PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
146
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam
Pengembangan Wisata Bukit Ollon, Tana Toraja
Dian Malinda
a,1
, Raihannatul Jannah
b,2
a,b
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin NO. 63, Mangasa, 90221, Indonesia
1
dian.malinda@uin-alauddin.ac.id;
2
raihanatuljannah18@gmail.com
*
Corresponding Author: raihanatuljannah18@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 7 Juli 2026
Direvisi: 21 Juli 2026
Disetujui: 14 Agustus 2026
Tersedia Daring: 1 September 2026
Daya tarik alam yang kuat tidak secara otomatis mendukung
pengembangan destinasi wisata jika aksesibilitasnya tidak memadai. Studi
ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi wisata Bukit Ollon,
menganalisis kondisi aksesibilitasnya dan mengidentifikasi kesenjangan
antara keduanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
deskriptif dengan metode studi kasus yang melibatkan observasi,
wawancara dengan lima informan, dokumentasi, dan tinjauan pustaka.
Temuan menunjukkan bahwa Bukit Ollon memiliki daya tarik alam yang
kuat, termasuk perbukitan, lembah, padang rumput, dan Sungai Saddang
yang mendukung kegiatan wisata berbasis alam seperti berkemah. Namun,
akses ke lokasi tersebut masih terbatas karena jarak yang jauh, jalan yang
tidak beraspal dan rusak, lereng yang curam, permukaan berpasir,
kurangnya fasilitas, sinyal yang terbatas, dan risiko tanah longsor.
Kesenjangan utama terletak pada ketidakseimbangan antara daya tarik
dan aksesibilitas, terutama dalam hal keselamatan, kepastian perjalanan,
dan informasi navigasi. Oleh karena itu, peningkatan akses harus dilakukan
secara bertahap, dengan prioritas diberikan pada keselamatan, informasi ,
dan keberlanjutan lingkungan .
Kata Kunci:
Daya Tarik
Aksesibilitas
Bukit Ollon
Pengembangan
Tana Toraja
ABSTRACT
Keywords:
Attractions
Accesibility
Ollon Hill
Development
Tana Toraja
Strong natural attractions do not automatically support the development of a
tourist destination if accessibility is inadequate. This study aims to describe the
tourism potential of Bukit Ollon, analyze its accessibility conditions, and
identify the gaps between the two. This research employs a descriptive
qualitative approach using a case study method that involves observation,
interviews with five informants, documentation, and a literature review. The
findings indicate that Bukit Ollon possesses strong natural attractions,
including hills, valleys, grasslands, and the Saddang River, which support
nature-based tourism activities such as camping. However, access to the site
remains limited due to the long distance, unpaved and damaged roads, steep
slopes, sandy surfaces, a lack of facilities, limited cell service, and the risk of
landslides. The main gap lies in the imbalance between attractions and
accessibility, particularly in terms of safety, travel reliability, and navigational
information. Therefore, improvements to access should be implemented
gradually, with priority given to safety, information, and environmental
sustainability.
©2026, Dian Malinda, Raihannatul Jannah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pengembangan destinasi wisata bergantung pada integrasi komponen-komponen
fundamentalnya, yaitu daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan pendukung, yang
dikenal sebagai kerangka kerja (Sinaga & Sitorus, 2023). Namun, atraksi baru menjadi kuat
bila didukung oleh komponen lain. Dalam kerangka ini, daya tarik berfungsi sebagai alasan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
147
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
utama untuk bepergian, sementara aksesibilitas mencakup fasilitas transportasi dan
infrastruktur informasi yang menentukan kemudahan pergerakan ke tujuan (Audrey et al.,
2025). Hubungan antara keduanya tidak seragam di setiap daerah. Misalnya, studi di tingkat
regional, seperti di Provinsi Anhui, meneliti hubungan antara aksesibilitas objek wisata dan
permintaan pariwisata (Tao, 2025). Sehingga hubungan daya tarik dan aksesibilitas perlu
dibaca menurut karakteristik masing-masing destinasi.
