PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
88
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal
Berbasis Budaya Museum La Galigo Dalam Preferensi
Generasi Z
M. Nur
a,1
, Tria Aini Andara
b,2
, Dian Malinda
c,3
a
M. Nur, Tamala’lang Kec. Tamalanrea Kel. Parangloe, Kota Makassar 90224, Indonesia
b
Tria Aini Andara, Kampung Parang Kec. Galesong Utara Desa Bontolanra, Kab. Takalar 92255, Indonesia
c
Dian Malinda, Perumahan Haji Mustafa II Blok E/5 Kec. Biringkanaya Kel. Sudiang Raya, Kota Makassar
90242, Indonesia
1
muhammadnurmajid300405@gmail.com
2
ainiandara4@gmail.com
3
dian.malinda@uin-alauddin.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Februari 2026
Direvisi: 13 April 2026
Disetujui: 26 Mei 2026
Tersedia Daring: 1 Juni 2026
Perkembangan pariwisata mendorong lahirnya konsep wisata yang tidak
hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga memperhatikan nilai budaya,
edukasi, dan kebutuhan wisatawan Muslim. Museum La Galigo di Kota
Makassar memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata
halal berbasis budaya, namun belum sepenuhnya mampu menarik minat
Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren wisata yang
memengaruhi pengembangan wisata halal berbasis budaya,
mengidentifikasi preferensi Generasi Z, serta mengkaji peran media digital
dan fasilitas halal dalam meningkatkan minat kunjungan. Penelitian
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui
observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Generasi Z lebih tertarik pada destinasi yang
menawarkan pengalaman edukatif, nilai sejarah, serta didukung oleh
promosi digital yang menarik. Selain itu, keberadaan fasilitas halal turut
meningkatkan kenyamanan wisatawan Muslim. Oleh karena itu,
pengembangan Museum La Galigo perlu didukung melalui inovasi layanan,
optimalisasi media digital, dan penyediaan fasilitas halal agar mampu
menjadi destinasi wisata budaya yang lebih diminati oleh Generasi Z.
Kata Kunci:
Generasi Z
Museum La Galigo
Preferensi Wisata
Wisata Budaya
Wisata Halal
ABSTRACT
Keywords:
Generation Z
Museum La Galigo
Tourism Preferences
Cultural Tourism
Halal Tourism
The development of the tourism sector has encouraged the emergence of
tourism concepts that emphasize not only recreation but also cultural values,
educational experiences, and the needs of Muslim travelers. Museum La Galigo
in Makassar has significant potential to be developed as a culture-based halal
tourism destination; however, it has not yet fully attracted the interest of
Generation Z. This study aims to analyze tourism trends influencing the
development of culture-based halal tourism, identify Generation Z's
preferences, and examine the role of digital media and halal facilities in
increasing visitors' interest. The research employed a qualitative method with
a descriptive approach using observation, interviews, documentation, and
literature review. The findings indicate that Generation Z is more interested in
destinations that offer educational experiences, historical value, and engaging
digital promotion. In addition, the availability of halal facilities enhances the
comfort of Muslim visitors. Therefore, the development of Museum La Galigo
should be supported through service innovation, optimized digital promotion,
and adequate halal facilities to strengthen its attractiveness as a cultural
tourism destination for Generation Z.
©2026, M. Nur, Tria Aini Andara, Dian Malinda
This is an open access article under CC BY-SA license
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
89
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
1. Pendahuluan
Munandar dkk (2011) menjelaskan Museum adalah pusat pengetahuan bersumber dari
hasil koleksi. Menurut Oktiara et al., (2021) menjelaskan museum mengumpulkan benda yang
memiliki nilai sejarah. Yang mana museum sebagai sarana edukasi kepada masyarakat umum.
Putro & Nurmalah (2019) menjelaskan banyak yang menganggap museum sebagai tempat
kuno, seram dan tidak menarik untuk didatangi. Padahal fungsi museum ini menjadi tempat
pembelajaran dan mencari ilmu, memberikan wawasan luas, sarana rekreasi serta menambah
inspirasi. Sehingga di dalam berkegiatan Museum perlu memperhatikan perilaku
penggunanya. Museum merupakan suatu institusi publik yang berfungsi penting, tidak hanya
sebagai tempat penyimpanan benda kuno (Wulandari, 2014). Beberapa ahli mengatakan
Hopper-Greenhill dalam Wulandari (2014) fungsi museum dan alasan keberadaan museum
adalah pendidikan. Miles dalam Wulandari (2014) menyatakan masyarakat menjadikan
museum sebagai tempat hiburan dan relaksasi(Rosilawati & Siriwa, 2025).
Industri pariwisata mengalami transformasi yang cukup signifikan dalam beberapa tahun
terakhir. Orientasi wisata yang sebelumnya lebih berfokus pada rekreasi, namun
berkembangnya teknologi wisata lebih bermakna, autentik, edukatif, serta mampu
memberikan nilai tambah bagi wisatawan value-based tourism. Perkembangan teknologi
membawa perubahan perilaku wisatawan yang tidak lagi hanya menjadikan keindahan
destinasi sebagai pertimbangan utama, tetapi juga menginginkan pengalaman yang dapat
memperluas wawasan, memperkuat pemahaman terhadap budaya, serta selaras dengan nilai
dan gaya hidup yang mereka yakini.
Kota Makassar sebagai kota dengan jumlah penduduk 1.477.861 jiwa Sedangkan
mayoritas muslim sekitar 87,19% atau setara dengan kurang lebih 1,29 juta jiwa (BPS Kota
Makassar, 2024). serta memiliki keberagaman budaya yang berbeda-beda, Makassar
mempunyai peluang besar dalam mengembangkan wisata halal berbasis budaya. Seperti
peninggalan sejarah, tradisi, adat istiadat, dan kekayaan budaya yang dimiliki setiap daerah
masing-masing merupakan aset yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang
bernilai tinggi.
