisata lereng Merapi. Sasaran mitra dalam kegiatan ini adalah
kelompok ibu-ibu istri peternak sapi perah serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) kuliner di Desa Kepuharjo dengan jumlah peserta sebanyak
23 orang.
2. Program pemberdayaan ini dilaksanakan secara bertahap yang terbagi ke dalam
tiga fase utama, yaitu pra-pelaksanaan, intervensi pelaksanaan, dan pasca-
pelaksanaan. Alur rinci tahapan kegiatan disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Diagram Alir Tahapan Pelaksanaan Program Pengabdian
Sumber: Olahan Tim Pengabdian, 2026
3. TAHAP PASCA-PELAKSANAAN
- Diskusi Refleksi Kelompok (Participatory Reflection & Feedback)
- Evaluasi Partisipatif Ketercapaian & Kualitas Produk
- Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL)
2. TAHAP INTERVENSI PELAKSANAAN
- Edukasi & Penyuluhan Interaktif (Manajemen & Higienitas)
- Workshop & Demonstrasi Praktik Langsung (Hands-on)
- Pembuatan Susu Rasa Buah & Pie Susu Skala Rumah Tangga
- Penilaian Keterampilan Berbasis Rubrik Observasi Praktik
1. TAHAP PRA-PELAKSANAAN
- Observasi Lapangan & Wawancara Analisis Kebutuhan Mitra
- Koordinasi dengan Tokoh Masyarakat & Pengurus Kelompok Mitra
- Penyediaan Alat, Bahan (Susu Segar), Modul, & Rubrik Observasi
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 38
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
a. Tahap Pra-Pelaksanaan (Persiapan & Analisis Kebutuhan): Pada tahap awal,
tim pengabdian melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam
(in-depth interview) bersama mitra untuk memetakan kendala utama
pemasaran susu segar serta potensi pengolahannya. Selain itu, dilakukan
koordinasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk menetapkan jadwal
dan lokasi pelatihan. Tim juga menyiapkan modul panduan praktis, alat
pengolahan, bahan baku susu segar, perlengkapan higienitas produksi
(celemek, sarung tangan, masker), serta menyusunlembar Rubrik Observasi
Keterampilan.
b. Tahap Intervensi Pelaksanaan (Penyuluhan & Workshop Praktik Langsung):
Tahap intervensi dilakukan dengan menggabungkan dua metode utama,
yaitu:
i. Penyuluhan Partisipatif: Penyampaian materi edukatif dan diskusi dua
arah mengenai pentingnya diversifikasi produk susu, penerapan sanitasi
dan higienitas pengolahan pangan (Good Manufacturing Practices
sederhana), manajemen pengemasan, serta kalkulasi harga pokok
produksi (costing).
ii. Demonstrasi dan Praktik Langsung (Hands-on Workshop): Peserta dibagi ke
dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan praktik langsung
pembuatan susu rasa buah (dengan teknik pasteurisasi dan pencampuran
variasi rasa alami) serta pie susu. Selama proses praktik berlangsung, tim
pengabdi mendampingi sekaligus melakukan penilaian unjuk kerja secara
nontes menggunakan Rubrik Observasi Keterampilan.
c. Tahap Pasca-Pelaksanaan (Refleksi Kelompok & Rencana Tindak Lanjut):
Tahap akhir diisi dengan Diskusi Refleksi Kelompok (Participatory Reflection)
di mana peserta secara aktif memberikan umpan balik lisan mengenai
kendala, kesan, dan tingkat pemahaman yang didapatkan selama pelatihan.
Pada sesi ini juga dilakukan penilaian mutu produk akhir bersama peserta
serta penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) mengenai strategi pemasaran
mandiri produk ke jaringan kios UMKM dan area destinasi wisata di sekitar
Desa Kepuharjo.
3. Metode Evaluasi dan Analisis Data
Untuk mengukur efektivitas program dan peningkatan kapasitas mitra tanpa
mengurangi kenyamanan peserta, evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan
partisipatif kualitatif-rubrikatif yang meliputi:
a. Evaluasi Psikomotorik dan Keterampilan Teknis (Rubrik Observasi): Evaluasi
keterampilan praktik dilakukan secara langsung oleh tim pengabdi selama
workshop berlangsung menggunakan Rubrik Observasi Keterampilan.
