PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
72
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi Desa
Wisata Semen dan Desa Wisata Serang Kabupaten
Blitar
Nabilla Syahda Rahmawati
1
, Rachmawati Novaria
2
, Hasan Ismail
3
1,2,3
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Indonesia
1
nabillasyahda2401@gmail.com;
2
nova@untag-sby.ac.id;
3
hasanismail@untag-sby.ac.id
*
Corresponding Author
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Februari 2026
Direvisi: 13 April 2026
Disetujui: 26 Mei 2026
Tersedia Daring: 1 Juni 2026
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan karakteristik pengembangan desa
wisata di Kabupaten Blitar, khususnya antara Desa Wisata Semen yang berbasis
ekowisata pegunungan dan Desa Wisata Serang yang berbasis wisata pantai.
Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi dalam penerapan konsep 6A (Buhalis,
2000) yang belum terintegrasi secara optimal dalam pengelolaan destinasi wisata
berbasis masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan
membandingkan pengembangan potensi desa wisata berdasarkan enam komponen
6A, yaitu attraction, amenities, accessibility, activities, ancillary services, dan available
package. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif
komparatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi,
kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang
meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Desa Wisata Semen lebih menonjol pada ekowisata, edukasi,
dan paket wisata terintegrasi berbasis alam, sedangkan Desa Wisata Serang lebih
unggul pada wisata rekreasi keluarga, event budaya, dan atraksi pantai. Pada aspek
fasilitas, aksesibilitas, layanan pendukung, dan paket wisata, kedua desa memiliki
tingkat pengembangan yang berbeda namun saling melengkapi sesuai potensi lokal
masing masing. Implementasi konsep 6A pada kedua desa wisata telah berjalan,
namun dengan orientasi pengembangan yang berbeda sesuai karakteristik wilayah.
Desa Semen cenderung berbasis edukatif dan ekologi, sedangkan Desa Serang lebih
berorientasi pada rekreasi dan pengalaman wisata keluarga.
Kata Kunci:
Desa Wisata
Pengembangan Wisata
Studi Komparatif
Pariwisata Berkelanjutan
Kabupaten Blitar
ABSTRACT
Keywords:
Tourism Village
Tourism Development
Comparative Study
Sustainable Tourism
Blitar Regency
This study is motivated by differences in tourism village development patterns in Blitar
Regency, particularly between Semen Tourism Village, which is based on mountain
ecotourism, and Serang Tourism Village, which is based on coastal tourism. These
differences indicate variations in the implementation of the 6A concept (Buhalis, 2000),
which has not yet been fully integrated within community-based destination
management. The aim of this study is to analyze and compare tourism village
development based on the six components of 6A, namely attraction, amenities,
accessibility, activities, ancillary services, and available package. This research uses a
qualitative approach with a descriptive comparative method. Data were collected
through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the
interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data display,
and conclusion drawing. The results show that Semen Tourism Village is more focused
on ecotourism, educational activities, and integrated nature-based tourism packages,
while Serang Tourism Village emphasizes family recreation, cultural events, and coastal
attractions. In terms of facilities, accessibility, supporting services, and tourism
packages, both villages show different levels of development that complement each
other based on local potential. The implementation of the 6A concept in both tourism
villages has been carried out, but with different development orientations according to
local characteristics. Semen Village tends to be education and ecology oriented, while
Serang Village is more focused on recreational and family-based tourism experiences.
©2026, Nabilla Syahda Rahmawati, Rachmawati Novaria, Hasan Ismail
This is an open access article under CC BY-SA license
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
73
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
1. Pendahuluan
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang kaya akan potensi sumber daya
alam, adat istiadat, dan perkembangan intelektual. Kekayaan sumber daya alam dan
keanekaragaman budaya yang berlimpah tentu berpotensi untuk dijadikan objek wisata yang
menarik bagi wisatawan. Hal tersebut menjadi peran pemerintah untuk membangun dan
mengembangkan objek-objek wisata (Kurniawati et al., 2022). Dari perspektif pemerintah,
pariwisata merupakan bagian dari urusan pemerintah yang dikelola oleh pemerintah daerah,
dengan dukungan dari berbagai lembaga pemerintah, instansi swasta, serta fasilitas dan layanan
setempat.