Salah satu destinasi budaya di kota Makassar yang memiliki potensi untuk
dikembangkan adalah Museum La Galigo yang berlokasi dikawasan Benteng Fort Rotterdam,
Kota Makassar. Museum ini merupakan salah satu museum terbesar di Sulawesi Selatan yang
menyimpan beragam koleksi sejarah, arkeologi, etnografi, numismatika, keramik asing, serta
artefak budaya yang menggambarkan perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Bugis,
Makassar, Mandar, dan Toraja. Disisi lain, museum La Galigo sebagai lembaga pelestarian
warisan budaya dan sebagai sarana pendidikan serta penyebarluasan pengetahuan mengenai
sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan kepada masyarakat.
Nama "La Galigo" diambil dari epos Bugis I La Galigo, yang dikenal sebagai salah satu
karya sastra terpanjang didunia dan telah memperoleh pengakuan sebagai warisan dokumenter
dunia yang memiliki nilai historis, budaya, dan edukatif yang sangat penting. Dokumenter
tersebut berpotensi besar tetapi tidak sepenuhnya mampu menarik minat masyarakat,
khususnya Generasi Z untuk berkunjung ke museum La Galigo.
Seiring berjalannya waktu Generasi Z telah menjadi salah satu kelompok wisatawan
yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan industri pariwisata. Sebagai generasi
yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital, mereka memiliki karakteristik sebagai
digital native yang sangat bergantung pada internet dan media sosial dalam mencari informasi
serta menentukan pilihan destinasi wisata. Selain mengutamakan pengalaman yang autentik
dan edukatif, Generasi Z juga cenderung memilih destinasi yang menawarkan aktivitas
interaktif, memiliki nilai estetika, mudah didokumentasikan untuk media sosial, serta
mendukung prinsip keberlanjutan dan pelestarian budaya.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
90
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
Penerapan konsep wisata halal berbasis budaya di Museum La Galigo dapat menjadi
salah satu strategi pengembangan destinasi yang relevan. Implementasi konsep wisata halal di
lingkungan museum tidak dimaksudkan untuk mengubah substansi budaya yang dimiliki,
melainkan menghadirkan fasilitas dan layanan yang mampu meningkatkan kenyamanan
wisatawan, seperti tersedianya tempat ibadah yang memadai, informasi mengenai layanan
halal, kebersihan lingkungan, kemudahan akses, pelayanan yang ramah, serta tata kelola
destinasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelayanan halal.
a. Kebaruan/Novelty
Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya menghubungkan tiga aspek yang selama ini
masih jarang dikaji secara bersamaan, yaitu tren wisata Generasi Z, konsep wisata halal,
dan wisata budaya yang berpusat pada Museum Lagaligo. Sebagian besar penelitian
sebelumnya hanya membahas wisata halal pada destinasi religi, kuliner, atau alam,
sedangkan penelitian yang satu mengenai penerapan konsep wisata halal pada museum
budaya masih sangat terbatas. Namun disisi lain, penelitian ini secara khusus
menempatkan preferensi Generasi Z sebagai fokus utama dalam melihat peluang
pengembangan Museum La Galigo. Penelitian ini berbentuk perspektif baru karena
museum budaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah,
tetapi juga dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata halal yang edukatif, menarik,
dan sesuai dengan karakter wisatawan generasi z.
b. Survei Literatur (penelitian relevan)
Berbagai penelitian yang relevan menunjukkan bahwa perkembangan wisata halal
dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan wisatawan muslim terhadap pelayanan yang
nyaman dan sesuai dengan prinsip syariah. Penelitian perspektif lain juga menjelaskan
bahwa media digital memiliki peran penting dalam membentuk keputusan perjalanan
Generasi Z. Namun dari sudut pandang yang lain beberapa penelitian mengenai museum
La Galigo menegaskan bahwa inovasi dalam penyajian informasi, penggunaan media
interaktif, serta promosi digital mampu meningkatkan minat kunjungan masyarakat,
khususnya generasi muda. Namun, sebagian besar penelitian belum menghubungkan
pengembangan museum dengan konsep wisata halal. Penelitian mengenai Museum
Lagaligo sendiri lebih banyak membahas fungsi museum sebagai pusat pelestarian
budaya Bugis-Makassar dan sumber pembelajaran sejarah. adapun yang
menghubungkan museum dengan preferensi wisata halal Generasi Z masih sangat
minoritas.
c. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yang ingin dicapai guna memperoleh Gambaran yang jelas
mengenai pengembangan wisata halal berbasis budaya dan tren wisata dalam preferensi
generasi z
1. Menganalisis tren wisata yang memengaruhi pengembangan wisata halal berbasis
budaya di museum la galigo kota makassar.
2. Mengidentifikasi preferensi generasi z terhadap museum la galigo sebagai destinasi
wisata halal berbasis budaya.
3. Menganilisis peran media digital dan fasilitas halal dalam meningkatkan minat
kunjungan generasi z ke museum la galigo.
