PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
61
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa Wisata Taman
Seribu Bunga Raya, Berastagi
Najwa Humairah
Politeknik Pariwisata Medan, Destinasi Pariwisata
nhumairah0701@gmail.com
*
Corresponding Author: nhumairah0701@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Februari 2026
Direvisi: 13 April 2026
Disetujui: 26 Mei 2026
Tersedia Daring: 1 Juni 2026
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan fasilitas wisata di
Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya, Berastagi, berdasarkan
pendekatan POAC terhadap fasilitas utama, fasilitas pendukung, dan
fasilitas penunjang menurut teori Spillane. Penelitian ini dilator belakangi
oleh masih ditemukannya beberapa permasalahan fasilitas wisata, seperti
toilet yang kurang terawat, gazebo yang mengalami kerusakan, rumah
makan yang tidak lagi beroperasi, serta pengelolaan kebersihan yang
belum optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan
kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengelolaan fasilitas wisata secara umum telah berjalan cukup baik,
khususnya pada taman bunga sebagai daya tarik utama wisata. Namun,
masih terdapat kendala dalam pengelolaan fasilitas, seperti keterbatasan
sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, serta pemeliharaan fasilitas
yang belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan fasilitas yang
lebih terarah dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas destinasi
wisata serta kenyamanan wisatawan di Desa Wisata Taman Seribu Bunga
Raya.
Kata Kunci:
Pengelolaan
Fasilitas Wisata
Pengelolaan Fasilitas
Desa Wisata
POAC
ABSTRACT
Keywords:
Management
Tourism facilities
Facilities Management
Tourism Village
POAC
This study aims to analyze the management of tourism facilities in the Taman
Seribu Bunga Raya Tourism Village, Berastagi, using the POAC approach to
examine primary facilities, supporting facilities, and auxiliary facilities
according to Spillane’s theory. This study was motivated by the continued
existence of several tourism facility issues, such as poorly maintained
restrooms, damaged gazebos, restaurants that are no longer in operation, and
suboptimal sanitation management. The research method employed was a
descriptive qualitative approach using data collection techniques including
observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate
that the management of tourism facilities has generally been quite effective,
particularly regarding the flower garden as the main tourist attraction.
However, there are still challenges in facility management, such as limited
human resources, budget constraints, and suboptimal facility maintenance.
Therefore, more targeted and sustainable facility management is required to
enhance the quality of the tourism destination and improve visitor comfort in
the Taman Seribu Bunga Raya Tourism Village.
©2026, Najwa Humairah
This is an open access article under CC BY-SA license
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
62
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
1. Pendahuluan
Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional karena
mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja,
serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Dalam konteks pembangunan daerah,
pengembangan desa wisata menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk mendorong
partisipasi masyarakat secara langsung dalam aktivitas ekonomi berbasis potensi lokal.
Menurut Inskeep, 1991 dalam (Gautama et al., 2020) Desa wisata adalah salah satu bentuk
kegiatan pariwisata di mana sekelompok kecil wisatawan menetap di dalam atau di sekitar
lingkungan desa tradisional maupun daerah terpencil, dengan tujuan untuk mengenal,
mempelajari, serta merasakan secara langsung kehidupan masyarakat desa beserta kondisi
lingkungan setempat. Menurut (Zakaria & Suprihardjo, 2014) menjelaskan bahwa desa wisata
merupakan bentuk integrasi antara atraksi, fasilitas, aksesibilitas, dan kehidupan masyarakat
lokal yang dikelola secara partisipatif dan berkelanjutan. Keberadaan fasilitas wisata yang
memadai menjadi komponen penting dalam mendukung kualitas pengalaman wisatawan dan
daya saing destinasi.