Kabupaten Blitar menyimpan potensi wisata dan budaya yang sangat kaya. Daerah ini
memadukan pesona alam, sejarah, dan budaya secara harmonis. Keindahan alamnya terbentang
dari kawasan pantai, pegunungan, hingga pedesaan yang masih terjaga keasriannya. Kekayaan
yang beragam ini menjadikan Blitar sebagai tujuan wisata yang diminati baik oleh wisatawan
dalam negeri maupun luar negeri. Dari aspek kebudayaan, Kabupaten Blitar memiliki warisan
tradisi yang masih terjaga dan hidup dalam keseharian masyarakatnya. Aneka seni pertunjukan,
ritual adat, serta kerajinan khas daerah terus dijaga keberlangsungannya melalui kegiatan
komunitas lokal dan perhatian pemerintah setempat. Kuatnya identitas budaya yang dimiliki
menjadi keistimewaan tersendiri bagi daerah ini, sekaligus mencerminkan nilai-nilai historis dan
kearifan yang telah diwariskan turun-temurun.
Tabel 1 Data Pengunjung Wisata Kabupaten Blitar
Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Blitar
Desa Wisata Semen merupakan salah satu desa wisata yang terletak di Kecamatan
Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Desa wisata Semen adalah sebuah desa
wisata yang menggali kembali seluruh potensi kearifan lokalnya yang dimiliki dari tempo dulu
hingga hari ini dan kedepan. Pada tahap perencanaan pengembangan Desa Wisata Semen, Dinas
Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Blitar berperan dalam memberikan
pembinaan dan pendampingan kepada Pemerintah Desa Semen serta Kelompok Sadar Wisata
(Pokdarwis) sebagai pengelola utama desa wisata. Bentuk dukungan yang diberikan melalui
pengukuhan Pokdarwis Puspa Jagad (SK No. 556/212.1./409.103/2013) sebagai eksekutor utama
di lapangan, fasilitasi program, serta koordinasi lintas sektor yang mendukung pengembangan
desa wisata. Komunitas lokal yang tergabung dalam Pokdarwis dan kelompok masyarakat
lainnya berfokus pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan pemberdayaan
ekonomi desa.
Memasuki tahun 2017, pengembangan desa wisata ini mulai mendapatkan legalitas formal
seiring dengan terbitnya Peraturan Bupati Blitar Nomor 44 Tahun 2017 tentang Desa Wisata.
Dukungan regulasi ini memperkuat posisi Desa Semen dalam mengakses pembinaan dan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
74
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
bantuan promosi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar. Keberhasilan awal
dalam mengelola KWE Puspa Jagad kemudian diikuti dengan pengembangan Puncak
Sekawan pada tahun 2018, yang memanfaatkan tren media sosial untuk menarik kunjungan
wisatawan. Kondisi awal yang penuh keterbatasan tersebut berhasil diubah melalui konsistensi
tata kelola masyarakat hingga akhirnya Desa Semen mampu bertransformasi dari desa terpencil
menjadi percontohan nasional yang meraih penghargaan tertinggi di ajang ADWI 2022 (Jadesta
Kemenpar, n.d.)
Tabel 2 Jumlah Kunjungan Wisata Desa Semen Tahun 2022-2025
Sumber : Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Blitar
Jumlah pengunjung Desa Wisata Semen menunjukkan fluktuasi dalam kurun waktu 2023
2025. Pada tahun 2023, tingkat kunjungan masih relatif rendah dengan total 5.263 pengunjung,
disebabkan oleh fase awal pengembangan destinasi atau pengaruh pemulihan pasca pandemi.
Memasuki tahun 2024, jumlah pengunjung meningkat secara signifikan menjadi 22.489 orang.
Pada tahun 2025, kunjungan sedikit menurun menjadi 16.673 orang, namun tetap lebih tinggi
dibandingkan tahun 2023, menunjukkan bahwa Desa Wisata Semen tetap menjadi destinasi yang
diminati meskipun terjadi fluktuasi tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi
pengembangan Desa Wisata Semen yang perlu didukung melalui perencanaan dan pengelolaan
pariwisata yang lebih optimal.