Indikator yang dinilai mencakup 4 (empat) aspek utama:
i. Kepatuhan pada standar higienitas dan sanitasi produksi (penggunaan
celemek, masker, dan sterilitas alat).
ii. Ketepatan kompositional dan formulasi bahan dalam pengolahan susu
segar.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 39
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
iii. Keterampilan pengemasan (packaging) dan kerapian produk akhir.
iv. Organoleptik produk (rasa, tekstur, dan aroma susu rasa buah serta
pie susu). Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif persentase
untuk menentukan tingkat penguasaan keterampilan peserta (kategori:
Sangat Terampil, Terampil, Cukup Terampil, dan Kurang Terampil).
b. Evaluasi Kognitif dan Persepsi Partisipatif (Diskusi Refleksi Kelompok):
Tingkat pemahaman materi dan respons penerimaan mitra dievaluasi
melalui Diskusi Refleksi Kelompok di akhir sesi intervensi. Pendekatan
lisan/interaktif ini menggantikan tes tertulis formal agar selaras dengan
prinsip Participatory Rural Appraisal (PRA). Data kualitatif dari hasil refleksi,
umpan balik lisan, serta apresiasi peserta dianalisis menggunakan teknik
analisis deskriptif-kualitatif (reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan) guna mendeskripsikan dampak perubahan pengetahuan serta
tumbuhnya motivasi wirausaha pada perempuan peternak.
Hasil dan Pembahasan
Program pengabdian kepada masyarakat ini telah direalisasikan secara
bertahap pada bulan Oktober 2025 di Desa Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sasaran utama program ini adalah
kelompok ibu-ibu istri peternak sapi perah dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) lokal. Seluruh tahapan intervensi dirancang menggunakan
pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan partisipasi aktif
mitra dalam setiap proses pembelajaran dan praktik.
1. Pelaksanaan Sosialisasi dan Identifikasi Kebutuhan Mitra
Kegiatan diawali dengan tahap sosialisasi dan analisis kebutuhan (needs
assessment) secara interaktif bersama kelompok mitra. Berdasarkan hasil
wawancara dan pemetaan situasi, teridentifikasi bahwa permasalahan mendasar
yang dihadapi peternak di Desa Kepuharjo adalah rendahnya nilai jual susu
segar (raw milk). Selama ini, pemasaran susu sepenuhnya bergantung pada
pengepul atau koperasi dengan tingkat harga yang relatif statis dan rentan
terhadap risiko kerusakan produk. Di sisi lain, potensi ekonomi wilayah yang
berada di jalur destinasi wisata populer (seperti The Lost World Castle, The Nice
Playland, dan The Stonehenge) belum dimanfaatkan secara optimal oleh kaum ibu
untuk menjajakan produk olahan pangan lokal.
Melalui diskusi partisipatif, disepakati bahwa solusi paling aplikatif dan
efisien untuk diimplementasikan skala rumah tangga adalah diversifikasi olahan
susu segar menjadi susu varian rasa buah dan kue pie susu. Kedua jenis produk
ini dipilih karena memiliki daya simpan yang lebih panjang, disukai oleh
berbagai kalangan usia wisatawan, serta mudah diproduksi dengan peralatan
dapur rumahan tanpa memerlukan investasi modal alat yang besar.
2. Pelaksanaan Pelatihan dan Hands-on Workshop Pengolahan Susu
Pelaksanaan pelatihan teknis diselenggarakan dengan menggabungkan
metode ceramah interaktif, demonstrasi langsung, dan hands-on workshop. Peserta
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 40
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mempraktikkan secara
langsung seluruh tahapan produksi di bawah pendampingan tim pengabdi.
Fokus pengolahan mencakup dua lini produk unggulan:
a. Pembuatan Susu Varian Rasa Buah: Peserta dilatih melakukan pasteurisasi
susu segar pada suhu optimal (72ºC hingga 75ºC selama 15 detik) untuk
membunuh bakteri patogen tanpa merusak kandungan nutrisi dan cita rasa
alami susu. Selanjutnya, susu dikombinasikan dengan sari atau perisa buah
alami serta pewarna pangan yang aman. Produk kemudian dikemas dalam
botol higienis berdesain menarik yang siap dipasarkan sebagai minuman
segar bagi wisatawan.
b. Pembuatan Kue Pie Susu: Peserta memanfaatkan susu segar sebagai bahan
baku utama pembuatan isi (vla) pie yang lembut, gurih, dan legit, yang
dipadukan dengan kulit pastry renyah (crust). Produk ini dirancang sebagai
inovasi snack dan oleh-oleh khas kawasan lereng Merapi.