Di Kabupaten Karo, khususnya kawasan Berastagi, pengembangan desa wisata berbasis
potensi alam dan pertanian berkembang cukup pesat. Salah satu desa wisata yang menjadi
perhatian adalah Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya yang menawarkan panorama alam
serta hamparan aneka bunga sebagai daya tarik utama. Keunggulan visual dan keindahan
lanskap tersebut menjadi modal dasar dalam menarik wisatawan domestik. Menurut (Putra,
2023) pengembangan sektor pariwisata merupakan langkah strategis dalam mewujudkan
pariwisata berkelanjutan, karena pertumbuhan destinasi wisata mampu memberikan kontribusi
signifikan terhadap perekonomian. Keberhasilan pengembangan desa wisata umumnya
didukung oleh ketersediaan fasilitas yang memadai, seperti infrastruktur dasar, pusat informasi,
serta berbagai sarana pendukung lainnya yang dirancang dengan prinsip ramah lingkungan.
Namun demikian, keberhasilan suatu desa wisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik alam
semata, melainkan juga oleh kualitas pengelolaan fasilitas pendukung seperti toilet umum, area
parkir, gazebo, pusat informasi, spot swafoto, tempat sampah, serta sarana keselamatan dan
kebersihan.
Fasilitas wisata menurut (Nurmala dkk, 2022) merupakan segala bentuk sarana yang
disediakan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan serta memberikan kenyamanan dan
kemudahan selama melakukan kegiatan wisata hingga tiba di destinasi tujuan. Unsur-unsur
fasilitas wisata meliputi transportasi, akomodasi, penyediaan makanan dan minuman, serta
berbagai fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan (Nesha, 2023) dan (Destiana Putri, 2022),
menyatakan standar fasilitas wisata menekankan pentingnya aspek kebersihan, ketersediaan air
bersih, pencahayaan yang memadai, sirkulasi udara yang baik, serta kelayakan fasilitas umum,
termasuk toilet yang terpisah dan ramah bagi penyandang disabilitas. Standar tersebut menjadi
indikator penting dalam menciptakan kenyamanan, keamanan, dan kepuasan wisatawan selama
berkunjung ke suatu destinasi wisata. Keberadaan fasilitas yang memadai, bersih, dan terawat
juga berperan dalam meningkatkan kualitas destinasi serta membangun citra positif desa wisata
di mata wisatawan.
Namun, apabila dikaitkan dengan kondisi fasilitas toilet di Desa Wisata Taman Seribu
Bunga Raya, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian dengan standar fasilitas wisata
tersebut. Lokasi toilet yang berada di lahan miring sehingga berpotensi membahayakan
keselamatan pengunjung, ketersediaan air pada fasilitas toilet tergolong jernih dan dingin,
namun sistem pengaliran air masih belum mengalir secara optimal, bak air yang kurang bersih,
serta pintu kamar mandi yang rusak. Kondisi tersebut tidak sejalan dengan standar fasilitas
wisata yang mengharuskan toilet dalam keadaan bersih, memiliki air mengalir yang cukup,
pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik, serta sarana yang aman dan layak digunakan.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
63
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
Terdapat beberapa fasilitas lain yang tersedia, seperti gazebo, dan mushola, restoran,
parkiran, masih berada dalam kondisi yang kurang terawat serta memerlukan perbaikan. Selain
itu, pengelolaan kebersihan dan pemeliharaan fasilitas belum dilakukan secara optimal
sehingga memengaruhi tingkat kenyamanan wisatawan. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek
kebersihan, kenyamanan, dan kelayakan fasilitas belum sepenuhnya memenuhi standar
pelayanan wisata yang baik.
Sedangkan menurut Spillance (1994) dalam (Trilokantara, 2025) Fasilitas Wisata
merupakan segala bentuk sarana dan prasarana yang berfungsi untuk menunjang operasional
suatu objek wisata dalam memenuhi kebutuhan wisatawan. Keberadaan fasilitas ini tidak
secara langsung mendorong pertumbuhan pariwisata, tetapi berkembang seiring dengan atau
setelah berkembangnya atraksi wisata. Berdasarkan teori Spillance yang dikutip dalam Muklas
(2008), fasilitas wisata dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Fasilitas utama, yaitu sarana yang sangat penting dan dibutuhkan oleh wisatawan
selama berada di objek wisata.