2. Metode Penelitian
Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu: prosedur penelitian yang berupa kata-
kata tertulis dan lisan dari orang- orang dan perilaku informan yang dapat diamati. Oleh karena
itu data primer yang diperlukan berupa hasil wawancara dengan para informan. Penelitian
kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan - temuannya tidak diperoleh dari prosedur statistik
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
91
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
atau bentuk hitungan lainnya. Penelitian ini dilakukan dengan menghimpun data dalam keadaan
yang sewajarnya, mempergunakan cara bekerja yang sistematis, terarah dan dapat dipertanggung
jawabkan, sehingga tidak kehilangan sifat ilmiahnya atau serangkaian kegiatan, proses
menjaring data atau informasi yang bersifat sewajarnya dan memberikan gambaran untuk
melihat bagaimana perubahan yang terjadi terhadap dampak yang disebabkan oleh destinasi
terhadap generasi Z.
a. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, pendekatan kualitatif
merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan untuk memahami, mengkaji, dan
menginterpretasikan suatu fenomena secara mendalam berdasarkan makna, konteks, serta
berbagai informasi yang berkaitan dengan objek penelitian. Pendekatan ini menekankan
pada proses analisis yang bersifat deskriptif sehingga mampu memberikan pemahaman
yang komprehensif mengenai fenomena yang diteliti, tanpa menggunakan analisis
statistik sebagai dasar utama dalam pengambilan kesimpulan.
b. Data dan sumber data
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari sumber
pertama di lapangan. Data ini dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data seperti
observasi, wawancara mendalam (in-depth interview), diskusi kelompok (focus group
discussion), maupun dokumentasi yang dilakukan secara langsung terhadap informan
atau objek penelitian. Data primer bertujuan untuk memperoleh informasi faktual
mengenai pengalaman, pandangan, persepsi, dan kondisi nyata yang berkaitan dengan
fokus penelitian
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung,
melainkan berasal dari berbagai dokumen atau sumber yang telah tersedia
sebelumnya. Data sekunder dapat berupa buku, artikel jurnal ilmiah, prosiding,
skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, dokumen pemerintah, data statistik, arsip,
serta publikasi resmi dari lembaga yang relevan. Data ini digunakan untuk
memperkuat data primer, memberikan landasan teoritis, serta membantu peneliti
dalam memahami konteks dan membandingkan hasil penelitian dengan penelitian
terdahulu.
c. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data adalah langkah awal yang sangat penting dalam penelitian,
karena tujuan utama penelitian adalah untuk memperoleh data. Tanpa pemahaman tentang
teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan dapat memperoleh data yang sesuai dengan
standar yang ditetapkan. Berikut adalah teknik pengumpulan data yang akan diterapkan
oleh peneliti.
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung
maupun tidak tentang hal-hal yang diamati dan mencatatnya pada alat observasi.
Observasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mencari partisipan yang akan
diwawancarai oleh peneliti dengan kriteria mahasiswa yang aktif menggunakan
smartphone dan mahasiswa yang menggunakan smartphone hanya pada waktu
tertentu dengan data yang sudah diperoleh.
2. Wawancara
Wawancara adalah teknik penelitian yang dilakukan melalui dialog, baik secara
langsung (tatap muka) maupun melalui media tertentu, antara pewawancara dan
responden sebagai sumber data. Proses wawancara terdiri dari tiga tahap: wawancara
pembuka, wawancara inti, dan member check. Pada wawancara pembuka, dilakukan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
92
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
perkenalan dengan partisipan, diikuti dengan kesepakatan mengenai waktu dan lokasi
wawancara berikutnya. Wawancara inti bertujuan untuk menggali jawaban atau hasil
dari masalah yang telah dirumuskan. Setelah wawancara, peneliti menyusun hasil
wawancara dalam bentuk transkrip. Tahap Terakhir adalah member check, dimana
peneliti dan narasumber mendiskusikan hasil transkrip untuk memastikan kesepakatan
dan validitas data, sehingga data tersebut dapat dipercaya.
3. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mendukung dan menambah bukti yang diperoleh dari
sumber yang lain misalnya kebenaran data hasil wawancara. Dokumen yang
digunakan pada penelitian ini berupa arsip-arsip yang berkaitan dengan data
mahasiswa yang menggunakan gadget dari hasil observasi secara langsung.
d. Teknik analisis data
Analisis data adalah proses yang melibatkan pencarian dan penyusunan data secara
sistematis yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Ini
dilakukan dengan cara mengelompokkan data ke dalam kategori, merinci ke dalam unit-
unit, melakukan sintesis, menyusun pola, memilih informasi yang relevan untuk
dipelajari, dan menarik kesimpulan agar data dapat dipahami dengan jelas baik oleh
peneliti maupun orang lain. Proses analisis data dalam penelitian ini mencakup langkah-
langkah berikut:
1. Reduksi Data: merupakan proses awal yang dilakukan peneliti untuk menyaring,
memilah, dan menyederhanakan data mentah dari wawancara, observasi, atau
dokumen agar fokus pada informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Data yang
tidak sesuai akan dieliminasi, sedangkan data yang penting akan dikategorikan sesuai
tema yang muncul dari lapangan.
2. Menyajikan Data. Setelah data direduksi, peneliti akan menyajikan data tersebut.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data ini dapat dilakukan melalui grafik atau
metode sejenis. Dengan menyajikan data, proses ini akan mempermudah pemahaman
mengenai apa yang terjadi serta membantu dalam merencanakan langkah-langkah
selanjutnya berdasarkan pemahaman tersebut.
3. Menyimpulkan Data dan Verifikasi, dalam analisis data kualitatif menurut Miles and
Huberman adalah peneliti menginterpretasikan makna dari data yang telah dianalisis,
mencari pola atau tema, lalu menarik kesimpulan sementara yang kemudian
diverifikasi ulang dengan membandingkan antara sumber data (triangulasi) agar
hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
3. Hasil Dan Pembahasaan
Dalam terminologi wisata halal destinasi ramah muslim digunakan di beberapa negara.