Desa Wisata Serang berhasil meraih berbagai prestasi, termasuk menjadi pemenang
kategori Toilet Umum dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya desa dalam meningkatkan kualitas fasilitas umum, yang
sangat penting bagi kenyamanan wisatawan. Desa Serang dikenal memiliki pengelolaan yang
sangat baik, terutama dalam menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang kenyamanan
pengunjung. Misalnya, ketersediaan toilet yang bersih dan terawat di tempat-tempat wisata
menjadi salah satu faktor penentu yang membuat wisatawan merasa puas dan nyaman saat
berkunjung. Selain itu, kualitas layanan homestay, restoran, dan tempat parkir yang memadai
juga menunjang kenyamanan para wisatawan yang datang dari berbagai daerah.
Selain pengelolaan fasilitas yang prima, Desa Wisata Serang juga unggul dalam penyajian
keindahan alam yang mempesona. Desa ini terkenal dengan hamparan pantainya yang indah,
seperti Pantai Serang yang merupakan salah satu pantai yang paling banyak dikunjungi di Blitar.
Keindahan alam yang ditawarkan tidak hanya mencakup pantai, tetapi juga kekayaan alam
lainnya seperti Pantai Serit dan Goa Kedungkrombang yang memberikan pengalaman wisata
yang berbeda. Wisatawan dapat menikmati aktivitas seperti berjemur, bermain air, atau
menikmati sunset di tepi pantai. Selain itu, Desa Serang berkomitmen untuk menjaga
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
75
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
keberlanjutan alam dan budaya lokal. Masyarakat desa dilibatkan dalam pengelolaan pariwisata,
yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan mereka, tetapi juga melestarikan tradisi dan
kearifan lokal.
Tabel 3 Jumlah Kunjungan Wisata Desa Serang Tahun 2023-2025
Sumber : Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Blitar
Peningkatan jumlah wisatawan di Pantai Serang, Kabupaten Blitar, selama tahun 2023 dan
2024 merupakan hasil dari gabungan beberapa faktor, terutama terkait dengan pemulihan
pariwisata pasca-pandemi COVID-19. Setelah mengalami penurunan drastis akibat pembatasan
mobilitas antara tahun 2020 dan 2022, sektor wisata kembali bergairah seiring pelonggaran
aturan perjalanan dan hilangnya kekhawatiran publik. Lonjakan ini juga didorong oleh promosi
aktif dari pemerintah daerah dan pengelola lokal, yang memanfaatkan daya tarik utama pantai
berupa hamparan pasir putih yang indah dan fasilitas yang kian memadai, seperti penyewaan
ATV dan area santai di bawah pohon cemara laut. Momen libur nasional seperti Idul Fitri turut
menyumbang angka kunjungan tertinggi pada tahun 2024.
Dari kedua data desa wisata tersebut Kabupaten Blitar memiliki dua desa wisata dengan
karakteristik berbeda namun saling melengkapi dalam memperkuat daya tarik daerah, yaitu Desa
Wisata Semen dan Desa Wisata Serang. Desa Wisata Serang lebih unggul dari aspek jumlah
kunjungan wisatawan, kelengkapan fasilitas, dan daya tarik wisata pantai, sedangkan Desa
Wisata Semen menonjol pada konsep ekowisata berbasis masyarakat, pemanfaatan potensi alam
pegunungan, serta keberhasilan transformasi sosial-ekonomi masyarakat lokal. Perbedaan
tersebut menunjukkan bahwa setiap desa wisata memiliki strategi pengembangan yang khas
sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki.