2. Fasilitas pendukung, yaitu sarana yang melengkapi fasilitas utama sehingga dapat
meningkatkan kenyamanan dan membuat wisatawan merasa lebih betah.
3. Fasilitas penunjang, yaitu sarana tambahan yang berfungsi melengkapi kebutuhan
wisatawan secara keseluruhan selama berkunjung ke objek wisata
Dalam menganalisis pengelolaan ketiga kategori fasilitas wisata tersebut secara lebih
mendalam, (Adria, 2023) menjelaskan Pengelolaan daya tarik wisata memerlukan pengelolaan
fasilitas yang baik agar dapat mendukung kenyamanan dan kepuasan wisatawan. Pengelolaan
tersebut dapat analisis melalui fungsi manajemen yang meliputi POAC yang dikemukakan oleh
Terry (1977), yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating
(pelaksanaan), dan controlling (pengawasan). Planning merupakan tahap penentuan tujuan dan
strategi pengelolaan fasilitas, organizing berkaitan dengan pembagian tugas dan pengelolaan
sumber daya, actuating merupakan tahap pelaksanaan program yang telah direncanakan,
sedangkan controlling dilakukan untuk memastikan pengelolaan fasilitas berjalan sesuai tujuan
yang telah ditetapkan.
Berdasarkan kondisi tersebut, pengelolaan fasilitas wisata di Desa Wisata Taman Seribu
Bunga Raya perlu dianalisis lebih mendalam agar diketahui bagaimana proses pengelolaan
fasilitas dilakukan serta upaya yang dilakukan pengelola dalam meningkatkan kualitas
fasilitas wisata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan
fasilitas wisata di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya dengan menggunakan pendekatan
POAC sebagai kerangka analisis terhadap tiga kategori fasilitas wisata menurut teori
Spillance, yaitu fasilitas utama, fasilitas pendukung, dan fasilitas penunjang.
2. Metode
Menurut (Sugiyono, 2019) penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti kondisi objek yang bersifat alamiah, berbeda dengan penelitian
eksperimen. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama, sedangkan
analisis data dilakukan secara induktif atau kualitatif. Hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan pada pemahaman makna dibandingkan dengan generalisasi. Dalam Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami secara
mendalam fenomena pengelolaan fasilitas wisata berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan secara sistematis dan faktual mengenai
kondisi fasilitas, sistem pengelolaan, serta permasalahan yang terjadi di Desa Wisata Taman
Seribu Bunga Raya, Berastagi.
Penelitian dilaksanakan di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, dengan pertimbangan masih adanya permasalahan dalam pengelolaan fasilitas
yang belum optimal, seperti kondisi fasilitas yang kurang terawat dan belum memenuhi
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
64
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
kenyamanan wisatawan. Subjek penelitian adalah pihak yang terlibat langsung dalam
pengelolaan wisata, yaitu pengelola/pekerja Taman Seribu Bunga Raya, pihak BUMDes, serta
sekretaris kepala desa. Objek penelitian adalah pengelolaan fasilitas wisata yang meliputi
kondisi, ketersediaan, dan pemeliharaan fasilitas seperti toilet, mushola, area parkir, gazebo,
dan fasilitas pendukung lainnya.
Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui
observasi dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari jurnal, buku, dan dokumen
terkait. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik triangulasi
dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak pengelola serta Bumdes taman
seribu bunga raya, fasilitas yang tersedia mencakup, toilet umum, mushola, area parkir, gazebo,
rumah makan, tempat sampah, serta tersedia juga spot foto dan taman bunga yang menjadi
daya tarik wisata.