Wisata halal adalah segmen wisata yang ditujukan untuk wisatawan muslim, menurut
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Untuk mengembangkan
wisata halal, destinasi harus menyediakan makanan syariah, layanan pendukung seperti
laundry dan mushola, serta layanan yang ramah Muslim (Artianasari et al., 2024). Menurut
definisi, wisata halal dapat didefinisikan sebagai semua layanan, fasilitas, dan segala sesuatu
yang terkait dengannya selama tidak bertentangan dengan prinsip dan etika syariah. Istilah
"wisata halal" mengacu pada kegiatan yang dilakukan oleh wisatawan dengan alasan religius
dengan mengunjungi tempat ibadah, makam, atau tempat bersejarah yang memiliki nilai
religius tertentu bagi agama mereka. Wisata halal awalnya juga disebut sebagai wisata religius.
United Nations World Tourism Organization (UNWTO) memperkenalkan wisata religi pada
tahun 1967 (Rozi & Anam, 2024). Setelah itu, jenis wisata religi ini berkembang karena
pasarnya tidak terbatas pada agama tertentu saja. Kearifan lokal dan nilai pendidikan, yang
lebih universal dan bermanfaat bagi masyarakat, tetap dipertahankan. Wisata halal merupakan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
93
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
tren baru di dunia pariwisata, tetapi dapat mencakup wisata alam, wisata budaya, dan wisata
budaya dan struktur buatan manusia dengan prinsip dan nilai-nilai Islam. Konsisten dengan
tujuan menjalankan syariah, yaitu pemeliharaan kebahagiaan manusia, termasuk perlindungan
iman, jiwa, akal, keturunan dan kekayaan.
Menurut Panduan digital wisata halal memiliki relevansi dan kepentingan yang tinggi
dalam menyediakan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi wisatawan Muslim
yang mencari pengalaman wisata yang sesuai dengan prinsip - prinsip agama mereka
(Nuruddin et al., 2023). Selain itu, juga dapat memberikan kemudahan akses, Panduan digital
dapat diakses secara online melalui berbagai perangkat seperti smartphone, tablet, dan
komputer. Hal ini memberikan kemudahan akses informasi kepada wisatawan Muslim dari
berbagai lokasi dan kapan pun mereka membutuhkannya. Menurut Global Muslim Travel
Index (GMTI) pariwisata halal adalah jenis perjalanan yang didasarkan pada prinsip Islami
dan memiliki elemen yang ramah Muslim. Wisata halal dapat didefinisikan sebagai penerapan
prinsipprinsip ajaran Islam dalam perjalanan wisata tanpa diskriminasi terhadap wisatawan
non-muslim (Prayogo, 2018).
Konsep wisata halal adalah penerapan nilai-nilai syariah Islam dalam layanan dan
produk wisata. Hal ini mencakup penyediaan fasilitas dan layanan yang memungkinkan
wisatawan Muslim memenuhi kebutuhan spiritual dan aturan agama mereka selama berwisata.
Aspek penting dari wisata halal meliputi ketersediaan makanan halal yang memenuhi aturan
penyembelihan dan persiapan sesuai syariah, fasilitas ibadah seperti mushola atau masjid, hotel
dan tempat menginap yang menjalankan prinsip-prinsip Islam, misalnya tidak menyediakan
alkohol dan mengurangi fasilitas berdasarkan gender serta layanan yang ramah Muslim yang
memahami kebutuhan khusus mereka. Wisata halal tidak hanya untuk negara-negara mayoritas
Muslim, tetapi juga menjadi tren global di berbagai destinasi wisata, termasuk negara non-
Muslim, yang ingin menarik wisatawan Muslim dengan menyediakan layanan yang sesuai
agama (View of Pengaruh Preferensi Dan Motivasi Terhadap Kepuasan Pengunjung Gen Z
Di Museum Macan, n.d.).
Pengembangan wisata halal adalah proses perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan
destinasi wisata yang menyediakan layanan dan fasilitas yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Ini melibatkan ketersediaan makanan dan minuman halal, fasilitas pendukung ibadah, bebas
dari aktivitas non-halal, pengaturan area rekreasi yang memisahkan laki-laki dan perempuan,
serta penginapan yang sesuai aturan Islam (Suryani & Bustamam, 2021). Konsep ini bertujuan
memberikan pengalaman wisata yang ramah Muslim dengan mematuhi etika dan aturan
syariah, sehingga mendukung kenyamanan dan keamanan wisatawan muslim selama
berkunjung (Adittya Mahendra et al., 2025). Wisata budaya merupakan salah satu jenis wisata
yang paling populer di negara Indoneisa. Fakta menyatakan bahwa wisata budaya menjadi
pilihan utama untuk wisatawan mancanegara yang ingin mengetahui kebudayaan dan kesenian
serta segala sesuatu yang berhubungan dengan adat istiadat dan kehidupan seni budaya
(Andina & Aliyah, 2021).
Generasi Z merupakan kelompok demografis yang lahir antara akhir 1990-an hingga
awal 2010-an dianggap memiliki peran penting dalam masa depan Indonesia, karena generasi
ini memiliki peran penting dalam pentahelix pengembangan pariwisata nasional (Kurniasari et
al., 2024). Sebagai akademisi pada bidang studi pariwisata, hospitalitas, dan yang berkaitan.