Secara keseluruhan, pengembangan Desa Wisata Semen yang berbasis pada potensi ekologi,
sektor pertanian, dan kearifan budaya lokal menuntut adanya kerja sama yang solid antara
pemerintah, masyarakat setempat, serta pemangku kepentingan lainnya. Upaya mengatasi
berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan, disertai dengan penguatan peran masyarakat
dan koordinasi antar pemangku kepentingan, menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi desa
wisata tersebut. Dengan demikian, Desa Wisata Semen diharapkan mampu berkembang secara
lebih berkelanjutan, memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, serta
meningkatkan daya tariknya sebagai destinasi wisata di Kabupaten Blitar.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif komparatif
untuk menganalisis dan membandingkan pengembangan potensi desa wisata di Desa Wisata
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
76
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
Semen dan Desa Wisata Serang, Kabupaten Blitar. Pendekatan komparatif dipilih untuk
mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam pengelolaan pariwisata pada kedua desa
tersebut, sehingga peneliti dapat memperoleh pemahaman mendalam mengenai karakteristik
masing-masing lokasi serta faktor yang memengaruhi keberhasilan atau kendala dalam
pengembangan desa wisata (Sugiyono, n.d.). Penelitian kualitatif memungkinkan penggalian
informasi langsung dari informan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sehingga
diperoleh gambaran komprehensif mengenai kondisi nyata di lapangan. Fokus penelitian
difokuskan pada analisis komponen pengembangan pariwisata menurut konsep 6A, yaitu
Attraction, Amenities, Accessibility, Activities, Ancillary Services, dan Available Package
(Buhalis, 2000), untuk memahami perbedaan dan persamaan dalam pengelolaan potensi wisata
kedua desa.
Dokumen yang relevan, seperti peraturan perundang-undangan dan kebijakan terkait
pengembangan desa wisata, dokumen perencanaan daerah (RPJMD dan RIPPARDA), laporan
kegiatan pengelolaan desa wisata, data jumlah kunjungan wisata, foto kegiatan pariwisata, serta
arsip dan publikasi resmi dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Analisis data
menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup pengumpulan data, reduksi
data, penyajian data, serta verifikasi dan penarikan kesimpulan (Miles et al., n.d.). Proses
analisis ini memungkinkan peneliti menilai efektivitas pengembangan potensi wisata di kedua
desa, mengidentifikasi persamaan dan perbedaan, serta memberikan rekomendasi strategis bagi
pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat yang lebih optimal dan berkelanjutan.
3. Hasil dan Pembahasan
a. Attraction (Daya Tarik)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen attraction menjadi faktor utama dalam
pengembangan Desa Wisata Semen dan Desa Wisata Serang karena mencakup daya tarik alam,
budaya, dan atraksi buatan yang membentuk pengalaman wisata. Desa Wisata Semen
mengembangkan attraction berbasis ekowisata yang menggabungkan alam dan budaya. Daya
tarik utama meliputi Kawasan Ekologi Puspo Jagad dengan aktivitas edukasi seperti live in,
outbound, dan perkemahan, serta Arung Parang sebagai wisata petualangan. Attraction budaya
ditunjukkan melalui Kampung Budaya dengan kesenian jaranan, wayang, serta tradisi lokal.
Kampung Semai dan Puncak Sekawan juga menambah variasi wisata. Pengelolaan dilakukan
dengan melibatkan masyarakat dan prinsip keberlanjutan seperti TPS 3R.
Desa Wisata Serang mengembangkan attraction yang lebih beragam dengan kombinasi
wisata alam, budaya, dan atraksi buatan. Daya tarik alam meliputi Pantai Serang, Pantai Serit,
dan Goa Kedungkrombang, termasuk fenomena matahari terbenam sebagai daya tarik utama.
Atraksi buatan seperti camping ground, ATV, dan paket wisata keluarga memperkuat
pengalaman wisata. Attraction budaya meliputi tari barong penyu, jaranan, wayang wong, serta
tradisi larung sesaji yang didukung kegiatan rutin seperti Serang Culture Festival. Pengelolaan
juga didukung partisipasi masyarakat terutama UMKM. Perbandingan menunjukkan bahwa
Desa Semen lebih menekankan ekowisata dan edukasi berbasis alam, sedangkan Desa Serang
lebih berfokus pada rekreasi keluarga, event, dan atraksi buatan. Meski berbeda, keduanya
menunjukkan bahwa attraction merupakan komponen utama dalam menarik wisatawan dan
mendukung keberlanjutan destinasi.
b. Amenities (Fasilitas)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen amenities menjadi faktor pendukung
penting dalam meningkatkan kenyamanan wisatawan di Desa Wisata Semen dan Desa Wisata
Serang. Amenities mencakup fasilitas dasar seperti toilet, mushola, parkir, homestay, kuliner,
serta layanan pendukung lain yang menunjang pengalaman wisata. Desa Wisata Semen
memiliki fasilitas yang relatif lebih lengkap, terutama pada jumlah homestay yang mencapai
sekitar 100 unit dan sudah mengalami peningkatan kualitas. Fasilitas kuliner tersedia melalui
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
77
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
warung lokal, komunitas kuliner, dan pusat oleh-oleh yang dikelola UMKM. Sistem
pembayaran juga sudah mendukung transaksi non tunai melalui QRIS, transfer, dan BRILink.