Studi pada destinasi wisata alam mengindikasikan bahwa keunggulan panorama tidak
selalu sebanding dengan kesiapan pengembangan, terutama ketika keterisolasian geografis dan
keterbatasan sarana pendukung belum ditangani (Anggriani & Mariati, 2026). Keterbatasan
akses tidak hanya menekan minat kunjungan, tetapi juga membatasi sebaran manfaat ekonomi
bagi masyarakat (Muti et al., 2026). Di sisi lain, intervensi akses fisik di lanskap yang sensitif
memerlukan pertimbangan yang cermat untuk memastikan bahwa peningkatan mobilitas tidak
merusak fitur alam yang berkontribusi pada daya tariknya (Alam et al., 2026a).
Secara historis, Kabupaten Tana Toraja mengandalkan warisan budayanya, tetapi
sekarang sedang memperluas variasi objek wisatanya. Salah satunya adalah Bukit Ollon, yang
terletak di Desa Buakayu, Kecamatan Bonggakaradeng, sebuah daerah yang memiliki
perbukitan, lembah, dan dataran berumput di wilayah pedalaman. Studi yang menyebutkan
Ollon berfokus pada penyediaan pemandu wisata berbahasa Inggris untuk meningkatkan
layanan pariwisata lokal (Attraction et al., 2024). Berdasarkan referensi yang diteliti dalam
artikel ini, belum ada analisis yang menempatkan daya tarik dan aksesibilitas Bukit Ollon
dalam satu kerangka analitis tunggal, meskipun kedua komponen tersebut sangat penting
dalam menentukan arah pengembangan destinasi. Artikel ini menjawab tiga pertanyaan: (1)
apa potensi daya tarik Wisata Bukit Ollon, (2) bagaimana kondisi aksesibilitas menuju
kawasan tersebut, dan (3) bagaimana bentuk kesenjangan di antara keduanya serta
implikasinya bagi strategi pengembangan. Analisis dibatasi pada komponen atraksi dan
aksesibilitas; amenitas dan layanan pendukung dibahas sejauh berkaitan dengan akses.
Hasilnya diharapkan menjadi dasar perumusan strategi yang mengoptimalkan potensi wisata
sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan setempat.
2. Kajian Pustaka
Aksesibilitas dalam Kerangka 4A
Aksesibilitas dipahami sebagai tingkat kemudahan yang dapat dicapai wisatawan untuk
sampai ke suatu destinasi, yang dipengaruhi oleh pilihan transportasi, waktu tempuh, biaya,
efisiensi pergerakan, serta dukungan dari infrastruktur jalan dan sistem informasi (Tao, 2025).
Aksesibilitas tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga oleh konektivitas jaringan
transportasi dan kondisi fisik wilayah tersebut (Y. Zhang et al., 2025). Dalam kerangka kerja
4A, atraksi merupakan komponen fundamental, tetapi nilainya meningkat ketika didukung
oleh aksesibilitas, fasilitas, dan layanan pendukung (Djuwendah et al., 2021).
Kesenjangan antara Potensi dan Aksesibilitas
Literatur tentang pariwisata pedesaan dan pegunungan menunjukkan pola yang berulang:
daerah dengan potensi pariwisata yang kuat belum berkembang secara optimal karena
infrastruktur jalan, sistem transportasi, telekomunikasi, dan layanan dasar yang tidak memadai
(Sinaga & Sitorus, 2023). Pola ini dirumuskan sebagai kombinasi potensi pengembangan
tinggi dan aksesibilitas rendah (Tao, 2025). Di wilayah lain, pola serupa tampak sebagai
ketidaksesuaian antara aksesibilitas spasial dan tingkat pengembangan wisata (Dong et al.,
2025). Serta interaksi antara pola spasial desa, daya tarik, dan aksesibilitas. Transportasi
berfungsi menghubungkan asal wisatawan, destinasi, arus informasi, dan aliran ekonomi;
ketika penghubung ini lemah, jangkauan efektif daya tarik menurun (Dong et al., 2025).