Pada sektor bisnis, banyak pelaku bisnis muda Indonesia yang telah terjun pada bidang
pariwisata, di sisi lain kelompok usia ini juga menjadi target market utama dalam pendekatan
marketing oleh destinasi- destinasi wisata; Generasi Z juga berperan dalam komunitas
pariwisata, terutama di Indonesia dengan hadirnya GenPi & Netas sebagai inisiasi dari
Kemenparekraf (2022). Pariwisata halal tidak hanya mencakup akomodasi dan makanan yang
memenuhi standar halal, tetapi juga pengalaman yang dapat memberikan kenyamanan dan
ketenangan bagi pengunjung. Dalam konteks ini, generasi Z, yang merupakan kelompok usia
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
94
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
yang semakin mendominasi pasar wisata, memiliki preferensi yang unik dan berbeda
dibandingkan generasi sebelumnya, yang perlu dipahami oleh pelaku industry (Yerizal &
Putra, 2024).
Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, dikenal
sebagai kelompok yang sangat terhubung dengan teknologi dan memiliki akses informasi yang
cepat. Mereka cenderung lebih kritis dalam memilih produk dan layanan, serta lebih
memperhatikan isu-isu sosial dan lingkungan (Putra et al., 2024). Dengan adanya akses yang
mudah terhadap informasi, generasi Z dapat dengan cepat menilai destinasi wisata berdasarkan
pengalaman orang lain dan nilai-nilai yang mereka anut, termasuk dalam konteks pariwisata
halal. Penelitian terdahulu mengenai Museum La Galigo antara lain, Skripsi Isma Risnawaty
(2004) yang mengeksplorasi peran strategis Museum Lagaligo, tidak hanya sebagai tempat
pelestarian artefak sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang dapat menarik
minat publik. Penelitian ini menunjukkan bahwa museum berperan sosial dalam membentuk
kesadaran sejarah masyarakat Sulawesi Selatan dan memperkuat identitas budaya mereka
(Risnawaty, 2004).
Penelitian yang dilakukan oleh Rafika Hayati pada tahun 2014, Jurnal ini membahas
tentang Pemanfaatan tiga bangunan bersejarah Kota Makassar yaitu Gedung Kesenian
Makassar, Museum Kota, dan Benteng Rotterdam sebagai destinasi wisata dikaji dalam
penelitian ini. Penelitian ini mengkaji evolusi setiap bangunan menggunakan teori pengelolaan
objek wisata dan siklus hidup destinasi wisata. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Fort
Rotterdam telah memasuki tahap pengembangan, mengalami sejumlah perbaikan dan
penambahan pada museumnya. Sementara itu, Gedung Museum dan Seni Kota Makassar perlu
diperbaiki secara fisik dan diperluas agar dapat menarik lebih banyak pengunjung. Saat ini
sedang dalam tahap penyelidikan. Guna mengoptimalkan potensi wisata ketiga bangunan
tersebut, esai ini menghimbau pemerintah daerah untuk melestarikan karakter arsitekturalnya,
menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan, dan meningkatkan pemasarannya (Hayati, 2014).
Selanjutnya penelitian Skripsi pada tahun 2016 yang diteliti oleh Nurhamila. Pokok
permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor- faktor penyebab kerusakan naskah kuno di
Museum La Galigo, Sulawesi Selatan, dan tata cara mitigasinya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor- faktor penyebab kerusakan naskah kuno di Museum Lagaligo,
Sulawesi Selatan, dan langkah langkah mitigasi nya. Dalam penelitian ini, penulis
menggunakan metode penelitian deskriptif yang dipadukan dengan metode penelitian
kualitatif untuk menguraikan faktor- faktor pe nyebab kerusakan naskah kuno di Museum
Lagaligo, Sulawesi Selatan, dan langkah- langkah mitigasinya. Metode penelitian lapangan
yang digunakan adalah obser vasi langsung dan wawancara dengan dua responden
(Nurhamila,2016).
Tesis yang ditulis oleh Andini Perdana pada tahun 2019. Jurnal ini membahas tentang
mengklasifikasikan nilai penting dari arti La Galigo, kemudian menganalisis konsep eksibisi
Museum La Galigo saat itu, dan merekomendasikan storyline eksibisi museum menggunakan
metode studi kasus dengan pendekatan museologi, khususnya teori new museum, identitas
budaya, dan eksibisi (Perdana, 2019). Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Anni Nur
Insani, Windra Aini, Suardi Suardi pada tahun 2020. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui bagaimana kepuasan pengunjung museum La Galigo Kota Makassar terhadap
kualitas layanan pemandu wisata yang diberikan. Populasi penelitian ini adalah pengunjung
Museum La Galigo Kota Makassar, dan analisis statistik deskriptif merupakan pendekatan
analisis data yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini. Temuan penelitian menunjukkan
bahwa standar pelayanan pemandu wisata yang diberikan kepada pengunjung (Nur Insani et
al., 2020).
Skripsi yang ditulis oleh Nanda Mega Kynanti Penelitian ini membahas bagaimana
museum La Galigo sebagai tinggalan kolonial dirancang untuk menciptakan fasilitas edukasi,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
95
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
ruang kunjungan berkualitas tinggi, dan pengalaman museum yang nyaman tanpa
menimbulkan intimidasi menggunakan metode perancangan dengan data asli dikumpulkan
melalui survei lapangan, wawancara, catatan dokumentasi, dan penelitian yang bersifat
dokumentasi (Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, 2024).