Fasilitas dasar seperti toilet, mushola, dan area parkir tersedia di setiap destinasi, meskipun
beberapa lokasi masih sederhana dan parkir di Kampung Semai belum optimal. Pengelolaan
fasilitas melibatkan masyarakat lokal, namun pelatihan SDM belum merata di semua lokasi.
Desa Wisata Serang memiliki fasilitas dasar yang cukup lengkap seperti toilet, mushola,
homestay, area parkir, dan layanan kuliner di kawasan pantai. Terdapat tujuh homestay di
Pantai Serang dan satu di perkampungan, serta camping ground sebagai fasilitas pendukung
wisata. Namun, pusat oleh-oleh belum tersedia dan kualitas beberapa fasilitas seperti toilet
serta mushola milik warung masih dinilai kurang memadai. Area parkir juga terbatas untuk bus
besar di Goa Kedungkrombong. Di sisi lain, pelatihan SDM di Desa Serang dilakukan secara
rutin 1 sampai 2 kali per tahun oleh dinas terkait untuk mendukung pengelolaan wisata dan
UMKM. Perbandingan menunjukkan bahwa Desa Semen unggul dalam kelengkapan fasilitas
terutama homestay dan pusat oleh-oleh, sedangkan Desa Serang lebih menonjol pada
ketersediaan fasilitas dasar dan penguatan SDM melalui pelatihan rutin. Meskipun terdapat
perbedaan, kedua desa menunjukkan bahwa amenities berperan penting dalam mendukung
kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan destinasi wisata.
c. Acessibility (Aksesbilitas)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa accessibility menjadi komponen penting dalam
mendukung mobilitas wisatawan di Desa Wisata Semen dan Desa Wisata Serang. Aksesibilitas
mencakup kondisi jalan, transportasi, petunjuk arah, serta kemudahan mencapai destinasi
wisata. Desa Wisata Semen memiliki aksesibilitas yang relatif baik dengan kondisi jalan yang
sebagian besar dapat dilalui kendaraan besar. Namun, beberapa jalur menuju destinasi seperti
Puncak Sekawan belum dapat dilalui bus karena kondisi jalan perbukitan. Untuk mendukung
mobilitas wisatawan, tersedia layanan antar jemput dari stasiun menuju homestay atau destinasi
wisata melalui kerja sama dengan komunitas transportasi lokal. Selain itu, papan petunjuk arah
sudah tersedia dan terintegrasi dengan Google Maps. Pengembangan aksesibilitas juga
dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait dalam perencanaan infrastruktur desa.
Desa Wisata Serang juga memiliki aksesibilitas yang cukup, namun masih terdapat
beberapa keterbatasan. Jalan utama dapat dilalui bus, tetapi lebar jalan terbatas sehingga
kendaraan harus bergantian saat berpapasan. Beberapa destinasi seperti Goa Kedungkrombong
hanya dapat diakses kendaraan kecil seperti elf atau minibus. Petunjuk arah sudah tersedia,
tetapi sebagian wisatawan masih mengalami kesulitan dalam menemukan lokasi destinasi.
Upaya peningkatan aksesibilitas dilakukan melalui pengajuan pembangunan secara berkala
melalui Musrenbang karena kewenangan berada pada pemerintah kabupaten. Perbandingan
menunjukkan bahwa Desa Semen memiliki aksesibilitas yang lebih terintegrasi antara
infrastruktur jalan, transportasi, dan sistem informasi wisata. Sementara itu, Desa Serang masih
menghadapi keterbatasan pada lebar jalan, akses ke beberapa destinasi, serta kejelasan petunjuk
arah. Meskipun demikian, kedua desa telah menerapkan prinsip accessibility dalam konsep 6A,
dengan tingkat pengembangan yang berbeda.
d. Activity (Aktivitas)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa activities di Desa Wisata Semen dan Desa Wisata
Serang dipengaruhi oleh karakteristik attraction dan strategi pengelolaan masing masing desa.