Gambar 2. Antusiasme Ibu-ibu Peserta Pelatihan
Sumber: Dokumentasi pelaksanaan kegiatan
Dinamika dan antusiasme peserta selama workshop berlangsung sangat tinggi.
Ibu-ibu peternak menunjukkan inisiatif yang besar untuk mencoba sendiri setiap
tahapan proses produksi bersama kelompoknya masing-masing. Terjadi proses
pembelajaran antar sejawat (peer-to-peer learning), di mana peserta dari satu
kelompok secara aktif bertukar pengalaman, trik teknik mencetak kulit pie, serta
tips menjaga suhu pasteurisasi dengan kelompok lainnya.
Tingginya rasa ingin tahu dan komitmen belajar mitra terlihat jelas dari
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta yang sangat terperinci dan rinci
(detail-oriented). Peserta tidak hanya menanyakan formula umum, tetapi juga
mendalami detail teknis seperti:
a. Merek spesifik bahan baku yang direkomendasikan (misalnya merek
margarin, tepung terigu, atau perisa buah yang menghasilkan cita rasa
terbaik).
b. Takaran gramatur bahan yang presisi agar tekstur vla pie tidak pecah atau
terlalu cair.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 41
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
c. Pengaturan suhu dan durasi pemanggangan oven (baking time) skala rumah
tangga (baik oven tangkring maupun oven listrik) agar kulit pie matang
sempurna tanpa gosong.
d. Teknik pengemasan seal plastik agar pie susu tetap renyah dan memiliki
masa simpan lebih lama saat dijual di kios UMKM.
3. Evaluasi Partisipatif dan Penilaian Rubrik Observasi Keterampilan
Sesuai dengan rancangan evaluasi partisipatif, penilaian unjuk kerja peserta
dilakukan secara langsung oleh tim pengabdi selama proses workshop
menggunakan Rubrik Observasi Keterampilan. Rubrik ini menilai 4 (empat)
aspek utama dengan rentang kategori Sangat Terampil (Skor 4), Terampil (Skor
3), Cukup Terampil (Skor 2), dan Kurang Terampil (Skor 1). Ringkasan
pencapaian keterampilan peserta disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Penilaian Rubrik Observasi Keterampilan Peserta Pelatihan
No.
Aspek Penilaian Ketrampilan
Rata-rata Skor
1.
Sanitasi dan Kebersihan Alat/Area (Kebersihan tangan
sebelum olah, sterilitas wadah/botol, kebersihan alat
cetak/oven, dan kerapian area kerja)
3.36
2.
Formulasi dan Teknis Pengolahan (Ketepatan
penimbangan bahan, teknik pasteurisasi, dan
pengaturan suhu oven)
3.48
3.
Pengemasan dan Pelabelan (Kerapian
penyegelan/penutupan gelas plastik, kerapian
kemasan pie, dan penempelan stiker label)
3,56
4.
Mutu Organoleptik Produk (Konsistensi rasa, tekstur
vla & kulit pie, warna, serta aroma produk akhir)
3,72
Rata-rata keseluruhan
3.53
Sumber: Olahan Tim Pengabdian, 2026
Berdasarkan data pada Tabel 1, secara keseluruhan rata-rata pencapaian
keterampilan peserta berada pada kategori Sangat Terampil (88,25%). Capaian
tertinggi diperoleh pada aspek Mutu Organoleptik Produk (93,0%) dan
Pengemasan dan Pelabelan (89,0%). Hal ini membuktikan bahwa para ibu
peternak mampu menyerap instruksi teknis secara cepat serta berhasil
menghasilkan olahan susu rasa buah dalam kemasan gelas plastik berlabel serta
pie susu dengan kualitas rasa, aroma, dan tampilan visual yang memenuhi
kriteria layak jual.