Museum La Galigo merupakan salah satu museum dan objek wisata budaya yang
terkenal di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Museum ini menjadi destinasi wisata budaya
karena menyimpan berbagai koleksi bersejarah yang mencerminkan perjalanan peradaban,
kebudayaan, serta kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan. Beragam koleksi, seperti
benda-benda peninggalan kerajaan, naskah kuno, senjata tradisional, pakaian adat, hingga
artefak arkeologi, menjadikan Museum La Galigo sebagai pusat pelestarian warisan budaya
daerah. Museum La Galigo berlokasi di kawasan Benteng Fort Rotterdam, salah satu situs
bersejarah yang menjadi ikon Kota Makassar. Keunikan bangunan bersejarah yang dipadukan
dengan kekayaan koleksi budaya menjadikan museum ini memiliki nilai edukatif sekaligus
daya tarik wisata. Sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Sulawesi Selatan,
Museum La Galigo tidak hanya menarik minat wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan
mancanegara yang ingin mempelajari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Bugis,
Makassar, Toraja, serta berbagai etnis lainnya di Sulawesi Selatan.
Wisatawan muslim memiliki kebutuhan dan preferensi khusus yang penting untuk
dipertimbangkan selama perjalanan mereka. Salah satu kebutuhan utama wisatawan Muslim
adalah makanan yang halal, yaitu makanan yang dipersiapkan sesuai dengan prinsip-prinsip
agama Islam(Khairul Amri, Hermanto, 2021). Restoran atau tempat makan yang menyediakan
makanan halal atau memiliki sertifikasi halal akan menjadi pilihan utama bagi mereka.
Wisatawan Muslim mungkin membutuhkan akses mudah ke tempat-tempat ibadah seperti
masjid atau musola untuk melakukan salat (shalat) lima waktu sesuai dengan tuntunan agama
Islam. Dikutip dari situs resmi kemenparekraf, Sandiaga Uno (2021) mengemukakan bahwa
trend digitalisasi pariwisata melalui Media Sosial adalah pilihan yang tepat yang dapat diambil
oleh Pemerintah untuk saat ini dalam meningkatkan jumlah wisatawan. Salah satunya manfaat
dari digitalisasi sosial media adalah memfasilitasi pelaku sektor pariwisata untuk
mempromosikan destinasi yang ditawarkannya untuk meningkatkan minat wisatawan
(Asnawi, 2023).
Kota Makassar adalah ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu
kota sentral perdagangan dan pembangunan di Indonesia bagian Timur (KTI). Hal tersebut
dilihat dari aspek pembangunan dan infrastruktur yang semakin berkembang di kota ini. Kota
yang juga disebut sebagai kota Daeng ini memiliki bangunan bersejarah dan kebudayaan yang
khas. Salah satu benteng yang memiliki nilai sejarah adalah Fort Rotterdam yang merupakan
bangunan peninggalan sejarah dan warisan budaya yang khas. Ford Rotterdam atau Benteng
Rotterdam juga dikenal dengan benteng Ujung pandang yang dibangun pertama kali oleh raja
Gowa kesepuluh yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung dan biasa disebut
Karaeng Ulaweng pada tahun 1945(Buhari et al., 2022). Kehadiran Fort Rotterdam yang
menampilkan keindahan bentuk peninggalan sejarah yang menarik dan menawan di kota
Makassar memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Gambar 1. Gedung M
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
96
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
Gedung M merupakan salah satu bangunan utama di kompleks Museum La Galigo. Gedung
ini memiliki arsitektur kolonial Belanda dengan bentuk memanjang, dinding berwarna krem, dan
atap genteng merah. Saat ini Gedung M dimanfaatkan sebagai ruang pamer koleksi sejarah dan
budaya Sulawesi Selatan.
Gambar 2. Peninggalan Sejarah
Gambar tersebut menampilkan naskah kuno Sureq La Galigo yang dipajang di dalam lemari
kaca museum. Naskah diletakkan di atas rehal dan menggunakan aksara Lontara. Di sampingnya
terdapat logo UNESCO Memory of the World, yang menunjukkan bahwa La Galigo diakui
sebagai warisan dokumenter dunia dan menjadi koleksi Museum La Galigo Provinsi Sulawesi
Selatan(Riyadi1 et al., 2025). Dari aspek ekonomi, pengembangan wisata halal dapat menjadi
katalisator pertumbuhan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan
pendapatan masyarakat, dan pengembangan UMKM berbasis syariah (Samudra et al., 2025)
Model pengembangan ekonomi kreatif yang berbasis nilai-nilai Islam dapat menjadi diferensiasi
yang kuat dalam persaingan destinasi wisata.
Makassar dikatakan menerima semua jenis turis, Ini menunjukkan bahwa pariwisata halal
Makassar ingin menunjukkan tidak hanya keindahan alamnya yang indah, tetapi juga
keamanan, kenyamanan, dan keramahan masyarakatnya yang luar biasa. Ini menjadi daya tarik
tersendiri bagi Masyarakat makassar karena kualitas pariwisatanya yang ingin ditunjukkan
kepada dunia bukan hanya tempat atau destinasi, tetapi juga masyarakatnya yang ramah
terhadap wisatawan. Seharusnya, dengan potensi wisatanya, Museum La galigo mampu menjadi
magnet yang menarik wisatawan untuk langsung ke makassar tanpa harus kebira. Pengembangan
kelembagaan pariwisata halal perlu dilakukan secara komprehensif agar mampu bersaing dengan
negara-negara yang telah maju dalam industri pariwisata halal. Pemetaan dan analisis terhadap
ketersediaan organisasi, regulasi, dan SDM pariwisata yang mendukung pariwisata halal.
Berdasarkan hasil observasi dan berbagai kajian mengenai pengembangan wisata budaya di
Museum La Galigo Kota Makassar, ditemukan beberapa dampak positif terhadap pengembangan
pariwisata dan perekonomian masyarakat sekitar. Pertama, keberadaan Museum La Galigo
memberikan kontribusi terhadap peningkatan perekonomian masyarakat lokal. Kunjungan
wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, mendorong tumbuhnya berbagai usaha di
sekitar kawasan museum, seperti rumah makan, kedai kopi, toko suvenir, penyewaan jasa
pemandu wisata, serta usaha mikro yang menjual kerajinan dan produk khas Sulawesi Selatan.