Komponen ini mencakup seluruh aktivitas wisata yang bersifat edukatif, rekreatif, maupun
interaktif yang memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan. Desa Wisata Semen
mengembangkan activities berbasis ekowisata, edukasi, dan budaya. Aktivitas utama meliputi
live in, outbound, camping, dan LDKS di Kawasan Ekologi Puspo Jagad. Aktivitas
petualangan seperti arung jeram di Arung Parang serta glamping di Puncak Sekawan
memperkuat pengalaman wisata berbasis alam. Selain itu, kegiatan edukatif seperti
pembelajaran pertanian dan pengolahan produk lokal di Kampung Semai serta pelestarian
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
78
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
budaya di Kampung Budaya melalui gamelan dan jaranan menjadi bagian penting dalam
pengalaman wisata. Pengelolaan aktivitas juga melibatkan masyarakat dalam penyelenggaraan
dan pengawasan kegiatan.
Desa Wisata Serang mengembangkan activities dengan fokus pada rekreasi keluarga, atraksi
buatan, dan event budaya. Aktivitas yang tersedia meliputi ATV, camping di Cemara
EduCamp, outbound, family gathering, serta dinner sunset di kawasan Pantai Serang. Aktivitas
edukatif juga dilakukan melalui konservasi penyu dan pendampingan wisata di Goa
Kedungkrombong. Dari sisi budaya, tersedia pertunjukan tari barong penyu, jaranan, wayang
wong, serta tradisi larung sesaji yang diperkuat dengan Serang Culture Festival sebagai event
tahunan. Keterlibatan masyarakat cukup luas terutama melalui UMKM dan pengelolaan
kegiatan wisata. Perbandingan menunjukkan bahwa Desa Semen lebih menekankan activities
berbasis edukasi dan ekowisata yang bersifat terstruktur, sedangkan Desa Serang lebih
berfokus pada kegiatan rekreasi dan event wisata yang variatif. Meskipun berbeda, keduanya
menunjukkan bahwa activities menjadi komponen penting dalam menciptakan pengalaman
wisata yang interaktif dan berkelanjutan sesuai karakter masing masing destinasi.
e. Ancillary Service (Layanan Pendukung)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ancillary service berperan penting dalam mendukung
pengalaman wisata di Desa Wisata Semen dan Desa Wisata Serang sesuai dengan konsep 6A.
Komponen ini mencakup layanan pendukung seperti kesehatan, informasi wisata,
telekomunikasi, dan layanan transaksi yang membantu kelancaran aktivitas wisatawan. Desa
Wisata Semen memiliki layanan pendukung yang cukup baik melalui kolaborasi Dinas
Pariwisata, pemerintah desa, dan komunitas desa wisata lain. Dasar hukum pengelolaan wisata
telah ditetapkan melalui Perdes Nomor 6 Tahun 2016. Layanan informasi tersedia melalui
Tourist Information Center di kantor desa. Jaringan telekomunikasi tergolong stabil dan
mendukung aktivitas wisata. Layanan kesehatan tersedia melalui bidan desa dan P3K di masing
masing destinasi, sedangkan puskesmas berada di wilayah terdekat. Layanan keuangan
didukung oleh agen BRILink, meskipun ATM dan layanan pos belum tersedia di sekitar
kawasan wisata sehingga masih memerlukan akses ke luar desa.
Desa Wisata Serang juga memiliki layanan pendukung yang serupa, didukung oleh Perdes
sebagai dasar pengelolaan wisata. Layanan informasi tersedia melalui pos informasi wisata
yang dikelola petugas. Jaringan telekomunikasi umumnya baik, meskipun di beberapa lokasi
seperti Pantai Serit masih terbatas. Layanan kesehatan difasilitasi oleh bidan desa, sedangkan
puskesmas berada di kecamatan yang berjarak cukup jauh. Layanan transaksi digital tersedia
melalui BRILink, namun ATM dan layanan pos masih berada di luar kawasan wisata sehingga
wisatawan perlu mengakses fasilitas di kecamatan.Perbandingan menunjukkan bahwa Desa
Semen memiliki layanan pendukung yang lebih stabil dan terintegrasi, terutama pada informasi
wisata dan jaringan komunikasi. Sementara itu, Desa Serang masih menghadapi keterbatasan
pada pemerataan layanan seperti sinyal di beberapa lokasi dan akses layanan dasar. Meskipun
demikian, kedua desa telah menerapkan ancillary service sebagai bagian dari sistem 6A untuk
mendukung kenyamanan wisatawan, meskipun dengan tingkat pengembangan yang berbeda.