4. Tahap Pasca-Pelaksanaan (Post-Implementation Phase)
Tahap pasca-pelaksanaan dilakukan untuk memastikan keberlanjutan
dampak (sustainability) serta mengevaluasi secara menyeluruh seluruh proses
intervensi yang telah dijalankan. Tahapan ini mencakup tiga kegiatan utama:
a. Diskusi Refleksi Kelompok (Participatory Reflection & Feedback):
Tim pengabdi bersama peserta mengadakan sesi diskusi reflektif pasca-
pelatihan untuk menggali umpan balik (feedback) langsung dari para ibu
peternak. Hasil diskusi menunjukkan bahwa peserta merasa sangat terbantu
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 42
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dengan metode demonstrasi langsung, terutama dalam mengatasi rasa
ketakutan gagal saat pembuatan kue pie susu dan pencampuran varian rasa
susu. Peserta juga secara terbuka menyampaikan kendala praktis yang
dihadapi, seperti keterbatasan alat pengolahan rumahan dan penyesuaian
waktu produksi di tengah rutinitas harian membantu usaha peternakan
keluarga.
b. Evaluasi Partisipatif Ketercapaian & Kualitas Produk:
Evaluasi dilakukan secara bersama-sama antara tim pengabdi dan peserta
terhadap hasil akhir produk yang dibuat. Aspek yang dievaluasi meliputi
daya simpan susu dalam kemasan gelas plastik (plastic cup), kerapian
penyegelan (sealing), estetika penempelan stiker label, serta pengujian
organoleptik (rasa, warna, tekstur vla, dan aroma). Hasil evaluasi partisipatif
mencatat bahwa produk susu rasa buah dan pie susu yang dihasilkan peserta
telah memenuhi kriteria kelayakan visual dan rasa untuk dipasarkan di skala
lokal.
c. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL):
Sebagai langkah konkret keberlanjutan program, tim bersama mitra
menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL). RTL difokuskan pada dua agenda
utama: (1) pembentukan konsistensi produksi mandiri atau berkelompok di
tingkat RT/RW untuk menyuplai warung-warung lokal di sekitar objek
wisata Cangkringan, dan (2) inisiasi pengajuan legalitas izin edar P-IRT
secara bertahap guna meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap
keamanan produk olahan mitra.
5. Pembahasan Dampak dan Evaluasi Perubahan Kondisi Mitra
Pelaksanaan program pengabdian ini memberikan dampak perubahan nyata
pada kondisi mitra, baik dari aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill), maupun orientasi wirausaha (entrepreneurial mindset). Perubahan kondisi
mitra sebelum dan sesudah kegiatan pengabdian dirangkum pada Tabel 2.
Tabel 2. Matriks Perubahan Kondisi Mitra Sebelum dan Sesudah
Kegiatan Pengabdian
Aspek Evaluasi
Kondisi Sebelum Kegiatan
Kondisi Sesudah Kegiatan
Pemanfaatan
Susu
Susu segar hanya dijual mentah
(raw milk) ke pengepul/koperasi
dengan harga rendah.
Mampu mengolah susu segar
menjadi produk bernilai tambah
(value-added) berupa susu buah
dan pie susu.
Keterampilan
Teknis
Belum menguasai teknik
pasteurisasi yang benar dan
pengolahan pangan bernilai
jual.
Memiliki keterampilan mandiri
(90,25% sangat terampil) dalam
mengolah, mengemas, dan
mengatur resep.
Standar
Higienitas
Pengolahan susu di tingkat
rumah tangga masih secara
konvensional tanpa standar
sanitasi ketat.
Menerapkan prinsip Good
Manufacturing Practices
sederhana (pemakaian celemek,
masker, sterilisasi wadah).
Orientasi Pasar
Terisolasi dari rantai ekonomi
pariwisata di sekitar Desa
Tumbuh kesadaran dan minat
berwirausaha untuk memasuk
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 43
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Kepuharjo.
produk oleh-oleh ke kios
UMKM kawasan wisata sekitar.
Sumber: Olahan Tim Pengabdian, 2026
Melalui Diskusi Refleksi Kelompok (Participatory Reflection) di akhir kegiatan,
terungkap bahwa program ini berhasil membuka wawasan para ibu peternak
mengenai potensi rantai nilai (value chain) dari komoditas susu. Peserta
menyadari bahwa dengan mengolah susu segar menjadi pie susu dan susu rasa
buah, marjin keuntungan yang diperoleh dapat meningkat hingga 23 kali lipat
dibandingkan hanya menjual susu segar mentah.
Gambar 3. Diskusi Refleksi Kelompok
Sumber: Dokumentasi pelaksanaan kegiatan
Selain itu, posisi strategis Desa Kepuharjo yang dikelilingi destinasi wisata
unggulan (seperti The Lost World Castle dan The Nice Playland) kini dipandang
sebagai peluang pasar yang konkrit. Para peserta mulai merencanakan
pembentukan unit usaha bersama berbasis kelompok wanita tani/peternak
untuk memasok produk olahan secara rutin ke kios-kios souvenir dan kuliner di
kawasan wisata tersebut.