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
148
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
Navigasi, Risiko Gangguan Jalan, dan Daya Dukung
Wisatawan tetap membutuhkan penanda fisik dan informasi yang jelas meskipun sudah
menggunakan peta digital, karena navigasi digital tidak selalu bisa menghilangkan rasa
tersesat, terutama di medan alam yang terbuka. Pada wilayah pegunungan, gangguan seperti
longsor dapat menimbulkan kerugian tidak langsung melalui keterlambatan dan turunnya
efisiensi perjalanan (Postance et al., 2017).
3. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal
di Pariwisata Bukit Ollon, yang terletak di Desa Buakayu, Kecamatan Bonggakaradeng,
Kabupaten Tana Toraja. Desain ini dipilih karena penelitian ini berfokus pada satu lokasi dan
bertujuan untuk memahami fenomena kontekstual dalam lingkungan alamnya: apa yang
terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana kondisi lapangan dipahami. Pengumpulan data
dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2026. Informan dipilih secara sengaja berdasarkan
pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan mereka dalam pengelolaan atau penggunaan Bukit
Ollon. Terdapat lima informan (I1–I5) yang mewakili berbagai kelompok, termasuk pejabat
pemerintah daerah, operator atau praktisi pariwisata, pemimpin masyarakat, pemilik usaha
lokal, dan pengunjung yang familiar dengan kondisi di lapangan. Data primer diperoleh
melalui observasi partisipasi pasif terhadap jalur menuju lokasi, kondisi jalan, sarana
transportasi, dan aktivitas pengunjung, serta wawancara mendalam dengan para informan.
Dokumentasi berupa foto lapangan (Gambar 1–4) dan telaah literatur menjadi data sekunder
sekaligus landasan interpretasi. Fokus pengamatan dan wawancara diarahkan oleh indikator
pada Tabel 1.
Tabel 1. Fokus dan Indikator Analisis
Komponen
Indikator
Sumber Data
Atraksi
Karakter lanskap;
aktivitas wisata yang
mungkin dilakukan;
kondisi lingkungan
dan budaya setempat
Observasi,
dokumentasi,
wawancara
Aksesibilitas fisik
Jarak dan waktu
tempuh; permukaan
dan kemiringan jalan;
pengaman jalan;
moda kendaraan
Observasi,
wawancara,
dokumentasi
Aksesibilitas informasi
Sinyal seluler dan
internet; rambu dan
penunjuk arah;
pemandu lokal
Observasi,
wawancara
Risiko dan
Keberlanjutan
Potensi longsor dan
gangguan akses;
kondisi lingkungan
Wawancara,
observasi,
literatur
Analisis data mengikuti model yang diusulkan oleh Miles, Huberman, dan Saldaña
(2014), yang mencakup kondensasi data, presentasi data, dan penarikan serta verifikasi
kesimpulan. Selama kondensasi, data dikodekan sesuai dengan indikator yang tercantum
dalam Tabel 1. Pada fase presentasi, data diorganisasikan dalam bentuk deskripsi naratif,
kutipan informan yang dikodekan, dan matriks tematik untuk menunjukkan dengan jelas
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
149
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
hubungan antara daya tarik dan aksesibilitas. Kesimpulan ditarik dan diverifikasi dengan
membandingkan temuan dari berbagai sumber.
Keakuratan data diperiksa melalui triangulasi sumber, yang melibatkan perbandingan
pernyataan dari informan yang berbeda, dan triangulasi teknik, yang melibatkan rujukan silang
temuan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi mengenai kondisi jalan, fasilitas
transportasi, dan infrastruktur pendukung. Perbedaan informasi selanjutnya diperiksa. Studi ini
memiliki beberapa keterbatasan: hanya didasarkan pada satu lokasi dan lima informan, dan
perkiraan jarak dan waktu tempuh diperoleh dari satu titik awal. Temuan ini dimaksudkan
untuk memberikan pemahaman kontekstual daripada generalisasi statistik.