f. Avaiable Package (Paket Wisata)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa available package menjadi komponen penting dalam
mengintegrasikan seluruh elemen pariwisata di Desa Wisata Semen dan Desa Wisata Serang
sesuai konsep 6A. Paket wisata berfungsi menggabungkan atraksi, aktivitas, fasilitas, dan
layanan pendukung sehingga pengalaman wisata menjadi lebih terstruktur dan efisien. Desa
Wisata Semen mengembangkan paket wisata berbasis ekowisata, edukasi, dan petualangan
alam dalam satu rangkaian perjalanan. Paket utama dimulai dari kantor desa menuju Puspo
Jagad untuk edukasi lingkungan, dilanjutkan ke Kampung Semai untuk aktivitas pertanian dan
pengolahan hasil, serta Arung Parang untuk kegiatan arung jeram dan outbound. Selain paket
terintegrasi, setiap destinasi juga memiliki paket mandiri yang dapat dipilih sesuai minat
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
79
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
wisatawan. Promosi dilakukan melalui media sosial dan dukungan Dinas Pariwisata dengan
keterlibatan generasi muda sebagai pengelola konten. Paket wisata ini menekankan
pengalaman yang terstruktur, interaktif, dan berkesinambungan.
Desa Wisata Serang mengembangkan paket wisata dengan fokus pada fleksibilitas dan
variasi pengalaman, terutama untuk wisata keluarga dan budaya. Paket mencakup kunjungan
ke Pantai Serang dan Goa Kedungkrombong, aktivitas budaya seperti tari Barong Penyu,
jaranan, serta wisata kuliner ikan bakar. Paket tersedia dalam beberapa pilihan durasi mulai
dari setengah hari hingga satu hari penuh, serta sudah mencakup akomodasi, pemandu,
transportasi, dan asuransi. Promosi dilakukan melalui media sosial dan partisipasi dalam
berbagai event pariwisata regional. Paket ini dirancang untuk memberikan kenyamanan dan
kemudahan bagi wisatawan. Perbandingan menunjukkan bahwa Desa Semen lebih
menekankan paket wisata yang terintegrasi dan edukatif dalam satu alur perjalanan, sedangkan
Desa Serang lebih berfokus pada fleksibilitas paket dengan variasi durasi dan aktivitas.
Meskipun berbeda, keduanya menunjukkan bahwa available package berperan penting dalam
mengintegrasikan seluruh komponen wisata sehingga pengalaman wisatawan menjadi lebih
efisien, terarah, dan sesuai kebutuhan pengunjung.
4. Kesimpulan
Pengembangan potensi Desa Wisata Semen dan Desa Wisata Serang di Kabupaten Blitar
menunjukkan perbedaan yang signifikan namun saling melengkapi dalam meningkatkan daya
tarik wisata daerah. Desa Wisata Semen, komponen attraction didominasi oleh ekowisata,
budaya, dan wisata edukatif seperti KWE Puspo Jagad, Arung Parang, Kampung Budaya,
Kampung Semai, Puncak Sekawan, dan Air Terjun Kucur Watu yang menekankan pengalaman
alam, edukasi, dan pelestarian budaya. Komponen amenities tergolong lengkap dengan
homestay yang banyak, pusat oleh-oleh, serta fasilitas dasar yang relatif memadai. Accessibility
sudah cukup baik dengan kondisi jalan yang sebagian besar dapat dilalui kendaraan besar,
layanan antar jemput wisatawan, serta dukungan signage dan sistem informasi digital.