3.1 Fasilitas Utama
a. Taman Bunga,
Taman bunga merupakan fasilitas utama sekaligus menjadi daya tarik utama di Desa
Wisata Taman Seribu Bunga Raya. Keberadaan taman bunga memiliki peranan
penting dalam menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Desa Wisata Taman
Seribu Bunga Raya memiliki taman bunga sebagai fasilitas utama dan daya tarik
utamanya. Taman ini memiliki berbagai jenis bunga dengan berbagai warna dan
bentuk, menciptakan suasana yang indah dan menarik bagi wisatawan. Di beberapa
lokasi wisata, penataan taman bunga dilakukan untuk memberi pengunjung
kesempatan untuk menikmati pemandangan alam sekaligus membuat tempat untuk
berfoto. Tempat wisata ini memberikan pengalaman wisata dengan kesejukan alam
yang diberikan kepada pengunjung.
b. Gazebo
Gazebo merupakan salah satu fasilitas yang terdapat di Taman Seribu Bunga Raya
yang digunakan oleh pengunjung untuk bersantai sambil menikmati suasana taman
bunga. Keberadaan fasilitas ini membantu meningkatkan kenyamanan wisatawan,
terutama bagi pengunjung yang datang bersama keluarga atau menghabiskan waktu
lebih lama di lokasi wisata. Selain sebagai tempat beristirahat, gazebo juga
dimanfaatkan oleh wisatawan untuk menikmati makanan dan minuman selama berada
di kawasan wisata.
Gambar 1. Gazebo
Sumber: Dokumen Pribadi
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
65
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
c. Area Parkir
Area parkir di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya membantu pengunjung
menyimpan kendaraan mereka dengan aman dan nyaman. Area parkir juga membantu
aktivitas wisata berjalan lancar, sehingga kendaraan pengunjung dapat tertata dengan
baik selama berada di lokasi wisata.
Gambar 4. Area Parkir
Sumber: Dokumen Pribadi
3.2 Fasilitas Pendukung
a. Toilet,
Toilet merupakan kebutuhan dasar wisatawan selama berada di kawasan wisata,
tersedia fasilitas toilet umum yang dapat digunakan oleh para pengunjung. Namun,
berdasarkan hasil penelitian, kondisi toilet masih memerlukan peningkatan, terutama
dalam aspek kebersihan dan perawatan, agar dapat memberikan kenyamanan yang
lebih optimal bagi wisatawan.
Gambar 2. Kondisi Toilet
Sumber: Dokumen Pribadi
b. Rumah Makan,
Merupakan fasilitas pendukung yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
wisatawan. Keberadaan rumah makan juga dapat mendukung aktivitas wisata karena
memungkinkan pengunjung untuk menghabiskan waktu lebih lama di lokasi wisata.
Namun, berdasarkan kondisi saat ini, rumah makan yang sebelumnya tersedia di
kawasan Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya sudah tidak lagi beroperasi.
Bangunan rumah makan terlihat kurang terawat dan tidak dimanfaatkan sebagaimana
mestinya.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
66
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
Gambar 3. Rumah Makan
Sumber: Dokumen Pribadi
3.3 Fasilitas Penunjang
a. Tempat Sampah
Tempat sampah telah tersedia di beberapa titik kawasan Taman Seribu Bunga Raya
untuk mendukung kebersihan lingkungan wisata. Namun, berdasarkan hasil observasi,
masih ditemukan kumpulan sampah di beberapa area taman. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa pengelolaan kebersihan dan kesadaran pengunjung terhadap
pembuangan sampah pada tempatnya masih perlu ditingkatkan agar lingkungan wisata
tetap bersih dan nyaman.
b. Mushola
Mushola merupakan salah satu fasilitas penunjang yang tersedia di taman seribu
bunga raya untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Berdasarkan hasil obervasi,
kondisi mushola masih memerlukan peningkatan, terutama dalam aspek kebersihan
dan kenyamanan, agar dapat memberikan fasilitas yang lebih layak bagi pengunjung
selama berada di lokasi wisata.