4. Hasil dan Pembahasan
Bukit Ollon terletak di desa Buakayu, kecamatan Bonggakaradeng, kabupaten Tana
Toraja, Sulawesi Selatan. Daya tarik utamanya meliputi lanskap pegunungan, lembah yang
diapit perbukitan, area berumput dan semak belukar, serta aliran Sungai Saddang yang
melintasi wilayah tersebut (lihat Gambar 1 dan Gambar 2). Karakteristik lanskap ini
mendukung kegiatan seperti menikmati pemandangan panorama dan berkemah di padang
rumput (lihat Gambar 3). Sebuah studi tentang potensi wisata alam melaporkan bahwa
vitalitas budaya masyarakat Desa Ollon tinggi, warisan tradisional terjaga dengan baik, dan
tingkat degradasi lingkungan masih rendah (Rizaldi et al., 2024). Temuan observasi mengenai
potensi daya tarik Bukit Ollon diperkuat oleh keterangan informan yang menyoroti keindahan
bentang alam sebagai daya tarik utama kawasan tersebut. Panorama perbukitan, lembah yang
luas, hamparan rumput, serta aliran Sungai Saddang menjadi karakteristik alam yang
memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Salah seorang informan (I1) dalam
wawancara menyatakan, “Yang paling menarik dari Bukit Ollon itu pemandangan alamnya.
Kita bisa melihat perbukitan yang luas, lembah, dan hamparan rumput yang masih alami.
Suasananya juga cocok untuk orang yang pencinta alam dan suka camping.” Keterangan
tersebut menggambarkan bahwa kekuatan daya tarik Bukit Ollon terletak pada karakter
lanskapnya yang mendukung kegiatan rekreasi alam. Selain menikmati panorama, aktivitas
berkemah juga menjadi salah satu alasan yang dapat mendorong kunjungan wisatawan.
Informan pengunjung (I5) dalam wawancara mengungkapkan, “Saya datang ke sini karena
penasaran dengan pemandangan Bukit Ollon dan ingin merasakan suasana alamnya secara
langsung. Karena Bukit Ollon ini memiliki pemandangan yang menurut saya sangatbagus,
foto-foto yang saya ambil juga keren.” Kedua keterangan tersebut, apabila sesuai dengan
wawancara aktual, memperlihatkan bahwa daya tarik Bukit Ollon, tidak hanya berkaitan
dengan keindahan visual, tetapi juga dengan peluang melakukan aktivitas wisata berbasis
alam.
Gambar 2.
Bentang Alam Perbukitan
Ollon
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
150
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
Gambar 4.
Transportasi dan Akses
Kendaraan
Dengan demikian, potensi Bukit Ollon tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi
juga pada peluang mengembangkan aktivitas wisata dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pada wisata perdesaan, nilai atraksi meningkat apabila dikemas menjadi paket pengalaman,
aktivitas luar ruang, dan interaksi budaya yang dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan
(Djuwendah et al., 2021).