Secara keseluruhan, integrasi antara pelatihan teknis, pendekatan partisipatif
PRA, dan pemanfaatan potensi pariwisata lokal terbukti efektif dalam
mendorong women's economic empowerment. Perempuan peternak tidak lagi
hanya berperan sebagai tenaga pendukung di kandang, tetapi bertransformasi
menjadi aktor ekonomi produktif yang mampu memberikan kontribusi nyata
bagi pendapatan dan ketahanan ekonomi keluarga secara mandiri dan
berkelanjutan.
Hasil pelaksanaan program pengabdian ini menunjukkan bahwa ibu-ibu
peternak di Desa Kepuharjo berhasil memperoleh peningkatan pengetahuan dan
keterampilan teknis yang signifikan dalam mengolah susu sapi segar menjadi
produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi (value-added). Selain penguasaan teknis
produksi, peserta kini memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai
pentingnya inovasi varian rasa, kebersihan pengolahan, serta pengemasan gelas
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 44
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
plastik yang rapi dan berlabel sebagai elemen kunci untuk meningkatkan daya saing
produk di pasar. Diversifikasi susu segar menjadi pie susu dan susu rasa buah tidak
hanya memberikan alternatif lini usaha baru yang berpotensi meningkatkan
pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperkuat peran strategis perempuan
(women's economic empowerment) dalam menggerakkan ekonomi lokal berbasis
potensi pariwisata kawasan Cangkringan. Ke depan, model intervensi berbasis
pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat direplikasi secara berkelanjutan guna
mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan di sekitar kawasan lereng
Merapi.
Temuan peningkatan keterampilan dan diversifikasi olahan susu dalam
program ini sejalan dengan hasil pengabdian Nurlina et al., (2026) pada Kelompok
Wanita Tani Ternak (KWT) di Sumedang, yang menunjukkan bahwa pengolahan
susu menjadi produk bernilai tambah (seperti yoghurt) dapat meningkatkan nilai
jual susu hingga 23 kali lipat dibandingkan penjualan susu segar ke koperasi. Lebih
lanjut, sejalan dengan analisis Aiman et al., (2025) mengenai program pemberdayaan
perempuan peternak Kartini Peternak Indonesia di Pangalengan, keterlibatan aktif
perempuan peternak dalam diversifikasi usaha terbukti tidak hanya memperluas
sumber pendapatan rumah tangga, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan
kemandirian ekonomi perempuan di subsektor peternakan. Meskipun demikian,
terdapat tantangan serupa yang diidentifikasi oleh Nurlina et al. (2026), yaitu adanya
keterbatasan modal peralatan pendingin serta komitmen kewajiban setor susu segar
ke koperasi. Dalam konteks mitra di Cangkringan, tantangan ini diantisipasi melalui
strategi produksi berbasis kemasan plastic cup yang praktis, efisien, dan langsung
menyasar segmen wisatawan lokal secara cepat tanpa memerlukan penyimpanan
dingin berjangka panjang.
Simpulan dan Rekomendasi
Program pengabdian kepada masyarakat melalui diversifikasi produk olahan
susu di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, telah
terlaksana dengan baik dan berhasil mencapai tujuannya. Berdasarkan hasil
pelaksanaan dan evaluasi kegiatan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Peningkatan Keterampilan Teknis: Program pelatihan dan demonstrasi interaktif
berhasil meningkatkan keterampilan teknis serta pemahaman ibu-ibu peternak
dan pelaku UMKM dalam mengolah susu segar menjadi produk bernilai tambah
(value-added), yaitu susu varian rasa buah dalam kemasan gelas plastik rapi
berlabel serta kue pie susu dengan kategori kinerja Sangat Terampil (rerata
88,25%).
2. Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Kegiatan pemberdayaan ini efektif
mengoptimalkan potensi ekonomi rumah tangga, membuka peluang usaha
mandiri, serta memperkuat peran strategis perempuan dalam mendukung
perekonomian keluarga peternak di kawasan wisata lereng Merapi.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 45
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Berdasarkan evaluasi dinamika kegiatan di lapangan, beberapa rekomendasi
yang diajukan untuk keberlanjutan program meliputi:
1. Pengembangan Pemasaran Digital dan Legalitas Usaha: Perlu adanya
pendampingan lanjutan mengenai strategi pemasaran digital (digital marketing)
serta pengurusan legalitas dasar seperti P-IRT. Langkah ini penting untuk
memperluas jangkauan pasar produk mitra, tidak hanya terbatas pada wisatawan
lokal di sekitar objek wisata Cangkringan tetapi juga menyasar pasar yang lebih
luas.