Gambar 4. Mushola
Sumber: Dokumen Pribadi
Berdasarkan hasil penelitian mengenai 3 kategori fasilitas menurut Spillance (1994),
dapat diketahui bahwa setiap fasilitas memiliki peranan penting dalam mendukung
kenyamanan dan kepuasan wisatawan selama berkunjung. Menurut Putra (2023),
pengembangan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan infrastruktur dasar dan fasilitas
pendukung yang layak serta dikelola dengan prinsip ramah lingkungan. Oleh karena itu,
pengelolaan fasilitas wisata menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan
desa wisata. Pengelolaan fasilitas yang baik tidak hanya berkaitan dengan penyediaan sarana,
tetapi juga mencakup proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan
agar fasilitas dapat dimanfaatkan secara optimal oleh wisatawan.Kondisi fasilitas yang tersedia
di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya menunjukkan bahwa beberapa fasilitas telah
berfungsi dengan baik, namun masih terdapat fasilitas yang memerlukan perhatian dan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
67
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
pengelolaan lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini
menganalisis pengelolaan fasilitas wisata menggunakan pendekatan POAC (Planning,
Organizing, Actuating, dan Controlling) untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap fasilitas utama, fasilitas pendukung,
serta fasilitas penunjang di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya.
3.4 Pengelolaan fasilitas utama di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya
a. Perencanaan, berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan bahwa pengelola
merencanakan penataan taman bunga dengan menyesuaikan jenis tanaman, tata letak,
serta konsep visual yang menarik untuk wisatawan. Perencanaan ini dilakukan agar
taman tetap menjadi identitas utama destinasi wisata. Pada penelitian (Elisa Julianti,
2025) mengatakan Taman Seribu Bunga memiliki desain lanskap yang menarik dan
estetik, namun kondisi keindahan taman terkadang dipengaruhi oleh faktor cuaca serta
pemilihan jenis bunga yang ditanam. Gangguan lingkungan dan perbedaan fase
pertumbuhan tanaman menyebabkan beberapa area taman terlihat kurang optimal pada
waktu tertentu. Selain itu, setiap jenis bunga memiliki siklus hidup dan masa
pertumbuhan yang berbeda, sehingga pada fase vegetatif tertentu taman dapat
mengalami kondisi minim bunga yang sedang mekar. Berdasarkan hasil observasi,
taman bunga yang terdapat di lokasi wisata memiliki beragam jenis bunga dengan
penataan yang cukup baik dan menarik sehingga mampu menciptakan suasana yang
indah serta memberikan kesan estetis bagi para pengunjung, pengelola telah
merencanakan penataan bunga dilakukan dengan menyesuaikan jenis tanaman dan
konsep visual agar terlihat menarik bagi wisatawan. Selain itu, gazebo juga
direncanakan sebagai fasilitas tempat istirahat bagi pengunjung agar wisatawan dapat
menikmati suasana taman dengan nyaman. Namun hasil penelitian terhadap fasilitas
gazebo yang masih butuh perawatan agar memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa pengelola memiliki perencanaan
terhadap perbaikan gazebo dan proses pelaksanaan akan dilakukan setelah tahap
penanaman kembali selesai dilaksanakan.
b. Pengorganisasian, berdasarkan hasil penelitian pengelola membagi tugas kepada
tenaga kerja untuk melakukan penyiraman tanaman, pembersihan area taman, serta
pemeliharaan gazebo. Pembagian tugas dilakukan agar fasilitas utama tetap terawat
dan dapat digunakan oleh wisatawan dengan baik. Namun, berdasarkan hasil
wawancara, keterbatasan sumber daya manusia menyebabkan proses pengelolaan
belum berjalan secara maksimal. Saat ini, pengelolaan taman bunga di organisasikan
oleh bumdes, kepala desa, dan beberapa pengelola yang membantu dalam penanaman
kembali dan tata letak taman bunga.
c. Penggerakan, berdasarkan hasil penelitian tahap pergerakan bahwa pengelola Taman
Seribu Bunga Raya melakukan perawatan rutin terhadap taman bunga seperti
penyiraman tanaman, pembersihan area taman, dan penggantian bunga yang rusak.