Aktivitas tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk berwirausaha sekaligus
meningkatkan pendapatan mereka. Kedua, pengembangan Museum La Galigo turut menciptakan
lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Peluang kerja tidak hanya tersedia sebagai pemandu
wisata, tetapi juga sebagai petugas kebersihan, tenaga keamanan, pegawai museum, pelaku usaha
kuliner, pengrajin suvenir, serta pekerja pada sektor transportasi dan jasa pendukung pariwisata.
Dengan demikian, keberadaan museum memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi
masyarakat di sekitarnya.
Ketiga, pengembangan Museum La Galigo mendorong peningkatan kualitas fasilitas dan
infrastruktur pendukung pariwisata. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan
pengunjung, seperti perbaikan akses menuju kawasan Benteng Fort Rotterdam, penyediaan area
parkir, papan informasi, ruang pamer yang lebih representatif, fasilitas umum, serta pemanfaatan
teknologi digital sebagai media informasi dan promosi. Peningkatan fasilitas tersebut diharapkan
mampu menarik lebih banyak wisatawan, khususnya Generasi Z yang cenderung menyukai
destinasi wisata edukatif, bersejarah, dan menarik untuk dibagikan melalui media sosial. Media
Massa saat ini dalam memanfaatkan Museum La Galigo sangat kurang, dari informan atas nama
ARD yang bekerja di TKJ Club, fokus untuk penyiaran radio menjelaskan bahwa, penyiaran radio
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
97
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
melihat fenomena yang ada ataupun wisata budaya yang memakai upah, dari pihak UPTD juga
tidak memanfaatkan media massa sebagai sumber informasi dan edukasi. Menurut informan A.S
usia 26 tahun yang bekerja di Detik.com Makassar mengatakan bahwa berita yang diangkat adalah
fenomena yang berlangsung secara cepat, maksudnya fenomenayang terjadi di hari itu, atau yang
sedang marak-maraknya dibincangkan, sedangkan Museum La Galigo sangat jarang untuk
diberitakan, karena kurangnya peminat dan perlu pertimbangan besar untuk mengangkat museum
sebagai salah satu berita. Dan informan dari pendiri Sulselpost.id yaitu saudara P.A (30 tahun)
menjelaskan bahwa memang untuk pemberitaan museum belum pernah ada selama sulselpost.id
berdiri, alasannya karena memang Museum La Galigo sendiri tidak pernah meminta ke media
massa Sulselpost.id, begitu pula Sulselpost.id yang tidak memandang sebuah museum sebagai
hal yang menarik, melihat pola gaya hidup masyarakat kota makassar sekarang ini Galigo
(Pratiwi et al., 2022).
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengembangan
wisata halal berbasis budaya di Museum La Galigo memiliki peluang yang besar untuk terus
dikembangkan seiring dengan perubahan tren pariwisata. Saat ini, wisatawan tidak hanya
mencari destinasi yang menarik secara visual, tetapi juga menginginkan pengalaman yang
memberikan nilai edukasi, budaya, dan kenyamanan selama berkunjung. Perubahan tersebut
menjadikan konsep wisata halal sebagai salah satu alternatif yang mampu menjawab kebutuhan
wisatawan, khususnya di daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya seperti Kota
Makassar. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki ketertarikan terhadap
destinasi yang menawarkan pengalaman baru, memiliki nilai sejarah yang kuat, serta didukung
oleh penyajian informasi yang menarik. Bagi generasi ini, museum bukan lagi sekadar tempat
menyimpan benda bersejarah, tetapi dapat menjadi ruang belajar, rekreasi, dan eksplorasi budaya
apabila dikemas secara lebih kreatif dan interaktif. Oleh karena itu, pengelolaan museum perlu
terus berinovasi agar mampu menyesuaikan diri dengan karakter dan kebutuhan pengunjung dari
kalangan muda.
Selain itu, media digital memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun minat
berkunjung. Kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial, website, maupun platform
digital lainnya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan Generasi Z dalam
memilih destinasi wisata. Di sisi lain, ketersediaan fasilitas halal, seperti tempat ibadah yang
memadai, informasi mengenai layanan halal, serta lingkungan yang nyaman bagi wisatawan
Muslim, turut memberikan rasa aman dan meningkatkan kualitas pengalaman selama
berkunjung. Pengembangan Museum La Galigo tidak hanya bergantung pada kekayaan koleksi
sejarah yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan pengelola dalam memadukan pelestarian
budaya dengan inovasi pelayanan dan strategi promosi yang mengikuti perkembangan zaman.
Dengan pengelolaan yang lebih adaptif, pemanfaatan media digital secara optimal, serta
penyediaan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim, Museum La Galigo
berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kota Makassar yang diminati
oleh Generasi Z sekaligus memberikan manfaat bagi pelestarian budaya dan peningkatan
ekonomi masyarakat di sekitarnya.
5. Daftar Pustaka
Adittya Mahendra, M., Latifah, Z., Sofiya, A., Windya Satria, S., Ersya Faraby, M., Raya Telang,
J., Kamal, K., Bangkalan, K., & Timur, J. (2025). PT. Media Akademik Publisher
IMPLEMENTASI KONSEP COMMUNITY BASED HALAL TOURISM DALAM
PEMGEMBANGAN WISATA HALAL DI BANGKALAN Oleh. Jma), 3(12), 3031
5220. https://radarmadura.jawapos.com/bangkalan/74904817/jumlah-wisatawan-belum-
capai-target.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
98
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
Andina, S. A., & Aliyah, I. (2021). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Wisatawan Dalam
Mengunjungi Wisata Budaya Candi Borobudur. Jurnal Cakra Wisata, 22(3), 2738.