2. Inovasi Produk dan Kemandirian Kelompok: Kelompok mitra diharapkan dapat
terus mengembangkan inovasi varian rasa, mempertahankan konsistensi mutu
organoleptik, serta menerapkan standar higienitas pengolahan secara konsisten
guna menjamin keberlanjutan dan kemandirian usaha skala rumah tangga (home-
based industry).
Penghargaan
Apresiasi kepada Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo yang telan memberi
dukungan untuk terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat, Pemerintah Desa
Kepuharjo, serta kelompok ibu-ibu mitra di Kepuharjo, Cangkringan atas partisipasi
dan kerjasamanya.
Daftar Pustaka
Aiman, R. Y. M., Mauludin, M. A., & Sulistyati, M. (2025). Analisis Pemberdayaan
Perempuan Peternak Sapi Perah dalam Program Kartini Peternak Indonesia di
Wilayah Kerja KPBS Pangalengan. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran
Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 11(2), 17081714.
Amani, Z. N., Ramadhan, I., Effendy, M. W., Khansa, S. I., Pasha, A. F., Aryadapta, R.
S., Putra, H. B. P., & Auralia, M. (2025). Diversifikasi Produk Olahan Susu
Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi KTT Rejeki Lumintu. Jurnal GEMBIRA
(Pengabdian Kepada Masyarakat), 3(2), 739751.
Anggraeni, N. D., & Gunawan, G. (2024). Kelembagaan Ekonomi Baru Petani-
Peternak Pasca Erupsi Merapi 2010. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 13(2),
300312. https://doi.org/10.23887/jish.v13i2.76147
Chambers, R. (2017). Can We Know Better? PRACTICAL ACTION PUBLISHING.
https://doi.org/10.3362/9781780449449
Kustiandi, J., Jaelani, M. I., Khumairoh, N., Pakpahan, N., Qomariyah, N., Azizah, R.
N., & Hafidzoh, S. A. (2020). Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Melalui
Pelatihan Diferensiasi Produk Olahan Susu Sapi Desa Ngembal. Jurnal Graha
Pengabdian, 2(3), 242249.
Lananinggar, F. (2024). Analisis struktur, perilaku, dan kinerja usaha peternakan sapi perah
rakyat di Kabupaten Sleman. Universitas Gadjah Mada.
Landy, S., Rabbana, M. A., Khasanah, E. U., Aji, J. M. M., & Prasetyo, A. A. (2025).
Strategi Diversifikasi Produk Sebagai Upaya Meningkatkan Penjualan Susu
Sapi Rembangan. Jumat Pertanian: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6(2), 102110.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 34-46
E-ISSN: 3047-2474 (online) 46
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Nareswari, A. K., Azkia, N. N., Pramesti, N. A., & Ningrum, N. K. (2025).
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Pengolahan Susu Sapi Bernilai
Tambah di Desa Nogosaren. Abdimasku, 8(3), 11011110.
Nurlina, L., Sulistiyati, M., Yunasaf, U., Alim, S., & Mauludin, M. A. (2026).
Pemberdayaan Perempuan Anggota Kelompok Wanita Tani Ternak Melalui
Peningkatan Nilai Tambah Produk Olahan Susu (Yoghurt) dalam Upaya
Peningkatan Ketahanan Pangan. Abdimas Galuh, 8(1), 852858.
Putri, A. D., & Ramadhan, I. (2026). Optimalisasi Potensi Susu Sapi melalui
Diversifikasi Produk Olahan pada Peternak Dusun Banyudono Desa Gedong.
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(2), 14141424.
https://doi.org/10.31949/jb.v7i2.17804
Supartini, N., Kgs, A., Sumarno, & Windiarti, M. (2022). Pelatihan dan
Pendampingan Pengolahan Susu Pasteurisasi pada Kelompok Peternak Sapi
Perah Langgeng Mulyo Desa Ngenep. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat),
7(2), 942949. https://doi.org/10.21067/jpm.v7i2.6868