Activities lebih menonjol pada kegiatan edukatif dan petualangan alam yang terstruktur
seperti outbound, camping, arung jeram, serta edukasi pertanian dan budaya. Ancillary service
didukung oleh TIC, jaringan komunikasi stabil, layanan kesehatan dasar, serta kolaborasi antar
lembaga meskipun masih terdapat keterbatasan pada ATM center dan layanan pos. Sementara
itu, available package disusun secara terintegrasi berbasis ekowisata edukatif yang
menggabungkan seluruh destinasi dalam satu rangkaian perjalanan, namun masih memerlukan
peningkatan pada fleksibilitas dan perluasan promosi. Namun demikian, kekurangannya
terletak pada pemerataan fasilitas di beberapa lokasi, keterbatasan infrastruktur pendukung
seperti ATM center, belum meratanya pelatihan pariwisaat yang diberikan, serta partisipasi
masyarakat yang belum merata pada destinasi wisata tertentu.
Sementara itu, Desa Wisata Serang juga telah menerapkan seluruh komponen 6A. Pada
aspek attraction, desa ini menggabungkan wisata alam pantai, budaya, dan atraksi buatan
seperti Pantai Serang, Pantai Serit, Goa Kedungkrombong, serta event budaya seperti Serang
Culture Festival, larung sesaji, dan pertunjukan seni tradisional kas Serang. Amenities cukup
lengkap dengan homestay, area kuliner, toilet, mushola, dan area parkir, meskipun masih
terdapat keterbatasan pada kualitas fasilitas di beberapa titik serta belum tersedianya pusat oleh
oleh. Accessibility sudah dapat menjangkau seluruh destinasi, namun masih menghadapi
kendala lebar jalan yang terbatas, akses ke beberapa lokasi yang sempit, serta penunjuk arah
yang belum optimal di beberapa titik. Activities didominasi kegiatan rekreasi keluarga seperti
ATV, camping, family gathering, serta edukasi penyu dan event budaya yang bersifat hiburan.
Ancillary service telah tersedia melalui pos informasi, jaringan komunikasi, layanan kesehatan,
dan kolaborasi komunitas, namun masih terdapat keterbatasan pada sinyal di beberapa lokasi
serta ketergantungan layanan di luar kawasan wisata. Available package disusun secara
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 72-80
E-ISSN: 3047-2288
80
Nabilla Syahda Rahmawati et.al (Studi Komparatif pada Pengembangan Potensi....)
fleksibel dengan berbagai pilihan durasi dan aktivitas yang lebih berorientasi pada kenyamanan
wisata keluarga, tetapi masih memerlukan penguatan integrasi antar komponen destinasi.
Namun kekurangannya terlihat pada ketidakseimbangan kualitas fasilitas, keterbatasan
aksesibilitas di beberapa titik, serta fasilitas pendukung yang belum merata dan belum
sepenuhnya terintegrasi.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua desa telah berhasil
menerapkan prinsip 6A dalam pengembangan desa wisata, namun dengan orientasi yang
berbeda. Desa Wisata Semen lebih unggul pada aspek edukasi, ekowisata, dan integrasi
pengelolaan berbasis komunitas, sedangkan Desa Wisata Serang lebih unggul pada wisata
rekreatif, event budaya, dan variasi pengalaman wisata keluarga. Perbedaan ini menunjukkan
bahwa implementasi 6A sangat dipengaruhi oleh karakteristik lokal, potensi sumber daya, serta
strategi pengelolaan masing masing desa, sehingga menghasilkan model pengembangan wisata
yang berbeda namun tetap sama sama berkontribusi pada keberlanjutan destinasi.
5. Daftar Pustaka
Buhalis, D. (2000). Marketing the competitive destination of the future. Tourism Management,
21(1), 97116. https://doi.org/10.1016/S0261-5177(99)00095-3
Jadesta Kemenpar. (n.d.). Desa Wisata Semen. Retrieved February 9, 2026, from
https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/semen
Kurniawati, R. A., Shaherani, N., & Leopold, B. L. (2022). Peran Stakeholder Dalam
Pengembangan Pantai Pulau Merah Kabupaten Banyuwangi Sebagai Destinasi Wisata
Bahari. 16(1), 5260.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (n.d.). Qualitative Data Analysis.
Sugiyono. (n.d.). METODE PENELITIAN KUANTITATIF KUALITATIF DAN R&D (2019)
(2019th ed.).