Perjalanan darat dari Sinjai Utara menuju Bukit Ollon berjarak sekitar 300–320 km
dengan waktu tempuh sekitar 9–10 jam, tergantung pada kondisi lalu lintas dan cuaca. Angka
ini merupakan estimasi dari satu titik asal, tetapi cukup menunjukkan bahwa kunjungan ke
Ollon menuntut alokasi waktu yang panjang. Pada bagian akhir perjalanan, jalan beraspal
berubah menjadi jalur off-road. Jalur memiliki tanjakan curam, sebagian ruas rusak dan
berpermukaan pasir, serta minim pembatas pengaman pada sisi lereng atau jurang. Gambar 2
memperlihatkan kendaraan angkut melintasi jembatan sederhana di atas alur sungai, dengan
badan jalan berpasir dan berbatu di sekitarnya. Kondisi ini memengaruhi kenyamanan, waktu
tempuh, pilihan kendaraan, dan terutama keselamatan pengguna jalan. Kondisi aksesibilitas
menuju Bukit Ollon menunjukkan bahwa perjalanan menuju kawasan wisata masih
menghadapi sejumlah kendala fisik. Berdasarkan temuan observasi dalam draf penelitian, jalur
menuju lokasi pada bagian akhir perjalanan berubah menjadi jalan off-road dengan tanjakan
curam, permukaan jalan yang sebagian rusak dan berpasir, serta pembatas pengaman yang
minim di sisi lereng. Dalam wawancara, informan I2 menggambarkan kondisi tersebut sebagai
berikut: “Kalau sudah mendekati lokasi, perjalanan mulai terasa sulit karena ada jalan yang
menanjak dan permukaannya tidak semuanya bagus. Pengendara harus lebih berhati-hati,
apalagi pada bagian jalan yang berpasir.” Selain kondisi jalan, aspek keselamatan juga menjadi
perhatian dalam perjalanan menuju destinasi. Informan I5 dalam wawancara menyampaikan,
“Perjalanannya cukup menantang. Ada beberapa bagian jalan yang membuat kita harus pelan-
pelan dan lebih berhati-hati karena pembatas di pinggir jalan masih kurang.” Apabila sesuai
dengan hasil wawancara aktual, keterangan tersebut memperkuat temuan bahwa hambatan
aksesibilitas Bukit Ollon tidak hanya berkaitan dengan panjang perjalanan, tetapi juga dengan
kondisi fisik jalur dan tingkat keselamatan pengguna jalan.
Sinyal seluler dan internet terbatas di sejumlah titik sehingga penggunaan GPS dan
komunikasi selama perjalanan terganggu. Mengenai rambu dan penunjuk arah di sepanjang
jalur, Wisata Bukit Ollon masih menghadapi kendala berupa minimnya rambu dan penunjuk
arah yang dapat membantu wisatawan selama perjalanan. Dalam keterbatasan ini, warga dan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
151
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
pemuda setempat membantu mengarahkan jalan dan memberikan informasi cuaca, sehingga
berfungsi sebagai pemandu informal.
Medan yang menantang disertai potensi tanah longsor dapat mengganggu kelancaran
perjalanan dan berisiko bagi pengguna jalan. Ringkasan temuan aksesibilitas disajikan pada
Tabel 2.
Tabel 2. Temuan Aksesibilitas Bukit Ollon
Temuan penelitian ini mengungkapkan adanya kesenjangan kesiapan antara daya tarik
wisata dan aksesibilitas. Di satu sisi, daya tarik wisata cukup kuat dan kondisi lingkungan
relatif terawat dengan baik. Di sisi lain, akses ke area tersebut sulit karena hambatan fisik,
kurangnya keamanan, informasi yang terbatas, dan komunikasi yang buruk. Hal ini juga
sangat bergantung pada dukungan informal dari penduduk setempat. Kesenjangan ini tidak
hanya mencakup jarak dan waktu tempuh; tetapi juga keselamatan, kepastian perjalanan, dan
ketersediaan informasi. Perlu dicatat bahwa penelitian ini tidak mengukur jumlah kunjungan,
oleh karena itu, dampak pada minat untuk kunjungan berulang dan manfaat ekonomi yang
dihasilkan dianggap sebagai implikasi teoritis yang masuk akal, bukan sebagai temuan yang
terukur.