Gazebo juga dibersihkan secara berkala agar tetap nyaman digunakan wisatawan.
terhadap perawatan taman bunga sudah berjalan dengan baik, proses replanting pada
saat ini juga sedang berjalan. Namun, waktu perawatan masih belum di tentukan serta
pengelola yang bekerja dalam proses penanaman kembali juga masih bergantung
dengan dana yang masuk untuk pembelian tanaman sehingga proses penanaman yang
sudah digerakan masih belum sepenuhnya dapat dilaksanakan dengan baik dan cepat.
d. Pengawasan, berdasarkan hasil penelitian terhadap pengawasan di taman bunga
diketahui bahwa pengelola melakukan pemantauan terhadap kondisi taman bunga dan
gazebo untuk memastikan fasilitas tetap dalam kondisi baik. Pengawasan dilakukan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
68
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
secara berkala, namun masih terdapat fasilitas gazebo yang belum mendapatkan
perawatan optimal sehingga memerlukan perhatian lebih lanjut.
3.5 Pengelolaan fasilitas pendukung di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya
a. Perencanaan. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola menyediakan fasilitas toilet,
rumah makan, dan mushola sebagai fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan
dasar wisatawan selama berada di lokasi wisata. Namun, kondisi beberapa fasilitas
pendukung masih memerlukan perhatian lebih lanjut. Rumah makan yang sebelumnya
tersedia saat ini sudah tidak beroperasi, sedangkan fasilitas toilet yang berada pada
area lahan miring menimbulkan rasa kurang nyaman bagi pengunjung. Selain itu,
berdasarkan hasil observasi, toilet memiliki ketersediaan air yang bersih dan jernih,
namun sistem aliran air masih belum berjalan secara optimal. Pengelola merencanakan
perawatan dan perbaikan fasilitas pendukung setelah proses perbaikan fasilitas utama
selesai dilaksanakan.
b. Pengorganisasian. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola membagi tugas kepada
tenaga kerja untuk menjaga kebersihan toilet, mushola, serta area rumah makan.
Pengorganisasian dilakukan agar setiap fasilitas dapat terpelihara dengan baik.
Namun, keterbatasan tenaga kerja menyebabkan pengelolaan fasilitas pendukung
belum dilakukan secara optimal.
c. Penggerakan. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola melakukan pembersihan toilet
dan mushola secara rutin serta menjaga rumah makan agar tetap dapat melayani
wisatawan. Berdasarkan observasi pengelola merencanakan perbaikan serta perawatan
terhadap fasilitas pendukung Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian, proses
perencanaan dan perbaikan fasilitas pendukung diperkirakan membutuhkan waktu
yang cukup lama karena memerlukan tenaga, biaya, dan perhatian lebih agar fasilitas
yang tersedia dapat memberikan kenyamanan serta keamanan bagi wisatawan.
d. Pengawasan. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola melakukan pengecekan terhadap
kondisi fasilitas pendukung secara berkala. Pengawasan saat ini dilakukan oleh pihak
pengelola bersama BUMDes untuk memastikan fasilitas tetap dapat digunakan oleh
wisatawan. Namun, pelaksanaan pengawasan tersebut masih belum berjalan secara
maksimal sehingga masih ditemukan beberapa fasilitas pendukung yang memerlukan
perbaikan dan perhatian lebih lanjut.
3.6 Pengelolaan fasilitas penunjang di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya
a. Perencanaan, berdasarkan hasil penelitian, pengelola menyediakan area parkir dan
tempat sampah sebagai fasilitas penunjang untuk mendukung kenyamanan dan
kebersihan lingkungan wisata. Penyediaan fasilitas ini dilakukan agar wisatawan dapat
menikmati aktivitas wisata dengan lebih nyaman. Perencanaan yang akan dilakukan
dengan mengatur area parkir agar menjadi lebih tertata dengan baik.
b. Pengorganisasian. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola membagi tugas kepada
tenaga kerja untuk menjaga kebersihan area wisata serta mengatur kendaraan
pengunjung di area parkir. Pengorganisasian dilakukan agar kondisi lingkungan wisata
tetap tertata dan bersih.