Artianasari, N., Nurhakki, & Musmuliadi. (2024). Strategi Komunikasi Branding Pariwisata
Halal Berbasis Smart Tourism di Tana Toraja. KOMUNIDA : Media Komunikasi Dan
Dakwah, 14(1), 98123. https://doi.org/10.35905/komunida.v14i1.9324
Asnawi, M. A. (2023). pengaruh media soial,citra destinasi, dan produk destinasi melalui
keputusan berwisata terhadap ustainabillity tingkat kunjungan wisatawan di daerah tujuan
wisata(DTW) provinsi sulawesi utara (Studi Empiris pada Empat Kabupaten di Provinsi
Sulawesi Utar. Doctoral Dissertation, Universitas Hasanuddin.
Badan Pusat Statistik Kota Makassar. (2024). Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan
Jenis Kelamin di Kota Makassar, 2024. Badan Pusat Statistik Kota Makassar.
Buhari, G. N., Pramitasari, D., & Saifullah, A. (2022). Persepsi Wisatawan terhadap Kualitas
Produk Wisata : Fort Rotterdam, Di Makassar. Sinektika: Jurnal Arsitektur, 19(1), 96106.
https://doi.org/10.23917/sinektika.v19i1.15501
Khairul Amri, Hermanto, B. H. (2021). Setanggor Jurnal Magister Manajemen Unram. Jurnal
Magister Manajemen Unram, 10(1), 112.
Kurniasari, K. K., Gauh Perdana, B. E., Sukaca Putra, R. A., & Iban, C. (2024). Persepsi Generasi
Z Terhadap Pariwisata Berkelanjutan Pada Destinasi Budaya: Studi Kasus Borobudur.
Jurnal Pariwisata Terapan, 8(1), 12. https://doi.org/10.22146/jpt.95415
Nuruddin, N., Syarfuni, S., Ilham, A., Abidin, J., & Arifin, A. (2023). Pengembangan Panduan
Digital Wisata Halal Berbahasa Arab Berbasis Budaya Indonesia: Menyelami Kebutuhan
Wisatawan Muslim. An Nabighoh, 25(2), 263. https://doi.org/10.32332/an-
nabighoh.v25i2.7634
Pratiwi, C. A., Oruh, S., & Agustang, A. (2022). Pemanfaatan Museum La Galigo sebagai Media
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial
Humaniora, 2(2), 16.
Prayogo. (2018). Jurnal Pariwisata. Pariwisata, (September), 145.
Putra, R. D. E., Fitri, T. Z., & Kurniadi, D. (2024). Memahami Preferensi Generasi Z dalam
Pariwisata Pesisir Halal: Studi Kasus dan Rekomendasi. Journal of Social and Community
Service, 3(3), 118121. https://doi.org/10.31004/jestmc.v3i3.175
Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, I. I. J. (2024). No Title
済無
No Title No Title No
Title. 2, 306312.
Riyadi1, S., Munip2, A., Junaidi3, A., Buaja4, T., Shaddiq5, S., Nining, & Andriani6. (2025).
No Title
済無
No Title No Title No Title. 6(0), 167186.
Rosilawati, H., & Siriwa, S. (2025). Jurnal Anggapa PEMETAAN PERILAKU PENGGUNA
MUSEUM DENGAN TEKNIK PLACE CENTERED MAPPING Studi Kasus Museum La
Galigo , Benteng Fort Rotterdam , Makasar , Sulawesi Selatan. 4(April), 6675.
Rozi, A. F., & Anam, A. K. (2024). Analisis Potensi Pengembangan Wisata Halal: Studi Kasus
pada Wisata Alam Sumbermaron. Jihbiz : Jurnal Ekonomi, Keuangan Dan Perbankan
Syariah, 8(1), 6070. https://doi.org/10.33379/jihbiz.v8i1.3820
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 4, No. 2, Juni 2026, page: 89-99
E-ISSN: 3047-2288
99
M. Nur et.al (Tren Wisata Dalam Pengembangan Wisata Halal....)
Samudra, D., Pasha, M., Pratama, H., Fente, S. K., & Saputra, A. A. (2025). Zakatuna : Journal
of Economics and Business STRATEGI PENINGKATAN PEMBANGUNAN WISATA
HALAL DI KABUPATEN SLEMAN : DITINJAU DARI ASPEK PENDIDIKAN DAN
EKONOMI PADA TAHUN 2025 3 Universitas 2 Universitas Muhammadiyah Purwokerto
, Brawijaya 4 Universitas Islam. 4049.
Suryani, S., & Bustamam, N. (2021). Potensi Pengembangan Pariwisata Halal dan dampaknya
Terhadap Pembangunan Ekonomi Daerah Provinsi Riau. Jurnal Ekonomi KIAT, 32(2),
146162. https://journal.uir.ac.id/index.php/kiat/article/view/8839
View of Pengaruh Preferensi Dan Motivasi Terhadap Kepuasan Pengunjung Gen Z Di Museum
Macan. (n.d.).
Yerizal, Y., & Putra, M. A. (2024). Pengaruh Nilai-Nilai Agama dan Nilai-Nilai Budaya Lokal
Terhadap Niat Berkunjung Generasi Z ke Destinasi Wisata Ramah Lingkungan. In eCo-
Buss (Vol. 7, Number 2, pp. 12931306). https://doi.org/10.32877/eb.v7i2.1807