Lanskap Bukit Ollon dapat dibaca sebagai modal sumber daya (resource endowment) bagi
wisata alam perdesaan, yang umumnya bertumpu pada karakter lanskap, kekhasan lingkungan
Aspek
Aksesibilitas
Temuan Utama
Implikasi
Potensial
Jarak dan waktu
tempuh
Sinjai Utara–Bukit
Ollon sekitar 300–
320 km, estimasi 9–
10 jam
Perjalanan
panjang;
menuntut
perencanaan
waktu
Kualitas
permukaan jalan
Jalan beraspal
berubah menjadi jalur
off-road; sebagian
ruas rusak dan
berpasir
Memengaruhi
kenyamanan,
waktu tempuh,
dan pilihan
kendaraan
Keselamatan jalan
Tanjakan curam;
pembatas pengaman
minim di sisi lereng
atau jurang
Risiko
keselamatan
pengguna jalan
Jaringan
komunikasi
Sinyal seluler dan
internet terbatas di
sejumlah titik
Menghambat
penggunaan GPS
dan komunikasi
selama perjalanan
Gangguan akses
Medan menantang
dan potensi tanah
longsor
Mengganggu
kelancaran
perjalanan dan
berisiko bagi
pengguna jalan
Pemandu lokal
Warga dan pemuda
mengarahkan jalan
dan memberi
informasi cuaca
Membantu
wisatawan
mengenali jalur
dan kondisi
lingkungan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
152
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
lokal, dan pengalaman ruang terbuka (Sinaga & Sitorus, 2023). . Namun, atraksi baru menjadi
kuat bila didukung komponen lain (Djuwendah et al., 2021). Ollon sudah menawarkan
panorama dan aktivitas berkemah; mengemasnya menjadi pengalaman yang lebih utuh
merupakan peluang, sejalan dengan temuan pada desa wisata lain bahwa potensi alam tidak
serta-merta menjamin optimalisasi pengembangan tanpa pengelolaan yang terarah (Sinaga &
Sitorus, 2023).
Hambatan akses ke Ollon tidak dapat dijelaskan hanya sebagai kurangnya perhatian
pengelola. Tanjakan curam, permukaan berpasir, dan potensi longsor berkaitan dengan medan
perbukitan, dan aksesibilitas memang ditentukan oleh keterhubungan jaringan dan kondisi
fisik wilayah, bukan jarak semata (W. Zhang et al., 2023). Hal ini sejalan dengan sebuah studi
yang dilakukan di daerah wisata dataran tinggi, yang menemukan ketidaksesuaian antara
aksesibilitas dan pengembangan pariwisata (Cui et al., 2026). Waktu tempuh 9–10 jam dari
Sinjai Utara memperkuat indikasi bahwa jangkauan efektif Ollon semakin menyempit ketika
penghubungnya lemah (Dong et al., 2025). Meski demikian, keterbatasan topografi tidak
berarti destinasi tidak dapat dikembangkan; ia menuntut penanganan yang adaptif, bertahap,
dan peka terhadap karakter lanskap (Alam et al., 2026)
Sinyal yang terbatas membuat peta digital tidak dapat diandalkan di sepanjang rute.
Penelitian tentang penunjuk arah menunjukkan bahwa peta digital hanyalah alat bantu dan
tidak dapat menggantikan penanda fisik di lingkungan alam yang sulit dan sulit dibaca. Di
Ollon, kesenjangan ini diisi secara informal oleh penduduk setempat dan kaum muda yang
memandu jalan dan memberikan informasi cuaca. Praktik ini merupakan aset sosial yang
berharga; memperkuatnya melalui pelatihan dan pengorganisasian pemandu adalah arah yang
masuk akal. Kebutuhan untuk meningkatkan jalan menuju objek wisata, rambu dan papan
informasi, memperkuat telekomunikasi, dan fasilitas dasar juga dicatat dalam studi tentang
transportasi wisata pedesaan (Eurasian et al., 2025).
Pada kawasan pegunungan, gangguan jalan akibat longsor dapat menimbulkan kerugian
tidak langsung berupa keterlambatan dan turunnya efisiensi perjalanan yang melampaui lokasi
kejadian (Postance et al., 2017). Temuan potensi longsor di Ollon menjadikan isu ini
pertimbangan keselamatan, bukan sekadar kenyamanan, dan menjelaskan mengapa
kesenjangan di Ollon perlu dipahami sebagai persoalan keselamatan dan kepastian perjalanan.