c. Penggerakan. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola belum melakukan penataan
kendaraan dan pembersihan area parkir secara berkala. Namun, Tempat sampah sudah
disediakan di beberapa titik area wisata untuk memudahkan pengunjung membuang
sampah pada tempatnya. Namun, berdasarkan hasil observasi, terdapat pengunjung
yang kurang sadar dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar sehingga masih
ditemukan sampah di beberapa titik di taman.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
69
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
d. Pengawasan. Berdasarkan hasil penelitian, pengelola melakukan pengawasan terhadap
kebersihan lingkungan dan kondisi area parkir. Akan tetapi, pengawasan terhadap
perilaku pengunjung dalam menjaga kebersihan masih perlu ditingkatkan agar
lingkungan wisata tetap bersih dan nyaman.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan yaitu menganalisis
pengelolaan fasilitas wisata di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya berdasarkan pendekatan
POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling) terhadap fasilitas utama, fasilitas
pendukung, dan fasilitas penunjang menurut teori Spillane. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pengelolaan fasilitas wisata di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya secara umum
telah berjalan cukup baik, khususnya pada fasilitas utama berupa taman bunga yang menjadi
daya tarik utama destinasi wisata. Pengelola telah melaksanakan fungsi perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap fasilitas yang tersedia. Meskipun
demikian, masih terdapat beberapa kendala dalam pengelolaan fasilitas wisata, seperti
keterbatasan sumber daya manusia, pemeliharaan fasilitas yang belum optimal, keterbatasan
anggaran, serta rendahnya kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan lingkungan
wisata.
Selain itu, beberapa fasilitas pendukung dan penunjang, seperti toilet, mushola, rumah
makan, area parkir, dan tempat sampah, masih memerlukan peningkatan dalam aspek
kebersihan, kenyamanan, penataan, serta perawatan agar dapat memberikan pelayanan yang
lebih optimal kepada wisatawan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan fasilitas wisata yang
lebih terarah dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas destinasi wisata serta mendukung
kenyamanan dan kepuasan pengunjung di Desa Wisata Taman Seribu Bunga Raya.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis pengelolaan fasilitas di Desa Wisata Taman
Seribu Bunga Raya, Berastagi, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan fasilitas wisata secara
umum telah berjalan cukup baik, namun masih belum optimal pada beberapa aspek. Fasilitas
wisata yang tersedia terdiri atas fasilitas utama, fasilitas pendukung, dan fasilitas penunjang
yang memiliki peranan penting dalam mendukung kenyamanan dan kepuasan wisatawan
selama berkunjung. Pada fasilitas utama, taman bunga menjadi daya tarik utama yang telah
dikelola dengan cukup baik melalui proses penataan, perawatan, dan pengawasan secara
berkala. Namun, fasilitas gazebo masih memerlukan perbaikan agar dapat memberikan
kenyamanan yang lebih baik bagi wisatawan. Pada fasilitas pendukung, toilet, rumah makan,
dan mushola telah tersedia untuk memenuhi kebutuhan dasar pengunjung, akan tetapi kondisi
beberapa fasilitas masih kurang optimal terutama dalam aspek kebersihan, pemeliharaan, dan
kenyamanan. Selain itu, rumah makan yang sebelumnya tersedia saat ini sudah tidak lagi
beroperasi sehingga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh wisatawan. Pada fasilitas
penunjang, area parkir dan tempat sampah telah tersedia untuk mendukung kenyamanan dan
kebersihan lingkungan wisata, namun pengelolaan area parkir masih memerlukan penataan
yang lebih baik serta kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan lingkungan masih perlu
ditingkatkan.