Ollon menghadapi dilema langka : isolasi, yang bertindak sebagai penghalang sekaligus ciri
khas daerah tersebut, menciptakan suasana alam yang tersembunyi dan pengalaman perjalanan
di luar jalan raya. Perbaikan akses yang agresif dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan
merusak lanskap, yang merupakan daya tarik utama (Anggriani & Mariati, 2026). Oleh karena
itu, pendekatan yang diusulkan memprioritaskan keselamatan dan informasi sebelum
meningkatkan kapasitas jalan (Tabel 3). Saran ini didasarkan pada interpretasi penulis
terhadap temuan dan literatur yang ada, dan memerlukan pengujian lebih lanjut melalui
analisis dukungan kapasitas dan konsultasi dengan masyarakat.
Tabel 3. Usulan Prioritas Penangan Aksesibilitas
Dimensi
Kondisi Saat Ini
Arah Penanganan
(Usulan)
Keselamatan
jalan
Tanjakan curam;
pembatas
pengaman
minim
Prioritas 1:
pembatas
pengaman di titik
berisiko
Permukaan
jalan
Ruas rusak dan
berpasir
Prioritas 1:
perbaikan titik
rusak, bukan
pelebaran penuh
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
153
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
Informasi dan
navigasi
Sinyal terbatas;
bergantung pada
pemandu
informal
Prioritas 2:
rambu, peta jalur,
informasi cuaca
dan kondisi jalan
Pemandu
lokal
Pendampingan
informal oleh
warga
dan pemuda
Prioritas 2:
pelatihan dan
pengaturan
pemandu
Daya dukung
Lingkungan
relatif
terjaga
Prioritas 3: kajian
daya dukung dan
pengelolaan
kunjungan
Keterbatasan penelitian ini mencakup cakupan satu lokasi, lima informan, dan estimasi
waktu tempuh dari satu titik asal. Penelitian lanjutan dapat menghitung waktu tempuh
daribeberapa gerbang kedatangan, mengumpulkan data kunjungan dan preferensi wisatawan,
serta menelaah amenitas dan layanan pendukung secara penuh dalam kerangka 4A.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada penelitian, dapat disimpulkan bahwa Wisata Bukit
Ollon memiliki potensi daya tarik alam yang kuat, berupa perbukitan, lembah, hamparan
rumput, dan aliran Sungai Saddang yang mendukung rekreasi alam, berkemah, serta
pengalaman. Wisata berbasis lanskap. Namun, akses menuju kawasan belum memadai:
perjalanan panjang, jalur off-road dengan tanjakan curam, permukaan rusak dan berpasir,
pembatas pengaman yang minim, sinyal terbatas, dan potensi longsor. Kesenjangan antara
atraksi dan aksesibilitas karenanya berwujud ketimpangan kesiapan yang menyangkut
keselamatan, kepastian perjalanan, dan informasi navigasi.Permasalahan pengembangan Bukit
Ollon tidak terletak pada kekurangan sumber daya alam, tetapi pada belum terpadunya atraksi
dengan komponen pendukung, terutama aksesibilitas. Peningkatan akses sebaiknya dilakukan
bertahap dan terukur: memperbaiki titik jalan yang rusak dan rawan, memasang pembatas
pengaman pada ruas berisiko, menyediakan rambu dan informasi kondisi jalan dan cuaca,
memperkuat komunikasi, serta melembagakan peran pemandu lokal, dengan tetap menjaga
daya dukung lingkungan.Saran bagi pengelola dan pemerintah daerah adalah memulai dari
tindakan berbiaya rendah yang berdampak langsung pada keselamatan dan informasi, serta
menyusun kajian daya dukung sebelum perbaikan jalan skala besar. Saran bagi peneliti
selanjutnya adalah mengukur kunjungan dan persepsi wisatawan secara kuantitatif dan
memperluas analisis ke amenitas dan layanan pendukung
6. Daftar Pustaka
Alam, T., Dastoum, M., Askarizad, R., & Garau, C. (2026b). Morphological and fractal
diagnostics for sustainable transport planning in sensitive tourism landscapes. Sustainable
Cities and Society, 143(March), 107365. https://doi.org/10.1016/j.scs.2026.107365
Anggriani, D., & Mariati, S. (2026). Strategies for the Development of Sustainable Tourism
Potential in Puncak Dunu , North Gorontalo. July 2025, 36–50.