Berdasarkan analisis menggunakan pendekatan POAC (Planning, Organizing, Actuating,
dan Controlling), diketahui bahwa pengelola telah melakukan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengawasan terhadap fasilitas wisata yang tersedia. Akan tetapi, pelaksanaan
pengelolaan fasilitas masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan sumber daya
manusia, keterbatasan anggaran, kondisi cuaca, serta kurang optimalnya proses pengawasan
dan pemeliharaan fasilitas. Dengan demikian, pengelolaan fasilitas di Desa Wisata Taman
Seribu Bunga Raya masih memerlukan peningkatan, terutama dalam aspek kebersihan,
pemeliharaan, perbaikan fasilitas, serta pengawasan yang lebih optimal agar fasilitas wisata
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
70
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
dapat berfungsi dengan baik dan mampu memberikan kenyamanan serta kepuasan bagi
wisatawan. Selain itu, kerja sama antara pengelola, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat
juga perlu ditingkatkan guna mendukung pengelolaan destinasi wisata yang lebih baik dan
berkelanjutan.
5. Daftar Pustaka
Adria, A. D. (2023). Analisis Pengelolaan Fasilitas Wisata di Daya Tarik Kapalo Banda
Taram Kabupaten Lima Puluh Kota. 2(3), 3140.
Creswell, J. W. (2016). Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan
Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
DAVINKY, I. (2016). PENGELOLAAN FASILITAS OBJEK WISATA PEMANDIAN TIRTA
ALAMI KABUPATEN PADANG PARIAMAN.
Destiana Putri, N. R. S. (2022). Identifikasi ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana di
kawasan wisata kuliner pati.
Elisa Julianti, D. (2025). Pengembangan Dan Pengelolaan Agrowisata Taman Seribu Bunga
Desa Raya, Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo. 8(2). ]
Fanggidae, R. P., & Bere, S. M. (2020). Pengelolaan Fasilitas Wisata dalam Meningkatkan
Kepuasan Pengunjung.
Gautama, B. P., Yuliawati, A. K., Nurhayati, N. S., Fitriyani, E., Pratiwi, I. I., & Indonesia, U.
P. (2020). PENGEMBANGAN DESA WISATA MELALUI PENDEKATAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. 1(4), 355369.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (2021). Pedoman Pengelolaan Desa Wisata
Berkelanjutan. Jakarta
I Nyoman Sukadana Trilokantara, K. B., & Indrapati. (2025). PENGARUH FASILITAS
PARIWISATA TERHADAP KEPUASAN WISATAWAN BERKUNJUNG DI TAMAN
BUNGA SURANADI DESA SURANADI. 5(1), 205218.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods
sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
Mutiara, N. (2023). Optimalisasi fasilitas wisata di desa wisata kubu gadang.
Nesha, A. (2023). Standar Fasilitas Wisata dalam Mendukung Kenyamanan Pengunjung
Nurmala, Sullaida, D. (2022). PENGARUH FASILITAS WISATA, DAYA TARIK WISATA DAN
KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAN PENGUNJUNG WISATA PANTAI
UJONG BLANG LHOKSEUMAWE. 23(2), 7378.
Putu, I., Putra, & Permana. (2023). Perempuan dalam Pariwisata : Implementasi Kebijakan
Pengarusutamaan Gender pada pengelolaan Objek Wisata Tukad Bindu di Kota
Denpasar. 9(1), 8191.
Spillane, J. J. (2009). Ekonomi pariwisata sejarah dan prospeknya. Kanisius.
Sugiyono, P. D. (2019). METODE PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF, DAN R&D.
Terry, G. R. (2017). Principles of Management. New York: McGraw-Hill.
Trilokantara, I. N. S., & Indrapati. (2025). Pengaruh Fasilitas Pariwisata terhadap Kepuasan
Wisatawan Berkunjung di Taman Bunga Suranadi Desa Suranadi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 61-71
E-ISSN: 3047-2288
71
Najwa Humairah (Analisis Pengelolaan Fasilitas di Desa)
Yoeti, O. A. (2016). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Balai Pustaka.
Zakaria, F., & Suprihardjo, D. (2014). Konsep Pengembangan Kawasan Desa Wisata di Desa
Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. 3(2).