Attraction, V. T., Toraja, T., Deli, M., Allo, G., Sudarsi, E. T., & Taula, N. (2024). Development
of English Travel Guide for Improving Local Tourism Services in Ollon. 1, 6–15.
Audrey, K., Odira, M., & Setiawan, B. (2025). Analysis Of 3A Theory in Making Coban Pelangi
Waterfall A Natural Tourism Attraction in Gubugklakah. 2, 1–13.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 146-154
E-ISSN: 3047-2288
154
Dian Malinda et.al (Kesenjangan Antara Atraksi dan Aksesibilitas dalam....)
Cui, S., Chen, J., Xie, W., Zhang, H., Zhao, J., Wang, X., Teng, J., Du, X., Yang, L., & Yang, B.
(2026). Spatial Accessibility , Equity , and Tourism Development Mismatch of Grade
Scenic Spots in the Xizang – Sichuan Region , China : Implications for Sustainable
Tourism Development. 1–26.
Djuwendah, E., Karyani, T., & Wulandari, E. (2021). Potential Development Strategy for
Attraction and Community- based Agrotourism in Lebakmuncang Village. 01004.
Dong, B., Zhang, M., Wang, H., & Wu, J. (2025). Study on the interaction mechanism among
spatial patterns of traditional villages and tourism attractiveness and accessibility in
Guizhou province. 1–16.
Eurasian, L. N. G., Geography, E., & Wendt, J. A. (2025). TRANSPORT AS A FACTOR IN THE
DEVELOPMENT OF RURAL TOURISM IN AKTOBE REGION , REPUBLIC OF
KAZAKHSTAN Miroslava OMIRZAKOVA. 59(2), 952–964.
https://doi.org/10.30892/gtg.59239-1471
Muti, O., Pongge, M. I., Masri, M., Ekonomika, F., Katolik, U., & Mandira, W. (2026). Promosi
pariwisata budaya dan ekowisata di wilayah perbatasan : Analisis SWOT dan strategi
pengembangan di Kabupaten Malaka. 6(2), 509–526.
Postance, B., Hillier, J., Dijkstra, T., & Dixon, N. (2017). Extending natural hazard impacts : an
assessment of landslide disruptions on a national road transportation network Extending
natural hazard impacts : an assessment of landslide disruptions on a national road
transportation network. https://doi.org/10.1088/1748-9326/aa5555
Rizaldi, A. S., Andrawina, L., Rumanti, A. A., Rizaldi, A. S., Rumanti, A. A., & Andrawina, L.
(2024). Sustainable Tourism Industry through Mapping Natural Tourism Potential :
Taxonomy Approach Sustainable Tourism Industry through Mapping Natural Tourism
Potential : Taxonomy Approach. https://doi.org/10.20944/preprints202404.0392.v1
Sinaga, D. C., & Sitorus, N. B. (2023). ANALYSIS OF TOURISM POTENTIAL AT KUTA
JUNGAK VILLAGE , PAKPAK BHARAT REGENCY USING 4A ( ATTRACTION ,
ACCESSIBILITY , AMENITIES , ANCILLARY ). 4(2), 711–715.
Tao, J. (2025). Exploring the coupling dynamics between accessibility of tourist attractions and
tourism demand in Anhui Province. 1–19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0331577
Zhang, W., Knox, D., & Prabhakar, G. (2023). Risk in Active Sport Tourism Projects : Narratives
from Managers in the Chinese Event Industry Risk in Active Sport Tourism Projects :
Narratives from Managers in the Chinese Event Industry ABSTRACT. Journal of China
Tourism Research, 19(2), 176–196. https://doi.org/10.1080/19388160.2022.2050872
Zhang, Y., Li, Z., Li, Z., Zhai, F., & Li, H. (2025). Study on the spatial accessibility and
influencing factors of traditional villages in the Central Plains urban agglomeration of
China. Journal of Asian Architecture and Building Engineering, 24(5), 4073–4087.
https://doi.org/10.1080/13467581.2024.2390605